
Keesokan paginya Kimberly sudah berada di sekolah. Kimberly ke sekolah diantar oleh Riyan, kakak keempatnya. Dirinya lagi malas untuk membawa mobil sendiri.
Pulang sekolah, Kimberly akan meminta Tommy yang mengantar dirinya sembari pergi jalan-jalan berduaan mengelilingi kota Hamburg.
Ketika Kimberly sampai di depan gerbang sekolah. Matanya melihat sosok pemuda tampan yang tersenyum menatap dirinya. Pemuda itu adalah Tommy Alexander sang pujaan hatinya.
Melihat sosok pemuda yang sudah merebut hatinya membuat Kimberly langsung tersenyum.
Riyan yang berada di samping seketika ikut tersenyum ketika melihat adik perempuannya tengah tersenyum bahagia. Riyan tahu apa yang membuat adik perempuannya itu tersenyum.
Berlahan tangannya terangkat guna untuk mengusap lembut kepala belakang adiknya itu. Dirinya benar-benar bahagia melihat senyuman kebahagiaan terpancar di bibir adiknya itu.
Kimberly langsung melihat kearah kakaknya ketika merasakan sentuhan di kepala belakangnya yang tengah tersenyum menatap dirinya.
"Kakak."
"Apa kamu bahagia bersama Tommy?"
"Sangat! Aku benar-benar bahagia ketika pacaran dengan Tommy. Tommy laki-laki yang baik dan pengertian."
Mendengar jawaban dari adik perempuannya membuat hati Riyan merasakan kebahagiaan. Itulah yang ingin Riyan dengar dari mulut adiknya. Riyan ingin adiknya selalu bahagia. Dan Riyan tidak ingin melihat adiknya bersedih.
"Kakak ikut bahagia mendengarnya. Bahagia selalu untukmu."
"Kakak juga. Aku bahagia, kakak juga harus bahagia. Aku akan menikah jika semua kakak laki-lakiku sudah menikah."
"Mana bisa begitu?" protes Riyan.
"Bisa. Barusan aku yang memutuskannya," balas Kimberly.
"Terserah kamu saja deh," ucap pasrah Riyan.
"Hahahahaha."
Kimberly seketika tertawa ketika mendengar jawaban pasrah dari kakaknya itu. Dirinya paling hobi membuat kakak-kakaknya kesal akan jawaban-jawaban darinya.
"Aku sayang kakak," ucap Kimberly lalu memberikan ciuman di pipi kiri kakaknya itu.
"Kakak juga sayang kamu. Sehatlah terus," balas Riyan lalu mencium kening adiknya.
Setelah itu, Kimberly keluar dari dalam mobil dan meninggalkan kakaknya agar kakaknya bisa segera ke kantor.
"Kakak, aku masuk dulu!"
"Ya. Belajar yang rajin!"
Setelah itu, Riyan pun pergi meninggalkan sekolah Kimberly untuk menuju perusahaan miliknya.
^^^
Kimberly melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan senyuman mengembang di bibirnya. Ketika melangkah memasuki gerbang sekolah, dirinya langsung disambut dengan senyuman manis dari kekasihnya yang sejak tadi menjadi penonton drama keluarga antara adik perempuan dengan kakak laki-lakinya.
Tommy sengaja menunggu di depan gerbang sekolah guna untuk memberikan pelukan hangat dan kecupan sayang di kedua pipi putih kekasihnya itu.
"Selamat datang di sekolah tuan putriku yang cantik," ucap Tommy sembari memeluk tubuh Kimberly sekilas. Setelah itu, Tommy memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Kimberly.
Kenapa Tommy hanya sekilas memeluk Kimberly. Itu karena Tommy tidak ingin membuat Kimberly malu dan menjadi bahan gosip dari semua teman-teman sekolahnya.
Tommy tahu bagaimana sifat dan tabiat dari teman-teman sekolahnya. Teman-temannya itu suka bergosip dan juga bergunjing. Bahkan omongan teman-temannya itu melebihi dari apa yang mereka lihat.
Sementara untuk semua penghuni sekolah berteriak histeris dan menatap iri kearah Tommy dan Kimberly. Apalagi ketika melihat perlakuan lembut Tommy terhadap Kimberly.
Jika boleh jujur. Mereka semua juga ingin seperti Kimberly yang diperlakukan special oleh kekasihnya.
"Terima kasih pangeran tampanku," balas Kimberly.
Tommy tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Tangannya mengacak-acak rambut Kimberly.
"Bagaimana kemarin ketika sampai di perusahaan kak Uggy?" tanya Tommy.
Mendengar pertanyaan dari Tommy membuat Kimberly langsung memperlihatkan wajah lesunya.
Sedangkan Tommy langsung tersenyum ketika melihat reaksi Kimberly. Dirinya tahu bahwa kekasihnya itu enggan untuk mengingat hari yang kemarin, tapi dirinya sengaja membuat wajah kekasihnya lesu dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
Tommy langsung menarik tangan Kimberly untuk menuju kantin. Di kantin semua sahabatnya termasuk keempat sahabatnya Kimberly sudah berkumpul.
Sementara Kimberly hanya bisa pasrah disaat tangannya ditarik oleh Tommy. Dia tahu Tommy akan membawanya kemana.
^^^
Di kantin keempat sahabatnya Kimberly, ketiga sepupunya dan beserta sahabat-sahabatnya tengah menunggu Kimberly dan Tommy.
Sembari menunggu kedatangan pasangan sejoli itu, mereka mengobrol kecil dan bersenda gurau serta saling memberikan ejekan satu sama lainnya.
"Oh iya! Bagaimana dengan rencana yang sudah kita buat dua hari yang lalu!" seru Lionel dengan menatap wajah para sahabatnya.
Mendengar perkataan dari Lionel. Mereka semua menatap kearah Lionel. Setelah itu, mereka kembali ke fokus masing-masing sembari berucap.
"Jadi dong!" seru mereka secara bersamaan.
"Kapan kita adakan?" Kini Mirza yang bertanya.
"Kita tunggu Kimberly dan Tommy dulu. Setelah itu, baru kita rundingkan lagi!" seru Billy.
Mendengar perkataan dari Billy membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Nggak etis rasanya jika membahas sesuatu yang anggotanya nggak lengkap. Itulah yang mereka pikirkan.
Billy yang sejak tadi dengan ponsel dan Catherine sang kekasih. Seketika tak sengaja tatapan matanya menatap kearah salah satu sepupunya yaitu Aryan. Billy melihat bahwa Aryan tampak berbeda hari ini.
"Aryan," panggil Billy.
Namun sang pemilik nama tak mendengarnya. Bagaimana mendengar panggilan tersebut. Pikirannya saja melayang ntah kemana. Hanya raganya saja berada di tengah-tengah sahabatnya, kedua sepupunya dan para sahabat dari kedua sepupunya itu.
Mendengar Billy yang memanggil Aryan membuat Triny dan yang lainnya juga melihat kearah Aryan. Mereka juga melihat bahwa Aryan tengah melamun.
Puk..
Raka yang kebetulan duduk di samping Aryan seketika menepuk bahu Aryan sehingga membuat Aryan tersadar.
Aryan menatap kearah Raka yang duduk di sampingnya lalu menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Triny.
"Ada apa, maksudnya?" tanya Aryan balik dengan menatap wajah Triny.
"Tadi Billy manggil kamu. Kamu justru nggak dengar," jawab Triny.
Aryan langsung menatap wajah Billy. Begitu juga dengan Billy. Billy menatap wajah Aryan dengan tatapan khawatir.
"Kamu kenapa? Apa kamu ada masalah?"
"Aku baik-baik saja. Nggak ada masalah apapun kok," bohong Aryan.
"Kalau kamu nggak ada masalah. Kenapa sikap kamu berbeda hari ini? Nggak kayak biasanya," ucap Billy.
"Baiklah. Kakak percaya. Tapi ingat! Jika kakak mengetahui kamu ada masalah. Namun kamu nggak ngomong apa-apa. Kamu tahu akibatnya," ucap dan ancam Billy.
Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari kakak sepupunya membuat Aryan seketika ketakutan. Dirinya tahu bagaimana sifat dan tabiat kakak sepupunya itu jika salah saudaranya mendapatkan masalah. Dan kakak sepupunya itu akan membalas berkali-kali lipat musuh-musuhnya itu. Begitu juga dengan kakak-kakak sepupunya yang lain termasuk kedua kakak laki-lakinya.
Ketika mereka tengah fokus menatap kearah Aryan. Apalagi Billy dan Triny. Kimberly dan Tommy pun datang sehingga membuat semuanya menatap kearah Kimberly dan Tommy.
"Kita terlambat ya?" tanya Tommy.
"Tidak!"
Mereka semua menjawab pertanyaan dari Tommy secara kompak.
Setelah itu, Tommy dan Kimberly menduduki pantat di kursi yang memang sudah disediakan.
Detik kemudian, Kimberly menatap wajah Aryan. Lebih tepatnya di manik coklat Aryan.
"Aryan," panggil Kimberly.
Mendengar namanya dipanggil. Aryan langsung melihat kearah Kimberly.
"Iya, Kim!"
Kimberly masih menatap manik coklat Aryan. Dirinya tahu bahwa detik ini Aryan masih memikirkan kejadian itu.
"Apa kamu masih memikirkan kejadian itu?" tanya Kimberly langsung tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Mendapatkan pertanyaan yang tak terduga dari Kimberly membuat Aryan bingung mau menjawab apa. Apalagi Kimberly bertanya di waktu yang tidak pas.
"Ayolah, Aryan! Sejak kapan lo berubah menjadi laki-laki bodoh dan pecundang, hah?! Ingat, Aryan! Keluarga Fidelyo tidak menerima seorang pengkhianat menjadi bagian keluarganya. Buktikan kepada perempuan murahan itu bahwa lo bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dia." Kimberly berbicara dengan menatap tajam kearah Aryan.
Sementara Billy, Triny dan yang lainnya menatap keduanya dengan tatapan bingung. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Aryan, Kimberly dan perempuan yang dibicarakan oleh Kimberly.
"Cukup, Kim!" Aryan seketika berdiri dari duduknya. "Ini urusan gue. Dan lo nggak usah ikut campur!"Aryan tanpa sadar berucap dengan kasar dan nada tinggi.
Brak...
Kimberly berdiri dari duduknya sembari memukul meja dengan kerasnya sehingga membuat penghuni kantin terkejut.
"Apa lo bilang?! Lo ngelarang gue ikut campur urusan asmara lo, hah?!" bentak Kimberly dengan menatap kecewa kearah Aryan.
"Sayang," ucap Tommy sembari mengusap lembut punggung Kimberly.
Sementara Aryan hanya diam dan tak membalas perkataan dan pertanyaan dari Kimberly.
"Jawab gue, Aryan Fidelyo!"
"Iya. Gue minta sama lo untuk tidak mencampuri masalah gue dengan Vanny. Ini masalah gue. Bukan masalah lo. Dan....."
"Dan apa? Apa......."
Brak...
"STOP!"
Billy tiba-tiba berteriak bersamaan dengan pukulan keras di meja sehingga membuat Aryan dan Kimberly berhenti berdebat. Bahkan semua penghuni kantin langsung melihat kearah mereka semua.
"Ada apa dengan kalian, hah?!" tanya Billy menatap satu persatu wajah adik-adiknya. "Aryan, tidak seharusnya kamu berbicara seperti terhadap Kimberly. Dan kamu, Kim! Kamu juga tidak sepantasnya berbicara seperti itu terhadap Aryan. Bagaimana pun Aryan lebih tua dari kamu, walau tahun kelahiran kalian sama."
"Dan aku benar-benar kecewa terhadap kalian berdua. Bertahun-tahun kita menjalin hubungan persaudaraan. Ini adalah untuk pertama kalinya kalian bertengkar. Dan untuk pertama kalinya kalian saling membentak."
Mendengar perkataan dan nada kecewa Billy membuat Aryan merasa bersalah. Begitu juga dengan Kimberly.
Kimberly menatap tajam kearah Aryan. Bukan hanya Billy yang kecewa padanya. Dirinya juga kecewa terhadap Aryan. Apalagi ketika mendengar ucapan dari Aryan beberapa menit yang lalu.
Tes...
Setetes air mata jatuh membasahi wajah cantik Kimberly dengan tatapan matanya menatap wajah Aryan.
"Lo dengarkan apa yang dikatakan Billy. Dia kecewa sama gue. Begitu juga dengan gue sama lo. Gue lebih kecewa sama lo, Yan!"
"Oke! Gue minta maaf kalau gue terlalu ikut campur urusan asmara lo dengan cewek murahan itu. Asal lo tahu saja Aryan! Gue ngelakuin ini karena gue sayang sama lo. Gue nggak ingin lo disakiti lebih dalam lagi sama tuh cewek. Gue nggak mau lo bernasib sama seperti kak Iyan dan kak Zivan. Lo nggak lupakan bagaimana kak Iyan dan kak Zivan yang dikhianati oleh cewek-cewek mereka. Padahal mereka berdua begitu tulus sama cewek-cewek mereka?"
Kimberly berbicara dengan air mata yang menganak sungai membasahi wajahnya.
"Satu hal yang harus lo ingat. Silahkan saja lo terus berhubungan dengan cewek murahan itu. Jangan pernah lo perkenalkan cewek itu di hadapan Mommy, Daddy, kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan. Terserah kalau sama keluarga yang lain. Gue nggak peduli. Kalau seandainya hubungan lo sampai ke jenjang pertunangan. Jangan pernah lo undang keluarga gue."
"Dan satu lagi. Gue nggak rela nama Fidelyo disematkan di belakang nama dia. Apalagi kalau sampai dia dipanggil dengan menggunakan nama keluarga Fidelyo. Bagaimana pun gue juga berasal dari keluarga Fidelyo."
Kimberly menatap wajah Aryan dengan berurai air mata. Dirinya saat ini benar-benar kecewa terhadap Aryan.
"Gue benci lo."
Setelah itu, Kimberly pergi begitu saja meninggalkan semua yang saat ini tampak diam. Mereka semua syok atas apa yang terjadi di hadapannya. Bahkan Kimberly tidak memperdulikan panggilan dari Tommy dan keempat sahabatnya.
Setelah kepergian Kimberly. Seketika isak tangis Aryan pecah. Dirinya tidak bermaksud untuk menyakiti saudarinya itu.
"Hiks... Hiks...,"
Mendengar isakan yang keluar dari mulut Aryan membuat mereka semua menatap iba kearah Aryan.
Billy berpindah duduk didekat Aryan. Setelah itu, Billy langsung memeluk tubuh Aryan guna memberikan ketenangan.
"Hiks... Maafkan aku. Aku tidak bermaksud... Hiks... seperti itu terhadap Kimberly," ucap Aryan disela isakannya.
"Kakak percaya kamu. Tadi itu mungkin kamu terlalu terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly yang meminta kamu untuk bersikap tegas terhadap perempuan. Dan seharusnya kamu juga paham akan sikap Kimberly. Kimberly itu sayang sama kamu."
"Aku tahu. Sangat tahu. Aku tidak meragukan hal itu," jawab Aryan.
Billy seketika melepaskan pelukannya lalu menatap wajah adik sepupunya itu.
"Kakak sudah curiga sama sikap kamu yang berubah menjadi pendiam. Dan kakak memilih percaya karena kakak nggak mau menambah beban kamu. Eh, tahunya Kimberly langsung menyerang kamu sehingga membuat kamu kelepasan."
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Kamu nggak salah. Kimberly juga nggak salah. Kurang komunikasi dan obrolan saja diantara kalian berdua. Kamu bersikap tenang sekali pun masalah ada di depan mata. Sementara Kimberly tidak bisa diam saja setelah mengetahui permasalahan tersebut dan langsung menyerang ke titik permasalahan tersebut." Triny berbicara lembut sembari menghibur adik sepupunya itu.
Mendengar perkataan dari Triny membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Lebih baik kita kembali ke kelas," ucap Andhika berusaha mencairkan suasana.
"Terus, bagaimana dengan Kimberly?" tanya Aryan.
"Nanti kita bicarakan lagi. Untuk saat ini kita biarkan dia menenangkan pikirannya," ucap Triny.
"Oh iya! Kalian bersikap biasa saja ketika sedang bersama Kimberly. Jangan membahas permasalahan antara Kimberly dan Aryan," sahut Billy.
"Baik!" jawab mereka semua dengan kompak.
Setelah itu, mereka semua pun memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing. Untuk keempat sahabatnya Kimberly sudah terlebih dulu pergi menemui Kimberly yang mereka yakini sudah berada di kelas.