
Setelah selesai mengikuti pelajarannya di sekolah. Kini Kimberly berada di sebuah pasar tradisional. Lebih tepatnya, Kimberly menyusuri toko-toko yang ada disana. Dia hanya sendirian tanpa ditemani keempat sahabat-sahabatnya, kekasihnya maupun ketiga sepupunya.
Ketika Kimberly sedang melangkahkan kakinya menyusuri toko-toko dan luasnya pasar tradisional, tiba-tiba tatapan matanya tak sengaja melihat keributan di depannya.
^^^
Duagh..
Bruukkk..
Seorang pria paruh baya tersungkur di tanah akibat tendangan dari seorang laki-laki yang mana laki-laki itu selalu membuat onar dan selalu meresahkan para pedagang dan pemilik toko.
Laki-laki itu tidak sendirian, melainkan bersama lima temannya.
"Jangan coba-coba kalian melawan atau kalian akan bernasib sama seperti laki-laki tua itu!" bentak teman dari laki-laki yang memberikan tendangan kepada seorang pria paruh baya.
"Sekarang, serahkan semua uang kalian!" bentak laki-laki kedua.
"Dan kau!" bentak laki-laki ketiga dengan menunjuk seorang gadis. "Kau kumpulkan uang-uang itu dan berikan kepadaku!"
Mendapatkan perintah dari laki-laki yang selalu membuat kerusuhan di pasar dan di toko orang tuanya membuat gadis itu dengan ketakutan memungut uang dari para pedagang.
Ketika gadis itu hendak melakukan apa yang diperintahkan oleh salah satu laki-laki itu, tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
"Kamu disini saja. Dan kamu tidak perlu melakukan apa yang dia suruh."
"Tapi, kak...."
"Tenang saja. Kamu tidak perlu takut."
Setelah itu, gadis itu mundur. Dia berdiri di belakang gadis yang memakai seragam SMA.
Yang datang menahan tangan gadis itu adalah Kimberly Aldama. Dia datang untuk membantu para pedagang yang diganggu oleh enam laki-laki yang disebut sebagai preman pasar yang paling ditakuti oleh semua pedagang.
"Siapa kau?!"
"Lebih baik kau pergi dari sini!"
"Jangan ikut campur!"
Mendengar ucapan serta bentakan dari tiga laki-laki di hadapannya membuat Kimberly tidak bergeming sama sekali. Justru Kimberly memberikan tatapan tajam kearah tiga laki-laki tersebut, termasuk tiga laki-laki lainnya.
"Seharusnya kalian yang pergi dari sini. Dan jangan mengganggu para pedagang disini," sahut Kimberly.
"Berani juga lo sama kita-kita, hah?!" bentak laki-laki yang berstatus sebagai pimpinan.
"Memangnya sejak kapan aku takut sama manusia busuk seperti kalian?" tantang Kimberly.
Mendengar jawaban dari gadis berseragam SMA membuat para pedagang tersenyum. Begitu juga dengan para pembeli yang saat ini menyaksikan kejadian tersebut.
Sementara keenam laki-laki itu seketika marah dengan kedua tangannya mengepal kuat.
"Lebih lo pergi dari sini. Jangan mengganggu pekerjaan kamu!"
"Kalau aku masih mau disini, bagaimana?"
Mendengar pertanyaan dari gadis SMA tersebut membuat keenam laki-laki itu menggeram marah.
"Brengsek! Serang!"
Dan akhirnya terjadilah perkelahian tak seimbang dimana enam laki-laki melawan satu gadis SMA.
Melihat itu membuat semua orang yang ada disana berteriak ketakutan. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kimberly.
"Oh, Tuhan! Semoga gadis itu tidak kenapa-kenapa."
"Semoga dia baik-baik saja."
"Tuhan, lindungi gadis itu."
Bugh.. Bugh..
Duagh.. Bugh..
Sreekkk... Kreekkk..
Bruukkk..
Dua laki-laki tumbang dengan luka memar di wajah, perut dan tangannya akibat pukulan, tendangan dan pelintiran yang diberikan oleh Kimberly.
Melihat perkelahian tak seimbang itu membuat para pengunjung dan para pedagang berdecak kagum ketika melihat Kimberly yang dengan mudahnya melawan keenam preman pasar itu.
Awalnya mereka sempat takut jika Kimberly itu kenapa-kenapa, tapi mereka semua dibuat terkejut ketika melihat Kimberly yang jago bela diri. Namun tetap saja mereka semua tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kimberly.
Duagh.. Duagh..
Kimberly memberikan tendangan secara bersamaan kepada dua laki-laki dan tendangan tersebut tepat mengenai dada kiri kedua pemuda itu sehingga membuat keduanya kesakitan dan sulit bernafas.
Braakk.. Braakk..
Bruukkk..
Bruukkk..
"Kalian bukan tandinganku," ucap Kimberly dengan tersenyum menyeringai menatap keempat laki-laki yang sudah tidak berdaya.
Kimberly mengalihkan pandangannya menatap dua laki-laki lainnya yang masih segar bugar. Hanya sedikit memar di wajahnya.
"Tinggal kalian berdua."
"Jangan sombong kau!"
Kimberly tersenyum. "Bukan mau sombong. Tapi kalian bisa melihat hasilnya. Keempat teman kalian sudah tidak berdaya sama sekali."
Kedua laki-laki itu mengepal kuat kedua tangannya. Mereka tidak terima jika ada orang yang berani melawan, apalagi mempermalukan dirinya.
Kedua laki-laki itu berniat menyerang Kimberly kembali, namun usahanya digagalkan oleh kedatangan beberapa laki-laki berpakaian hitam.
"Berani kalian menyentuh gadis itu, maka hari ini kalian akan menghadap Tuhan!"
Deg..
Baik kedua laki-laki itu, Kimberly maupun semua orang yang ada di sekitarnya melihat kearah beberapa laki-laki berpakaian hitam.
Salah satu laki-laki itu melihat kearah Kimberly sembari membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat.
"Nona."
"Kakak Deryl!"
Yah! Laki-laki itu adalah Deryl yang tak lain adalah tangan kanan Uggy Aldama. Deryl datang dengan beberapa anggotanya.
"Apa Nona terluka?"
"Aku baik-baik saja."
"Nona tidak bohong?"
"Kakak Deryl bisa melihat sendiri."
"Baiklah. Saya percaya."
Melihat laki-laki berpakaian hitam itu begitu hormat kepada gadis SMA tersebut membuat semua orang yang ada disana berpikir bahwa gadis SMA itu berasal dari orang terpandang dan berada. Dan orang-orang yang berpakaian hitam itu adalah para penjaganya.
"Kalian sudah berani mencari masalah dengan Nona Kimberly! Apa kalian semua sudah bosan hidup?!"
"Nona, apa yang mereka lakukan?"
"Mereka selama ini selalu memalak dan suka menyakiti para pedagang disini, kak! Mereka juga memaksa semua pedagang disini untuk menyerahkan uangnya. Jika mereka tidak mendapatkan uang tersebut, maka mereka akan menyakiti para pedagang-pedagang disini."
"Sekarang apa yang ingin nona lakukan?"
"Aku mau mereka semua dibawa ke kantor polisi. Tidak usah terlalu lama berurusan dengan mereka. Pastikan mereka mendapatkan hukuman setimpal."
"Baiklah kalau itu yang nona inginkan."
Setelah itu, Deryl langsung memberikan perintah kepada anggotanya untuk membawa keenam laki-laki itu ke kantor polisi.
"Kalian, bawa mereka ke kantor polisi. Pastikan mereka mendapatkan hukuman penjara seumur hidup."
"Siap!"
Melihat kepergian keenam preman tersebut membuat para pedagang tersenyum bahagia. Akhirnya mereka semua terlepas dari pemalakan.
Mereka semua menghampiri Kimberly dengan tersenyum sembari mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.
"Terima kasih, nona. Jika bukan berkat nona, kami semua pasti akan dipalak setiap hari."
"Kami benar-benar berterima kasih terhadap nona."
Kimberly tersenyum mendengarnya. Namun dia sedikit kesal karena para pedagang hanya diam dan pasrah tanpa perlawanan. Begitu juga dengan beberapa orang-orang yang melihatnya. Tidak ada satu pun yang mau membantu.
"Seharusnya kalian jangan diam saja ketika dipalak atau disakiti. Coba bayangkan. Kalian ada banyak, sedangkan mereka hanya berenam. Apakah tidak ada niat sama sekali dalam diri kalian untuk melawan? Kalian jangan mau ditindas dan dipalak."
Mendengar ucapan demi ucapan dari gadis SMA di hadapannya itu membuat para pedagang terdiam sembari sedikit menunduk.
Kimberly menatap orang-orang di sekitarnya. "Dan untuk kalian juga! Kalian tidak memiliki empati sedikit pun ketika melihat ada kekerasan di depan mata kalian. Kalian sama sekali tidak ada niatan untuk memberikan pertolongan."
"Jika kalian takut menghadapi sendirian, kalian bisa secara bersamaan. Dengan begitu orang-orang jahat itu akan kalah."
Semuanya hanya diam ketika mendengar ucapan dari gadis SMA itu. Tidak yang bersuara sama sekali.
"Aku harap ini tidak terulang kembali. Lain kali kalian harus berani melawan. Jangan diam saja. Jika tidak berani sendiri, kompaklah. Jika kalian kompak, maka orang-orang yang berbuat jahat dengan kalian akan ketakutan."
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi dan diikuti oleh Deryl dan beberapa anggotanya di belakang.