THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ancaman Triny



Kini Kimberly sudah berada di kelasnya. Ketika Kimberly tiba di kelasnya. Kimberly disambut dengan sorakan kebahagiaan oleh keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya.


Teman-teman sekelas kecuali Syafina dan teman-temannya serta teman-temannya Talitha memberikan banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi padanya sehingga dirinya harus berakhir duduk di kursi roda.


"Kimberly. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa benar kata Wulan jika ini ulahnya Talitha?" tanya salah satu teman sekelas Kimberly.


Kimberly yang mendapatkan pertanyaan tersebut hanya menatap bingung temannya itu.


Kimberly menolehkan wajahnya melihat kearah keempat sahabatnya. Mereka yang mengerti tatapan matanya Kimberly langsung memberitahu yang sebenarnya.


"Talitha yang udah nabrak lo," sahut Catharine.


"Hah!" Kimberly seketika membelalakkan matanya dan membuka mulutnya saking terkejut mendengar ucapan dari Catharine.


Baik teman-teman sekelasnya maupun keempat sahabatnya tersenyum geli melihat wajah terkejut Kimberly. Sedangkan Rere langsung menyentil mulutnya Kimberly karena gemasnya.


"Gak usah berlebihan gitu juga kali," ejek Kimberly.


"Biasanya aja kalau terkejutnya. Jelek tahu." Santy juga ikut meledek Kimberly.


"Aish," ucap Kimberly sembari mengusap bibirnya yang habis kena sentil oleh Rere.


"Hahahaha." mereka semua tertawa.


"Jadi benar kalau Talitha yang udah nabrak aku waktu itu?" tanya Kimberly.


"Iya. Memang dia pelakunya," jawab Sinthia.


"Arini dan Wulan yang awalnya mengatakan pada kami dan kepada ketiga kakak sepupu kamu," sahut Santy.


Kimberly melihat kearah Arini dan Wulan. "Apa itu benar? Kenapa kalian bisa yakin jika Talitha pelakunya?" tanya Kimberly.


Arini dan Wulan hanya tersenyum. Kemudian Wulan mengambil ponselnya. Setelah itu, Wulan membuka galerinya dan mencari sebuah video.


Setelah mendapatkan video yang dicari. Wulan pun memberikan ponsel nya kepada Kimberly.


"Ini Kimberly. Lihatlah sendiri."


Kimberly mengambil ponsel milik Wulan, lalu melihat sebuah video yang ada di ponsel Wulan.


Seketika mata Kimberly membelalakkan matanya ketika melihat dan mendengar apa yang ada di dalam video itu.


"Segitunya Talitha benci aku hanya karena Tommy lebih milih aku dan tidak ingin balik lagi sama dia," ucap Kimberly pelan.


Kimberly menangis ketika melihat kenyataan akan pelaku yang telah menabraknya.


Mereka yang melihat Kimberly yang menangis menjadi tidak tega. Catharine yang duduk di sampingnya langsung memeluknya.


"Catharine. Aku salah ya karena telah jatuh cinta kepada Tommy dan membuat Talitha sakit hati?"


Catharine makin mengeratkan pelukannya. Catharine tahu jika saat ini mood Kimberly sedang tak baik.


"Siapa bilang? Kamu gak salah Kim. Tommy sendiri yang milih kamu buat jadi kekasihnya dia. Masalah Talitha. Dia hanya masa lalunya Tommy. Jika dia cinta sama Tommy. Seharusnya dulu dia gak ninggalin Tommy demi laki-laki yang lebih kaya dari pada Tommy. Dan sekarang dia kembali ketika Tommy sudah hidup bahagia dengan kamu. Dia kembali karena dia mengetahui status asli Tommy."


Catherine berusaha menenangkan Kimberly. Catharine tidak ingin Kimberly jatuh sakit hanya memikirkan masalahnya.


Catharine melepaskan pelukannya, lalu tangannya mengusap air mata Kimberly.


"Sudah ya. Jangan nangis lagi. Kamu gak usah mikir macem-macem. Positif thinking aja. Semoga semuanya baik-baik saja. Yang jelas kamu disini tidak merebut siapa pun. Satu hal yang harus kamu ingat. Tommy cinta sama kamu. Dan keluarganya Tommy sudah menerima kamu dan menganggap kamu sebagai calon menantunya. Itu adalah kado terindah yang harus kamu syukuri."


Mendengar perkataan dari Catharine membuat hati Kimberly menghangat. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Iya, Kim! Apa yang dikatakan oleh Catharine benar? Kamu gak usah mikir hal-hal yang jelek. Kamu pikirkan saja hubungan kamu dan Tommy. Masalah orang yang gak suka sama kamu, orang-orang yang gak suka dengan hubungan kamu dengan Tommy. Itu urusan mereka. Bukan urusan kamu. Ngapain juga kamu harus susah-susah mikirin mereka." Rere berbicara sambil menghibur Kimberly.


"Benar tuh!" seru teman-teman sekelas Kimberly dengan kompak, kecuali Syafina dan teman-temannya dan teman-temannya Talitha.


Mendengar kekompakan teman-teman sekelasnya membuat Kimberly dan keempat sahabatnya tertawa.


"Ya, sudah. Kita ke kantin yuk. Masih ada waktu nih buat kita makan." Santy berbicara sambil melirik jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya.


"Ayo," sahut Rere, Catharine dan Sinthia.


Sinthia langsung mendorong kursi roda Kimberly keluar meninggalkan kelas.


Saat ini di kantin ada Billy, Aryan, Triny, Tommy dan para sahabatnya. Mereka telah memesan banyak makanan. Mereka akan makan bersama dengan Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Kenapa Kimberly dan keempat sahabatnya belum muncul juga. Gak mungkin kelas mereka belum pada keluar." Triny berbicara sambil melihat kesegala penjuru kantin hanya untuk mencari sosok adik sepupunya itu.


Ketika mereka tengah membahas Kimberly, tiba-tiba orang yang mereka bicarakan muncul bersama keempat sahabatnya.


"Nah itu si anak kelincinya datang bersama keempat sahabatnya!" seru Aryan.


Mereka semua melihat kearah tunjuk Aryan. Dan dapat mereka lihat Sinthia yang mendorong kursi roda Kimberly. Berjalan sambil tertawa.


"Itu kenapa kelompok cumi-cumi menghadanag Kimberly," ucap Andhika.


Mereka melihat tujuh murid baru kelas 10B yang kini sedang menghadang jalannya Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Aish! KO yang satu. Datang satu penggantinya," batin Kimberly kesal.


"Mau apa?" tanya Kimberly dengan ekspresi wajah malasnya.


Kimberly melihat name tag di sebelah kiri jas sekolah gadis itu.


"Gracia Aditya. Nama yang bagus. Eeemm.. Tapi gak sebagus namaku. Lebih bagus namaku Kimberly Aldama," batin Kimberly sembari senyam senyum sendiri.


Gracia yang melihat Kimberly senyam senyum seketika marah. Gracia berpikir jika Kimberly mengejek dirinya.


"Yak! Kenapa kau senyam senyum, hah?!" teriak Gracia. Teriakan Gracia menggema di dalam kantin.


Mendengar teriak dari Gracia membuat Kimberly terkejut dan tersadar dari aksi membatinnya sehingga tanpa sadar mulutnya mengeluarkan bermacam umpatan dan makian.


"Dasar sialan, setan, bangsat. Mati saja kau!" teriak Kimberly.


Mendengar teriakan dan kata-kata manis dari Kimberly membuat seisi kantin tertawa keras, termasuk ketiga sepupunya, kekasihnya dan para sahabat ketiga sepupunya. Dan jangan lupa tawa mengejek dari keempat sahabatnya.


"Hahahahahaha."


Merasa dipermainkan dan ditertawakan membuat Gracia dan keenam sahabatnya marah.


"Sialan kau. Beraninya kau berbicara seperti itu padaku, hah?!" bentak Gracia.


Seketika Kimberly membelalakkan matanya dan tangannya menutup mulutnya ketika melihat wajah marah Gracia.


"Oppss!! Sorry!! Aku... Aku sengaja," ucap Kimberly.


"Brengsek!"


Gracia mengangkat tangannya hendak menampar Kimberly. Tapi bukan Kimberly namanya yang hanya diam saja. Kimberly memegang sandaran kursi rodanya. Melihat apa yang akan dilakukan oleh Kimberly. Rere, Santy, Sinthia dan Catharine menepi.


Ketika Gracia ingin menampar wajah Kimberly. Kimberly langsung menekan tombol yang ada di salah satu sandaran di kursi rodanya dan seketika kursi roda Kimberly bergerak mundur dan mengakibatkan Gracia terjatuh tersungkur ke depan.


BRUUKK!


"Bhahahahaha."


Semuanya tertawa ketika melihat Gracia yang tersungkur karena tidak berhasil menampar Kimberly.


"Gracia!" teriak keenam sahabatnya.


"Sorry," ucap Kimberly.


Setelah itu, Kimberly mendorong kursi rodanya menuju tempat makanan. Saat ini dirinya benar-benar lapar.


Dan ketika Kimberly mendorong kursi rodanya. Salah satu sahabat Gracia yaitu Hilda mendorong kursi roda Kimberly sehingga kursi rodanya Kimberly jatuh ke samping.


BRUUKK!


"Aaakkkhhh!" teriak Kimberly ketika kaki kirinya terhimpit.


"Kimberly!" teriak keempat sahabatnya, ketiga sepupunya dan juga Tommy. Mereka berlari menghampiri Kimberly


Catharine mendorong kuat tubuh Hilda. "Lo apa-apaan, hah! Lo mau buat teman gue celaka!"


"Iya. Gue mau buat teman lo itu celana. Kalau perlu mati sekalian!" teriak Hilda.


PLAAKK!


"Aakkhhh!" teriak Hilda merasakan panas dan juga perih di wajahnya.


"Kak Triny," ucap Catharine.


Yang menampar Hilda adalah Triny. Triny menampar Hilda karena tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh Hilda untuk adiknya.


"Menjauhlah dari Kimberly dan para sahabatnya. Jika kau dan teman-temanmu masih mengganggu mereka. Maka aku yang akan membunuhmu dan teman-temanmu itu." Triny berbicara dengan menatap tajam Hilda.


Sementara Hilda sudah ketakutan ketika mendengar ucapan dan juga tatapan mata Triny. Begitu juga dengan Gracia dan yang lainnya.


"Billy. Kaki aku sakit," keluh Kimberly sambil memegang kaki kirinya.


Seketika mata Billy, Triny, Aryan, Tommy dan para sahabatnya membelalak ketika melihat pergelangan kaki kiri Kimberly yang sudah membiru.


"Astaga, Kim! Kaki kamu!" Santy menangis melihat kaki sahabatnya itu kembali sakit.


"Aakkhh!" Kimberly meringis kesakitan.


Kakinya benar-benar sakit saat ini. Dan tiba-tiba saja Kimberly menjatuhkan kepalanya di bahu Tommy. Kimberly pingsan.


"Kimberly!" teriak mereka semua.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Andhika.


Tommy langsung menggendong tubuh Kimberly dan membawanya menuju mobilnya. Andhika lari terlebih dahulu ke parkiran untuk menghidupkan mobilnya. Dan di susul oleh Billy.


Sementara untuk yang lainnya tetap berada di sekolah. Yang pergi ke rumah sakit Tommy, Billy dan Andhika.


Triny melihat kearah Gracia dan keenam sahabatnya. Triny kemudian menghampiri mereka. Melihat Triny yang kembali menghampiri Gracia membuat Aryan dan yang lainnya takut. Aryan dan yang lainnya mengekori dari belakang.


"Jika terjadi sesuatu kepada Kimberly. Dan jika kakinya tambah parah akibat ulah salah satu dari kalian. Awas kalian. Aku akan balas kalian. Ingat itu!"


Setelah mengatakan itu, Triny pun pergi dan diikuti oleh yang lainnya di belakang.