THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pengganggu



Pagi ini Kimberly diantar oleh kakak tertuanya yaitu Jason Aldama. Selama dalam perjalanan Kimberly tak henti-hentinya bercerita dan bertanya ini itu kepada kakaknya.


Jason yang mendengar celoteh-celoteh dan pertanyaan-pertanyaan dari adik perempuannya mendengar dengan setia sembari tersenyum dan mengusap-usap lembut kepalanya.


"Kakak," panggil Kimberly.


"Hum!" Jason menjawab panggilan dari adik perempuannya dengan deheman sambil fokus membawa mobil.


"Bagaimana kabar bajingan itu? Apa kakak dan kak Uggy sudah menyelesaikan tugasnya?" tanya Kimberly.


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari adik perempuannya membuat Jason langsung paham.


Jason melirik sekilas kearah adik perempuannya yang saat ini adik perempuannya menatap ke depan. Setelah itu, Jason kembali menatap kearah depan.


"Bajingan itu masih berada di markas Uggy," jawab Jason.


Kimberly melihat kearah kakaknya. Sedangkan Jason yang ditatap oleh adiknya seketika menghentikan laju mobilnya.


Setelah mobil berhenti, Jason melihat kearah adiknya yang saat ini sudah kembali menatap kearah depan.


Jason mengusap lembut kepala adiknya. Jason tahu bahwa saat ini adiknya memikirkan laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar pada dirinya.


"Ada apa, hum? Kenapa kamu menanyakan tentang bajingan itu" ucap dan tanya Jason lembut.


"Akhiri saja hukuman untuk bajingan itu. Kakak dan kak Uggy nggak usah lama-lama mengurungnya di markas. Lepaskan dan serahkan kepada kak Pasya. Biar kak Pasya yang menyelesaikan pekerjaannya."


Mendengar perkataan dari adik perempuannya membuat Jason menatap lekat wajah adiknya.


"Yakin kamu mau melepaskan laki-laki itu dan menyerahkan laki-laki itu kepada kakak sepupu kamu tanpa pembalasan dari kamu?" tanya Jason.


"Aku nggak mau ketemu sama dia. Aku ingin melupakan kejadian itu. Aku nggak mau ingat kejadian itu lagi. Kalau aku nemuin dia, takutnya nanti aku justru sulit melupakan kejadian tersebut."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Kimberly membuat Jason langsung paham dan mengerti. Di dalam hatinya, Jason membenarkan perkataan dari adiknya itu. Jujur Jason tidak ingin terjadi sesuatu terhadap adiknya jika adik bertemu dengan laki-laki itu. Melihat adiknya yang sekarang, Jason sudah sangat bahagia.


Jason mengusap lembut kepala belakang adiknya. "Baiklah kalau itu mau kamu. Kakak dan Uggy akan melepaskan bajingan itu dan menyerahkannya kepada Pasya."


Setelah itu, Jason kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dan kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah adiknya. Dari sekolah adiknya barulah Jason akan ke perusahaan miliknya.


***


Billy, Aryan, Triny, Tommy dan para sahabatnya sudah berada di sekolah. Begitu juga dengan keempat sahabatnya Kimberly.


Mereka saat ini berada di halaman sekolah sembari menunggu kedatangan Kimberly.


"Billy, jadi hari ini Kimberly pergi sekolahnya diantar sama kak Jason ya?" tanya Catherine.


"Iya," jawab Billy.


"Lah. Bukannya kemarin Kimberly ngomong sama kita-kita kalau dia pergi sekolahnya bareng Triny," ucap Santy.


"Ya, mana aku tahu! Tanyakan saja sama anaknya kenapa tiba-tiba berubah pikiran," jawab Triny.


Mendengar jawaban tak mengenakkan dari Triny membuat Santy seketika mencebik kesal.


"Nggak adiknya nggak kakaknya. Keduanya sama saja. Sama-sama menyebalkan dan nggak berperasaan," gerutu Santy.


Mendengar gerutuan Santy membuat mereka tersenyum, tapi tidak dengan Triny. Justru Triny menatap horor kearah Santy.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Triny.


"Aku nggak bilang apa-apa," jawab Santy.


"Tapi aku dengar kalau kamu tadi bilang....."


"Kakak Triny salah dengar kali," jawab Santy.


Mendengar jawaban demi jawaban dari Santy membuat Triny mendengus kesal.


"Dasar aneh," sahut Triny.


"Kakak Triny bilang apa?" tanya Santy.


"Nggak. Kakak nggak bilang apa-apa. Kamu salah dengar tadi," jawab Triny.


"Aish! Itukan kata-kata aku," ucap Santy tak terima.


"Memangnya kenapa?" tanya Triny.


"Kakak Triny plagiat kata-kata aku. Itu suatu pelanggaran hak cipta," jawab Santy.


Dan pada akhirnya semuanya tertawa ketika mendengar perdebatan dan perang kata-kata antara Triny dan Santy.


Sejak tadi mereka hanya menyimak dan mendengar ucapan demi ucapan dari Triny dan Santy sembari tersenyum.


Ketika Billy, Triny, Aryan, Tommy, para sahabatnya dan keempat sahabatnya Kimberly tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan salah satu teman sekelasnya Billy.


"Billy."


Mendengar namanya dipanggil. Billy langsung melihat keasal suara. Dan dapat Billy lihat teman sekelasnya dan juga teman sekelasnya sahabat-sahabatnya.


"Iya, ada apa?" tanya Billy.


"Itu di depan gerbang masuk ada beberapa orang yang ribut dengan Kimberly."


Mendengar jawaban dari teman sekelasnya membuat Billy terkejut dengan mata membelalak. Begitu juga dengan Tommy, Aryan, Triny serta yang lainnya.


Tommy seketika berlari menuju gerbang sekolah dan diikuti oleh yang lainnya. Begitu juga dengan teman sekelasnya tersebut.


^^^


"Gue nggak punya urusan sama kalian," ucap Kimberly dengan menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Tapi kita punya urusan sama kamu!" bentak seorang wanita paruh baya dengan menunjuk kearah Kimberly.


"Bodoh amat," jawab Kimberly lalu melangkah memasuki gerbang sekolahnya.


Sepuluh menit Jason pergi meninggalkan sekolah Kimberly, beberapa orang datang dan langsung memanggil Kimberly ketika Kimberly tengah melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolahnya.


"Berani kamu sama saya, hah?!" bentak seorang wanita paruh baya dengan menatap marah Kimberly.


"Sejak kapan gue takut sama orang seperti anda? Dalam kamus hidup gue. Gue nggak pernah takut dengan siapa pun di dunia ini, termasuk anda dan antek-antek anda." Kimberly menjawab perkataan dari perempuan yang berdiri di hadapannya.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat wanita paruh baya itu marah. Begitu juga dengan laki-laki yang berdiri di samping wanita itu.


Laki-laki yang berdiri di samping wanita itu adalah adik laki-lakinya. Laki-laki itu menatap marah Kimberly.


"Berani sekali kau bicara seperti itu kepada kakak perempuanku, hah!" bentak laki-laki itu.


"Kenapa? Tidak terima? Salahkan dia yang sejak tadi menghalangiku untuk pergi dari sini," jawab Kimberly.


Baik laki-laki itu maupun perempuan tersebut menggeram marah menatap Kimberly.


Dan detik kemudian, perempuan itu mengangkat tangannya hendak menampar wajah Kimberly.


Namun baru hendak melayangkan tangannya ke wajah Kimberly, tiba-tiba seseorang menahan tangannya dan meremat kuat tangannya.


Seketika wanita itu menatap dengan wajah terkejut ketika melihat wajah pemuda yang menahan tangannya.


"N-nak Tommy," ucap wanita itu gugup.


Ya! Seseorang yang datang menahan tangan perempuan tersebut adalah Tommy. Tommy datang bersama dengan yang lainnya.


"Iya, ini aku! Kenapa?"


Tommy menghempaskan kuat tangan perempuan tersebut dengan tatapan matanya menatap tajam kearah perempuan yang sudah berani ingin menampar masa depannya.


Tommy melirik kearah Kimberly yang saat ini tatapan matanya menatap tajam kearah musuhnya.


"Kamu nggak apa-apa, Kim?" tanya Tommy.


"Aku baik-baik saja," jawab Kimberly tanpa melihat kearah Tommy.


Tommy kembali menatap orang-orang yang ada di hadapannya. Kini tatapan matanya terkunci kearah wanita yang berdiri di hadapannya.


"Mau apa anda datang kemari. Bahkan anda berani ingin menampar calon istri saya?" tanya Tommy yang seenaknya mengklaim Kimberly sebagai calon istrinya.


Kimberly yang mendengar perkataan seenaknya dari Tommy seketika membulatkan matanya tak percaya. Dirinya tak menyangka jika Tommy akan berbicara seperti itu.


Kimberly mengalihkan perhatiannya dari menatap wajah musuhnya kini menatap wajah Tommy. Sedangkan Tommy yang sadar bahwa Kimberly tengah menatap dirinya seketika bersuara.


"Aku tahu aku ini tampan. Jadi jangan menatapku seperti itu."


Seketika Kimberly langsung membuang wajahnya ke depan. Dan jangan lupa mulutnya yang mengumpat kesal akan kelakuan Tommy.


Sementara Billy, Triny, Aryan, Andhika, para sahabatnya dan keempat sahabatnya tersenyum ketika mendengar perkataan dari Tommy dan tersenyum geli ketika melihat wajah malu serta kesal Kimberly.


Bagaimana dengan perempuan yang berdiri di hadapan Tommy dan Kimberly. Serta adik laki-lakinya ketika mendengar perkataan Tommy yang mengatakan bahwa Kimberly adalah calon istrinya? Keduanya menatap tak percaya Tommy.