
Acara kuis yang diadakan oleh Kimberly berjalan dengan lancar. Semua hadiah telah diberikan kepada para peserta yang ikut dalam kuis tersebut. Mereka semua begitu bahagia ketika mendapatkan hadiah dan barang-barang mahal dari Kimberly, ketiga sepupu Kimberly dan para sahabatnya.
Setelah acara kuis itu selesai. Tommy mengajak Kimberly ke rumahnya. Tommy berniat ingin mengenalkan Kimberly kepada keluarganya terutama kedua orang tuanya. Beberapa hari ini kedua orang tuanya selalu mempertanyakan kapan mereka akan diperkenalkan dengan Kimberly.
Baik Kimberly maupun Lusiana, ibunya Tommy sama-sama tidak mengetahui jika mereka sudah pernah bertemu. Bagaimana reaksi keduanya ketika bertemu lagi.
Kini Tommy dan Kimberly berada di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah keluarga Alexander. Tommy sudah tahu jika kedua orang tuanya bersahabat dengan kedua orang tuanya Kimberly. Sementara Kimberly belum mengetahui akan hal itu.
"Tommy, berhenti!" seru Kimberly tiba-tiba.
CKIITT!
DUG!
"Aww," Kimberly mengusap-ngusap keningnya.
Tommy seketika langsung menginjak rem karena terkejut dengan Kimberly yang tiba-tiba minta berhenti sehingga membuat kening Kimberly kejedut.
"Kim, kamu tidak apa-apa? Maafkan aku ya." Tommy menatap khawatir Kimberly sambil tangan mengusap kening Kimberly sayang.
"Ya. Gak apa-apa. Disini aku yang salah. Aku tiba-tiba nyuruh kamu berhenti," jawab Kimberly.
"Sini lihat keningnya," ucap Tommy sambil memegang kepala belakang Kimberly.
Kimberly melihat kearah Tommy dengan sedikit mendekatkan wajahnya sehingga wajah Kimberly dan juga wajah Tommy berdekatan.
Tommy melihat tepat di kening Kimberly. Ada sedikit memar di sana. Melihat itu, Tommy merutuki kebodohannya karena sudah melukai kesayangannya.
Berlahan Tommy mendekatkan wajahnya ke wajah Kimberly, lalu mengecup memar di kening Kimberly.
Setelah memberikan kecupan di kening Kimberly. Tommy mengambil saleb di dalam laci mobilnya. Saleb itu biasa digunakan olehnya dan keluarganya jika ada anggota tubuhnya yang memar kebiruan.
Setelah mendapatkan saleb itu, Tommy menggosokkan saleb itu di kening Kimberly yang memar kebiruan itu.
"Sshhh," Kimberly sedikit meringis ketika Tommy mengolesi seleb itu.
"Sakit?" tanya Tommy.
"Sedikit. Kamu terlalu nekan memarnya," jawab Kimberly.
"Maaf ya. Kalau gak kayak gini. Memarnya gak akan kempes. Percayalah. Setelah ini memarnya akan hilang."
Kimberly tersenyum mendengar jawaban dari Tommy. "Aku percaya. Terima kasih," balas Kimberly.
"Sama-sama sayangku," sahut Tommy.
"Aish, apaan sih." Kimberly tersipu malu dan kemudian membuang pandangannya ke depan. Tommy yang melihatnya tersenyum.
"Kimberly," panggil Tommy.
Kimberly melihat kearah Tommy. Dan Tommy pun langsung menyerang bibir Kimberly. Bibir Tommy menempel ke bibir Kimberly. Tommy menghisap bibir Kimberly perlahan. Tommy memperdalam ciumannya sambil tangannya menekan kepala tengkuk Kimberly. Kimberly dan Tommy saling memainkan lidahnya.
Setelah beberapa menit, ciuman keduanya pun selesai. Tommy menyudahi kegiatannya karena Kimberly memukul dadanya.
"Aish. Aku menyuruhmu berhenti bukan minta dicium." Kimberly berucap kesal.
Sementara Tommy tersenyum ketika mendengar protes dari Kimberly.
"Oke... Oke! Maafkan aku. Sekarang katakan padaku. Kenapa memintaku untuk berhenti?" tanya Tommy lembut.
"Kamu kan mau mempertemukan aku dengan Mami kamu?" tanya Kimberly.
"Iya. Terus kenapa? Masalah apa?" tanya Tommy dengan menatap sambil mengejek Kimberly. "Takut ya ketemu sama calon mertua."
TAK!
Kimberly memberikan kita kan di kening Tommy. Sementara Tommy hanya pasrah mendapatkan jitakkan gratis dari Kimberly.
"Aku harus bawa apa? Gak mungkin kan gak bawa apa-apa ketika datang ke rumah kamu," ucap dan tanya Kimberly pelan.
Tommy tersenyum ketika mendengar ucapan dari Kimberly, kemudian tangannya mengacak-acak rambut kekasihnya itu.
"Mami suka buka mawar merah sama macaroon," ucap Tommy.
"Baiklah. Aku akan membelikannya untuk Mami kamu. Kamu tunggu saja di mobil. Biar aku saja yang turun!" seru Kimberly.
"Kamu mau beli dimana?" tanya Tommy ketika melihat Kimberly yang hendak membuka pintu mobil.
"Tuh," tunjuk Kimberly keluar jendela.
Tommy melihat kearah tunjuk Kimberly yang mengarah kearah kanannya.
Tommy tersenyum. "Jadi itu alasan kamu menyuruh aku menghentikan mobilnya?" tanya Tommy.
"Hm," jawab Kimberly sambil menganggukkan kepalanya. Tommy kembali mengacak-acak rambut kekasihnya itu.
"Ya, udah. Aku kesana. Kamu tunggu aja disini."
"Siap ratuku." Tommy memberikan penghormatan kepada Kimberly.
"Lebay," jawab Kimberly
Kimberly pun keluar dari dalam mobilnya untuk pergi menuju toko kue yang ada di seberang jalan.
Tanpa Kimberly dan Tommy sadari. Ada sebuah mobil yang memang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Pemilik mobil itu sudah mengincar Kimberly sejak keluar meninggalkan perkarangan sekolah.
Tommy yang baru menyadari saat matanya tak sengaja melihat dari kaca spionnya sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari belakang mobilnya tiba-tiba melaju begitu cepat. Matanya seketika membelalak ketika mobil tersebut mengarah kepada Kimberly.
Tommy langsung keluar dari dalam mobilnya. Dan seketika...
GEDEBAG!
GEDEBUG!
BRUUKK!
"Tidakk... Kimberly!" teriak Tommy dan langsung berlari mendekati tubuh Kimberly yang sudah tergeletak di tengah jalan.
Tubuh Kimberly terlempar cukup keras akibat ditabrak mobil tersebut. Sementara mobil yang sudah berhasil menabrak Kimberly melarikan diri.
Tommy mengangkat kepala Kimberly dan meletakkannya di atas kepalanya. Tommy menangis kala melihat kondisi Kimberly yang bermandikan darah.
"Kim... Hiks. Bangunlah."
Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berlari untuk memberikan pertolongan. Salah satu dari orang-orang itu sudah menghubungi polisi dan ambulance.
***
Tommy sudah berada di rumah sakit. Sementara Kimberly sudah berada di ruang operasi.
Ketika ambulance yang membawa Kimberly ke rumah sakit. Pihak rumah sakit langsung gerak cepat memberikan pertolongan kepada Kimberly. Sementara Tommy langsung menghubungi Billy.
Tommy saat ini benar-benar tampak kacau. Bajunya penuh dengan darah dari Kimberly. Matanya sembab karena menangis ketika melihat kondisi Kimberly yang tergeletak bersimbah darah.
Tommy menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi terhadap Kimberly. Bahkan Tommy berulang kali memukul-mukulin dinding rumah sakit untuk mengeluarkan semua amarah dan rasa bersalahnya.
Tommy terduduk di lantai rumah sakit yang dingin dengan punggung bersandar di dinding.
"Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi sendirian. Seharusnya aku menemaninya. Kim... Hiks... Maafkan aku... Maafkan aku... Hiks," ucap Tommy sembari terisak.
"Sayang," lirih Lusiana dan langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya.
"Hiks... Hiks... Mami... Kimberly... Hiks," isak Tommy seketika di dalam pelukan ibunya.
Mendengar isakan dari putranya membuat hatinya terasa sakit dan juga sesak.
Lusiana datang bersamaan dengan seluruh anggota keluarga dari Kimberly. Setelah mendapatkan panggilan dan kabar dari Tommy. Billy langsung mengabari keluarga besarnya. Begitu juga dengan Andhika. Andhika juga menghubungi keluarganya Tommy yang tak lain adalah om dan tantenya sendiri. Andhika tahu jika saat dalam kondisi seperti ini yang dibutuhkan Tommy adalah pelukan dari ibunya.
"Mami, aku takut. Aku takut jika terjadi sesuatu terhadap Kimberly. Aku takut jika Kimberly tidak mau bangun," lirih Tommy.
Lusiana menangis mendengar retetan ketakutan dari mulut putranya. Dirinya juga berharap jika calon menantunya itu baik-baik saja.
Nashita melangkahkan kakinya mendekati Tommy dan Lusiana. Nashita juga menangis ketika mendengar ucapan dan isakan dari Tommy.
Kini Nashita sudah berada di hadapan Tommy. Tangannya mengusap lembut kepala Tommy.
"Sayang, ini Mommy!"
Tommy yang mendengar suara lembut dari ibunya Kimberly langsung melepaskan pelukan ibunya. Tatapan matanya tertuju pada wajah cantik ibunya Kimberly.
"Maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak membiarkan Kimberly pergi sendiri ke toko kue itu."
Nashita tidak tega melihat wajah terpukulnya dan juga wajah bersalahnya Tommy. Kemudian Nashita menarik tubuh Tommy ke dalam dekapannya.
"Tidak sayang. Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir, Nak! Jika pun kamu pergi menemani Kimberly. Kejadian itu akan tetap terjadi." Nashita berbicara lembut kepada Tommy. Nashita tahu bahwa saat ini Tommy sangat terpukul atas apa yang menimpa putrinya.
Nashita melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan calon menantunya itu. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata di wajah tampan Tommy.
"Kalau Mommy boleh tahu. Kamu sama Kimberly mau pergi kemana? Sementara kalian masih memakai pakaian seragam sekolah?" tanya Nashita.
"Aku... Aku mau mengajak Kimberly ke rumah untuk memperkenalkan dengan keluargaku. Tiba-tiba di tengah jalan Kimberly menyuruhku berhenti. Dan saat aku bertanya ternyata di seberang jalan ada toko kue. Kimberly ingin membelikan kue untuk Mami. Beberapa menit kemudian, aku pun menyadari dengan mobil yang terparkir tak jauh di belakang mobilku. Aku memperhatikan mobil itu dari kaca spionku dan berlahan mobil itu bergerak secara berlahan-lahan. Aku langsung keluar dari dalam mobil dan hendak memanggil Kimberly. Namun mobil itu sudah terlebih dahulu melesat kearah Kimberly dan menabrak tubuh Kimberly."
Tommy menceritakan kejadian yang menimpa Kimberly dengan air mata yang mengalir membasahi wajah tampannya.
Mendengar cerita dari Tommy membuat anggota keluarga Kimberly menggeram marah. Mereka bersumpah kali ini pelaku yang sudah menyakiti kesayangannya itu mati. Sudah cukup selama ini mereka memberikan kata maaf. Mereka hanya menghancurkan para musuh-musuhnya melalui Perusahaan tanpa membunuh.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menabrak adikku hidup. Dia benar-benar harus mati," ucap Jason dengan nada amarahnya.
"Kau benar Kak. Tidak ada kata ampun lagi untuk pelaku yang sudah menabrak adik manis kita," sahut Uggy.
"Aku juga setuju. Kita sudah lama juga tidak membunuh orang," ujar Enda.
"Dan kali ini akan kita laksanakan. Orang itu harus mati," ucap Riyan.
Jason melihat kearah Tommy. "Apa kamu melihat plat mobilnya, Tommy?"
"Aku tidak lihat Kak. Dan sepertinya mobil itu tidak memakai plat mobil sama sekali," jawab Tommy.
"Fix! Pasti orang itu sudah mengincar Kimberly!" seru Arka, kakak tertua Tommy.
Arka melihat kearah adiknya. "Tommy, sebelum itu. Kamu dan Kimberly kemana dulu?" tanya Arka.
"Aku dan Kimberly gak kemana-mana Kak. Setelah acara kuis yang diadakan oleh Kimberly di sekolah selesai. Aku langsung pamit sama Billy dan yang lain untuk ajak Kimberly pergi."
"Berarti orang itu sudah mengincar Kimberly sejak di sekolah. Orang itu menunggu Kimberly keluar meninggalkan sekolah. Terserah Kimberly mau pergi dengan siapa!" seru Arka.
Mendengar ucapan dan penjelasan dari Arka. Mereka semua setuju apa yang dikatakan oleh Arka.