THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Masih Belum Menyerah



Billy dan Tommy saat ini berada di perpustakaan. Keduanya sedang mencari sebuah buku yang berhubungan dengan jurusan IT.


Sementara untuk Andhika dan sahabat-sahabatnya berada di kelas. Mereka menunggu disana.


Ketika Billy dan Tommy tengah fokus mencari buku tersebut, tiba-tiba dua orang gadis datang mengganggu mereka. Dan hal itu sukses membuat Billy dan Tommy kesal.


"Hei, Billy."


"Hei, Tommy."


"Aish! Mau ngapain sih dia?"


Billy dan Tommy berucap di dalam hati masing-masing dengan menatap tak suka kearah kedua gadis itu.


Kedua gadis itu adalah Gracia dan Syafina. Keduanya masih belum menyerah untuk mendapatkan cinta dari Billy dan Tommy.


Gracia sudah sembuh dari pasca perkelahiannya dengan Kimberly beberapa hari yang lalu. Setelah sembuh, Gracia memutuskan untuk kembali ke sekolah. Dirinya tidak akan membiarkan Kimberly berduaan dengan Tommy selama di sekolah.


Kini Gracia dan Syafina telah bersekongkol dan bekerja sama untuk mendapatkan pujaan hatinya masing-masing. Mereka saling bantu ketika ingin mendekati laki-laki yang mereka sukai.


Billy dan Tommy seketika pergi begitu saja meninggalkan Gracia dan Syafina. Keduanya memutuskan untuk kembali ke kelas.


"Billy/Tommy, tunggu!" teriak Syafina dan Gracia bersamaan sembari berlari mengejar Billy dan Tommy.


Sementara Billy dan Tommy sama sekali tidak peduli teriakan dari Syafina dan Gracia. Keduanya tetap melangkah menyusuri luasnya sekolah untuk menuju kelasnya.


Baik Billy maupun Tommy sama sekali tidak tertarik terhadap Gracia dan Syafina. Hati mereka sudah diberikan kepada gadis lain yang sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Billy!"


"Tommy!"


Gracia dan Syafina berteriak memanggil Billy dan Tommy sembari berlari kencang. Dan keduanya berhasil menghadang keduanya.


"Ada apa? Jika tidak ada hal yang penting ingin disampaikan. Lebih baik kamu pergi," ucap Tommy ketus dengan tatapan matanya menatap tak suka kearah Gracia.


"Aku lagi banyak tugas dan tidak bisa diganggu," ucap Billy ketus.


Mendengar perkataan dari Billy dan Tommy membuat hati Gracia dan Syafina terluka. Beribu cara telah dia lakukan. Bahkan cara extrem pun sudah mereka lakukan. Namun usaha untuk mendapatkan Billy dan Tommy selalu membuahkan kegagalan. Gracia dan Syafina masih belum berhasil mendapatkan cinta Billy dan Tommy.


"Tidak bisakah kau menerima cintaku, Tommy?" tanya Gracia.


"Bil, apa kurangnya aku? Kenapa susah sekali membuat kamu suka sama aku," ucap dan tanya Syafina.


Mendengar pertanyaan dari Gracia dan Syafina. Seketika Billy dan Tommy saling memberikan tatapan. Kemudian keduanya tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


Setelah itu, Billy dan Tommy kembali menatap Gracia dan Syafina yang saat ini masih menatap wajahnya. Billy dan Tommy dapat melihat bahwa Gracia dan Syafina benar-benar tulus mencintainya.


Namun cinta tidak bisa dipaksakan. Apalagi ini masalah hati. Billy dan Tommy sama sekali tidak menaruh perasaan apapun terhadap Gracia dan Syafina, kecuali sebagai teman.


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku tidak mencintaimu. Hatiku sudah terisi nama gadis lain. Lebih baik kau cari laki-laki yang benar-benar mencintaimu. Jangan lagi menggangguku. Apalagi mengganggu Kimberly."


"Aku sarankan padamu Syafina. Berhentilah mengejar-ngejarku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Jangankan jatuh cinta, tertarik padamu saja tidak. Hatiku sudah terisi gadis lain. Dan kau tahu siapa dia. Dan aku ingatkan padamu. Jangan sesekali kau mengusik Catherine."


Billy dan Tommy berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata dan disertai dengan tatapan mata yang menatap tajam Gracia dan Syafina.


Setelah mengatakan itu, Billy dan Tommy pergi meninggalkan Gracia dan Syafina di lapangan.


Melihat kepergian Billy dan Tommy membuat Gracia dan Syafina menatap penuh amarah kepergian Billy dan Tommy. Kedua tangannya mengepal kuat.


"Kimberly, tunggu pembalasanku."


"Catherine. Aku bersumpah akan merebut Billy darimu. Lihat saja nanti."


***


Kimberly dan keempat sahabatnya yaitu Rere, Santy Sinthia dan Catherine kini sedang berjalan menyusuri setiap koridor sekolah. Mereka saat ini hendak pergi menuju kantin.


BRUKK!


"Aakkhh!


Seseorang menabrak tubuh Kimberly dan keempat sahabatnya sehingga membuat orang itu terjatuh tepat di hadapannya. Orang itu adalah adik kelasnya Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Murid perempuan itu seketika langsung melihat kearah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Setelah itu, murid perempuan itu berdiri dengan sesekali meringis kesakitan di bagian pantatnya.


"Kak Kimberly, kak Rere, kak Santy, kak Sinthia, kak Catherine. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja. Jangan marah ya kak," ucap gadis itu.


Mendengar perkataan maaf dan wajah takut adik kelasnya itu membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menatap iba dan kasihan.


"Kita nggak marah sama kamu," ucap Sinthia.


"Memangnya kamu kenapa? Kenapa lari-lari seperti ini?" tanya Kimberly.


Murid perempuan itu seketika melihat ke belakang. Terlihat sangat jelas kalau murid perempuan itu tengah ketakutan.


Kimberly yang melihat ketakutan dari adik kelasnya itu menatap kearah dimana arah tatapan adik kelasnya itu.


Murid perempuan itu kembali menatap wajah Kimberly sembari memohon.


"Kak, tolongin aku. Mereka mau nyakitin aku."


"Siapa yang mau nyakitin kamu?" tanya Kimberly yang memegang tangan adik kelasnya itu.


Ketika murid perempuan itu ingin menjawab pertanyaan dari Kimberly, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang berlari menuju kearah murid perempuan tersebut dengan beberapa orang di belakangnya.


"Disini kau ternyata!" teriak seorang murid laki-laki.


"Kak," lirih murid perempuan itu dan langsung berlindung di belakang punggung Kimberly.


"Serahkan gadis itu! Jangan ikut campur urusanku dengan gadis sialan itu!" teriak murid laki-laki itu.


Kimberly menatap kearah keempat sahabatnya secara bergantian. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.


Kimberly melihat kearah belakang lalu bertanya. "Ada urusan apa kamu sama dia?"


"Dia... Dia kakak tiri aku, kak! Setiap hari dia selalu nyiksa aku. Begitu juga dengan ibunya. Dia dan ibunya hanya baik ketika didepan ayahku."


Mendengar pengakuan dari adik kelasnya membuat Kimberly terkejut. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.


"Kak, aku mohon tolong aku. Untuk sementara ini aku tidak mau pulang. Aku takut kak."


Kimberly menatap kearah murid laki-laki yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.


"Hanya laki-laki pengecut yang berani menyakiti perempuan. Apalagi menyakiti saudara sendiri," ucap Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat murid laki-laki itu menggeram marah.


"Jangan sok jadi pahlawan lo. Lebih baik lo serahkan anak sialan itu!" bentak murid laki-laki itu.


"Memangnya lo siapa merintah gue. Lo mau gadis ini, hum?! Ambil saja sendiri. Jika lo bisa menyentuh gadis ini, maka lo boleh bawa pergi gadis ini. Tapi jika lo gagal. Menjauhlah dari gadis ini. Dan jangan menyakitinya lagi. Sekali pun berada di rumah. Jika lo langgar, maka lo akan tahu akibatnya."


Kimberly berucap dengan penuh penekanan, ancaman dan juga tantangan. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam kearah murid laki-laki itu dan teman-temannya.


Sementara untuk murid laki-laki itu seketika mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Bagaimana? Lo berani nggak terima tantangan dari sahabat gue?" tanya Rere.


Murid laki-laki itu menatap tajam kearah saudari tirinya sehingga membuat saudari tirinya itu ketakutan dan menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Kimberly.


"Awas lo kalau di rumah. Habis Lo," ucap murid laki-laki itu.


Setelah mengatakan itu, murid laki-laki itu pergi meninggalkan Kimberly dan keempat sahabatnya dan diikuti oleh teman-temannya di belakang.