THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Balasan Setimpal Dari Kimberly



Setelah lima hari menggantikan ayahnya di perusahaan cabang. Kini Kimberly sudah bisa kembali ke sekolahnya.


Saat ini Kimberly dalam perjalanan menuju sekolah. Dia tidak sendirian melainkan bersama kakak laki-lakinya yaitu Uggy.


"Kim."


"Hm."


"Apa yang kamu rasakan ketika lima hari gantiin Daddy di perusahaan cabang, hum?"


"Ada senangnya dan dukanya juga."


"Contohnya?"


"Senang disaat menolong orang yang ditindas. Dukanya, terlalu malas meladeni orang-orang yang arogan dan sombong."


Uggy seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya itu. Uggy tahu bagaimana sifat adiknya itu. Adiknya itu paling tidak suka berhadapan dengan orang-orang yang sudah merendahkan orang lain.


"Apa keputusan kamu ketika Daddy mengatakan bahwa perusahaan itu punya kamu?"


"Senang."


"Terus?"


"Aku mau memimpin perusahaan itu. Tapi nanti. Aku mau fokus sekolah dulu. Terus nanti setelah lulus, aku mau kuliah. Rencananya aku mau kuliah sambil mengurus perusahaan itu. Boleh?"


"Tentu. Apa yang menurut kamu baik dan membuat kamu nyaman. Kakak akan mendukung kamu."


Kimberly seketika tersenyum ketika mendengar balasan dari kakaknya itu.


"Terima kasih kak."


"Sama-sama sayang. Tapi ingat satu hal."


"Apa itu?"


"Jangan terlalu memforsir tenaganya. Dan luangkan waktu buat kamu untuk happy-happy bersama sepupu-sepupu kamu, sahabat-sahabat kamu. Terutama dengan Tommy. Kakak tidak mau kamu kehilangan masa-masa bahagia kamu bersama sepupu-sepupu kamu, kekasih kamu dan sahabat-sahabat kamu. Bagaimana pun kamu berhak atas semua itu."


Kimberly kembali tersenyum sembari menatap wajah tampan kakaknya itu.


"Pasti kak!"


***


Billy, Tommy, Andhika, Aryan, Triny, Risma, para sahabatnya dan keempat sahabatnya Kimberly berada di kantin.


"Bil," panggil Tommy.


"Hm." Billy berdehem sebagai jawabannya.


"Kimberly sekolah kan hari ini?"


"Kenapa lo nanya gue? Bukannya lo pacarnya?" tanya Billy.


Plak..


Tommy langsung menggeplak kepala belakang Billy karena kesal akan jawaban dari Billy.


"Yak, Tommy! Kenapa lo mukul kepala gue, hah?!" teriak Billy.


"Apa? Mau lagi?" tanya Tommy dengan tangannya terangkat keatas hendak menggeplak kembali kepala belakang Billy.


"Dasar sahabat setan."


"Nah, lo salah satunya!"


"Hahahaha."


Semuanya tertawa ketika mendengar ucapan dari Billy dan Tommy.


Ketika mereka tengah asyik dengan dunia mereka, tiba-tiba datang orang-orang yang tidak ingin mereka lihat.


"Hai!"


Billy, Tommy, Andhika, para sahabatnya, Aryan dan para sahabatnya, Triny dan para sahabatnya, Risma, keempat sahabatnya Kimberly langsung melihat kearah orang-orang tersebut.


"Mau apalagi?" tanya Billy.


"Lebih baik pergi dari sini. Jangan ganggu kita," usir Tommy.


Orang-orang yang datang mengganggu Billy dan yang lainnya adalah Asena, Cherry dan keenam sahabatnya.


"Kita kesini ingin minta maaf sama kalian terutama sama lo, Billy!" seru Asena.


"Ya, Billy! Kita kesini benar-benar ingin minta maaf atas perbuatan kita terhadap Kimberly," ucap Cherry.


Mendengar perkataan dari Asena dan Cherry membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika tertawa.


Mendengar tawa dari Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membuat Billy, Tommy, Andhika, Triny, Aryan, Risma serta yang lainnya termasuk Asena, Cherry dan keenam sahabatnya melihat kearah keempat sahabatnya Kimberly.


"Kalau nggak ikhlas minta maafnya. Nggak usah dipaksain," sindir Rere.


"Belajar ikhlas dulu. Jika sudah mantap boleh datang lagi kesini dan dipersilahkan untuk meminta maaf," ucap Sinthia.


Mendengar perkataan dari Rere dan Sinthia membuat Asena, Cherry dan keenam sahabatnya mengepal kuat tangannya.


Namun mereka berusaha untuk berakting menjadi gadis baik-baik, terutama di depan pujaan hatinya.


"Apa maksud kalian? Aku dan Sena benar-benar tulus meminta maaf. Begitu juga dengan Kimberly," ucap Cherry.


"Udah deh. Kalian pergi saja dari sini. Kalian nggak lihat tuh," ucap Catherine sembari menunjuk kearah Billy, Triny, Aryan, Risma dan yang lainnya. "Mereka terlihat tidak suka kalian lama-lama disini."


Asena, Cherry dan keenam sahabatnya melihat kearah Billy, Aryan, Triny, Risma, Tommy dan yang lainnya. Terlihat dari tatapan mata mereka yang tidak menyukai kehadirannya.


"Hus... Hus! Pergi sana," usir Santy.


Cherry melihat kearah Aryan. Dirinya berharap Aryan mau mendengarkan permintaan maaf darinya.


"Aryan, gue....."


"Gue nggak mau dengar apapun dari lo. Mending lo bawa para pasukan lo pergi dari sini. Adanya kalian disini hanya membuat nafsu makan kami hilang. Sebentar lagi saudari sepupu gue akan datang. Gue nggak mau moodnya hancur ketika melihat kalian." Aryan berucap dengan wajah dingin dan datar.


Mendengar perkataan kejam dari Aryan membuat Cherry merasakan sesak di dadanya. Segitu jijik kah dirinya sehingga Aryan tidak ingin melihat wajahnya lama-lama. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.


"Tommy....."


"Pergi!" bentak Tommy seketika sehingga membuat Asena tersentak.


Dan pada akhirnya, mereka semua pun pergi meninggalkan Billy, Tommy dan yang lainnya.


"Menjijikkan," ucap Aryan, Billy dan Tommy bersamaan.


Lima menit kepergian Asena, Cherry dan keenam sahabatnya. Tiba-tiba Catherine berdiri dari duduknya.


Melihat Catherine yang tiba-tiba berdiri membuat semuanya menatap kearah Catherine.


"Mau kemana?" tanya Billy.


"Ke toilet sebentar," jawab Catherine.


"Mau ditemani?" tanya Billy.


"Ngga usah. Aku sebentar kok."


"Ya, sudah! Cepat balik."


"Hm."


Setelah itu Catherine pun pergi meninggalkan kantin untuk menuju toilet.


^^^


Kimberly melangkahkan kakinya menuju kantin karena Catherine mengirimkan pesan jika sudah sampai di sekolah langsung ke kantin.


Seketika Kimberly menghentikan langkah kakinya ketika melihat Catherine melangkah menuju toilet lalu beberapa detik kemudian, Kimberly melihat Asena dan Cherry yang juga menuju toilet.


Tanpa pikir panjang lagi, Kimberly langsung buru-buru pergi ke Toilet. Dia benar-benar mengkhawatirkan Catherine.


^^^


Catherine saat ini berada di Toilet. Dirinya sedang menuntaskan hasratnya yang sejak tadi dia tahan. Apalagi kalau bukan buang air kecil.


Setelah selesai menuntaskan hasratnya yaitu buang air kecil. Catherine pun keluar dari toilet tersebut.


Ketika Catherine tiba diluar alias di depan pintu toilet, dia di hadang oleh Asena dan Cherry.


"Mau apa kalian? Minggir!" bentak Catherine


Catherine mendorong tubuh Asena dan Cherry bermaksud untuk menyingkir sehingga dia bisa pergi.


Namun bukannya menyingkir. Justru Asena dan Cherry menyudutkan Catherine ke dinding toilet.


Detik kemudian..


Bugh..


"Aakkhhh!" ringis Catherine merasakan sakit di bagian punggungnya.


Asena dan Cherry mendorong kuat tubuh Catherine sehingga punggungnya membentur kuat dinding toilet.


Asena dan Cherry menatap tajam kearah Catherine. Keduanya berniat ingin sedikit membuat bagian tubuh Catherine terluka.


Asena mengeluarkan sebuah pisau lipatnya. Sedangkan Cherry mengeluarkan gunting.


Yah! Baik Asena maupun Cherry akan melakukan sedikit perubahan pada Catherine dengan cara menggunting rambut Catherine dan sedikit melukai wajah cantik Catherine.


Melihat apa yang akan dilakukan oleh Asena dan Cherry membuat Catherine ketakutan.


"Apa yang akan kalian lakukan, hah?!" bentak Catherine.


Melihat ketakutan di wajah dan tatapan mata Catherine membuat Asena dan Cherry tersenyum menyeringai.


Ketika tangan Asena dan Cherry sedikit lagi menyentuh wajah dan rambut Catherine, tiba-tiba seseorang menarik kuat rambut Asena dan Cherry sehingga membuat keduanya berteriak kesakitan. Dan mengakibatkan senjata tajam yang dipegang oleh Asena dan Cherry jatuh ke lantai.


Deg...


Asena dan Cherry terkejut ketika mendengar suara yang begitu mereka kenal. Begitu juga Catherine.


Catherine seketika membuka matanya dan melihat Kimberly berada di belakang Asena dan Cherry.


"Kim," lirih Catherine.


"Lo aman sekarang."


Setelah mengatakan itu, Kimberly menarik kuat rambut Asena dan Cherry untuk menuju lapangan. Kimberly tidak peduli teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Asena dan Cherry.


^^^


Bruk..


Kimberly mendorong kuat tubuh Asena dan Cherry sehingga kedua tersungkur di lapangan sehingga membuat lengan keduanya terluka akibat membentur semen.


Kimberly menatap nyalang Asena dan Cherry. Dia benar-benar marah ketika melihat salah satu sahabat terbaik hendak disakiti.


"Kalian tidak pantas disebut manusia! Berani sekali kalian mencoba untuk menyakiti sahabat gue! Kesalahan kalian sama gue saja belum dimaafkan. Permasalahan kalian sama gue belum selesai. Justru kalian membuat masalah baru dengan menyakiti salah satu sahabat gue!" teriak Kimberly.


Duagh..


Duagh..


"Aakkhhh!" teriak panjang dari Asena dan Cherry ketika merasakan sakit di bagian dadanya akibat tendangan tak main-main dari Kimberly.


Kimberly memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri Asena dan Cherry secara bergantian.


Murid-murid yang melihat kejadian tersebut bergidik ngeri ketika melihat Kimberly yang menendang dada kiri Asena dan Cherry. Ditambah lagi ketika mendengar teriakkan kesakitan dari keduanya.


Sementara Catherine yang melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly hanya diam dengan tatapan matanya yang tersirat ketakutan. Bayangan dimana Asena dan Cherry yang hendak menyakitinya berputar-putar di kepalanya.


Biasanya Catherine yang menjadi penenang ketika melihat Kimberly yang marah, namun sekarang ini Catherine tak melakukan apapun untuk menenangkan Kimberly.


^^^


Di kantin Billy sudah sangat mengkhawatirkan Catherine yang sejak tadi belum juga kembali. Begitu juga dengan yang lainnya.


Ketika mereka tengah memikirkan Catherine, tiba-tiba salah satu teman sekelasnya Kimberly dan keempat sahabatnya datang.


"Rere! Santy! Sinthia!"


Mendengar namanya dipanggil. Rere, Santy dan Sinthia langsung melihat keasal suara tersebut.


"Dila, ada apa?"


"Itu... Itu..."


"Hei, tenanglah!"


"Itu, Kimberly ngamuk dan menghajar Asena dan Cherry di lapangan. Disana juga ada Catherine. Tapi Catherine diam saja. Dia tidak berusaha untuk melerainya."


"Apa?!"


Mereka semua langsung berdiri dari duduknya, lalu berlari meninggalkan kantin untuk menuju lapangan.


^^^


"Kimberly, hentikan! Apa lo mau bunuh Asena dan Cherry!" teriak Caria.


Kimberly seketika menatap tajam kearah Caria sehingga membuat Caria seketika ketakutan. Apalagi ketika melihat tatapan mata Kimberly yang tidak biasanya.


"Diam lo. Jangan ikut campur urusan gue. Atau lo mati ditangan gue."


Deg..


Caria seketika terkejut dan juga syok ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Bahkan suara Kimberly berbeda dari yang sebelumnya. Begitu juga dengan Elnara Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira. Mereka semua ketakutan ketika melihat Kimberly yang mengamuk.


Duagh..


Duagh..


"Aakkhhh!"


"Uhuukk!"


Asena dan Cherry seketika terbatuk mengeluarkan darah segar dari mulutnya akibat tendangan kuat yang diberikan oleh Kimberly di dada kirinya.


Semua murid-murid yang melihat menatap takut sekaligus ngeri. Begitu juga dengan Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira.


Ketika Kimberly hendak memberikan tendangan kuat untuk yang kesekian kalinya di dada kiri Asena dan Cherry, tiba-tiba Tommy langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


"Sayang, cukup!"


Seketika kaki Kimberly terhenti dan kembali menginjak tanah ketika mendengar suara orang yang begitu dia cintai. Ditambah lagi pelukan hangat dari orang itu.


"Bunuh mereka Kim! Jangan biarkan mereka tetap hidup! Mereka tidak pantas hidup di dunia!" teriak Catherine tiba-tiba dan disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah cantiknya.


Deg..


Semua yang mendengar ucapan dan teriakan dari Catherine seketika terkejut. Bahkan mereka juga melihat Catherine yang menangis dengan tatapan matanya menatap kearah Asena dan Cherry.


"Sayang," panggil Billy yang tangannya mengusap lembut pipi Catherine.


Catherine yang merasakan sentuhan di pipinya langsung melihat kearah orang yang saat ini berdiri di hadapannya.


Air matanya makin deras membasahi wajahnya ketika melihat laki-laki yang begitu dia cintai.


"Hiks... Hiks... Hiks," isak Catherine.


"Ada apa, hum? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Biasanya kamu yang selalu menenangkan Kimberly ketika dia marah dan ingin melukai musuh-musuhnya?"


"Mereka tidak pantas untuk dibela," jawab Catherine.


"Kenapa? Apa yang udah mereka lakukan sehingga kamu seperti ini?" tanya Billy.


"Mereka... Mereka ingin menyakiti aku. Asena, dia ingin melukai wajahku dengan pisau lipatnya. Sedangkan Cherry, dia ingin menggunting rambutku."


"Apa?!"


Semuanya berteriak ketika mendengar pengakuan dari Catherine. Mereka semua tidak menyangka jika Asena dan Cherry nekat melakukan hal itu terhadap Catherine.


"Untung Kimberly datang. Jika tidak... Jika tidak... Hiks...."


Grep..


Billy langsung memeluk tubuh Catherine. Dan seketika isak tangis Catherine pecah di pelukan Billy.


"Hiks... Hiks... Hiks."


Semuanya menatap penuh amarah kearah Asena dan Cherry. Mereka benar-benar jijik akan kelakuan keduanya.


"Kalian benar-benar iblis. Seminggu yang lalu kalian hampir membuat Kimberly kehilangan nyawanya. Sekarang kalian ingin menyakiti Catherine. Manusia seperti apa kalian, hah?!" bentak Aryan.


"Kalian benar-benar menjijikkan!" bentak Risma.


"Bukannya menyesali atas perbuatan kali terhadap Kimberly. Justru kalian berbuat ulah lagi!" bentak Triny.


"Kelakuan kalian sudah melewati batasan. Dan untuk lo Asena. Gue nggak peduli status lo di sekolah ini. Dan gue nggak peduli siapa ayah lo. Lo dan semua sahabat-sahabat lo akan gue buat keluar dari sekolah ini. Dan bukan itu saja, lo dan sahabat-sahabat lo nggak akan diterima di sekolah mana pun!" bentak Billy.


Deg..


Baik Asena, Cherry dan keenam sahabatnya seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Billy.


"Dan bukan itu saja. Kalian bakal gue tuntut atas apa yang kalian lakukan terhadap Catherine, walau niat kalian itu gagal karena Kimberly!" bentak Billy lagi.


"Aryan, hubungi kak Pasya. Sekarang!"


"Baik."


Setelah itu, Aryan langsung menghubungi kakak sulungnya untuk datang ke sekolah.


"Hallo, Aryan!"


"Hallo, kak. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak! Kenapa?"


"Bisa kakak ke sekolahku dan bawa beberapa anggota kakak."


"Ada apa?"


"Mereka berulah lagi. Kemarin Kimberly yang korbannya. Sekarang Catherine."


"Maksud kamu Asena dan Cherry?"


"Iya, kak!"


"Apa yang mereka lakukan terhadap Catherine?"


"Mereka ingin menyakiti Catherine dengan melukai wajahnya dan memotong rambutnya Catherine."


"Apa?"


Pasya yang di seberang telepon terkejut ketika mendengar jawaban dari adiknya.


"Baiklah. Kakak akan segera kesana."


"Oke. Aku tunggu!"


PIP..


Aryan langsung mematikan panggilannya setelah selesai berbicara dengan sang kakak.


"Bagaimana?" tanya Billy.


"Kak Pasya akan segera datang," jawab Aryan.