
Kelima murid baru itu masih mengganggu Kimberly dan keempat sahabatnya yang tengah menikmati makanannya.
"Aish! Bisa tidak kalian pergi dari sini! Kalian itu mengganggu!" seru Rere.
"Jangan galak-galak gitu dong manis," ucap Sean sembari mencolek dagu Rere.
Rere seketika terkejut ketika Sean yang berani mencolek dagunya.
"Yak! Berani sekali lo colek-colek dagu gue!" teriak Rere.
Rere mengangkat tangannya hendak menampar Sean. Namun Sean langsung menahan tangan Rere dan mengelus-ngelusnya dengan lembut. Bahkan Sean mencium punggung tangan Rere.
Melihat apa yang dilakukan oleh Sean kepada Rere membuat Henry marah. Henry langsung berdiri hendak menghampiri meja dimana kekasih duduk. Namun tangannya ditahan oleh Billy.
"Kita lihat saja dulu. Mungkin saat ini Rere sama yang lainnya sedang merencanakan sesuatu. Biarkan para gadis itu bertindak." Billy berbicara sembari menatap kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Apa yang dikatakan Billy benar. Kita lihat saja dulu. Kimberly, Rere, Catharine, Santy dan Sinthia gak bakal diam saja. Mereka pasti akan bertindak," sahut Andhika.
Mendengar perkataan dari Billy dan Andhika. Henry pun kembali duduk. Mereka semua masih terus memperhatikan gerak-gerik kesepuluh murid laki-laki itu.
"Tangan kamu lembut sekali sayangku," ucap Sean yang masih mengelus-ngelus punggung tangan Rere.
"Hei, cantik! Nama kamu siapa?" tanya Aaron pada Sinthia.
Sementara Sinthia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Aaron. Sinthia masih terus fokus sama makanannyan.
Melihat Sinthia yang tidak menjawab pertanyaan darinya membuat Aaron tak putus asa. Aaron berusaha membuat Sinthia mau menjawab pertanyaan darinya.
Aaron dengan beraninya menyentuh wajah mulusnya sehingga membuat Sinthia melotot. Dan beberapa detik kemudian, Sinthia menepis kasar tangan Aaron dari wajahnya.
Karena merasa jengah dan juga risih melihat kedua sahabatnya diganggu. Akhirnya, Kimberly pun bertindak.
Kimberly tiba-tiba mengangkat tangan kanannya ke udara sembari berteriak memanggil nama pelayan kantin.
"Kak Wiwin!"
Mendengar namanya dipanggil. Gadis yang bernama Wiwin itu pun mendatangi meja Kimberly.
"Ada apa, Kim?"
"Mendekatlah padaku."
Wiwin langsung mendekatkan wajahnya kearah Kimberly. Setelah itu, Kimberly membisikkan sesuatu ke telinga Wiwin.
Mendengar bisikkan dari Kimberly membuat Wiwin langsung paham. Setelah itu, Wiwin langsung pergi meninggalkan meja Kimberly.
Melihat gerak gerik dari Kimberly dan Wiwin membuat Triny, Billy, Aryan, Tommy serta para sahabatnya meyakini jika Kimberly merencanakan sesuatu.
Ansell yang melihat kedua temannya yang sudah mulai beraksi merayu kedua sahabat Kimberly hanya tersenyum.
Ansell menatap wajah cantik Kimberly. Kimberly yang menyadari bahwa Ansell tengah menatap dirinya. Seketika Kimberly mengalihkan perhatiannya kearah Ansell.
"Kenapa?" tanya Kimberly.
"Ingin kenalan," jawab Ansell.
"Bukannya sudah kenal ya ketika di kelas tadi. Nama kamu Ansell Adrian kan?" sahut Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Ansell tersenyum. "Gadis yang unik. Aku suka gadis seperti ini. Bagaimana pun caranya. Aku harus bisa menjadikan gadis ini kekasihku. Sekali pun pake cara kekerasan," batin Ansell.
"Maaf Kim kalau kakak terlambat," sahut Wiwin yang membawa lima botol minuman coca cola.
Melihat kedatangan Wiwin. Kimberly tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak Wiwin!"
Kimberly mengambil kelima botol coca cola itu dan memberikan satu persatu kepada keempat sahabatnya. Sementara Wiwin langsung pergi meninggalkan Kimberly.
Menerima minuman coca cola dari Kimberly. Catharine, Rere, Santy dan Sinthia seketika menatap tepat di manik Kimberly. Setelah itu, mereka memperhatikan ke minuman coca cola yang ada di tangannya. Mereka dapat melihat ada gumpalan gas di dalam coca cola itu. Melihat hal itu, Catharine, Rere, Santy dan Sinthia menjadi paham.
Kimberly berdiri dari duduknya dengan memegang minuman coca cola di tangannya. Melihat Kimberly berdiri dan menghadap kearah Ansell. Catharine, Rere, Santy dan Sinthia pun ikut berdiri. Mereka berdiri menghadap kearah para cowok yang ada di samping mereka.
Kimberly menatap dengan senyuman kearah Ansell. Melihat senyuman manis Kimberly membuat Ansell langsung meleleh. Sementara Tommy yang saat ini tengah memperhatikan tengah mendongkol. Bagaimana bisa kekasihnya itu tersenyum manis kepada pria lain.
Kimberly membuka tutup botol minuman coca cola itu dan diikuti oleh Rere, Santy, Sinthia dan Catharine.
Dan detik kemudian...
Minuman coca cola itu menembak dengan kuat keluar dan mengenai wajah Ansell, Aaron, Sean, Danny dan Elan.
Mendapatkan tembakkan minuman coca cola membuat wajah dan tubuh Ansell, Aaron, Sean, Danny dan Elan bermandikan coca cola.
Kimberly menutup mulutnya. Dan memperlihatkan wajah bersalahnya di hadapan Ansell.
"Ansell, maaf ya! Aku gak sengaja. Kan kamu liat tadi ketika aku dan teman-teman aku membuka tutup botolnya."
Mendengar perkataan dan melihat wajah bersalah Kimberly membuat Ansell tidak tega. Memang benar apa yang dikatakan Kimberly jika dirinya melihat ketika Kimberly membuka tutup botol coca cola itu.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu tidak sengaja," jawab Ansell.
"Aaroon maafkan aku ya," ucap Sinthia dengan wajah sedihnya.
"Is, oke! Aku tidak apa-apa." Aaron langsung menjawabnya.
"Maafkan aku ya Sean," ucap Rere.
"Gak apa-apa. Aku tahu kamu gak sengaja," jawab Sean.
Tak beda dengan Catharine dan Santy. Keduanya juga mendramatisirkan keadaan. Bahkan keduanya memperlihatkan wajah super sedihnya di hadapan Danny dan Elan sehingga membuat keduanya menjadi tidak tega.
Melihat kelakuan Kimberly, Catharine, Santy, Sinthia dan Rere membuat Billy, Henry, Lionel, Satya, Tommy tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Iya. Kita tinggal bersihkan diri di toilet, lalu menggantinya dengan seragam lain," ucap Danny.
"Benarkah?" tanya Catharine dan Santy bersamaan.
"Iya, benar!" seru Danny dan Elan bersamaan.
"Kalian tidak marah?" tanya Catharine dan Santy lagi.
"Tidak," jawab Danny dan Elan lagi.
"Terima kasih," jawab Catharine dan Santy.
"Ya, sudah kalau begitu! Kami ke toilet dulu untuk bersih-bersih!" seru Ansell.
Setelah itu, Ansell dan teman-temannya pergi meninggalkan Kimberly dan keempat sahabatnya.
Melihat kepergian Ansell dan teman-temannya dan sudah tidak terlihat lagi. Seketika tawa Kimberly, Santy, Sinthia, Catharine dan Rere tertawa keras.
"Hahahaha."
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tertawa sambil bertos ria. Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya membuat penghuni kantin tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.
"Eoh. Najis banget! Ih... Berani banget dia sentuh tangan gue," ucap Rere.
"Lo mending tangan. Nah, gue! Wajah gue ternodai nih!" Sinthia berucap sembari menyentuh pipi kirinya.
"Udah. Jangan ditekuk gitu wajahnya!" seru Satya.
Satya datang bersama dengan para sahabatnya, Triny, Aryan dan sahabatnya.
Mereka tersenyum melihat wajah kesal Sinthia, Santy, Rere dan Catharine. Sementara Kimberly hanya bersikap biasa saja. Mereka memeluk pacar masing-masing.
Ketika Tommy ingin memeluk Kimberly. Kimberly dengan tidak berperiperasaan langsung menyikut perut Tommy sehingga membuat Tommy sedikit meringis.
"Hahahaha.
Mereka tertawa keras melihat Tommy yang mendapatkan jatah dari Kimberly.
"Kasihan sekali nasibmu, Nak!" ejek Lionel.
"Sialan lo," balas Tommy.
Tommy menatap wajah Kimberly dengan tatapan menyedihkan. Kimberly yang melihat itu memutar bola matanya malas.
Namun detik kemudian...
CUP!
Kimberly memberikan ciuman di pipi kiri Tommy. Mendapatkan ciuman dari Kimberly membuat hati Tommy berbunga-bunga.
Tommy melihat kearah Lionel, lalu Tommy menjulurkan lidahnya kearah Lionel.
Melihat Tommy yang mengejeknya membuat hati Lionel memanas. Lionel langsung menatap wajah cantik kekasihnya.
"Yang," panggil Lionel kepada Santy.
Santy melihat kearah Lionel. "Apa?"
"Mau." Lionel berucap sambil menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya.
"Kenapa dengan pipi kamu? Oh, aku tahu! Kamu pasti mau minta digampar ya," sahut Santy.
Mendengar perkataan Santy membuat Lionel membelalakkan matanya. Sementara yang lainnya langsung tertawa.
"Hahahaha."
Santy tersenyum ketika melihat wajah kecut Lionel. Dan detik kemudian, Santy memberikan ciuman tepat di bibir Lionel.
Lionel seketika membelalakkan matanya ketika Santy memberikan ciuman tepat di bibirnya.
"Hahaha. Tommy, lo liat! Cewek gue cium gue di bibir. Lo apaan... Lo hanya di cium di pipi doang sama Kimberly," sahut Lionel mengejek Tommy.
Mendengar perkataan dari Lionel membuat yang lainnya hanya geleng-geleng kepala. Sementara Kimberly menggeram kesal.
"Lionel Diaz. Lo bosan hidup ya," ucap Kimberly dengan menatap tajam Lionel.
Mendengar perkataan dari Kimberly dan melihat tatapan mata Kimberly. Seketika Lionel menelan ludahnya kasar.
Melihat reaksi Lionel ketika mendengar perkataan dan melihat wajah galak Kimberly tertawa nista. Dan yang paling kencang tertawanya adalah Tommy.
"Hahahaha."
"Rasain lo. Belum liatkan kemarahan pacar gua," sahut Tommy.
"Yak, Kim! Jangan galak-galak sama pacar aku. Kasihan tahu," ucap Santy sembari mengusap-ngusap lembut pipi Lionel.
"Terima kasih sayangku," ucap Lionel.
"Sama-sama sayangku," jawab Santy.
"Norak lo," sahut Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan keempat sahabatnya, ketiga sepupunya, Tommy dan para sahabatnya.
Melihat kepergian Kimberly. Mereka semua pun menyusul Kimberly sembari tertawa.