THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kimberly Vs Guru Fisika



Catherine berjalan menuju ke kelasnya sambil meminum minuman dinginnya lewat sedotan. Melewati guru 40 tahunan dengan dandanan menor tanpa menoleh sedikit pun membuat guru itu menatapnya tajam.


"CATHERINE!!" Teriak ibu guru Lusi.


Berdecak sambil berbalik, "Ada apa ibu guru?" Tanya Catherine sesopan mungkin meskipun ibu guru Lusi adalah orang yang paling Catherine dan sahabat-sahabatnya benci sejagat.


"Ini jam-jam dimana pelajaran tengah berlangsung. Kenapa kamu masih berkeliaran diluar? Dari kantin lagi!"


Catherine berdecak, ibu guru Lusi terlalu ikut campur urusan hidup orang lain. Ibu guru Lusi bahkan tidak mengajar kelas XII. Apa pedulinya dirinya pada Catherine?


Tak hanya Catherine, hampir seluruh murid tidak menyukai kelakuan ibu guru Lusi. Selain suka ikut campur yang bukan masalahnya, guru paruh baya itu selalu menggunakan dandanan menor juga selalu centil kepada murid laki-laki.


Berbeda dengan murid perempuan yang malah sebaliknya, bersikap ketus membuat para kaum perempuan menghujatnya habis-habisan.


"Maaf, tapi saya sudah dapet izin dari ibu guru Lisa."


"Dasa pembohong. Paling cuma alasan kamu saja. Tidak mungkin ibu guru Lisa memberikan izin pada kamu."


Tak dapat dipungkiri kalau Ibu guru Lusi sangat membenci Catherine. Selain karena sifat trouble Catherine, dirinya juga menjadi perempuan tercantik di LHS membuat ibu guru Lusi tidak suka. Termasuk Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia.


Catherine memutar bola matanya, "Terserah. Saya tidak memaksa Ibu guru buat percaya sama saya."


Tanpa sepatah kata, Catherine melenggang meninggalkan ibu guru Lusi yang berteriak ke arahnya


"DASAR SISWA KURANG AJAR!"


Catherine menulikan telinganya, berjalan menuju kelas yang sedang belajar fisika.


"Dasar berandalan. Cewek kok berandalan sukanya bolos pelajaran terus," sindir seseorang membuat Catherine menatapnya tajam.


Oh ayolah! Catherine tengah dalam fase senggol dikit bacok sekarang. Berani-beraninya Rena muncul di hadapannya sambil mengeluarkan kalimat sindirannya.


Catherine menatapnya tajam dibalas tatapan tak kalah tajam dari Rena "Hobi kamu kok suka menyindir sih. Banyak gaya lagi. Bilang takut aja susah!"


"Kenapa kamu? Ngerasa? Dan sorry orang kayak kamu tidak layak aku takuti" Sinis Rena.


"Cabe-cabean," Ketus Catherine.


"Kalo aku cabe lo apa? Wanita murahan? Hah?"


"Brengsek!"


Rena sengaja menyulutkan amarahnya, bukan salah Catherine jika sekarang dirinya menarik rambut Rena dengan kencang membuat Rena memekik.


Belum merasa puas, Catherine melayangkan tinjunya kepada Rena sehingga membuat sudut bibirnya robek.


Kericuhan terus terjadi, tak ada yang ingin melerai mereka. Bahkan teman-teman Catherine menyerukan namanya lantang seolah mendukungnya untuk berbuat itu.


Menurut mereka, sesekali perempuan haus kuasa seperti Rena harus diberi pelajaran.


^^^


Di kelas Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia berada di kelas. Mereka sedang mengerjakan soal-soal fisika sembari menunggu Catherine kembali dari ruang BK.


"Kim," panggil Santy.


"Aku percaya sama Catherine. Catherine nggak mungkin lakuin itu," ucap Santy.


Mendengar ucapan dari Santy membuat Kimberly, Rere dan Sinthia langsung melihat kearah Santy.


"Kamu nggak perlu khawatir, oke! Kita akan cari pelaku yang sebenarnya. Setelah kita mendapatkan pelakunya, kita yang akan ngasih dia hukuman. Bukan para guru," ucap Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Santy seketika tersenyum. Begitu juga dengan,Rere dan Sinthia.


Catherine difitnah karena sudah mencuri uang sebesar 100.000.000. Uang itu ditemukan di dalam tas Catherine


Tok..


Tok..


Tok..


Cklek..


"Maaf Bu. Saya terlambat masuk!" seru Catherine yang sudah berada di dalam kelas.


Guru fisika itu langsung melihat kearah Catherine sembari berbicara sedikit ketus dan sinis.


"Dari mana kamu?! Niat bolos kamu di jam pelajaran saya, hah!" bentak guru fisika.


Mendengar ucapan dan juga bentakan dari guru fisika itu membuat Catherine terkejut. Begitu juga dengan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan teman-teman sekelasnya.


"Bu guru!" panggil Kimberly bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya. "Bisa nggak usah pake ngebentak? Ibu disini menjabat sebagai guru, bukan orang tua kami. Orang tua kami saja tidak pernah ngebentak kami anaknya," ucap Kimberly.


Guru fisika itu langsung melihat kearah Kimberly dengan tatapan matanya yang tajam. "Diam kamu! Jangan ikut campur. Selesaikan saja soal-soal yang saya berikan!"


Setelah itu, guru fisika itu kembali menatap kearah Catherine. "Saya tanyakan sekali lagi. Dari mana kamu, hah?!" bentak guru fisika itu.


"Maaf Bu. Saya dari ruang BK." Catherine menjawab dengan sopan.


"Oh, ternyata kamu pencuri itu. Wah! Mau jadi kamu, hah?! Masih sekolah tapi sudah berani mencuri. Jika kamu ingin menjadi pencuri, kenapa kamu milih sekolah? Kenapa tidak mencuri saja diluar sana!"


Braakkk..


Kimberly seketika menggebrak meja dengan keras. Dirinya tidak terima sahabatnya disakiti, diteriaki, dibentak dan dituduh macam-macam.


"Lancang sekali ibu guru berbicara seperti kepada sahabat saya. Ibu guru tidak berhak berbicara seperti itu terhadap murid ibu sendiri!"


"Sekali lagi kamu berbicara atau ikut campur, saya tidak akan segan-segan mengusir kamu dari kelas ini!"


Guru fisika itu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Catherine. Tatapan mata guru fisika menatap tajam kearah Catherine.


"Seperti yang saya katakan tadi. Kalau kamu ingin menjadi pencuri, keluar saja dari sekolah ini. Dari pada kamu di sekolah ini hanya bikin malu. Apa begini cara didikan dari orang tua kamu!"


"Cukup, Bu! Ibu guru tidak berhak berbicara seperti itu tentang kedua orang tuaku. Ibu guru tidak tahu bagaimana mereka mendidikku selama ini!" bentak Catherine.


"Berani kamu sama saya, hah?!"


"Memangnya ibu guru itu siapa? Memangnya hanya ibu guru saja yang bisa bentak-bentak aku. Aku juga bisa," jawab Catherine dengan wajah menantangnya.


"Anak sialan kamu."


Guru fisika itu seketika mengangkat tangannya untuk menampar wajah Catherine, namun seketika tertahan ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Berani ibu guru menyentuh pipi sahabat saya, maka berakhirlah masa kerja ibu guru di sekolah ini!"


Guru fisika tersebut seketika menurunkan tangannya, lalu ibu guru fisika itu menatap kearah Kimberly.


"Kamu mengancam saya, hah?!"


"Apa aku terlihat sedang mengancam. Jawabannya tidak. Saya serius dengan ucapan saya barusan. Jika ibu guru berani bermain fisik kepada sahabat saya atau kepada murid-murid yang lainnya, maka aku pastikan ibu guru akan kehilangan pekerjaan. Kalau ibu guru tidak percaya, silahkan bertanya langsung kepada kepala sekolah. Tanyakan kepada kepala sekolah sudah berapa orang guru yang dikeluarkan secara tidak terhormat dari sekolah ini karena suka bermain fisik atau bersikap buruk terhadap murid-muridnya. Bukan itu saja, setelah dikeluarkan dari sekolah ini, guru-guru itu tidak diterima di sekolah manapun."


"Jika ibu guru ingin menambah daftar guru yang dikeluarkan secara tidak terhormat dari sekolah ini. Silahkan lakukan apa yang ingin ibu guru lakukan terhadap sahabat saya."


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika mengatakan itu di hadapan guru fisika tersebut. Bahkan Kimberly bisa melihat raut keterkejutan dan ketakutan guru fisika itu.


"Catherine, kembali ke kursi lo!" seru Kimberly.


Catherine pun langsung melangkahkan kakinya menuju kursinya. Setelah tiba di kursinya, Catherine langsung menduduki pantatnya disana.