
Setelah mengikuti dua pelajaran selama tiga jam. Saat ini Kimberly dan keempat sahabatnya berada di kantin. Setibanya mereka di kantin, mereka memesan banyak makanan dan beberapa minuman termasuk air mineral.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine memakan begitu lahap. Bahkan mereka tidak peduli jika ada yang menatapnya aneh, jijik dan tatapan tak suka. Tapi lebih banyak yang menatap mereka dengan tatapan suka. Mereka tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Ketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang salah siswi menghampirinya.
"Maaf Kimberly!" seru siswi itu.
Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya langsung melihat kearah siswi tersebut.
"Ada apa ya?" tanya Kimberly.
"Itu di halaman sekolah ada dua orang gadis nyariin kamu."
"Hah"
Kimberly seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari temannya itu. Di dalam hatinya Kimberly berkata 'Memangnya siapa sih. Mengganggu saja'
"Apa mereka masih di halaman sekolah?" tanya Catherine.
"Masih," jawab siswi itu.
"Ya, sudah kita kesana!" seru Kimberly.
"Terus ini, makanannya bagaimana? Kasihan. Ntar makanannya nangis loh," ucap Santy sambil menatap iba pada beberapa menu makanan yang belum disentuh sama sekali.
"Kalau kamu mau disini, silahkan! Biarkan kita saja yang menemui dia gadis itu," sahut Kimberly.
"Kalau aku disini. Ntar aku kepo lagi dengan dua gadis itu. Ditambah lagi aku bakal nggak tahu apa yang akan kalian bicarakan sama kedua gadis itu," jawab Santy.
"Ya, udah kalau gitu kamu ikut!" sahut Sinthia.
"Mau ikut, tapi makanannya bagaimana?" jawab Santy.
Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine menggeram kesal sembari menatap wajah Santy.
"Eeemmm... Santyyy!" teriak mereka.
"Iya, iya! Aku ikut kalian," jawab Santy.
Sementara para penghuni kantin dan satu siswi yang menjadi pelapor tersenyum gemas melihat tingkah lucu Santy.
Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya langsung pergi meninggalkan kantin untuk menuju halaman sekolah.
Dari kejauhan terlihat Aryan bersama kelima sahabatnya, Triny dan keempat sahabatnya serta Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya melihat Kimberly dan keempat sahabatnya pergi menuju halaman sekolah.
"Eh, itu Kimberly sama keempat sahabatnya mau kemana tuh?!" tanya Andry dengan menunjuk kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Lebih baik kita ikuti mereka. Gue takut terjadi sesuatu terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya," sahut Tommy.
Mendengar perkataan dari Tommy membuat mereka semua menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk menyusul Kimberly dan keempat sahabatnya.
^^^
"Dimana mereka?" tanya Rere sembari mencari mencari keberadaan kedua gadis itu. Begitu Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine.
Siswi itu mencari keberadaan dua gadis tersebut. Dan beberapa detik kemudian, matanya melihat dua gadis yang dimaksud.
"Disana mereka!" seru siswi tersebut sembari menunjuk kearah dua gadis itu.
"Hei, kalian!" panggil siswi itu.
Mendengar panggilan dari siswi itu membuat kedua gadis itu langsung melihat kearah siswi itu.
"Kemarilah!"
Kedua gadis itu pun melangkah mendekati siswi itu. Sedangkan Kimberly seketika membelalakkan matanya ketika melihat wajah kedua gadis itu.
Flashback On
"Aku kesana ya," ucap Kimberly
"Oke! Tapi jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Kamu tunggu disana. Aku yang akan jemput kamu," jawab Tommy.
"Siap!"
Setelah itu, Kimberly langsung pergi menuju toko yang menjual berbagai macam produk. Mulai pakaian kantor pria, jam tangan pria dan wanita, perhiasan, laptop dan ponsel.
Ketika Kimberly tiba di toko itu, Kimberly langsung melihat-lihat produk-produk tersebut sembari memilih-milih beberapa produk yang disukainya.
"Kak! Aku mau yang ini ya! Aku mau lima setelan jas ini, kalung berlian ini, jam tangan ini, laptop ini, ponsel ini juga dua ya, cincin couple ini."
Setelah memesan semua barang-barang tersebut, Kimberly pergi ke sebuah kursi lalu duduk disana. Kimberly duduk tak jauh dari kedua gadis yang sejak tadi menatap tak suka padanya.
Sementara dua gadis itu memberikan tatapan jijik kearah Kimberly ketika mendengar dan melihat semua pilihan dari Kimberly yang mana semuanya barang-barang mahal dan bermerek.
Setelah beberapa menit menunggu, datanglah dua pelayan dengan membawa semua pesanan Kimberly. Semua pesanan tersebut diletakkan di atas etalase di hadapan Kimberly dan disaksikan oleh kedua gadis itu.
"Cih!" seru gadis pertama berdecih ketika melihat banyak barang mahal dan bermerek di hadapan Kimberly.
Kimberly hanya melirik sekilas lalu kembali menatap semua pesanannya yang ada di hadapannya itu.
"Sok mau beli semuanya. Ujung-ujungnya nggak jadi," ejek gadis kedua.
"Lo kalau nggak ada uang atau uang lo nggak cukup. Nggak usah berlagak kayak orang kaya dengan belanja kayak gitu," ucap gadis pertama dengan suara yang sengaja dibesarkan sehingga beberapa pengunjung mendengarnya.
Mendengar ucapan dari dua gadis di sampingnya, Kimberly hanya anggap angin lalu saja. Dia sengaja diam hanya untuk melihat sampai dimana kedua gadis itu terus menerus menghinanya. Dan Kimberly juga ingin melihat reaksi dari pelayan toko dan beberapa pengunjung terhadap dirinya ketika mendengar ucapan dari dua gadis tersebut.
"Hei, kak! Aku saranin ya. Mending kakak balikin aja semua barang-barang itu. Nggak berlagak mampu membeli semuanya," ucap gadis kedua.
"Aku setuju sama nona ini. Mending kamu nggak usah sok jadi orang kaya disini. Lebih baik nona membeli barang yang sesuai kemampuan nona," ucap salah satu pengunjung wanita yang menatap jijik kearah Kimberly.
Mendengar perkataan dari wanita itu, Kimberly langsung melihat kearahnya dengan tatapan tajamnya sembari berpura-pura bermain ponsel. Padahal tanpa diketahui oleh semuanya, Kimberly saat ini tengah mereka wajah-wajah dari kedua gadis itu dan wajah-wajah para pengunjung.
Selesai menatap wajah wanita itu dan selesai juga mereka semuanya. Kimberly mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tas kecilnya.
Kimberly kembali melihat ke depan. Dirinya sesekali memperhatikan beberapa pelayan yang menatap jijik kearahnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah jika aku berbelanja banyak barang disini? Aku tidak mencuri, bukan!" bentak Kimberly.
Mendengar ucapan sekaligus bentakan dari Kimberly membuat para pelayan yang awalnya melayani Kimberly dengan baik, namun kemudian berubah menjadi jijik ketika mendengar ucapan demi ucapan dari dua gadis yang tak lain adalah pelanggan setia toko tersebut.
"Kami tidak melayani nona karena nona hanya melihat-lihat dan memilih-milih saja. Nona pasti tidak akan membeli semua barang-barang itu," jawab salah satu pelayan tersebut.
Mendengar perkataan dari pelayan itu membuat Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya.
"Dari mana nona bisa menilai bahwa saya hanya melihat-lihat dan memilih-milih saja? Dari mana nona bisa menebak kalau saya tidak bisa membeli atau tidak jadi membeli? Apa nona punya indera keenam? Apa kalian semua memiliki kekuatan super yang bisa melihat kejadian akan datang?"
Mendengar ucapan demi ucapan serta pertanyaan dari Kimberly membuat para pelayan itu seketika terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Halah! Nggak usah banyak omong deh. Ngaku saja deh. Nona nggak punya uang, tapi berlagak punya uang banyak," ucap gadis pertama.
"Dasar menjijikan. Jika ingin menjadi orang kaya, kerja sana! Jika tidak ada yang menerima nona kerja. Jual diri saja," ucap gadis kedua.
"Jika nona butuh uang. Nona kerja di rumah saya saja. Kebetulan saya butuh pelayan untuk bersih-bersih di rumah. Jika nona berminat. Nona bisa langsung kerja di rumah saya," ucap seorang pengunjung wanita kedua sembari menatap jijik Kimberly.
"Atau nona menjadi istri simpanan saya saja. Saya akan beri nona uang bulanan sebesar $USD5000." seorang laki-laki berucap dengan menatap lapar kearah Kimberly.
Seketika Kimberly berdiri dari duduknya, kemudian Kimberly menatap satu persatu wajah para pengunjung toko itu.
"Siapa tadi ingin aku bekerja di rumahnya? Dan siapa tadi yang menginginkan aku jadi istrinya?" tanya Kimberly.
Dengan mantap dan tatapan menatap jijik Kimberly kedua orang itu langsung menjawabnya secara bersamaan.
"Saya!"
Kimberly menatap penuh amarah kedua manusia tersebut. Kimberly sudah bersumpah tidak akan memberikan maaf kepada orang yang sudah menghinanya terlalu buruk.
Kimberly tidak mempermasalahkan jika dia disebut penipu, disebut pura-pura kaya dan disebut tak mampu membayar semua pesanannya. Tapi Kimberly tidak terima dia direndahkan seperti hingga berakhir dirinya diminta untuk bekerja sebagai pembantu dan juga dijadikan istri simpanan.
Kimberly berlahan melangkah mendekati wanita tersebut dengan tatapan matanya yang tidak seperti biasanya.
Melihat perubahan tatapan mata Kimberly seketika membuat wanita itu seketika ketakutan. Begitu juga dengan pengunjung lain.
Tak jauh dari Kimberly. Deryl dan beberapa anggotanya sejak tadi memperhatikan dan mendengar semuanya. Mereka akan melakukan sesuatu terhadap orang yang sudah menghina majikannya itu.
Sreekk..
"Aakkhhh!" teriak wanita itu ketika merasakan sakit di lehernya.
Yah! Kimberly langsung mencekik leher wanita itu setelah berdiri di hadapan wanita itu.
"Gue sedari tadi tutup mulut ketika lo dan semuanya menyebut gue yang berpura-pura kaya, berpura-pura mampu membayar semua pesanan gue, menyebut gue penipu. Lo pikir gue bakal diam aja disaat lo mandang gue kayaknya gadis hina sehingga lo bisa jadikan pembantu di rumah lo!"
"Le-lepas," ucap wanita itu terbata. Wajah wanita itu sudah pucat kebiruan.
Sementara dua gadis yang menjadi dalang serta para pengunjung dan para pelayan yang melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly seketika ketakutan dengan tubuh bergetar.
"Karena mulut lo udah keterlaluan menghina gue. Lo harus mati."
Kimberly mencekik kuat leher wanita itu sehingga membuat wanita menangis merasakan sakit luar biasa di lehernya.
Setelah beberapa detik, Kimberly kemudian melempar tubuh wanita itu dengan kuat sehingga tubuh wanita itu tersungkur di lantai.
Gedebug..
Bruk..
"Aakkhh!" teriak wanita itu.
Setelah puas melakukan hal itu kepada wanita tersebut. Kimberly menatap laki-laki yang akan menjadi dirinya istri simpanannya.
"No-nona, maafkan saya."
Kimberly tidak memperdulikan permintaan maaf dari laki-laki itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah untuk melenyapkan laki-laki itu.
Kimberly melangkahkan kakinya mendekati laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu berlahan mundur, lalu berlari. Namun sialnya, tubuhnya seketika ditahan oleh dua orang laki-laki berpakaian hitam.
"Mau lari kemana, hum?" ucap Deryl.
Melihat beberapa laki-laki berpakaian hitam datang membuat para pelayan toko, pengunjung yang beberapa menit yang lalu menatap jijik Kimberly dan dua gadis itu seketika ketakutan.
Sementara Kimberly tersadar atas apa yang telah dilakukan olehnya. Sosok Kimmy berhasil menguasai tubuhnya dan melakukan pembalasan luar biasa terhadap orang yang menghinanya.
"Nona," sapa Deryl.
"Kakak."
"Nona tidak apa-apa. Wajah nona sedikit pucat," ucap Deryl yang menatap khawatir Kimberly.
"Aku tidak apa-apa, kak!"
Kimberly menatap kearah laki-laki yang telah merendahkan dirinya kini berada ditangan anggota Deryl.
"Bawa laki-laki itu ke markas kakak Uggy."
"Baik, nona!"
Deryl menatap kearah anggotanya yang saat ini memegang tubuh laki-laki itu. "Kalian bawa dia ke markas!"
"Baik!"
Setelah itu, tiga anggota itu membawa paksa tubuh laki-laki itu keluar meninggalkan mall.
"Tidak! Jangan! Nona, tolong maafkan saya!" teriak laki-laki itu.
"Sekarang giliran kalian! seru Kimberly.
Kimberly menatap para pengunjung lainnya, dua gadis yang menjadi dalang kegaduhan dan para pelayan toko itu.
"Bagaimana kalau misalnya saya mampu membayar semua barang-barang yang sudah saya pilih ini, hum? Dan bagaimana jika saya bisa membeli semua isi toko ini? Apa yang akan saya dapatkan sebagai ganti ruginya karena saya sudah dipermalukan disini?"
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat mereka semua bungkam. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Kimberly.
"Kenapa diam? Udah nggak bisa ngomong lagi? Udah bisu ya? Tadi aja kalian bisa ngomongnya. Lancar lagi." ucap Kimberly dengan aksen mengejeknya dan sindirannya.
"Karena gue sudah terlanjur sakit hati sama kalian. Gue nggak jadi membayar semua pesanan saya itu. Nah, ini lihatlah!"
Kimberly mengeluarkan semua kartu kreditnya di hadapan dua gadis tersebut dan juga di depan para pelayan toko.
"Ini semua kartu saya. Nama saya Kimberly Aldama. Silahkan ambil satu kartu ini dan cek jumlah nominal yang ada di dalam kartu itu. Dan kalian bisa lihat disana tertera nama Kimberly Aldama."
Semua orang menatap dengan tatapan mata membesar ketika melihat sekitar sepuluh kartu kredit milik Kimberly.
Satu pelayan mengambil secara acak kartu kredit milik Kimberly. Kemudian pelayan itu mengeceknya.
Beberapa detik kemudian..
Pelayan itu meletakkan kembali kartu kredit itu pada tempatnya. Setelah itu, Kimberly memasukkan kembali semua kartunya itu ke dalam dompetnya.
"Bagaimana?" tanya Kimberly.
"Itu.... Itu..."
"Jawab! Beritahu para manusia-manusia menjijikan ini!"
Pelayan itu menatap kearah dua gadis itu dan beberapa pengunjung. "Kartu kredit nona ini berisi uang dengan jumlah yang mana bisa membeli semua isi mall ini beserta dengan mall nya. Dan nama nona ini Kimberly Aldama."
Deg..
Mendengar pengakuan dari salah satu pelayan membuat semua terkejut dan syok. Bahkan mereka semua saat ini benar-benar ketakutan setelah mengetahui identitas asli dari orang yang sudah mereka hina.
Kimberly menatap tajam kearah dua gadis itu. "Ini berawal dari kalian berdua. Tunggu apa yang akan terjadi pada kalian dan seluruh anggota keluarga kalian."
Kimberly menatap kearah Deryl. "Kakak Deryl. Aku mau mereka semua hancur tanpa sisa. Buat para pelayan toko ini berhenti bekerja. Dan pastikan juga mereka tidak bisa bekerja lagi di toko maupun."
"Dilaksanakan nona!"
"Ini pembelajaran untuk kalian. Jangan memandang seseorang hanya dari penampilannya saja," ucap Kimberly menatap ke semua pengunjung mall yang melihat dari kejauhan dan tidak ikut dalam menghina Kimberly.
Selesai dengan pembalasannya, Kimberly pergi meninggalkan toko itu sembari menghubungi Tommy dan memintanya langsung ke parkiran.
Flashback Off