
Nashita, ketiga adiknya yaitu satu adik perempuannya dan dua adik iparnya, keponakannya Triny, keempat sahabatnya Kimberly dan para sahabatnya Triny sudah berada di ruang rawatnya Kimberly.
Sementara ketiga kakaknya, para ayah, Aryan, Billy dan para sahabatnya. Mereka berada di luar ruang rawatnya Kimberly sedang membahas pelaku penembakan terhadap Kimberly.
Baik Nashita maupun kedua bibinya, sepupunya, keempat sahabatnya dan sahabat dari Triny menatap sedih Kimberly yang sedang terbaring di tempat tidur dengan masker oksigen yang menutupi setengah wajahnya, tangan yang diinfus dan jari telunjuknya yang dijepit.
Nashita berlahan mendekati ranjang putrinya. Setelah berada di samping ranjang putrinya. Tangannya membelai lembut rambut putrinya dan mengecup keningnya.
Setelah itu, Nashita memegang tangan putrinya yang terpasang infus dan jari telunjuknya yang dijepit hati-hati. Nashita mengusap pelan punggung tangan putrinya itu.
"Sayang. Ini Mommy, Nak!" Nashita berbicara sambil mengecup punggung tangan putrinya.
"Hei, keponakannya Bunda yang cantik. Gak kangen Bunda ya. Masa Bunda datang kamunya malah tidur sih." Clarita berbicara sambil tangannya bermain-main di kepala Kimberly.
"Mami juga disini sayang," ucap Helena yang tangannya mengsaup lembut pipi Kimberly.
"Mommy... Hiks. Maafkan aku. Maafkan aku gak becus jagain Kimberly... Hiks," isak Triny.
Mendengar isakan dari Triny membuat Nashita, Clarita dan Helena terkejut. Kemudian Nashita mengalihkan pandangannya untuk melihat keponakannya itu.
Nashita tersenyum ketika melihat keponakannya yang sudah menangis terisak.
Berlahan Nashita mendekati Triny. Setelah berada didekat keponakannya itu, Nashita langsung menarik pelan tubuh keponakannya dan membawanya ke pelukannya.
Mendapatkan pelukan hangat dari Nashita membuat isak tangis Triny makin kencang. Mendengar hal itu, baik Nashita, Clarita dan Helena tersenyum gemas.
"DOES NOT MATTER. EVERYTHING IS FINE, OKAY!" Nashita berbicara lembut kepada keponakannya itu.
Nashita tahu bahwa saat ini keponakannya tengah ketakutan. Bukan hanya keponakannya. Dirinya sebagai juga memiliki perasaan takut akan putrinya.
Nashita dan keluarga besarnya takut jika trauma Kimberly muncul. Trauma yang akan membuat mental Kimberly down. Kimberly tidak hanya memiliki trauma akan suasana yang gelap dan suara petir. Kimberly juga memiliki trauma yang lainnya. Trauma itulah yang selalu Nashita dan anggota keluarganya jaga agar tidak kembali muncul. Trauma yang mana Kimberly pernah mengalami insiden penculikan dan penyekapan sehingga berakhir Kimberly yang sempat kehilangan detak jantungnya. Bahkan Kimberly yang koma beberapa bulan.
"Mom, aku takut." Triny berucap lirih.
"Semoga apa yang kamu takutkan tidak terjadi sayang," ucap Nirvan yang datang bersama Fathir dan yang lainnya.
Triny langsung melepaskan pelukannya Nashita, lalu memeluk ayahnya.
"Papi," lirih Triny.
"Semoga Kimberly baik-baik saja. Adik kamu itu kuat," ucap Nirvan sembari mengecup pucuk kepala putrinya.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan kini berdiri di samping ranjang adiknya. Mereka secara bergantian memberikan kecupan sayang di kedua pipi adiknya dan juga kening adiknya. Dan tak lupa memberikan kata-kata sayang untuk adiknya agar adiknya tidak terlalu lama dalam tidurnya.
"Hei, adik kakak yang cantik. Ini Kak Jason. Buka dong matanya sayang."
"Disini juga ada Kak Uggy loh."
"Kak Enda juga ada disini."
"Kita semua disini sayang." Riyan mencium punggung tangan adiknya.
"Mom, Dad. Kenalkan ini yang namanya Tommy. Putra dari Om Andrean," sahut Billy yang memperkenalkan Tommy kepada kedua orang tuanya Kimberly.
Fathir dan Nashita langsung melihat kearah Tommy. Kemudian Fathir mendekati Tommy.
"Jadi kamu putranya Andrean?" tanya Fathir.
"Iya, Om. Aku anak keempat dari lima bersaudara," jawab Tommy.
Mendengar jawaban dari Tommy. Fathir langsung memberikan pelukan hangat kepada Tommy. Setelah puas memeluk Tommy. Fathir pun melepaskan pelukannya.
"Om sudah dengar dari Billy dan juga dari keempat kakaknya Kimberly bahwa kamu mencintai Kimberly. Apa itu benar, Nak?"
Fathir tersenyum. "Om merestui hubunganmu dengan Kimberly. Tapi dengan syarat," ucap Fathir.
Mendengar ucapan dari Fathri. Mereka semua tak terkecuali melihat kearah Fathir. Mereka dapat melihat keseriusan, ketegasan dan harapan di tatapan matanya Fathir ketika menatap wajah Tommy.
"Apa syaratnya om?" tanya Tommy.
"Jaga Kimberly dengan baik ketika bersamamu. Jangan sakiti Kimberly apalagi melukai hatinya. Jangan pernah meninggalkan Kimberly hanya demi perempuan lain apalagi sampai mempercayainya. Kimberly pernah mengalami kegagalan dalam hubungan asmaranya dulu. Om tidak ingin hal itu terulang lagi. Om berharap bersamamu Kimberly mendapatkan kebahagiaannya. Sejak Kimberly putus dengan kekasihnya dulu. Semenjak itulah Kimberly menutup hatinya untuk laki-laki manapun yang berusaha mendekatinya. Ketika bertemu denganmu. Kimberly berlahan membuka hatinya lagi terutama buat kamu. Jadi om harap kamu bisa mengabulkan syarat sederhana om ini."
Fathir menatap wajah Tommy dengan penuh hangat. Fathir bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan putrinya denga putra dari sahabat baiknya. Fathir sangat tahu betul bagaimana watak, sifat dan perilaku Andrean. Dan Fathir sangat yakin jika Andrean mendidik anak-anak dengan sangat baik.
"Pasti om. Aku akan selalu menjaga Kimberly. Aku tidak akan membuat Kimberly menangis kecuali nangis bahagia. Aku akan selalu ada untuk Kimberly. Sekali pun nanti aku punya masalah dengan Kimberly. Atau kita berdua bertengkar. Aku dan Kimberly akan segera menyelesaikannya. Papi telah mengajarkanku banyak hal. Salah satunya adalah selalu menghormati perempuan dan tidak gampang terperdaya atau tergoda dengan perempuan manapun. Dan paling utama yang Papi ajarkan adalah kepercayaan dalam sebuah hubungan."
Mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Tommy membuat Fathir, Nashita dan keempat putranya tersenyum bahagia dan juga bangga. Mereka menaruh harapan besar terhadap Tommy demi kebahagiaan kesayangan mereka yaitu Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya.
***
Di sebuah rumah mewah di kawasan Prestise Pedralbes. Terlihat seorang pria yang sedang marah kepada orang-orang suruhannya.
PLAAKK!
PLAAKK!
BUGH! BUGH!
Pria itu memukul dan juga menampar dengan kerasnya terhadap para suruhannya. Para suruhannya melakukan tugasnya dengan kegagalan.
"Kalian benar-benar bodoh. Membawa satu gadis saja tidak bisa. Bahkan kalian telah berani melanggar apa yang aku katakan!" bentak pria itu.
"Maafkan kami tuan. Kami akui kami salah. Kami sudah melakukan tugas kami sesuai perintah tuan. Dan kami sama sekali tidak melukia gadis itu," jawab salah satu suruhannya.
"Jika kau dan yang lainnya sudah melakukan tugas seperti yang aku katakan. Kenapa gadis itu bisa terluka, hah?!" teriak pria itu.
"Maaf tuan. Itu bukan kesalahan kami. Tapi laki-laki bodoh itu," salah satu orang suruhan dari pria itu menunjuk ke salah satu rekannya yang telah menembak korban
Melihat arah tunjuk dari salah satu suruhannya membuat pria itu marah.
"Maaf tuan. Saya melakukan hal itu agar mempercepat tugas kita. Gadis itu tidak ingin ikut dengan kami. Padahal kami sudah melakukan berbagai cara untuk membawanya. Bahkan kami sama sekali tidak bisa menyentuhnya. Setiap kami ingin menyentuhnya. Gadis itu langsung menyerang kami dengan gerakan yang begitu lihai dan lincah." laki-laki itu berbicara sambil menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Sekali lagi maafkan saya tuan. Saya melakukan hal ini hanya untuk mempercepat pekerjaan kami. Dengan saya melukai gadis itu. Aku dan yang lainnya bisa segera membawa gadis itu ke markas."
Mendengar jawaban dari suruhannya, pria itu hanya diam. Di dalam hatinya, pria itu sedikit membenarkan apa yang dikatakan oleh suruhannya itu.
"Baiklah. Kali ini kau aku maafkan. Jika kau mengulanginya lagi. Maka nyawamu sebagai taruhannya. Sekarang pergilah."
Para suruhannya itu pun pergi meninggalkan ruangan pribadinya. Detik kemudian terdengar suara ponselnya. Menandakan panggilan masuk.
Pria itu mengambil ponselnya dan melihat nama seseorang di layar ponselnya. Pria itu pun langsung menjawabnya.
"Bagaimana?" tanya orang yang berada di seberang telepon.
"Gagal. Gadis incaranmu itu terluka akibat kecerobohan anak buahku. Sekarang gadis itu dirawat di rumah sakit."
"Kenapa bisa?"
"Salah satu anak buah ku menembak gadis itu."
"Apa?!" teriak si penelpon. "Kenapa anak buahmu itu bodoh sekali."
"Tidak usah pake teriak segala sialan. Udah untung aku mau bantu. Bukannya bersyukur. Jika bukan aku yang bersedia membantumu lalu siapa lagi? Memangnya ada orang lain yang akan mengulurkan tangannya buat bantuin kamu. Jawabannya tentu saja tidak. Kau sudah tidak punya apa-apa lagi setelah seluruh anggota keluargamu hancur. Jadi jaga sikapmu itu."
Setelah mengatakan itu, pria itu pun langsung mematikan panggilannya.