
Keesokan harinya di kediaman Rafassya Fidelyo dimana Aryan yang sejak kemarin berdiam diri di kamarnya. Dia masih memikirkan kejadian kemarin dimana untuk pertama kalinya dia menampar seorang perempuan.
Aryan saat ini benar-benar menyesal telah menampar Sherina. Seharusnya yang dia lakukan pertama adalah bertanya terlebih dahulu. Setelah itu, baru dia mengambil tindakan.
Aryan sampai melakukan itu kepada Sherina karena Sherina mengatakan padanya kalau perempuan itu akan menyebarkan foto itu. Jadi dia tidak sepenuhnya salah kalau kemarin dia marah-marah terhadap Sherina sehingga berakhir dia menampar Sherina.
"Sherina, maafkan gue."
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka. Dan masuk seseorang itu ke dalam kamarnya. Orang itu tersenyum menatap Aryan yang saat ini tengah memikirkan sesuatu hingga tak menyadari kehadirannya.
Orang itu melangkah mendekati Aryan. Setelah berada di belakang Aryan. Orang itu langsung memeluk erat tubuh Aryan.
Aryan yang tengah memikirkan kejadian kemarin di sekolahnya seketika terkejut ketika mendapatkan pelukan. Aryan menghirup aroma orang yang memeluk tubuhnya itu.
"Papa," ucap Aryan.
Rafassya langsung tersenyum kala putra ketiganya mengetahui bahwa dirinya yang telah memeluknya.
"Kok kamu tahu kalau Papa yang meluk kamu?" tanya Rafassya sembari mengecup pucuk kepala putranya itu.
"Dari aroma tubuh Papa dan juga pelukan yang aku rasakan," jawab Aryan.
Rafassya kembali tersenyum ketika mendengar jawaban dari putranya.
Rafassya melepaskan pelukannya lalu duduk di samping putranya itu. Rafassya melirik sekilas, setelah itu memulai obrolannya dengan sang putra.
Rafassya sudah tahu penyebab putranya berdiam diri di kamarnya sejak pulang sekolah kemarin. Keponakannya Kimberly, Triny, Risma dan Billy sudah menceritakan kejadian dialami Aryan di sekolah.
"Mau cerita sama Papa? Keempat sepupu kamu beritahu Papa apa yang terjadi kemarin di sekolah. Sekarang ini, Papa mau dengar langsung dari kamu."
Aryan melihat kearah ayahnya. Dia menatap wajah tampan ayahnya itu lekat-lekat. Dan setelah itu, Aryan kembali menatap kearah depan.
"Papa."
"Iya, sayang!"
"Apa aku pria jahat ya?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku... Aku sudah menampar seorang perempuan."
Mendengar jawaban dari putranya membuat Rafassya terkejut. Walau keempat kepopulerannya sudah menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Namun keempatnya tidak mengatakan bahwa Aryan telah menampar Sherina.
Bukan tidak menceritakan. Baik Kimberly maupun Triny, Billy dan Risma sengaja tidak memberikan masalah tamparan tersebut. Mereka hanya memberitahu soal pertengkaran Aryan dan Sherina.
"Kalau Papa boleh tahu. Kenapa kamu sampai menampar perempuan itu? Apa kesalahannya?"
"Aku... Aku berpikir bahwa dia telah menyebarkan foto itu."
"Foto? Foto apa sayang?" Rafassya penasaran akan foto yang dimaksud oleh putranya itu.
"Begini, Papa! Beberapa hari yang lalu aku pergi sekolah naik motor, lalu ditengah jalan ada seorang perempuan yang tak lain teman sekolahku. Dia nyeberang seenaknya saja tanpa melihat kiri kanan sehingga membuatku terkejut dan hampir menabrak dia."
"Aku marah-marahin dia. Eh, dianya malah nggak terima. Justru balik marahin aku. Dan seenaknya dia mengatakan bahwa cowok itu harus ngalah."
Mendengar cerita dari putranya membuat Rafassya tersenyum sambil tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Terus yang terjadi, hum?"
"Aku membalas dia dengan cara menakut-nakutinya. Aku mendekati dia. Bahkan memepet tubuhnya sampai membuat dia terdesak ke belakang. Selanjutnya Papa mengertilah arah pembicaraanku."
Rafassya kembali tersenyum mendengar perkataan putranya itu. Bahkan dia langsung mengerti ketika putranya itu berbicara seperti itu.
"Iya, Papa mengerti! Terus?"
"Seseorang datang lalu memotret kami berdua. Di dalam foto itu seolah-olah aku dan teman sekolahku itu tengah melakukan hal itu."
"Yang lebih parahnya adalah pelaku dari orang yang memotret itu adalah teman satu sekolahku juga. Namanya Sherina. Dia anak IPA 3 sekelas denganku. Sementara perempuan yang hampir tertabrak olehku anak IPA 4. Kimberly IPA 1."
"Aku nampar Sherina karena aku berpikir jika dia yang sudah menyebarkan foto itu ke media sosial sehingga semua orang melihatnya. Karena waktu itu aku minta sama dia buat hapus tuh foto. Dan jangan coba-coba untuk menyebarkannya, walau dia sempat mengancamku akan menyebarkan foto itu."
"Apa benar gadis itu yang telah menyebarkan foto itu?"
"Bukan dia, tapi Cherry yang juga musuh Kimberly. Sherina memperlihatkan foto itu kepada ketiga sahabatnya dan juga kepada teman-teman sekelasnya hanya sekedar memperlihatkannya saja. Bahkan Sherina meminta kepada ketiga sahabatnya dan teman-teman sekelasnya itu untuk tidak menyebarkan kepada siapa pun. Tapi tak disangka, Cherry justru menyebarkan foto itu ke media sosial. Kalau nyebarinnya cuma di sekolah, aku tak masalah. Hanya teman-teman sekolahku saja yang tahu."
"Alasan Cherry menyebarkan foto itu ke media sosial adalah untuk membalas gadis yang ada di foto itu, Papa!"
"Maksud kamu?"
"Jadi teman mereka berasal dari keluarga Girado?" tanya Rafassya.
"Iya, Papa!"
"Keluarga Girado itu dikenal ramah dan baik. Mereka tidak pernah bersikap sombong atau pun arogan kepada siapa pun. Papa sangat kenal dengan Revano dan Rehando. Mereka berdua memiliki hati yang baik, suka membantu orang-orang yang susah. Mereka sangat royal terhadap siapa pun."
Rafassya berbicara mengenai sifat asli dari dua bersaudara Revano dan Rehando. Rafassya sangat tahu betul sifat dan karakter asli dari keduanya.
Aryan menatap wajah ayahnya. Tampak jelas sekali rasa bersalahnya di tatapan matanya itu. Rafassya bisa melihat hal itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Papa? Aku sudah melakukan kesalahan dengan menampar Sherina. Seharusnya aku bertanya dulu sebelum marah-marah."
Rafassya langsung menarik tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Lakukan apa yang ada di pikiran dan hati kamu. Jika kamu merasa bersalah dan menyesal. Minta maaflah padanya."
"Baiklah, Papa! Aku akan meminta maaf kepada Sherina."
Rafassya tersenyum mendengar jawaban dari putranya. Setelah itu, Rafassya melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putranya itu. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Ya, sudah. Sekarang kamu bersiap-siap. Bukankah kita akan mengunjungi Daddy Fathir dan Mommy Nashita?!"
"Baiklah, Papa!"
***
Di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana para adik-adik dari Nashita dan Fathir datang berkunjung. Mereka semua saat ini berada di ruang tengah.
"Daddy dengar dari tangan kanan Daddy, katanya mantan kamu itu berulah lagi. Apa itu benar Zivan?"
"Iya, Dad!" jawab Zivan.
"Terus? Kamu diam lagi? Tidak bertindak?" tanya Fathir.
Zivan menatap wajah tampan Pamannya itu. Begitu juga dengan Fathir. Seketika terukir senyuman manis di bibir Zivan.
"Apa menurut Daddy aku akan diam saja jika perempuan itu berulah untuk kesekian kalinya, hum?"
Mendengar ucapan dan melihat senyuman dari Zivan membuat Fathir langsung paham. Begitu juga dengan yang lainnya
"Coba Daddy, Papa, Papi dan kalian semua buka internet. Kalian akan mendapatkan berita tentang kehancuran perempuan itu dan keluarga besarnya," ucap Zivan.
Tanpa menunggu lama lagi, Fathir, Rafassya, Nirvan serta yang lainnya langsung membuka internet melalui ponselnya masing-masing.
Dan detik kemudian...
Terukir senyuman manis di bibir semua anggota keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo ketika melihat berita tentang keluarga Martavia dan keluarga Narendra, keluarga besar ibunya Kalina.
"Itu balasan untuk orang yang sudah mengusik keluarga kita," sahut Rehan tersenyum puas hasil kerja kakaknya.
"Bukan hanya keluarga kita saja. Termasuk orang-orang yang dekat dengan kita. Mereka adalah sahabat dan kekasih kita," ucap Triny.
Nirvan menatap wajah putrinya yaitu Triny dan keponakannya Risma dan Aryan.
"Triny, Aryan, Risma!" Nirvan memanggil ketiganya.
Dengan kompak Aryan, Triny dan Risma langsung melihat kearah ayahnya/Pamannya.
"Iya, Pa!"
"Bagaimana perkembangan masalah Molly Sheela, Syafina dan teman-temannya? Apa orang tua mereka menerima keputusan kepala sekolah yang tidak memberikan hukuman kepada Kimberly, tapi justru menyalahkan anak-anak mereka?" tanya Rafassya.
"Untuk saat ini masih aman, Pa!" jawab Risma.
"Kita masih terus memantau keadaan sekitar sekolah," sahut Triny.
"Lalu bagaimana dengan siswi yang bernama Asena. Dan ketujuh sahabatnya? Mereka adalah musuh baru Kimberly di sekolah!" Uggy seketika berucap dengan tatapan matanya menatap kearah Aryan, Risma dan Triny secara bergantian.
"Kak Uggy tidak perlu khawatir. Kimberly masih bisa mengatasi mereka semua," ucap Triny.
"Bahkan seharian kemarin satu sekolah dibuat geleng-geleng kepala akan tindakan dan juga perkataan kejam Kimberly untuk kelompok Asena," ucap Risma.
"Benarkah?" tanya Enda dan Riyan bersamaan.
"Hm!" Aryan, Risma dan Triny berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Pokoknya untuk saat ini Kimberly masih bisa mengatasi para musuh-musuhnya. Sementara kami hanya sebagai penonton sekaligus mengawasi dan melindungi Kimberly dari jauh," sahut Aryan.
Mendengar jawaban demi jawaban dari Triny, Aryan dan Risma membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda mengerti.