THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Membahas Masalah Mantan



Tok!


Tok!


Tok!


"Kim, ayo buruan. Nanti kamu terlambat ke sekolahnya," ucap Enda di depan pintu kamar adik perempuannya.


"Iya, kak Enda! Ini aku sudah selesai!" teriak Kimberly dari dalam kamarnya.


"Ya, sudah! Kakak langsung ke bawah. Jangan lama-lama. Nanti kakak tinggal kamu," ucap Enda.


"Iya," jawab Kimberly.


Pagi ini Kimberly akan diantar ke sekolah oleh Enda, karena semalam Kimberly meminta kepada kakak ketiganya itu untuk mengantarnya dirinya ke sekolah dengan alasan malas membawa mobil.


Setelah itu, Enda pun pergi meninggalkan kamar adik perempuannya untuk kembali ke bawah.


^^^


Kini Enda sudah bersama kedua orang tuanya di meja makan.


"Princess sudah bangun?" tanya Fathir kepada putra ketiganya.


"Sudah, Dad! Kimberly lagi siap-siap. Dan sebentar lagi turun," jawab Enda.


Dan benar saja. Setelah Enda mengatakan itu, terdengar suara sapaan dari Kimberly yang tengah melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


"Selamat pagi Dad, selamat pagi Mom, selamat pagi kakak-kakakku yang tampan!"


"Selamat pagi, princess!" Nashita dan Fathir menjawab bersamaan.


"Pagi adik perempuan kakak yang paling cantik," jawab Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.


Mendengar jawaban serta pujian dari keempat kakak laki-lakinya membuat Kimberly tersenyum manis.


Kimberly kemudian berjalan menghampiri keempat kakak laki-lakinya, lalu memberikan kecupan sayang di pipi keempat kakak laki-lakinya itu secara bergantian.


Setelah memberikan kecupan sayang di pipi keempat kakak laki-lakinya, Kimberly langsung menduduki pantatnya di kursi di antara Jason, Riyan dan Enda, Uggy.


Sementara Jason, Uggy, Enda dan Riyan yang mendapatkan ciuman di pipi dari adik perempuannya seketika tersenyum bahagia.


Nashita dan Fathir yang melihat kelima anak-anaknya yang kompak dan saling menyayangi tersenyum bahagia. Mereka benar-benar bersyukur memiliki anak-anak yang memiliki sifat yang penyayang dan perhatian satu sama lainnya.


Setelah itu, mereka pun memulai menyantap sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.


"Kak Enda," panggil Kimberly disela mengunyah makanannya.


"Ditelan dulu baru ngomong," ujar Enda.


Seketika Kimberly langsung menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum gemas.


"Kak Enda," panggil Kimberly lagi.


"Hm." Enda menjawab dengan deheman walau tatapan matanya masih menatap wajah cantik adik perempuannya itu.


"Nanti ketika kakak antar aku ke sekolah. Kita singgah dulu ke supermarket ya!"


"Mau ngapain?" tanya Enda yang pura-pura tidak mengetahui tujuan adik perempuannya kesana.


"Aish, kakak Enda!" Kimberly seketika memperlihatkan wajah sedihnya.


Melihat Kimberly yang menampilkan wajah sedihnya membuat Enda seketika menjadi lemah. Enda paling tidak bisa melihat wajah sedih adik perempuan satu-satunya.


"Iya, iya! Nanti kita singgah ke supermarket sebelum ke sekolah kamu," sahut Enda.


Kimberly seketika tersenyum lebar mendengar perkataan sekaligus jawaban dari kakak ketiganya itu.


"Terima kasih kakak. Kakak yang terbaik. Aku menyayangi kakak."


Setelah mengatakan itu, Kimberly kembali melanjutkan sarapannya. Sementara kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya tersenyum melihat wajah bahagia Kimberly.


Mereka semua bahagia ketika melihat kesayangannya tersenyum bahagia. Dan mereka tahu cara membuat kesayangannya itu tersenyum penuh kebahagiaan yaitu dengan cara menuruti apa yang diinginkan oleh kesayangannya itu. Keinginan dari kesayangannya itu tidak yang berat-berat, tidak pula memberatkan orang-orang terdekatnya dan tidak juga seperti anak-anak pada umumnya yang membuat masalah.


Ketika mereka sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara bunyi ponsel. Dan ponsel itu adalah ponsel milik Kimberly.


Kimberly yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku Almamater nya.


Sementara Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya memperhatikan dan mendengar sembari menikmati sarapannya.


Seketika Kimberly tersenyum ketika melihat nama orang yang sudah membuat hidupnya berwarna.


Melihat Kimberly yang tersenyum manis sembari menatap layar ponselnya membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum langsung paham. Mereka tahu siapa yang menghubungi kesayangannya itu.


"Hallo, Tommy. Ada apa menghubungiku?"


"Aku sekarang berada diluar."


Seketika Kimberly membulatkan matanya dan mulutnya yang berbentuk 'O' ketika mendengar jawaban dari Tommy.


Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan seketika tersenyum gemas melihat wajah terkejut Kimberly.


"Buruan. Jangan membuat seorang Tommy lama menunggu. Ntar digoda sama anak tetangga."


Mendengar perkataan dari Tommy membuat Kimberly kembali membulatkan matanya.


Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung mematikan panggilannya. Dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku Almamater nya.


"Mom, Dad, kak! Aku berangkat sekarang. Tommy nunggu diluar!"


"Tommy jemput kamu?" tanya Riyan.


"Iya," jawab Kimberly.


"Kenapa nggak bilang?" tanya Enda.


"Mana aku tahu. Aku juga kaget saat dia bilang 'aku sekarang ada diluar'. Ini aja dia nyuruh aku buru-buru. Pake ngomong kalau nanti digoda sama anak tetangga kalau aku telat keluarnya."


Mendengar ocehan dan aduan dari Kimberly membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah cemberutnya yang mereka yakini kesal akan ulah Tommy.


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan anggota keluarganya yang masih di meja makan.


***


Zivan Fidelyo sang billionaire tampan yang sangat dipuja semua wanita sedang duduk di kursi kebesarannya.


Namun dibalik ketampanannya. Dia memiliki sifat dingin dan kejam. Semua orang akan takut melihat tatapannya. Hanya kepada anggota keluarganya dan orang-orang terdekatnya Zivan akan bersikap lembut dan ramah.


"Jack, kemarilah." panggil Zivan kepada orang kepercayaannya sekaligus sahabatnya.


"Permisi, tuan. Anda memanggil saya?" ujar Jack orang kepercayaan Zivan.


"Bisakah kau tidak seformal itu? Kau tahu kita ini bersahabat sudah sangat lama," balas Zivan dengan tatapan dinginnya.


Jack adalah anak dari orang kepercayaan Nirvan Fidelyo dan merupakan sahabat Zivan sejak kecil.


Sekarang Zivan menginginkan Jack menjadi orang kepercayaannya karena Zivan tahu bahwa Jack dapat diandalkan.


"Baiklah jika itu maumu. Jadi kenapa kau memanggilku disaat yang tidak tepat? Hah?! Ohh, baru saja aku ingin bersenang-senang dengan gadisku," balas Jack yang membuat Zivan melongo.


Jack memang sengaja membuat mood Zivan hancur di pagi hari ini. Bagi Jack, jika tidak mengerjai Zivan sehari saja akan membuat hidupnya tak berwarna.


"Hei, aku menyuruhmu untuk berbicara seperti biasa tetapi tidak dengan membentak seperti itu. Apa kau ingin aku tembak, hah?!" balas Zivan dengan melempar buku tebal hingga mengenai kepala Jack.


"Aww! Ini sakit bodoh!" ujar Jack lagi.


"Kau mengataiku bodoh?!" teriak Zivan dan terjadilah perang mulut diantara kedua pemuda tersebut.


Tanpa mereka sadari seorang pria paruh baya memperhatikan mereka dengan melipat kedua tangannya.


"Sampai kapan kalian akan seperti itu?" tanya pria payuh baya itu agar mereka berhenti berdebat.


Zivan dan Jack yang mendengar suara seseorang langsung menatap ke sumber suara.


"Kapan Papa datang?" balas Zivan saat melihat siapa yang menghentikan perdebatannya dengan Jack.


Yang dipanggil Papa oleh Zivan adalah Nirvan Fidelyo adalah seorang pemilik perusahaan tempat Zivan dan Jack bekerja. Zivan menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.


Perusahaan milik Nirvan berada di nomor 2 di dunia dan Jerman setelah perusahaan milik keluarga besar Aldama. Yang berada di nomor 3 di dunia dan di Jerman adalah perusahaan keluarga Ravindra.


"Sejak kalian mulai saling melempar berkas satu persatu sehingga semua berserakan di lantai," balas Nirvan terhadap putranya.


Zivan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seluruh berkas penting yang seharusnya hari ini dia tanda tangani bertebaran dimana-mana.


"Jack cepat bereskan ini semua." teriak Zivan dengan lantang.


Jack langsung merapikan semua berkas yang berserakan karena ulah mereka.


Setelah semua berkas telah dirapikan oleh Jack. Zivan langsung mengajak ayahnya untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Ada apa Papa datang ke kantorku?" tanya Arthur pada ayahnya.


Menurut Zivan tidak biasanya ayahnya datang langsung ke kantor. Jika ada sesuatu yang harus dia katakana pasti ayahnya hanya menghubunginya lewat telpon saja.


"Apa ayahmu ini tidak boleh berkunjung ke kantormu?" balas Nirvan membuat Zivan mengangkat bahunya acuh.


"Papa ke sini untuk menyampaikan sesuatu padamu. Papa ingin kau segera menyelesaikan masalahmu dengan gadis itu. Dan Papa tidak akan pernah memberikan kesempatan apapun padanya. Apalagi sampai menerimanya menjadi bagian keluarga Fidelyo. Begitu dan dengan keluarganya. Ingat Zivan! Keluarga kita tidak menerima sebuah pengkhianatan dan perselingkuhan," ucap Nirvan.


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Zivan tersadar. Tiga bulan ini Zivan fokus terhadap pekerjaannya sehingga lupa untuk menyelesaikan masalahnya dengan mantan kekasihnya itu.


Zivan memiliki kekasih. Hubungannya dengan kekasihnya itu sudah satu tahun. Zivan begitu mencintai kekasihnya itu.


Namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena perempuan yang dicintainya tidak serius padanya. Perempuan tersebut menduakan dirinya dengan menjalin hubungan dengan laki-laki lain.


Ketika Zivan ingin memutuskan hubungannya dengan kekasihnya karena sudah dibohongi selama ini. Bahkan ayahnya sebagai saksi pengkhianatan tersebut. Justru kekasihnya itu minta baikan dan mengucapkan kata maaf. Bahkan mantan kekasihnya itu berulang kali memohon kepada Zivan untuk diberikan kesempatan untuk terus menjadi kekasihnya.


Namun bukan Zivan namanya jika akan luluh dengan bujuk rayu, air matanya dan sujud dari mantan kekasihnya itu. Justru Zivan tetap pada keputusannya yaitu mengakhiri semuanya.


Sampai detik ini, mantan kekasihnya itu terus saja mengganggu Zivan dan berusaha terus menerus untuk mendapatkan maaf dari Zivan. Hal itulah yang membuat Nirvan mendatangi putranya di kantor.


"Baik, Pa! Aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan perempuan tidak tahu diri itu. Kali ini aku akan memperlihatkan siapa aku yang sebenarnya. Selama ini perempuan itu hanya mengira kalau aku laki-laki lemah kalau masalah perempuan. Perempuan itu mengira bahwa aku sama-sama seperti laki-laki pada umumnya yang rela menjadi budak hanya karena cinta."


Mendengar perkataan dari putra sulungnya membuat Nirvan tersenyum. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh putranya itu.


Baik Zivan, Nirvan maupun anggota keluarga yang lain. Mereka hanya akan menjadi budak cinta jika pasangan yang dicintai itu benar-benar tulus mencintai pasangannya. Memiliki hati yang baik, bersih, tulus, penuh rasa sayang dan kepedulian.


"Papa tunggu kabar dari kamu. Buat perempuan itu berhenti mengganggu kamu."


"Baik, Pa!"