THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ide Licik Tommy



Kimberly saat ini berada di kamarnya. Sejak kejadian di gedung tempat diadakan acara ulang tahun perusahaan Metro Advertising, sejak itulah Kimberly mengurung diri di dalam kamarnya sehingga membuat semua anggota keluarga besarnya baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya mengkhawatirkan dirinya.


Flashback On.


Kimberly saat ini berada di luar gedung bersama ibunya, Tommy dan ibunya Tommy. Kimberly masih terus mengingat tentang ucapan dari ibunya Syafina yang menyebut dirinya sebagai pembunuh.


"Syafina meninggal," batin Kimberly.


Dan detik kemudian, air matanya mengalir membasahi pipi putihnya.


"Sayang," ucap Nashita sembari tangannya mengusap lembut air mata putrinya.


Kimberly menatap intens wajah Tommy. Dirinya ingin memastikan kembali tentang Syafina.


"Katakan padaku jika apa yang dikatakan oleh ibunya Syafina tidak benar?" tanya Kimberly dengan air matanya kembali jatuh.


Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Kimberly membuat Tommy tidak tega. Hatinya seketika sakit ketika menatap wajah sedih kekasihnya.


"Itu benar, Kim! Syafina sudah pergi untuk selamanya," ucap Tommy.


Seketika Kimberly langsung menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari Tommy.


"Tidak... itu tidak mungkin!"


"Sayang." Nashita langsung memeluk tubuh putrinya. Dirinya tidak tahan melihat keadaan putrinya yang mengingat tentang temannya yang selalu mengusiknya ketika di sekolah sudah meninggal.


"Hiks... Hiks... Hiks," isak Kimberly.


Nashita mengusap-usap lembut punggung putrinya. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar isak tangis putrinya.


"Mom... Hiks."


"Kamu tenang, oke! Semuanya sudah terjadi. Jadi kamu tidak perlu mengingatnya lagi," ucap Nashita yang berusaha menghibur putrinya.


"Yang dikatakan oleh Mommy kamu itu benar sayang. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Kamu tidak salah dalam hal ini. Yang salah itu dia. Tommy selalu cerita sama Mami bagaimana kelakuan sehari-hari teman kamu itu selama di sekolah. Sudah sewajarnya dan sudah menjadi hak kamu untuk membela diri kamu dan membela harga diri keluarga kamu." Lusiana ikut memberikan kata-kata semangat untuk Kimberly sembari tangannya mengusap lembut kepala belakangnya.


Kimberly seketika melepaskan pelukan ibunya lalu kembali menatap wajah kekasihnya.


"Apa ketika aku nyakitin Syafina. Itu aku atau sosok Kimmy?" tanya Kimberly.


Tommy tidak langsung menjawab pertanyaan dari Kimberly. Tatapan matanya menatap lekat wajah cantik kekasihnya itu.


Tommy melihat kearah ibunya Kimberly, lalu beralih menatap kearah ibunya. Setelah itu, Tommy kembali menatap wajah kekasihnya yang saat ini masih menatap dirinya.


Tommy kemudian menarik tubuh Kimberly dan membawanya ke dalam pelukannya. Tujuan Tommy melakukan hal itu agar Kimberly tidak kembali menyalahkan dirinya.


"Aku akan kasih tahu kamu. Tapi kamu harus janji padaku. Setelah ini aku mau kamu melupakan kejadian tersebut. Jangan diingat-ingat lagi. Seperti yang dikatakan Mami aku kalau kamu tidak salah," ucap Tommy.


"Brengsek kalian! Awas saja kalian. Tunggu pembalasanku. Jika dalam beberapa hari ini Kimberly masih memikirkan kejadian tersebut. Aku bersumpah akan membuat hidup kalian tidak tenang selamanya," batin Tommy.


"Bagaimana, hum?" tanya Tommy dengan mengecup pucuk kepala Kimberly.


"Aku akan berusaha melakukannya," jawab Kimberly dengan suara lirihnya.


Seketika terukir senyuman di bibirnya Tommy ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Begitu juga dengan Nashita dan Lusiana.


"Yang melakukan hal buruk itu terhadap Syafina adalah kamu. Awalnya memang sosok Kimmy. Namun beberapa detik kemudian, sosok Kimmy pergi," pungkas Tommy.


"Syafina meninggal ketika dia tersungkur di lantai karena benturan di kepala belakangnya. Ketika kamu mendorong Syafina, kepala Syafina menghantam bagian sudut lantai," ucap Tommy lagi.


Flashback Off.


"Maafkan aku Syafina. Aku tidak bermaksud menghilangkan nyawa kamu. Selama ini kamu dan teman-teman kamu selalu menggangguku dan sahabat-sahabatku. Aku sudah cukup sabar selama ini menghadapi kamu. Maafkan aku jika pada akhirnya kesabaran lepas kendali sehingga mengakibatkan nyawamu melayang." Kimberly berucap dengan nada yang begitu lirih.


^^^


Semua anggota keluarganya berada di ruang tengah. Mereka saat ini tengah memikirkan bagaimana cara membujuk Kimberly agar mau keluar dari dalam kamarnya dan mau berbicara dengan mereka semua. Mereka semua saat ini benar-benar mengkhawatirkan kondisi kesehatan Kimberly. Mereka tidak ingin Kimberly tumbang dan berakhir masuk rumah sakit.


"Sayang. Kita harus membujuk putri kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap putri kita," ucap Nashita.


"Mommy benar Dad! Kita harus membujuk Kimberly. Setidaknya buat Kimberly mau membukakan pintu kamarnya agar kita bisa masuk ke dalam kamarnya," ucap Riyan.


Kimberly berada di dalam kamarnya dengan keadaan pintu kamarnya dikunci dari dalam sehingga membuat mereka semua tidak bisa masuk ke dalam kamarnya Kimberly.


Disaat mereka semua sedang memikirkan rencana untuk membujuk Kimberly untuk keluar dari kamarnya atau membujuk Kimberly agar mau membukakan pintu kamarnya, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara nyaring Santy, Sinthia, Rere dan Catherine.


"Selamat siang Tante, Om dan semuanya!" sapa Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Sementara yang lainnya hanya memberikan senyuman masing-masing.


Kini semuanya sudah duduk di sofa dan bergabung dengan anggota keluarganya Kimberly.


"Kebetulan kalian datang!" seru Fathir.


"Ada apa, Om?" tanya Catherine.


"Ini masalah Kimberly, sayang! Sejak pulang dari acara ulang tahun Perusahaan Metro Advertising kemarin. Sejak itulah Kimberly mengurung diri di dalam kamarnya," jawab Fathir.


"Apa ada masalah? Pasti ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sinthia.


"Kimberly sudah tahu masalah kematian Syafina!" Triny langsung menjawab pertanyaan dari sahabat adik sepupunya itu.


Seketika mata Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membelalak sempurna ketika mendengar penuturan dari Triny. Begitu juga dengan yang lainnya, kecuali Tommy.


"Kok bisa?" tanya Andry.


"Siapa yang beritahu Kimberly masalah Syafina yang sudah meninggal?" tanya Andhika.


"Kedua orang tuanya Syafina juga diundang di acara ulang tahun Perusahaan Metro Advertising kemarin. Bahkan keluarga dari perempuan sialan itu juga hadir," sahut Tommy dengan raut wajah tak mengenakkan.


Mendengar penuturan dari Tommy, apalagi ketika melihat wajah tak mengenakkan Tommy membuat keempat sahabatnya Kimberly sahabatnya Aryan, sahabat-sahabatnya dan sahabatnya Triny langsung paham. Mereka semua berpikir telah terjadi sesuatu yang besar di acara ulang tahun itu.


"Dad, Mom!" Tommy memanggil kedua orang tuanya Kimberly.


"Iya, sayang!' Fathir dan Nashita menjawab bersamaan sembari tersenyum.


"Boleh aku ke kamarnya Kimberly. Aku akan bujuk Kimberly untuk mau membukakan pintu kamarnya," ucap Tommy meminta izin kepada kedua orang tuanya Kimberly.


Fathir dan Nashita langsung tersenyum ketika mendengar permintaan izin Tommy padanya. Begitu juga dengan keempat kakak laki-lakinya Kimberly dan keluarga besarnya.


"Itulah yang Daddy harapkan dari kamu, nak! Dengan kedatangan kamu, serta yang lainnya bisa membuat Kimberly keluar dari kamarnya. Yah, setidaknya Kimberly mau membukakan pintu kamarnya walau dia tidak mau keluar dari kamarnya." Fathir berbicara dengan penuh harap terhadap Tommy.


"Baiklah, Dad! Aku akan berusaha untuk membuat Kimberly keluar dari dalam kamarnya atau sekedar membukakan pintu kamarnya," sahut Tommy.


Fathir dan Nashita langsung menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua berharap kepada Tommy.


Setelah itu, Tommy beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Kimberly yang berada di lantai dua.


^^^


Kini Tommy sudah berdiri di depan pintu kamarnya Kimberly. Bahkan Tommy sudah berulang kali mengetuk pintu kamar tersebut, namun Tommy tidak mendapatkan jawabannya.


Tok..


Tok..


Tok.


"Kim, ini aku Tommy! Boleh aku masuk?!"


Tetap sama. Tommy tidak mendapatkan jawaban apapun dari Kimberly.


"Sayang, ayolah! Apa kamu tega membiarkan pacar kamu yang tampan ini berdiri lama-lama di depan pintu kamar kamu, hum?" tanya Tommy sembari menggoda Kimberly.


Masih sama.


Kimberly masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk membukakan pintu kamarnya.


"Hah!" Tommy seketika menghela nafasnya.


Dan detik kemudian....


Seketika Tommy tersenyum evil ketika mendapatkan satu ide di kepalanya.


"Semoga ide ini berhasil membuat Kimberly mau membukakan pintu kamarnya," batin Tommy berharap.


"Baiklah kalau kamu tidak mau membukakan pintu kamar kamu untukku. Berarti kamu tidak benar-benar mencintaiku. Kita akhiri saja hubungan asmara kita sampai disini. Dan kita berdua su......,"


Cklek..


Pintu kamar terbuka.