THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Club Karaoke



Kimberly dan keempat sahabatnya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saat ini berada di club Karaoke. Sesuai keinginan Santy, mereka semua berada di sana. Mereka berada di ruangan VVIP yang selalu digunakan setiap mereka datang kesana.


Baik Santy, Sinthia maupun Rere dan Catherine saat ini tengah bernyanyi. Sementara Kimberly sebagai penonton dan pendengar setia. Bahkan Kimberly tertawa ketika melihat Santy yang salah lirik sehingga mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Rere dan Sinthia. Ditambah lagi aksi dari Catherine yang berjoget di atas sofa sembari menggoyang-goyangkan kepala Rere, Santy dan Sinthia secara bergantian sehingga membuat ketiganya pusing.


Rere, Santy dan Sinthia berteriak sambil mengumpati kelakuan Catherine yang seenaknya saja.


Ketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tengah menikmati kebersamaannya dengan bernyanyi, berteriak dan tertawa seketika mereka dikejutkan beberapa gadis masuk ke dalam ruangan mereka. Ada sekitar delapan gadis yang memaksa masuk.


"Maaf, nona!" seorang pekerja wanita di club Karaoke itu meminta maaf kepada Kimberly dan keempat sahabatnya.


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika berhenti dari aksi bernyanyi, tertawa dan berjoget ketika beberapa gadis masuk ke dalam ruangannya.


"Siapa mereka?" tanya Kimberly lembut kepada pekerja wanita itu.


"Mereka pelanggan tetap disini setelah nona dan keempat sahabat-sahabat nona. Mereka sejak menjadi pelanggan disini selalu mengincar ruangan ini. Padahal kami dan beberapa pekerja lainnya sudah mengatakan bahwa ruangan ini sudah ada pemiliknya."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari pekerja wanita itu membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine melihat kearah kearah delapan gadis di hadapannya.


"Silahkan keluar dari sini, Nona! Ruangan ini milik nona Kimberly dan keempat sahabatnya."


"Diam lo!" bentak salah satu gadis yang menyebut dirinya sebagai ketua.


Mendapatkan bentakan dari salah satu kedelapan gadis itu membuat pekerja wanita itu langsung menundukkan kepalanya.


Setelah membentak pekerja wanita itu, gadis itu kemudian menatap kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Lo," ucap gadis itu sembari menunjuk kearah wajah Kimberly.


Kimberly langsung menepis kasar jari telunjuk gadis itu dari hadapannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah gadis itu.


"Kenapa dengan gue?" tanya Kimberly.


Mendengar ucapan dari Kimberly membuat gadis tersebut marah. Matanya menatap nyalang kearah Kimberly. Begitu juga dengan teman-temannya yang menatap tajam kearah keempat sahabatnya.


"Gue dan teman-teman gue mau ruangan ini. Lo bawa para kacung-kacung busuk lo tuh pergi dari sini!" bentak gadis itu.


Mendengar ucapan serta bentakan dari gadis di hadapannya membuat Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue dan sahabat-sahabat gue untuk pergi ninggalin ruangan ini? Emangnya lo yang punya tempat ini, hum?!" tanya Kimberly.


"Lagian kita yang terlebih dahulu nempatin ruangan ini. Nah, lo! Lo seenaknya mau ngusir kita-kita dari sini. Yang benar saja," ucap Rere.


"Lo nggak ada hak apapun buat nyuruh kita pergi dari sini," ucap Santy.


"Lo bukan pemilik Club Karaoke ini. Jadi nggak usah jadi penguasa," ucap Catherine.


"Kita sama-sama pelanggan di Club Karaoke ini. Jadi ikut aturan. Jangan seenaknya," ucap Sinthia.


Mendengar ucapan dari Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membuat gadis itu dan ketujuh teman-temannya menatap tajam kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Berani lo sama gue, hah?!" bentak gadis itu.


"Iya? Kenapa? Nggak terima?" tanya Kimberly dengan wajah menantangnya.


Sementara pekerja wanita itu sudah mulai khawatir jika gadis sombong tersebut akan menyakiti pelanggan tetapnya yang sudah tiga tahun berlangganan di Club Karaoke tempat dia bekerja.


"Nona, saya mohon. Ayo kita pergi dari sini. Nona dan teman-teman nona harus kembali ke ruangan nona."


Mendengar ucapan tak menyenangkan dari pekerja wanita itu membuat gadis tersebut marah. Seketika gadis itu menatap tajam kearah pekerja wanita itu sehingga membuat pekerja wanita itu ketakutan.


"Berani lo ya!" bentak gadis itu.


Berlahan gadis itu mengangkat tangannya hendak menampar wajah pekerja wanita itu.


Namun ketika tangan gadis itu sedikit lagi menyentuh wajah pekerja wanita itu, tangannya ditahan dengan kuat.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly terhadap temannya membuat ketujuh teman-teman gadis itu terkejut.


Sedangkan gadis itu langsung menatap tajam kearah Kimberly yang saat ini menahan tangannya dengan kuat.


"Jangan seenaknya menampar orang. Dia nggak salah. Lo yang salah disini. Dia bersikap seperti itu sama lo dan teman-teman lo karena itu sudah tugasnya," ucap Kimberly.


"Opps! Sorry," ucap Kimberly sembari mengangkat tangannya keatas.


Gadis itu dan ketujuh teman-temannya menatap nyalang kearah Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka saling memberikan tatapan mematikannya.


Sementara pekerja wanita itu seketika takut jika terjadi keributan. Pekerja wanita itu tahu bagaimana watak dan kelakuan dari kedelapan gadis itu.


Kimberly melihat kearah pekerja wanita itu. Dan dapat dilihat oleh Kimberly bahwa wanita itu ketakutan.


Setelah itu, Kimberly kembali menatap wajah gadis di hadapannya.


"Lebih baik lo pergi dari sini. Sampai kapan pun gue dan sahabat-sahabat gue nggak akan kasih ruangan ini ke lo dan teman-teman lo yang butek itu."


Mendengar ucapan dari Kimberly membuat gadis itu marah. Kemudian gadis itu melirik kearah teman-temannya.


Mendapatkan lirikan serta kode dari temannya membuat mereka langsung menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, gadis itu dan teman-temannya menatap tajam Kimberly dan keempat sahabatnya ini.


Detik kemudian...


Gadis itu kemudian menyerang Kimberly dengan cara ingin memukul perut Kimberly. Begitu juga dengan ketujuh teman-temannya yang menyerang Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Kimberly langsung menahan tangan gadis itu bersamaan dengan memberikan pukulan keras di perut gadis itu sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan dan kesulitan bernafas.


Setelah itu, Kimberly membantu keempat sahabatnya yang kini melawan ketujuh teman-teman dari gadis itu.


Bagh.. Bugh..


Duagh..


Sekali pukulan dan tendangan dari Kimberly membuat ketujuh teman-teman dari gadis itu tersungkur ke lantai.


Pekerja wanita itu seketika syok melihat tindakan yang dilakukan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya terhadap gadis sombong itu dan ketujuh teman-temannya. Wanita itu tak menyangka jika diamnya Kimberly selama ini ternyata mengerikan ketika marah.


"Sudah gue katakan. Ruangan ini milik gue dan keempat sahabat-sahabat gue. Lo dan ketujuh manusia busuk itu nggak ada hak buat usir gue dan keempat sahabat-sahabat gue dari sini!" bentak Kimberly.


Kimberly menatap kearah pekerja wanita itu.


"Kak."


"Ach, iya! Ada apa, nona?"


"Panggil security kesini untuk mengusir mereka dari sini jika mereka masih tetap ngotot ingin ruangan ini," ucap Kimberly.


"Baiklah, nona!"


Setelah itu, pekerja wanita itu pun melangkah menuju pintu keluar. Dia hendak memanggil keamanan untuk mengusir gadis sombong itu dan ketujuh teman-temannya.


Namun siapa sangka, gadis sombong itu dan ketujuh teman-temannya langsung bangkit walau merasakan sakit di bagian perutnya.


"Tidak perlu. Kami bisa pergi sendiri!"


Mendengar ucapan dari gadis sombong itu membuat Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum.


"Dari tadi kek perginya," ejek Sinthia.


"Minta pukul dulu baru mau pergi meninggalkan ruangan ini. Hadeehh!" ejek Catherine.


"Dasar para orang-orang nggak waras," ejek Rere.


"Nasib-nasib! Kasihan sekali kamu nak," ejek Santy.


Sementara Kimberly hanya memperlihatkan senyuman ke hadapan gadis sombong itu dan ketujuh teman-temannya sehingga membuat gadis itu dan ketujuh teman-temannya menatap nyalang.


"Awas lo. Tunggu pembalasan gue!"


"Gue tunggu!"


Setelah itu, gadis tersebut dan ketujuh teman-temannya pergi meninggalkan ruangan yang ditempati oleh Kimberly dan keempat sahabatnya itu.