THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kedatangan Tommy Ke Berlin



Bugh.. Bugh..


Duagh.. Duagh..


Bruukk.. Bruukkk..


Terjadi pertarungan di pabrik yang mana Kimberly yang tiba-tiba mendatangi pabrik untuk mengawasi para pekerja, namun beberapa laki-laki berpakaian hitam langsung menyerang Kimberly.


Dengan gerakan dan kecepatan lincah Kimberly menghajar para laki-laki berpakaian hitam itu sehingga membuat sekitar 15 laki-laki berpakaian hitam itu tersungkur dan tak sadarkan diri.


Melihat apa yang terjadi di hadapannya membuat beberapa laki-laki berpakaian hitam lainnya termasuk sang Direktur yaitu Aiden terkejut melihatnya.


"Bos, dia gadis yang waktu itu saya ceritakan!" seorang laki-laki yang berstatus tangan kanannya membisikkan ke telinga Aiden.


Pria yang bernama Aiden menatap kearah Kimberly dengan tatapan matanya yang menajam. Dia begitu marah setelah apa yang dikatakan oleh tangan kanannya.


"Siapa kau?! Berani sekali kau mengacau disini!" bentak Aiden.


Mendengar ucapan serta bentakan dari Aiden membuat Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. Tatapan matanya menatap tajam kearah Aiden dan kelompoknya.


Sementara para pekerja lainnya hanya diam di tempat. Mereka tidak berani melakukan apapun. Bahkan mereka semua berharap jika sosok gadis yang pemberani itu ada dipihak mereka.


"Aku kesini bukan ingin membuat kekacauan. Justru ingin menendangmu dari sini. Dan setelah itu, aku akan membuat hidupmu dan hidup seluruh anggota keluargamu hancur."


Mendengar ucapan serta ancaman dari Kimberly membuat Aiden terkejut. Begitu juga dengan orang-orangnya, sedangkan para pekerja lainnya seketika tersenyum.


"Hahahaha. Apa aku tidak salah dengar kau akan menendangku dari sini, hah?! Kau bukan siapa-siapa disini dan kau juga bukan siapa-siapa keluarga Fidelyo!" bentak Aiden.


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan dari Aiden.


"Kau tidak melupakan kan siapa saja keluarga Fidelyo? Dan kau juga tidak melupakan kan siapa yang paling tua di dalam keluarga Fidelyo?" tanya Kimberly dengan menatap tajam kearah Aiden.


Sementara Aiden seketika terdiam ketika mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Kimberly. Dia secara pribadi tahu siapa saja keluarga Fidelyo. Hanya saja Aiden tidak mengetahui seperti apa wajah para cucu-cucu dari Huliya.


Kimberly tersenyum mengejek menatap Aiden. Apalagi ketika melihat wajah tak berkutik Aiden ketika dia menanyakan tentang siapa saja anggota keluarga Fidelyo lainnya.


"Apa kau tidak ingin tahu siapa aku, hum? Apa kau tidak penasaran denganku?" tanya Kimberly tersenyum di sudut bibirnya.


Hening...


Semuanya diam dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Semua tatapan mata tertuju kepada Kimberly termasuk para pekerja pabrik.


Semuanya mulai menebak-nebak siapa gadis yang berani datang ke Pabrik dan berani menghajar beberapa orang berpakaian hitam yang menjadi mandor untuk para pekerja. Mandor bukan hanya sekedar mandor biasa, melainkan sebagai pesuruh Aiden untuk menyiksa para pekerja yang jika kedapatan bermalas-malasan, bekerja tidak bagus dan lain sebagainya.


"Jika kalian semua penasaran akan diriku. Sekarang juga aku akan memberitahu kalian termasuk anda, Tuan Aiden!"


"Saya adalah Kimberly Aldama, putri bungsu dari Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo. Serta cucu bungsu dari Nyonya Huliya!"


Kimberly memberitahu jati dirinya di depan Aiden dan semua yang ada di dalam Pabrik itu dengan tatapan mata yang menajam.


Deg..


Semuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly ketika mengatakan bahwa dirinya adalah putri bungsu dari Nashita Fidelyo dan cucu Huliya Fidelyo. Yang paling terkejut bahkan syok adalah Aiden dan kelompoknya. Mereka tidak menyangka jika akan bertemu dengan salah satu cucu dari mendiang Huliya, orang yang disegani dan dihormati nomor satu di Desa Mitte, Berlin.


"Dikarenakan anda dan kelompok anda sudah mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Tidak ada lagi kesempatan anda untuk membela diri. Saya sudah tahu semua kebusukan anda selama bekerja disini, baik itu ketika menjabat sebagai wakil maupun sekarang yang sudah menjabat sebagai Direktur."


Deg..


Aiden seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari gadis di hadapannya ketika mengatakan bahwa dia sudah mengetahui semua kebusukannya.


"Anda tidak bisa mengelak lagi, Tuan! Saya sudah memegang banyak bukti bahkan beberapa pekerja yang sudah anda pecat bersiap menjadi saksi" seru Kimberly.


Mendengar ucapan dari Kimberly membuat Aiden dan kelompoknya kembali terkejut. Namun tidak dengan para pekerja Pabrik.


Seketika para pekerja bersorak sembari mengatakan bahwa mereka juga siap menjadi saksi, sedangkan Kimberly seketika tersenyum ketika mendengar ucapan kompak dari para pekerja Pabrik.


Tommy saat ini berada di sebuah desa yang mana desa tersebut adalah Desa Mitte, Berlin.


Yah! Tommy memutuskan untuk mengunjungi Kimberly ke kota Berlin, Lebih tepatnya desa Mitte.


Tommy melangkahkan kakinya menyusuri jalan beraspal yang ada di desa Mitte tersebut sembari tatapan matanya menatap indah pemandangan desa Mitte.


Drrtt..


Drrtt..


Ponsel milik Tommy berdering menandakan panggilan masuk. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Tommy langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Tommy melihat ke layar ponselnya. Dan tertera nama 'Billy' disana. Tangannya pun langsung menscrool tombol hijau.


Beberapa detik kemudian..


"Hallo, Tommy! Lo dimana?"


"Gue udah sampai di Desa Mitte sesuai alamat yang lo kasih. Sekarang gue bingung mau milih jalan yang mana?"


"Sekarang lo sharlock lokasinya sama gue."


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Tommy pun langsung mensharlock lokasi keberadaan dirinya kepada Billy.


Beberapa detik kemudian..


"Tommy!"


Mendengar namanya dipanggil, Tommy langsung melihat keasal suara tersebut.


"Udah lama nunggu?"


"Lumayan."


Billy dan Tommy berjalan menuju kediaman keluarga Fidelyo sembari bercerita. Dan Tommy menceritakan tentang Antoni yang bertemu dengan Kimberly.


"Ini lo lihat sendiri."


Tommy memperlihatkan foto Kimberly dan Antoni yang sedang berpegangan tangan kepada Billy.


Billy mengambil ponsel milik Tommy, kemudian melihat kearah layar ponsel tersebut. Tatapan mata Billy melihat foto seorang gadis dan seorang laki-laki. Di dalam foto itu terlihat laki-laki tersebut memegang tangan si gadis.


"Nggak mungkin Kimberly melakukan hal ini. Kimberly itu paling tidak suka jika seseorang dia benci menyentuhnya, apalagi hanya sekedar memegang tangan."


Billy melihat kearah Tommy bersamaan Billy memberikan ponsel tersebut kepada si pemiliknya.


"Apa lo lebih mempercayai foto ini?" tanya Billy.


"Tentu saja tidak. Alasanku datang kesini ingin memberikan kejutan kepada laki-laki brengsek itu," jawab Tommy.


"Apa rencana lo?" tanya Billy.


"Gue akan menemui Kimberly lalu gue akan berakting marah dan cemburu padanya. Kalau perlu sedikit pertengkaran kecil diantara kami. Gue yakin jika Antoni sampai mengetahui pertengkaran gue dan Kimberly, maka dia akan senang dan akan lebih leluasa mendekati Kimberly." Tommy menjawab sembari menjelaskan rencananya kepada Billy.


Mendengar jawaban sekaligus rencana dari Tommy membuat Billy langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju akan rencana Tommy tersebut.


"Nah, kita sudah sampai!" seru Billy disaat kakinya menginjak gerbang kediaman keluarga Fidelyo.


Setelah itu, Billy dan Tommy pun memasuki perkarangan kediaman keluarga Fidelyo.