THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Cerita Dari Tommy Dan Andhika



Kimberly saat ini berada di paviliun belakang rumahnya. Setelah seharian penuh di ruang tengah rumah utama. Kimberly memutuskan untuk ke paviliun belakang.


Kimberly tidak sendirian disana, melainkan ditemani oleh Bibi Luna. Dan dilengkapi beberapa makanan dan minuman di atas meja.


"Non, ini makan siangnya. Non sejak tadi hanya meminum susu saja," ucap Luna dengan membawakan makan siang untuk Kimberly lalu meletakkannya di atas meja.


"Iya, Bi!"


Setelah mengatakan itu, Kimberly kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berpindah duduk di kursi dimana sudah tersedia makan siang untuknya.


Kimberly kemudian memulai menikmati makan siangnya dengan ditemani oleh Luna.


"Jangan lupa setelah makan siang obatnya diminum," ucap Bibi Luna mengingatkan Kimberly.


"Hm!" Kimberly berdehem sebagai jawabannya.


***


Setelah pertemuan tak terduga di kota Munich. Kini Zivan dan Ashilla berada di sebuah cafe yang terkenal di Hamburg, Jerman. Keduanya menghabiskan waktu bersama setelah beberapa jam yang lalu habis mengeluarkan energi mengurus pekerjaannya.


"Aku benar-benar bahagia saat ini. Kebahagiaanku berkali lipat," ucap Zivan.


Mendengar perkataan dari Zivan membuat Ashilla tersenyum. Ashilla menatap wajah tampan Zivan. Sama halnya dengan Zivan. Ashilla juga merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat ketika mengenal Zivan.


"Aku juga sama seperti kamu. Aku juga bahagia bertemu dengan kamu dan menjadi kekasih kamu," ucap Ashilla.


Zivan seorang CEO sukses. Sementara Ashilla seorang mahasiswi pintar dan jenius.


Awal mereka jadian. Ashilla ingin memanggil Zivan dengan sebutan kakak, namun dilarang oleh Zivan. Zivan meminta kepada Ashilla untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja.


Zivan tahu bahwa umur Ashilla lebih mudah dari Rehan dan Ricky. Dan empat tahun lebih tua dari adik perempuannya yaitu Triny.


Tapi hal itu tidak berpengaruh dalam hubungannya dengan Ashilla dan kedua adik laki-lakinya. Baik Rehan maupun Ricky sangat menghormati Ashilla. Kadang-kadang keduanya sering bergantian memanggil Ashilla. Kadang-kadang memanggil kakak, kadang-kadang memanggil nama.


Seluruh anggota keluarga, baik keluarga Aldama maupun keluarga Fidelyo sudah mengetahui hubungan Zivan dan Ashilla. Begitu juga dengan keluarga lainnya.


"Aku berharap hubungan kita langgeng sampai kita menikah nanti. Aku tidak ingin gagal lagi," ucap Zivan sembari tangannya menggenggam tangan Ashilla.


"Apa lagi aku. Aku juga berharap seperti itu. Aku tidak ingin gagal lagi dalam sebuah hubungan. Aku benar-benar trauma," balas Ashilla.


"Kita akan bekerja sama." Zivan berucap sembari tersenyum.


"Caranya?" tanya Ashilla.


"Jika kita sedang berjauhan. Jika kita nggak ada kabar satu sama lainnya. Kita anggap hal itu sebagai tantangan. Tantangan dimana hati kita menaruh kepercayaan lebih terhadap pasangan masing-masing. Dari situ kita bisa melihat seberapa besar cinta kita," ucap Zivan.


"Dan satu lagi. Kepercayaan! Kita berdua harus saling percaya. Jika ada orang yang mengatakan kita selingkuh disertai orang itu memperlihatkan foto kita bersama orang lain. Maka kita harus terbuka dan membahasnya," ucap Zivan tersenyum menatap wajah cantik Ashilla.


Mendengar penuturan dari Zivan membuat Ashilla langsung menganggukkan kepalanya. Dirinya setuju akan usulan dan ide dari Zivan. Dengan begitu hubungannya dengan Zivan tidak akan berakhir hanya karena orang lain.


"Baiklah. Aku juga setuju akan apa yang kamu ucapkan itu. Aku tidak ingin berpisah dari kamu," sahut Ashilla.


"Aku juga," balas Zivan.


Tanpa disadari dan diketahui oleh Zivan dan Ashilla. Ada sepasang mata yang menatap kearah mereka dengan tatapan tak suka. Orang itu menatap tajam kearah Zivan dan Ashilla, terutama Ashilla.


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia," batin orang itu.


***


Di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana keempat sahabatnya Kimberly, kekasihnya yaitu Tommy, keempat sepupunya yaitu Billy, Risma, Aryan dan Triny beserta para sahabat-sahabatnya.


Seperti keinginan dan juga hukuman yang diberikan oleh Kimberly kepada Rere. Di atas meja penuh dengan banyak makanan dan minuman. Yang membawa semua itu adalah Rere.


Melihat Rere yang membawa banyak makanan dan minuman membuat Kimberly tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Rere menatap kesal Kimberly.


"Makanan dan minumannya enak-enak semua!" seru Risma sembari menjahili Rere.


Risma serta yang lainnya tahu bahwa Rere saat ini masih kesal akan ulah Risma yang melarang sahabat-sahabatnya membantu dirinya membeli makanan dan minuman. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka ingin membantu Rere.


Namun dengan laknatnya Risma menggagalkan niat baik mereka semua dengan memberikan ancaman akan mengadukan hal tersebut kepada Kimberly. Jelaslah hal itu membuat Rere takut.


Rere sangat tahu seperti apa sifat jahil sahabat kelincinya itu. Kejahilan sahabat kelincinya itu akan berkali lipat keluar jika moodnya sedang buruk.


"Iya, iyalah enak! Secara semua makanan dan minuman itu gratis dari gue. Kalian nggak ngeluarin modal sama sekali," sungut Rere.


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Rere membuat mereka semua tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah kesal dan manyun Rere.


"Sabar sayang," ucap Henry lalu merangkul bahu Rere.


"Kenapa? Nggak ikhlas?" tanya Kimberly yang menambah kekesalan Rere.


"Ikhlas kok. Ikhlas banget," jawab Rere.


"Terus kenapa wajahnya ditekuk begitu? Kalau ikhlas itu senyum dong! Ini malah memperlihatkan tampang kusam," ucap Kimberly berusaha untuk menahan tawanya.


Mendengar perkataan sekaligus ejekan dari Kimberly seketika Rere memperlihatkan senyuman termanis. Mungkin senyuman ini yang paling manis.


Dan pada akhirnya mereka semua tertawa ketika melihat wajah kesal Rere akan ulah Risma dan Kimberly.


"Karma," ejek Tommy tersenyum melihat wajah Rere yang sepet.


Rere langsung menatap kearah Tommy dengan tatapan mata yang tajam. Dan jangan lupakan bibirnya bergetar mengeluarkan semua sumpah serapah untuk Tommy.


Kimberly kemudian menatap wajah tampan kekasihnya yang kini tengah tersenyum melihat wajah kesal sahabatnya Rere.


"Tommy," panggil Kimberly.


"Iya sayangku!" Tommy langsung melihat kearah Kimberly yang kini tengah menatap dirinya.


"Cerita."


"Cerita? Maksudnya?" tanya Tommy bingung.


"Ceritakan soal selingkuhan kamu di sekolah," sahut Kimberly dengan tatapan intimidasi.


Seketika Tommy menelan ludahnya secara kasar ketika melihat tatapan mematikan yang diberikan oleh Kimberly.


"Hahahahaha."


Seketika tawa Rere pecah ketika melihat wajah takut Tommy ketika diberikan tatapan mematikan oleh Kimberly.


"Langsung ciut ketika berhadapan dengan sahabat gue," ucap Rere.


Mendengar perkataan dari Rere membuat Tommy menatap tajam kearah Rere. Sementara Billy, Andhika serta yang lainnya hanya tersenyum melihat wajah ciut Tommy dan mendengar ucapan dari Rere.


"Kebucinan seorang Tommy Alexander seketika keluar Re ketika berhadapan dengan sahabat kita," pungkas Sinthia.


"Iya. Hahahaha!" Rere mengiyakan perkataan dari Sinthia disertai tawanya.


Ketika Tommy hendak membalas perkataan Rere. Kimberly sudah terlebih dulu menghentikannya.


"Tommy Alexander!"


"Hah!" Tommy seketika menghela nafas pasrahnya. "Baiklah, aku akan cerita tentang si Mol Mol itu."


Mendengar perkataan dari Tommy membuat Kimberly menatap dengan mata besarnya.


"Mol Mol, maksudnya?"


"Namanya Molly."


"Oohh!"


Kimberly manggut-manggutkan kepalanya dengan mulutnya berbentuk huruf O.


"Jadi nama selingkuhan kamu itu Molly... Eemm!"


Seketika Tommy membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Tommy seketika melihat kearah Kimberly. Dan dapat dilihat Kimberly yang menatap dirinya marah.


"Sayang, dengar dulu. Begitu begitu maksudku. Aku tahu namanya karena dia sendiri yang ngasih tahu. Lagian ketika dia memperkenalkan namanya. Dia memperkenalkan ketika di kantin. Percayalah, sayang! Aku sama si Mol Mol itu tidak ada hubungannya. Seperti apa yang aku pernah katakan padamu. Hanya kamu yang aku cintai. Hanya kamu perempuan satu-satunya dalam hidupku setelah Mami dan kedua kakak perempuanku. Tidak ada lagi perempuan lain."


Mendengar penuturan dari Tommy membuat hati Kimberly hangat dan nyaman. Kimberly bisa melihat ketulusan dan kejujuran akan perkataan Tommy barusan di manik hitamnya itu. Terlihat jelas disana.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly dengan menatap teduh wajah tampan Tommy.


"Aku percaya sama kamu."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat hati Tommy merasakan kelegaan. Seketika Tommy menghembuskan nafasnya secara kasar.


Melihat Tommy yang menghembuskan nafasnya secara kasar membuat semua yang ada di ruang tengah Paviliun itu tersenyum geli melihat wajah lega Tommy.


"Sekarang ceritakan padaku siapa Molly dan Sheela? Kenapa mereka berdua memeluk kamu dan kak Andhika tiba-tiba di kantin?" tanya Kimberly.


"Aku tidak ingin mengingat masalah itu. Tapi yang jelas aku dan Andhika telah menolong kedua gadis itu ketika dihadang beberapa laki-laki berpakaian hitam. Bahkan dua dari beberapa laki-laki berhasil melukai Molly dan Sheela." Tommy menjelaskan kronologi kejadian sebenarnya.


"Saat itu aku dan Tommy sedang dalam perjalanan pulang setelah selesai bertemu dengan rekan kerjanya Papi dan Papi Andrean empat bulan yang lalu," sahut Andhika.


"Jadi kejadiannya sudah lama?" tanya Billy.


"Iya," jawab Tommy dan Andhika bersamaan.


"Jadi kebetulan mobil kita lewat disana. Ketika melihat kejadian itu, aku dan Tommy langsung menolong keduanya."


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Lionel.


"Setelah berhasil mengalahkan laki-laki berpakaian hitam itu. Kita membawa keduanya ke rumah sakit karena luka-luka mereka lumayan serius," jawab Tommy.


"Selesai kami membawa keduanya ke rumah sakit. Aku dan Tommy langsung memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah sakit! Karena pada saat itu tubuh kami benar-benar lelah dan butuh istirahat," sahut Andhika.


Mendengar cerita dan penjelasan tentang Molly dan Sheela dari Tommy dan Andhika membuat mereka semua paham kejadian yang sebenarnya. Bahkan mereka semua berpikir bahwa Molly dan Sheela sudah merencanakan sesuatu hal untuk mendapatkan Tommy dan Andhika.