
Di sekolah Billy, Tommy dan para sahabatnya saat berada di ruangan komputer. Aryan dan kelima sahabatnya berada di ruangan musik. Sementara Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca berada di perpustakaan.
Sedangkan Risma bergabung dengan Triny dan keempat sahabatnya. Sekarang ini mereka berada di laboratorium.
Sejak Prisca menjadi sahabatnya Kimberly dan keempat sahabatnya. Sejak itulah hubungan keenamnya menjadi akrab. Bahkan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine memberikan nomor ponsel mereka dan nomor ponsel milik Kimberly kepada Prisca.
Mendapatkan nomor ponsel Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membuat Prisca tersenyum bahagia. Dia langsung menyimpan nomor sahabat-sahabatnya itu.
Setelah menyimpannya iseng-iseng Prisca mengirimkan sebuah pesan kepada Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sehingga membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membelalakkan matanya ketika membaca pesan darinya.
Setelah puas menjahili kelima sahabatnya itu. Prisca pun memutuskan untuk menyudahinya dan mengatakan bahwa pengirim pesan itu adalah dirinya.
Mendapatkan pesan balasan dari Prisca membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine kesal.
Dan dengan kompaknya, walau Kimberly berada di tempat yang berbeda. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membalas pesan tersebut.
Kini berbalik kepada Prisca. Yang tadinya Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang membelalakkan matanya ketika membaca pesan darinya. Sekarang giliran dirinya yang membelalakkan matanya ketika membaca pesan dari kelima sahabatnya itu.
Selesai berperang pesan. Mereka pun mengakhirinya. Prisca mengirimkan pesan semangat untuk Kimberly. Dan Prisca memberikan doa terbaik untuk Kimberly. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah sangat merindukan Kimberly, walau baru kemarin mereka datang berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Kimberly.
Namun rasa rindu mereka belum hilang. Secara Kimberly adalah gadis yang selalu ceria, walau banyak orang-orang yang tidak menyukainya. Bahkan Kimberly selalu memberikan semangat dan kekuatan untuk kelimanya setiap ada orang-orang yang mengusiknya.
Sudah empat hari Kimberly dirawat. Dan di hari ketiga dan di hari keempat Kimberly dirawat, baik Rere, Santy, Sinthia dan Catherine maupun Prisca tidak bisa menjenguk Kimberly. Bukan sengaja, tapi memang keadaan yang membuat mereka tidak bisa datang.
Dua hari itu para guru dengan kompak memberikan banyak pelajaran, tugas, ulangan secara tiba-tiba. Bahkan para guru-guru itu meminta untuk menyelesaikan semuanya dalam waktu lima hari. Masing-masing soal yang diberikan sebanyak 100 dalam bentuk pilihan ganda.
Mendapatkan banyak tugas dari para guru membuat Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca tidak memiliki waktu luang. Begitu juga dengan Tommy, Arya, Billy, Triny, Risma dan para sahabat-sahabatnya.
Tommy, Billy, Aryan, Triny dan Risma bahkan tidak bisa menjenguk kesayangannya di rumah sakit akibat tugasnya yang menumpuk. Belum lagi semua tugas-tugas milik kesayangannya itu. Para guru-guru tersebut tidak peduli. Sekali pun tidak masuk, tetap semua tugas-tugas itu diselesaikan.
Billy, Tommy, Aryan dan Risma dan para sahabatnya yang melihat kelakuan para guru yang seenaknya memberi banyak tugas dengan waktu singkat hanya bisa mengumpat dan menyumpahi para guru-guru tersebut. Kalau mereka mau, hari ini juga para guru-guru tersebut sudah mendapatkan tinju gratis dari mereka semua, terutama dari Billy dan Tommy.
Setelah selesai dengan urusan mereka di sekolah dan selesai dengan semua tugas-tugasnya. Barulah Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca akan ke rumah sakit. Bahkan jika Kimberly sudah pulang, mereka akan langsung ke rumah Kimberly.
"Sialan! Mereka pikir kita ini apa!" teriak Nathan dengan mengusap kasar wajahnya.
Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya tengah mengerjakan tugas komputer dengan tema Manajemen Informatika.
"Para guru sialan. Untung mereka guru. Jika tidak... Eemm... Entahlah!"
Lionel juga kesal atas sikap para guru yang seenaknya memberikan banyak tugas.
Rata-rata semua guru memberikan tugas dengan jumlah soal 100 pilihan ganda. Dan dengan kejamnya semua tugas-tugas itu harus selesai dalam waktu lima hari.
Bayangkan saja, jumlah semua mata pelajaran ada 14. Dan jumlah masing-masing soal 100 pilihan ganda. Waktu yang diberikan hanya lima hari. Bagaimana bisa semua murid-murid tersebut menyelesaikannya.
"Gila... Gila! Pecah nih kepala gue!" Henry juga ikut kesal akan ulah para gurunya.
Sementara untuk Billy, Tommy, Andhika dan yang lainnya hanya diam. Percuma saja mereka mengeluarkan energi hanya untuk marah-marah.
Menurut mereka, nggak ada gunanya. Yang ada justru tenaga kita terkuras dan berakhir kita jadi tidak semangat untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut.
"Sudahlah. Kalian nggak perlu mengeluarkan energi kalian untuk marah-marah. Nggak ada gunanya juga. Mending kita selesaikan tugas komputer ini. Selesai kita bisa pergi dari sini. Dan kita bisa menyelesaikan tugas yang lain," ucap Tommy.
"Benar kata Tommy. Lebih baik kita selesaikan tugas komputer ini. Selesai langsung kita cabut dari sini," sela Andhika.
Mendengar teguran dari Tommy dan Andhika membuat Henry, Lionel dan Nathan menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Tommy dan juga Andhika.
Setelah itu, baik Tommy dan Andhika serta para sahabatnya melanjutkan untuk menyelesaikan tugas komputer mereka.
^^^
Di ruangan musik dimana Aryan dan kelima sahabatnya sedang berlatih koreografi untuk pentas seni akhir bulan ini. Gerakan-gerakan tersebut harus sudah mereka hafal sebelum akhir bulan ini. Belum lagi mereka harus mengerjakan tugas-tugas yang begitu banyak dari para guru-guru.
"Ach, sial! Kalau setiap hari seperti ini bisa-bisa badan gue rontok semua," keluh Lian.
"Guru-guru pada sialan semua. Nggak punya otak apa ya. Mereka pikir kita ini sapi perah yang tenaganya diperah full selama dua hari ini," sahut Evan kesal.
"Ach, capek gue!" Raka seketika langsung merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin.
Sementara Aryan dan Jerry hanya diam dengan posisi mereka sudah duduk bersandar di dinding. Mereka hanya menjadi pendengar dan penonton setia. Sementara di dalam hatinya mengumpati para guru-gurunya.
^^^
Triny, Risma, Dania, Danela dan Lisa dan Alisha sedang mengerjakan tugas fisika dan biologi.
Tugas yang mereka kerjakan begitu banyak. Sehingga memakan waktu istirahat mereka.
"Ach, sial! Otak gue mau pecah nih!" teriak frustasi Risma.
"Bukan lo aja yang otaknya mau pecah. Otak gue juga. Itu guru-guru punya perasaan apa kagak sih," ucap Dania kesal.
"Para guru-guru itu bukan nggak punya perasaan. Tapi mereka monster berkedok manusia," ucap Danela.
"Hahahaha." Triny, Dania, Alisha dan Lisa tertawa.
^^^
Di perpustakaan dimana Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca saat ini juga tengah berkutat dengan laptopnya masing-masing. Mereka tengah mengerjakan tugas-tugasnya.
Jika Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tengah mengerjakan tugas bahasa Inggris. Sementara Prisca tengah mengerjakan tugas matematika.
Mereka untuk saat ini fokus dengan tugasnya. Dan berniat menyelesaikan sampai selesai.
Jika sudah selesai, baru keduanya istirahat sejenak sembari berbincang-bincang membahas kondisi Kimberly.
Sama halnya dengan Nathan, Lionel, Henry, Lian, Dylan, Raka dan Evan. Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca juga kesal dan dongkol akan ulah para guru-guru yang seenaknya memberikan tugas yang begitu banyak kepada semua murid-muridnya.
Yang membuat Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan Prisca makin kesal adalah waktu yang diberikan oleh para guru-guru itu sangat singkat yaitu hanya lima hari.
Mereka tidak mempermasalahkan semua tugas-tugas yang diberikan itu. Dan mereka semua bisa menyelesaikannya dengan baik.
Namun disini yang membuat Rere, Santy, Sinthia, Catherine, Prisca, Billy, Aryan, Triny, Risma, Tommy dan para sahabatnya serta semua murid-murid kesal yaitu waktu yang diberikan oleh para guru-guru tersebut. Waktu terlalu singkat dengan mata pelajaran yang bejibun.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dan semua anggota keluarga sudah berada di ruang rawat Kimberly.
Ketika mereka semua masuk ke ruangan rawat Kimberly. Mereka secara bergantian memberikan ciuman di pipi dan kening Kimberly sehingga membuat Kimberly memanyunkan bibirnya.
Mereka semua bahagia melihat putrinya/keponakannya/adiknya sudah terlihat sangat baik.
"Bagaimana keadaan putrinya Papa, hum?" tanya Fathir.
"Aku sudah baikan Dad. Daddy tidak perlu khawatir, oke!"
"Bagaimana Daddy tidak khawatir ketika mendengar kakak sepupu kamu Billy yang mengatakan bahwa kamu masuk rumah sakit. Hati Daddy benar-benar sakit mendengarnya."
Kimberly tersenyum lalu memeluk tubuh ayahnya itu. "Aku sayang Daddy."
"Daddy juga sayang sama kamu." Fathir memberikan kecupan di pucuk kepala putrinya.
"Bagaimana dengan Papi? Apa kamu nggak sayang sama Papi?" tanya Rafassya yang berpura-pura sedih.
Mendengar pertanyaan dari ayah angkatnya itu, Kimberly langsung melepaskan pelukan dari sang ayah.
Kimberly melihat kearah pamannya itu dan dilihat wajah sedih pamannya itu.
"Aku juga saya sama Papi Rafassya."
Mendengar ucapan dari keponakannya, Rafassya pun memeluk tubuh keponakannya itu. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya.
"Bagaimana dengan kita-kita?" tanya Ammar dan Nirvan sembari memasang wajah sedihnya masing-masing.
Mendengar seruan serta pertanyaan dari dua pamannya yang lain. Kimberly langsung melepaskan pelukannya dari sang Papi Rafassya nya. Kemudian tatapan matanya langsung menatap kearah ayah dan Papanya.
"Aku juga sayang sama Ayah Ammar dan Papa Nirvan. Aku sayang semua keluargaku!" ucap Kimberly
Mendengar perkataan tulus dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum bahagia.