THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Tatapan Syok Para Pengunjung



Kimberly dan keempat sahabatnya yaitu Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sedang berada di sebuah Mall terbesar di kota Hamburg, Jerman. Seperti yang sudah diucapkan oleh Kimberly di depan Billy bahwa dirinya dan keempat sahabatnya akan pergi jalan-jalan ke Mall setelah pulang sekolah.


Kaki jenjang dan putih mereka menyusuri luasnya Mall tersebut dengan tatapan matanya menatap sekelilingnya sambil menunjuk-nunjuk setiap apa yang mereka lihat. Hanya Rere dan Sinthia. Sedangkan Kimberly, Santy dan Catherine hanya berjalan layaknya seperti tuan putri.


Semua mata para pengunjung tak lepas menatap Kimberly dan keempat sahabatnya. Apalagi kamu Adam. Mereka berdecak kagum dan terpesona akan kecantikan Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan menurut mereka yang paling cantik dari yang cantik adalah Kimberly.


Ada beberapa pria yang sudah menikah yang sempat menggoda Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan mereka terang-terangan mengedipkan matanya kearah mereka.


Bukan hanya pria yang sudah menikah saja. Bahkan pria yang belum menikah juga melakukan hal yang sama dengan melirik kearah Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka ingin sekali menjadi mereka kekasihnya.


Sementara Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang sadar akan tatapan jelalatan para pria tersebut hanya bersikap acuh dan cuek. Selama mereka tak mengganggu dan tak menyentuhnya. Mereka tak masalah jadi bahan tontonan para pria mata keranjang.


"Apa mereka tidak takut yang kalau bola matanya akan keluar jika melihat kita terus seperti itu?" tanya Santy kesal.


"Biarkan saja," sahut Kimberly.


"Abaikan saja," sahut Rere.


"Masa bodoh aja," sahut Sinthia.


"Anggap mereka mahkluk halus dan tak kasat mata," sahut Catherine.


Mendengar sahutan-sahutan dari keempat sahabatnya membuat Santy langsung manggut-manggut mengiyakan.


^^^


Kini Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah berada di pertokoan yang menjual kaca mata dan jam tangan. Mereka memilih beberapa kaca mata dan juga jam tangan yang menurut mereka bagus.


"Ini aja, ach!" Santy dan Rere berucap bersamaan ketika telah mendapatkan enam kaca mata dan enam jam tangan.


"Ini bagus. Aku mau yang ini aja," ucap Catherine dengan memilih enam kaca mata dan enam jam tangan kece.


"Ambil ini aja ach! Ini bagus banget!" seru Sinthia yang mendapatkan enam kaca mata dan enam jam tangan pilihannya.


Sementara Kimberly saat ini masih memilih-milih kaca mata dan jam tangan mana yang akan dia beli karena menurut Kimberly semua jam tangan dan semua kaca mata yang dia lihat semua bagus.


"Kim, lo udah dapat belum?!" tanya Kimberly dari ujung etalase.


"Belum. Semuanya bagus-bagus. Gue bingung mau milih yang mana!"


"Pilih semua aja!" seru Rere.


"Kalau perlu borong aja tuh jam tangan sama kaca matanya!" seru Sinthia.


Mendengar perkataan serta teriakan dari Rere dan Shintia membuat para pengunjung tersebut terkejut dan syok. Begitu juga dengan pelayan toko tersebut. Mereka semua tidak menyangka jika Rere dan Sinthia akan berkata seperti itu.


"Kalau aku borong semua. Bawa pulangnya bagaimana?!" tanya Kimberly.


"Yaelah! Ngapain juga lo mikir bagaimana cara bawa pulang tuh semua barang. Lo tinggal nyuruh para pegawai toko ini buat anterin ke alamat rumah lo. Gampang kan?!" Rere langsung menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Gampang benar jawabnya ya," balas Kimberly kesal.


"Tinggal jawab doang. Ya, gampang lah," balas Rere.


"Banyak bacotan tuh mulut," ucap kesal Kimberly.


Rere tersenyum ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Mereka tahu bahwa Kimberly sedang kesal saat ini.


Rere menatap kearah Kimberly yang masih sibuk memilih dan melihat koleksi jam tangan dan kaca mata itu.


"Bagaimana? Diterima nggak saran gue?!" tanya Rere.


"Yang mana?" tanya Kimberly yang pura-pura tidak ingat.


Seketika Rere membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Sementara Santy, Sinthia dan Catherine seketika tertawa keras.


"Hahahahaha."


"Kasihan banget lo, Re!" seru Catherine.


"Amnesia dadakan ya Kim," celetuk Sinthia.


"Begitulah." Kimberly menjawab perkataan dari Sinthia.


"Kak, mau kaca matanya. Tapi deretan ini saja," ucap Kimberly sembari menunjuk jari telunjuknya dari ujung kiri sampai ujung kanan. Ada sekitar 20 kaca mata.


"Dan untuk jam tangannya. Saya mau yang deretan tengah ini. Dari ujung sana sampai ujung sana," ucap Kimberly dengan menunjuk sisi kiri dan sisi kanan. Ada sekitar 20 jam tangan cantik.


Mendengar permintaan dari Kimberly dan melihat jumlah pesanannya membuat pelayan yang melayani Kimberly seketika melongo tak percaya. Begitu juga dengan para pengunjung lainnya.


Mereka semua menatap Kimberly dan keempat sahabatnya dengan tatapan antara percaya, tatapan tidak percaya, tatapan jijik dan tatapan suka. Bahkan tak sedikit para pengunjung itu menganggap Kimberly dan keempat sahabatnya itu hanya sok-sokan dan berpura-pura ingin membeli. Dan hanya gaya-gayaan saja.


"Kenapa menatap kami seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilan kamu, hum?! Apa pelajar seperti kami ini tidak boleh berbelanja disini? Apa pelajar seperti kami ini tidak boleh memborong barang-barang disini?" tanya Kimberly langsung pada intinya.


Kimberly tahun bahwa para pengunjung toko ini menatap dirinya dan keempat sahabatnya dengan tatapan jijik, tatapan tak suka, tatapan hina dan tatapan meremehkan.


Mendengar banyak pertanyaan dari salah satu pelajar membuat para pengunjung yang tadinya menatap Kimberly dan keempat sahabatnya seketika terkejut dan langsung kembali pada urusannya masing-masing.


Melihat reaksi dari para pengunjung, seketika terukir senyum di sudut bibirnya Kimberly.


"Jangan suka mencampuri urusan orang lain. Urusi saja urusan kalian masing-masing. Jangan menatap orang lain dengan tatapan meremehkan karena belum tentu orang yang kalian anggap remeh itu tidak mampu membeli apapun yang mereka mau. Dan satu lagi, berpikirlah sebelum mengeluarkan kata-kata indah kalian. Takutnya nanti jika kalian berbicara terlebih dahulu sebelum berpikir akan menjadi bumerang buat kalian dan berujung kalian nangis-nangis meminta maaf karena sudah salah menilai seseorang."


Setelah mengatakan itu, Kimberly menatap pelayan toko itu dengan mengeluarkan satu kartu yang hanya keluarganya yang memiliki kartun tersebut.


Sementara para pengunjung yang tadinya melihat kearah Kimberly dan keempat sahabatnya dengan tatapan jijik, tatapan tak suka dan lain sebagainya seketika bungkam mendengar kata-kata Kimberly. Tidak ada satu pun yang bersuara. Bahkan untuk melihat saja mereka melirik kecil kearah Kimberly dan keempat sahabatnya


Seketika pelayan yang melayani Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut dan juga syok ketika melihat kartu yang diletakkan oleh Kimberly di atas etalase. Mereka semua tahu bahwa hanya keluarga kaya raya, keluarga paling ditakuti dan keluarga paling berpengaruh di dunia dan negara Jerman. Dan mereka tahu siapa saja keluarga itu.


"Hitung semuanya, termasuk juga punya keempat sahabat-sahabatku!"


"Baik, nona!"


Tak butuh lama, semua barang-barang belanjaan Kimberly dan keempat sahabatnya selesai dalam pengemasan sehingga membuat para pengunjung membelalakkan matanya ketika melihat semua barang-barang yang dipesan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di dalam Pape Bag yang berukuran besar.


Dan saat itu juga para pengunjung begitu juga para pelayan sadar akan sikap mereka beberapa menit yang lalu. Dan seketika mereka mengingat perkataan Kimberly.


"Hallo kakak Deryl."


Yah! Kimberly menghubungi Deryl tangan kanan kakak keduanya yaitu Uggy untuk datang menemuinya.


"Iya, nona. Ada apa?"


"Bisa kakak kesini untuk mengambil barang belanjaanku dan barang belanjaan keempat sahabatku?"


"Bisa nona. Baiklah saya akan kesana."


"Kakak Deryl jangan sendirian. Bawa sekitar lima anggota kakak. Barang belanjaan kami banyak."


"Baiklah nona."


Setelah selesai berbicara dengan Deryl. Kimberly langsung mematikan panggilannya.


"Kita tunggu disini. Sebentar lagi kakak Deryl dan anggotanya akan datang. Mereka yang akan bawa barang-barang ini," ucap Kimberly.


"Baiklah," jawab Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


Tak butuh waktu lama, datanglah Deryl bersama lima anggotanya.


"Nona," panggil Deryl.


"Itu barang belanjaannya kak!"


"Baiklah nona."


"Oh iya! Untuk barang-barang belanjaan sahabat-sahabatnya nona apa harus dibawa langsung ke rumah mereka masing-masing, nona?"


"Eemm. Boleh? Apa nggak masalah?"


"Tidak apa-apa nona!"


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih kak."


"Sama-sama nona."


Deryl kemudian memerintahkan lima anggotanya untuk langsung membawa pulang barang belanjaannya keempat sahabatnya Kimberly.


"Kalian langsung bawa barang-barang belanjaan nona Santy, nona Rere, nona Sinthia dan nona Catherine langsung ke rumah mereka masing-masing!"


"Baik, Bos!"


Setelah itu, kelima anggota Deryl langsung mengambil barang keempat sahabatnya Kimberly yang langsung diberikan oleh si pemilik barang tersebut agar mereka tahu dan tidak salah ambil.


"Ayo, nona!"


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya pergi meninggalkan toko tersebut.


Sementara para pelayan dan para pengunjung mematung dintempatnya masing-masing ketika melihat dan mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan keempat sahabatnya dengan enam laki-laki berpakaian hitam. Keenam laki-laki itu begitu menghormati Kimberly.


"Apa gadis itu salah satu keturunan Aldama dan Fidelyo," batin para pengunjung.