
"Sekarang ceritakan padaku tentang perkataan Yuna yang mengatakan bahwa Kimberly kesulitan mendapatkan bukti kecurangan Aiden?" tanya Nashita.
Mendengar perkataan dari Nashita membuat Hilda, Tantri, Indira serta keluarga lainnya seketika diam. Baik Hilda maupun yang lainnya saling memberikan tatapan masing-masing. Mereka bingung untuk memberikan jawaban kepada Nashita.
Kimberly yang baru turun dari dari lantai dua seketika bersuara bersamaan dengan kakinya melangkah menuju ruang tengah.
"Ada masalah di Pabrik!"
Mendengar seruan dan ucapan Kimberly membuat semua anggota keluarga melihat kearah Kimberly.
Kini Kimberly sudah duduk di sofa di samping Ibunya dan langsung mendapatkan ciuman di pipinya oleh sang ibu.
"Apa maksud kamu tentang masalah Pabrik, sayang?" tanya Nashita pada putrinya.
Semuanya menatap kearah Kimberly untuk mendengar penjelasan dari perkataan Kimberly barusan.
"Ada masalah di Pabrik. Dengan kata lain Direktur pabrik sudah diganti dengan yang baru," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari putrinya, Nashita langsung melihat kearah Hilda sang Bibi. Bahkan Nashita juga melihat kearah kedua adik sepupunya yaitu Tantri dan Indira.
"Bi, apa itu benar? Direktur yang dipercayakan untuk memimpin Pabrik bukan Barry lagi?" tanya Nashita.
"Itu benar Nashita."
"Kenapa harus diganti? Apa ada masalah?"
Hilda tidak langsung menjawab pertanyaan dari Nashita, melainkan Hilda melihat kearah Kimberly. Begitu juga dengan Tantri, Indira dan yang lainnya.
"Maafkan Bibi, Nashita! Bibi salah!"
"Minta maaf kenapa?"
Hening..
Tidak ada yang menjawab. Semuanya diam. Mereka tidak ada yang berani untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Oma Hilda, Mami, Tante, Om Vicky. Pokoknya intinya semuanya memecat Direktur lama karena mendapatkan bukti kecurangannya selama ini. Yang lebih parahnya lagi bukti-bukti itu didapat dari sang wakil Direktur yaitu Aiden." Kimberly menjelaskan tentang masalah di Pabrik dan pergantian Direktur.
Nashita dan yang lainnya terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Kimberly.
"Aku sudah mendapatkan beberapa bukti tentang kecurangan di Pabrik. Yang menjadi pelaku yang sebenernya adalah Aiden bukan Barry. Bukti kecurangan yang diperlihatkan tersebut sebenarnya bukti kecurangan dia, namun dia menjadikan Barry sebagai kambing hitamnya."
Deg..
Hilda dan yang lainnya terkejut ketika mendengar penuturan dari Kimberly. Mereka tidak menyangka jika Aiden lah pelakunya.
"Seperti yang aku katakan sejak awal ketika kalian mengatakan bahwa Barry melakukan kecurangan atas bukti yang diberikan oleh Aiden bahwa aku lebih memilih percaya pada Barry. Justru Aiden yang pelakunya," ucap Kimberly.
"Ucapanku terbukti kalau Aiden dalang sebenarnya," ucap Kimberly lagi.
Deg..
"Satu lagi. Seperti yang sudah aku katakan kemarin jika aku menemukan bukti tentang Barry dan Aiden, maka aku yang akan menyelesaikan semuanya. Dengan caraku!"
Mendengar ucapan dari Kimberly membuat semuanya hanya diam. Tidak ada yang berkomentar apapun. Terutama Hilda, Tantri, Indira, Vicky dan Yuki.
***
[Kediaman Alexander]
Tommy saat ini berada di ruang tengah. Dirinya sedang mengerjakan beberapa tugas kantornya yang sedikit menumpuk. Beberapa hari ini Tommy sedang fokus mengurusi persiapan ujian kelulusannya. Begitu juga dengan Billy dan Triny. Mereka pergi ke Berlin setelah selesai mengurus persiapan ujian kelulusannya.
Ketika Tommy sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar notifikasi di ponselnya.
Ting..
Seketika Tommy berhenti dari kegiatannya dan menatap kearah layar ponselnya. Terlihat disana pesan dari nomor tak dikenal.
Tommy mengambil ponselnya lalu melihat isi pesan tersebut.
"Pesan gambar," gumam Tommy.
Setelah itu, Tommy membukanya. Dia penasaran akan gambar yang dikirim oleh seseorang tak dia kenal sama sekali.
Beberapa detik kemudian..
Deg...
Tommy seketika terkejut ketika melihat sebuah foto yang mana di dalam foto tersebut adalah sepasang tangan yang saling berpegangan. lebih tepatnya tangan seorang laki-laki memegang tangan seorang perempuan.
Yang lebih membuat Tommy terkejut lagi adalah tangan perempuan yang dipegang oleh laki-laki itu adalah Kimberly. Dan laki-lakinya adalah Antoni. Dalam foto itu Kimberly dan Antoni duduk berhadapan. Jadi Tommy melihat wajah keduanya dari samping.
Antoni
Hei, Tommy! Pasti lo sudah lihakan apa yang barusan gue kirimkan ke nomor lo? Gue saat ini bersama dengan Kimberly, pujaan hati gue dan calon istri gue. Gue megang tangan Kimberly dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Lo tahu nggak? Kimberly sama sekali tidak marah ketika gue megang tangannya. Justru dia tampak begitu bahagia.
Tommy seketika mengepal kuat tangannya ketika membaca pesan dari Antoni. Dia benar-benar marah ketika membaca isi pesan itu.
"Lo nantangin gue ya Antoni. Pukulan dan tendangan gue waktu itu nggak buat lo jera ternyata. Baiklah! Kita lihat apa yang terjadi." Tommy berucap dengan penuh amarah dan dendam. Terlihat di manik matanya dan kepalan tangannya.
Tommy mengetik sesuatu di layar ponselnya. Dia ingin melakukan sesuatu untuk memberikan efek jera terhadap orang yang ingin merebut miliknya.
Selesai Tommy mengetik sesuatu disana. Tommy meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Kemudian Tommy melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa detik.
"Tunggu kejutan dariku, Antoni Archard!" ucap Tommy dengan tersenyum di sudut bibirnya.