
Keesokan harinya di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama. Semuanya tampak semangat dan juga bahagia terutama Kimberly.
"Kamu tampak bahagia, Sayang? Ada apa, hum?" tanya Nashita pada putrinya.
Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari ibunya membuat Kimberly langsung melihat kearah ibunya yang tengah tersenyum menatap dirinya.
Kimberly seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari ibunya bersamaan dengan tangannya memasukkan satu potong nugget ke dalam mulutnya.
"Iya... hehehehe."
Nashita tersenyum mendengar jawaban serta kekehan putrinya. Begitu juga dengan Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan. Mereka begitu bahagia melihat kesayangannya tampak ceria dan bahagia.
"Boleh Daddy tahu kenapa kamu tampak bahagia hari ini, hum?"
"Hubungan aku sama Tommy sudah membaik. Dengan kata lain, Tommy percaya sama aku. Masalah pertengkaran aku dan Tommy ketika di Cafe itu ternyata itu hanya sandiwara Tommy aja."
Fathir seketika tersenyum ketika mendengar putrinya menjelaskan pertanyaan darinya.
"Benarkah?" tanya Uggy.
"Hm." Kimberly berdehem sembari memasukkan kembali nugget yang kedua ke dalam mulutnya.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Riyan.
"Tommy yang kasih tahu aku kemarin. Kemarin Tommy sama yang lainnya datang ke rumah."
Riyan tersenyum bahagia mendengar jawaban dari adik perempuannya. Begitu juga dengan Fathir, Nashita, Jason, Uggy dan Enda. Mereka benar-benar bahagia melihat kesayangannya begitu bahagia pagi ini.
"Tapi ada satu rahasia yang mereka sembunyikan dariku terutama Santy, Rere, Sinthia dan Catherine. Dan aku curiga bahwa Billy, Aryan dan Triny juga mengetahui apa yang disembunyikan oleh Santy, Rere, Sinthia dan Catherine. Begitu juga dengan yang lainnya."
Mendengar ucapan dari Kimberly dan perubahan mimik wajahnya membuat mereka seketika panik. Di dalam hatinya mereka berpikir apakah Kimberly berusaha ingin tahu tentang kejadian di dalam gudang sekolah itu.
"Sudah-Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu sendiri yang jadi stres. Positif thinking saja, Sayang." Nashita menasehati putrinya.
"Baik, Mom!"
***
Mobil merek Audi 47 berwarna abu tua melintas di jalan raya dengan kecepatan sedang. Dan disusul tiga tiga mobil mewah lainnya di belakang.
Tiga mobil tersebut adalah milik Kimberly, milik Triny, milik Aryan dan milik Billy. Mereka dalam perjalanan hendak menuju ke sekolah.
Kenapa Kimberly bisa bersama tiga sepupunya itu? Dikarenakan Billy, Aryan dan Triny menjemput Kimberly dengan menggunakan mobil masing-masing. Jadi, dari rumah Kimberly mereka akan pergi bersama ke sekolah. Dengan kata lain konvoi bersama.
Mobil Kimberly yang berada di depan tiba-tiba berhenti sehingga membuat mobil milik Triny, milik Aryan dan milik Billy di belakang ikut berhenti. Ketiganya tampak bingung dengan mobil Kimberly di depan.
"Kenapa Kimberly berhenti?" batin Triny, Aryan dan Billy bersamaan di dalam mobilnya masing-masing.
Baik Billy, Aryan maupun Triny langsung keluar dari mobil masing-masing dengan tatapan matanya menatap kearah mobil Kimberly.
Tin..
Tin..
Tin..
Billy membunyikan klason mobilnya bermaksud memanggil Kimberly.
Kimberly yang ada di dalam mobilnya langsung melihat kearah kaca spionnya. Dan dapat dilihat olehnya bahwa tiga sepupunya sudah berada diluar.
Kimberly seketika keluar dari dalam mobilnya. Setibanya diluar, Kimberly melihat sekilas kearah ketiga sepupu itu. Setelah itu, Kimberly melihat kearah beberapa orang yang sedang berselisih atau bisa disebut sedang bertengkar.
"Aryan, itu Valen!" seru Kimberly sembari menunjuk kearah beberapa murid SMP.
Mendengar ucapan disertai teriakan dari Kimberly membuat Aryan langsung melihat kearah tunjuk Kimberly. Begitu juga dengan Triny dan Billy.
Detik kemudian..
Aryan, Triny dan Billy terkejut ketika melihat Valen yang sedang bertengkar dengan beberapa orang.
Kimberly berlari menghampiri Valen dan disusul oleh Aryan, Triny dan Billy.
^^^
"Apa-apaan lo?! Kalau berani satu lawan satu. Pengecut! Banci! Beraninya main keroyokan!" bentak Valen bersamaan dengan tangannya mendorong kuat tubuh Sasya.
"Udah berani lo sekarang?!" bentak balik Sasya.
"Sejak kapan gue takut sama lo, hah?! Selama ini bahkan di sekolah sekali pun, gue nggak pernah takut tuh sama lo dan para pengikut sampah lo itu," ejek Valen.
Mendengar ucapan serta jawaban dari Valen membuat Sasya keempat sahabatnya yaitu Lidya, Farah, Kania dan Riya menatap Valen penuh amarah.
Sasya melirik keempat sahabatnya secara bergantian. Dan dibalas oleh keempatnya. Kemudian mereka tersenyum.
Setelah itu, Sasya dan keempat sahabatnya kembali menatap Valen.
Detik kemudian...
Srekkk..
Lidya dan Farah memegang kuat kedua tangannya Valen dibantu oleh Kania dan Riya sehingga membuat Valen tidak bisa melawan.
Sasya tersenyum menyeringai menatap wajah Valen yang saat ini sedang tidak bisa melawan.
Sasya kemudian melangkah sedikit mendekati Valen agar dia bisa melihat wajah Valen dari dekat.
Kini Sasya sudah berdiri di hadapannya Valen. Dia masih memperlihatkan seringainya dengan tatapan matanya yang tajam.
Sasya berlahan mengangkat tangannya bermaksud ingin menampar wajah dan memukul perut Valen.
Namun ketika Sasya hendak mulai menyakiti Valen, tiba-tiba seseorang datang dan langsung menarik kuat rambut lalu membawanya mundur ke belakang sehingga mengakibatkan teriakan keras dari Sasya.
Sreekkk...
"Aakkhh!"
Lidya, Farah, Kania dan Riya seketika terkejut ketika melihat pemuda SMA datang dan langsung menarik rambut Sasya.
Pemuda itu adalah Aryan Fidelyo, kakak kesayangannya Valen Fidelyo.
"Sasya!" teriak Lidya, Farah, Kania dan Riya bersamaan.
"Yak! Lepaskan teman Sasya!" bentak Riya.
Aryan mendengar ucapan serta teriakan dari gadis yang menyakiti adiknya langsung melihat kearahnya.
"Lepaskan dia dulu, baru aku akan melepaskan teman kalian ini."
"Hahahaha." Lidya, Farah, Kania dan Riya seketika tertawa. Menurut mereka ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya itu yang saat ini tengah menyakiti sahabatnya adalah pemuda bodoh.
"Hei, Tuan. Kau itu pintar apa bodoh, hah?! Coba lihat! Kamu ada empat. Sementara kau hanya sendiri. Kami bisa menyakiti perempuan busuk ini," ucap Kania dengan penuh percaya diri.
Mendengar ucapan penuh percaya diri dari salah satu siswi SMP di hadapannya itu membuat Aryan seketika tertawa keras.
"Tentu," jawab Riya dan Kania bersamaan.
"Coba! Aku ingin melihat bagaimana cara kalian menyakitinya," ucap Aryan menantang.
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari kakaknya seketika membuat Valen melotot tak percaya. Bisa-bisanya kakaknya itu menjadikan dirinya barang taruhan.
"Kau menantang kami, hah?!" tanya Lidya dengan nada membentak.
"Kenapa? Tidak berani? Nyerah? Kalau begitu, lepaskan dia!"
"Oh, jadi kau benar-benar ingin melihat kami menyakiti perempuan busuk ini?" tanya Farah.
"Baiklah kalau itu yang kau mau," sela Kania.
Lidya, Farah, Kania dan Riya saling memberikan tatapan dan juga memberikan kode satu sama lainnya.
Setelah itu, mereka kembali melihat kearah pemuda SMA yang ada di hadapannya.
"Kau lihat ini!"
Lidya dan Farah hendak menarik rambut Valen, namun gerakan tangannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
Sreekkk...
"Aakkhhh!" teriak Lidya dan Farah bersamaan.
"Tidak semudah itu lo berdua menyentuh adek gue," ucap Kimberly yang datang bersama Billy dan Triny.
Kimberly, Billy dan Triny sengaja tidak menampakkan dirinya di hadapan lima siswi SMP itu. Mereka justru membiarkan Aryan yang terlebih dahulu melakukan tugasnya sebagai seorang kakak untuk Valen.
Seketika Lidya dan Farah terkejut ketika mendengar ucapan dari siswi SMA yang kini menatap tajam kearah dirinya.
Sementara Valen seketika tersenyum lebar ketika melihat kakak seperguruannya.
"Kakak Kim," sapa Valen.
Deg..
"Apa? Kakak?" batin Lidya, Farah, Kania dan Riya.
Detik kemudian..
Sreekkk..
"Aakkhhh!"
Kini Kania dan Riya yang berteriak kesakitan di bagian kepalanya akibat tarikan yang sangat kuat.
Triny menarik kuat rambut Kania dan Riya secara bersamaa sehingga membuat keduanya berteriak kesakitan.
Akibat tarikan di rambutnya membuat pegangan tangannya dari tangan Valen terlepas. Kini Valen terbebas.
"Kakak Triny, kakak Billy!"
Triny dan Billy tersenyum ketika mendengar sapaan dari Valen.
"Apa kamu terluka?" tanya Billy.
"Tidak, kak! Aku baik-baik saja," jawab Valen.
Aryan, Kimberly dan Triny melepaskan tarikan di rambut Sasya, Lidya, Farah, Kania dan Riya bersamaan dengan mereka mendorong kuat tubuh kelimanya hingga tersungkur di tanah.
Kebetulan kondisi jalan tersebut ada beberapa bebatuan yang terlihat kasar sehingga membuat tapak tangan dan lutut Sasya, Lidya, Farah, Kania dan Riya terluka serta berdarah.
"Kakak!"
Valen langsung berlari menghampiri kakak laki-lakinya dan langsung memeluk tubuh kakaknya itu.
Aryan tersenyum dengan sifat manja adiknya jika bertemu dengannya. Kemudian tangan membalas pelukan dari adiknya itu.
Lidya, Farah, Kania dan Riya kembali terkejut ketika mendengar Valen yang memanggil kakak kepada pemuda yang menarik rambut Sasya. Begitu juga dengan Sasya. Dia yang paling syok disini.
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Aku balik saja. Kakak tidak perlu khawatir."
"Apa mereka menyakiti kamu?"
"Tidak. Dan tidak akan pernah aku membiarkan siapa pun untuk menyakitiku."
"Bagus. Itu baru Valen Fidelyo."
Setelah itu, Aryan langsung melepaskan pelukannya dan kemudian menatap wajah cantik adik kesayangannya itu.
"Sekarang pergilah. Ini sudah jam berapa. Nanti kamu telat sampai di sekolah. Urusan mereka menjadi urusan kakak dan ketiga kakak sepupu kamu."
"Baik, kak!"
Setelah itu, Valen melangkah menghampiri Sasya yang saat ini tengah kesakitan.
"Kembalikan kunci mobilku!" bentak Valen.
Mendengar ucapan serta bentakan dari Valen membuat Sasya hanya menatap tajam kearah Valen tanpa memperdulikan permintaan Valen.
Bugh..
"Aakkhhh!" teriak Sasya ketika kakinya diinjak kuat oleh Valen.
"Berikan kunci mobil gue atau kaki lo patah," ucap Valen dengan nada mengancam.
Sementara Aryan, Kimberly, Triny dan Billy tersenyum penuh kebahagiaan ketika melihat apa yang dilakukan oleh Valen.
"Gue tanya sekali lagi. Berikan kunci mobil gue!"
"Tid...."
"Kembalikan saja, Sya! Pikirkan kaki lo," ucap Kania.
Setelah itu, Sasya mengambil kunci mobil milik Valen yang dia ambil di saku jas almamater miliknya.
"Ini."
Valen langsung merebut paksa kunci mobil tersebut dari tangan Sasya
Valen melihat kearah kakaknya dan ketiga kakak sepupunya.
"Kak, kak Kim, kak Triny, kak Billy. Aku pamit ya. Aku serahkan lima manusia busuk ini pada kalian. Jika kalian mau kasih hukuman. Hukumannya jangan yang ringan. Kasih yang berat."
"Dengan senang hati!" Aryan, Kimberly, Triny dan Billy menjawab dengan kompak.