
Kimberly saat ini berada di ruang tengah sembari menonton televisi. Dirinya ditemani beberapa cemilan dan susu pisang kesukaannya yang sudah tersusun rapi di atas meja.
Hari ini adalah hari minggu. Kimberly memilih untuk berdiam di rumah saja. Dirinya tidak ada niatan untuk keluar jalan-jalan.
Sementara untuk kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya berada di kamar dan di ruang kerjanya masing-masing.
Ketika Kimberly asyik dengan dunianya sendiri, tanpa Kimberly sadari kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya tersenyum melihat kearah dirinya yang fokus pada televisi sembari menikmati keripik kentang yang ada di pangkuannya. Mereka tersenyum menatap kesayangannya itu.
Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan beberapa menit yang lalu sudah selesai urusannya di kamar dan di ruang kerjanya.
Selesai dengan urusannya, mereka memutuskan untuk menghampiri kesayangannya yang ada di ruang tengah sendirian.
Enda dan Riyan langsung menduduki pantatnya di samping kiri dan kanan Kimberly. Kemudian keduanya langsung merebut toples keripik kentang milik Kimberly.
Setelah mendapatkan toples keripik kentang milik adik perempuannya. Enda dan Riyan langsung berpindah duduk di sofa lain.
Kimberly seketika langsung berdiri dan memberikan tatapan mautnya kearah kedua kakaknya yang menurutnya menyebalkan hari ini.
"Kakak Enda, kakak Iyan. Balikin kripik kentangku. Itu punyaku!" teriak Kimberly.
Seketika Fathir, Nashita, Jason dan Uggy menutup telinganya masing-masing ketika mendengar teriakan dari Kimberly.
"Sayang," tegur Nashita.
Kimberly seketika berubah dalam mode sedih dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Kak Enda dan kak Iyan tuh. Itu keripik kentang aku Mom," ucap Kimberly.
Nashita tersenyum gemas ketika melihat wajah manyun putrinya. Begitu juga dengan Fathir, Jason dan Uggy.
"Pelit amat sih dek. Minta dikit doang," ucap Riyan.
"Iya, nih! Lagian keripik kentang juga masih banyak. Dan belum habis," ucap Enda sembari mengembalikan toples tersebut kepada adiknya.
"Udah nggak minat lagi. Aku nggak doyan bekasnya kak Enda dan kak Iyan," sahut Kimberly lalu menduduki kembali pantatnya di sofa.
Sementara Enda dan Riyan seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari adiknya yang mengatakan yang tidak doyan dengan bekasnya.
Bagaimana dengan Fathir, Nashita, Jason dan Uggy? Sudah pasti mereka tertawa ketika mendengar ucapan dari Kimberly dan melihat wajah syok Enda dan Riyan.
Fathir berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk di samping putri satu-satunya.
Setelah duduk di samping putrinya, Fathir menarik tubuh putrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Eh," ucap Kimberly ketika tubuhnya tiba-tiba di peluk oleh ayahnya.
"Dad."
"Daddy bangga sama kamu sayang."
Kimberly memperlihatkan wajah cengonya ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Dirinya benar-benar tidak tahu maksud dari ucapan ayahnya itu.
"Bangga? Kenapa? Emangnya aku melakukan apa sehingga Daddy bisa bangga padaku?" tanya Kimberly.
Fathir tersenyum mendengar pertanyaan dari putrinya. Begitu juga dengan Nashita dan keempat kakak laki-lakinya.
Fathir seketika melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik putrinya. Setelah itu, Fathir memberikan ciuman di keningnya.
"Kamu mau tahu kenapa Daddy bilang begitu?"
"Iya, Dad! Apa?"
"Pertama, kamu mau meminta maaf kepada Aryan atas apa yang terjadi antara kamu dan Aryan. Kedua, kamu sudah membantu keluarga Alexander yang tak lain adalah keluarga dari laki-laki yang sangat kamu cintai."
Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Kimberly terkejut. Dirinya tidak menyangka jika apa yang dilakukan olehnya langsung cepat tersebar di telinga kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya.
"Daddy tahu dari mana kalau aku membantu perusahaan om Andrean dan keluarganya?"
Fathir tersenyum sembari tangannya mengusap lembut pipi putih putrinya. "Orangnya sendiri yang memberitahu Daddy."
"Om Andrean?"
"Hah!" Kimberly seketika membulatkan matanya dan mulutnya yang berbentuk huruf o ketika mendengar perkataan dari ayahnya.
"Masa sih. Aku cuma nyampain apa yang aku dengar. Nggak lebih. Kok Om Andrean bisa nangis gitu?"
Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum gemas mendengar perkataan dari Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah syok Kimberly.
"Iya, benar!"
"Pasti Daddy bohong. Nggak mungkin Om Andrean sampai terharu begitu," ucap Kimberly.
"Daddy tidak bohong sayang. Memang seperti itu kenyataannya. Om Andrean sampai seperti itu karena Om Andrean merasa bersyukur kamu telah menyelamatkan perusahaan keluarga Andrean. Bagi Om Andrean perusahaan itu adalah perusahaan peninggalan ayahnya untuk dirinya dan adik-adiknya. Banyak kenangan manis disana."
"Itukan hanya kebetulan Dad."
"Iya, Daddy tahu. Maka dari itulah kenapa Om Andrean merasa bersyukur akan hal itu."
"Oh iya! Daddy lupa. Om Andrean menitipkan sesuatu kepada Daddy untuk kamu."
Fathir berdiri dari duduknya hendak ke kamarnya, namun sang istri Nashita sudah terlebih dulu pergi menuju kamar untuk mengambil sesuatu yang dimaksud oleh suaminya.
Tak butuh waktu lama, Nashita datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ini sayang." Nashita memberikan benda yang dibawa olehnya itu kepada suaminya.
"Terima kasih sayang," ucap Fathir sembari menerima barang tersebut dari tangan istrinya.
Fathir kemudian memberikannya kepada putrinya. "Ini dari Om Andrean!"
"Apa ini Dad?" tanya Kimberly sembari menerima barang yang ada di tangan ayahnya.
"Buka saja. Nanti kamu akan tahu apa isinya," jawab Fathir.
Setelah itu, Kimberly pun langsung membuka bungkusan benda itu. Benda itu berbentuk segi panjang.
Detik kemudian...
"Dad, ini!" seru Kimberly dengan wajah syoknya.
"Apa kamu suka?" tanya Fathir.
"Suka Dad. Sangat suka," jawab Kimberly antusias.
Benda yang dibawa oleh Nashita atau sesuatu yang diberikan oleh Andrean adalah sebuah laptop khusus main gamer yang super canggih. Laptop tersebut sudah lama menjadi incaran Kimberly, namun belum ada yang menjualnya.
Fathir tersenyum bahagia melihat raut kebahagiaan di wajah putrinya. Begitu juga dengan Nashita. Begitu juga dengan Jason, Uggy, Enda dan Riyan. Mereka ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat adik perempuannya bahagia.
"Dad, ini bagus sekali. Aku sudah lama menginginkannya. Aku nggak nyangka kalau Om Andrean tahu kalau aku memang menginginkan laptop ini," sahut Kimberly.
Kimberly melihat kearah ayahnya. Dirinya menatap wajah ayahnya itu penuh selidik.
"Jangan-jangan Daddy yang kasih tahu Om Andrean kalau aku menginginkan laptop ini?"
Tak!
Fathir seketika menjitak kening putih putrinya karena kesal akan tuduhan putrinya itu.
"Kenapa Daddy menjitak keningku?" tanya Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.
"Siapa suruh menuduh Daddy yang tidak-tidak," balas Fathir.
"Kan memang....."
"Mau lagi?" tanya Fathir dengan tangannya sudah berada di atas kepala putrinya.
"Aish!"
Kimberly langsung membuang wajahnya menatap laptop yang ada di pangkuannya.
Sementara Fathir seketika tersenyum puas melihat kekesalan putrinya.