THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Tendangan Gratis Dari Kimberly



Kimberly sudah berada di sekolahnya. Saat ini Kimberly sudah di kelas bersama sahabatnya keempat sahabatnya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Guys, ke kantin yuk!"


"Baiklah, yuk!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catherine lalu mereka berdiri sembari menarik tangan Kimberly.


Setelah itu, Kimberly dan Kimberly pergi meninggalkan kelas untuk menuju kantin.


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menyusuri setiap koridor sekolah sambil bercerita. Kelimanya terlihat begitu bahagia.


Namun tiba-tiba Molly dan Sheela datang bersama lima temannya dan menghalangi jalan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Lima teman Molly dan Sheela adalah lima teman sekelasnya Kimberly. Mereka adalah Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna.


Melihat kelima teman sekelasnya yang sekarang sudah bergabung dengan Molly dan Sheela yang tak lain adalah kakak kelasnya (kakak kelas baru masuk istilahnya) seketika terukir di sudut bibir Kimberly.


"Eemm! Dapat kelompok baru nih cicak-cicak di dinding," ucap Rere.


"Bergabung sama Molly dan Sheela. Terus apa kabar dengan teman-temannya badut itu," sindir Santy.


"Kacang lupa kulitnya," ucap Catherine.


"Dapat baru yang lama lupa... Hahahaha." Sinthia berucap sembari tertawa keras.


Mendengar ucapan demi ucapan dari keempat sahabatnya Kimberly membuat Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna menatap tajam kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Diem kalian!" bentak Syafina.


"Huuuu! Takut," sahut Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan sembari menutup mulutnya.


Baik Kimberly maupun Molly dan Sheela saling memberikan tatapan tajam. Begitu juga dengan Syafina, keempat teman-temannya dan keempat sahabatnya Kimberly.


"Mau ngapain bawa-bawa pasukan yang bentuknya yang nggak jelas gini? Mau berantem ya? Emangnya punya nyawa berapa?" tanya Kimberly dengan nada bicara dan wajah mengejeknya.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna menatap marah kearah Kimberly.


"Brengsek lo Kim! Makin kesini lo ngomong pedas banget!" bentak Enzi.


"Eoh! Apa tadi? Lo bilang omongan gue pedas? Terus apa kabar dengan mulut cabe-cabean kalian itu. Apa nggak pedas, hum?" ucap dan tanya Kimberly dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Enzi.


"Malahan kalian yang paling pedas kalau ngomongnya," sela Santy.


Baik Kimberly dan keempat sahabatnya maupun Molly, Sheela dan lima teman baru saling memberikan tatapan tajam masing-masing sehingga membuat beberapa murid-murid yang melihat bergidik ngeri.


"Nama lo Kimberly Aldama, bukan?" tanya Molly.


"Kalau iya kenapa? Kalau bukan juga kenapa? Apa urusannya dengan situ?" jawab Kimberly santai.


"Dan gue juga sudah tahu siapa lo. Lo adalah perempuan perusak hubungan orang lain. Lo nggak jauh beda dengan perempuan-perempuan yang ada di rumah bordil," ucap Molly.


Mendengar perkataan kejam dari Molly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika marah. Mereka tidak terima Molly menghina Kimberly.


"Jaga mulut lo tuh Molly!" bentak Catherine.


"Jangan berani lo bentak gue. Dan apa tadi?! Lo manggil gue Molly. Hello, gue lebih tua dari lo. Dan gue kakak kelas lo. Jadi....."


"Cuih!" Catherine seketika membuang ludahnya ketika mendengar ucapan dari Molly.


"Nggak sudi gue manggil lo dengan sebutan kakak. Lo memang tua dari gue. Tapi masalah otak, gue lebih dewasa dibandingkan lo!" bentak Catherine.


"Lo berdua jangan berlagu dengan membanggakan status lo disini. Secara logika nya. Lo berdua itu anak baru di sekolah ini. Jadi...."


Kimberly menghentikan perkataannya sejenak lalu menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya. Kemudian mereka saling tersenyum dan memberikan kode masing-masing.


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya kembali menatap kearah Molly, Sheela dan para kacungnya.


"Jadi kita yang lebih pantas disebut senior dari pada kalian berdua," sahut Kimberly.


"Gue nggak peduli. Yang gue pedulikan hanya satu. Lo jauhi Tommy. Dia milik gue." Molly berucap dengan penuh kebanggaan di wajahnya ketika menyebut Tommy adalah miliknya.


"Dan bilangin juga sama wanita murahan itu untuk menjauhi Andhika. Jangan dekat-dekati Andhika lagi. Andhika milik gue," ucap Sheela dengan menatap Kimberly jijik.


"Murahan teriak murahan. Nggak nyadar diri," sindir Rere.


Mendengar sindiran dari Rere membuat Molly dan Sheela menggeram marah.


Sheela kemudian mengangkat tangannya hendak menampar pipi Rere. Namun tangan Kimberly sudah terlebih dulu melayangkan tinjauan kearah wajah Sheela sehingga membuat Sheela seketika ketakutan.


Bagaimana tidak takut? Secara tinjauan tangan Kimberly hampir sedikit lagi mengenai wajahnya. Dan lebih tepatnya di depan hidung mancungnya.


Seketika Sheela menurunkan tangannya. Dan disusul Kimberly yang kembali menurunkan tangannya.


"Lo nggak punya menyuruh gue buat jauhi Tommy. Apalagi lo," sahut Kimberly dengan menatap wajah Molly dan Sheela bergantian. "Gue dan Triny yang terlebih dahulu kenal dengan mereka. Gue dan Triny yang terlebih dahulu menjalin hubungan dengan mereka. Kalian berdua orang baru. Jadi nggak usah tebar pesona di hadapan Tommy dan Andhika." Kimberly berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata.


Molly dan Sheela menggeram marah ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Kimberly. Mereka tidak terima semua perintahnya tidak dipatuhi.


"Lo emang nggak bisa dibilangin ya. Gue udah minta baik-baik lo buat jauhin Tommy. Tapi lo masih berani ngelawan!" bentak Molly.


"Namanya juga cewek murahan. Ya, gitulah kelakuannya! Nggak jauh beda sama saudarinya itu," sahut Sheela.


"Jaga ucapan lo ya!" bentak Catherine tak terima sahabat serta kakak dari sahabatnya dihina.


"Kenapa lo? Kok lo yang sewot," ejek Enzi.


Catherine hendak membalas perkataan Enzi. Namun Kimberly langsung melerainya.


"Gue nggak punya urusan sama lo berdua. Kalau lo berdua mau gue dan kakak gue menjauhi Tommy dan Andhika. Lo temui langsung orangnya. Dan minta mereka buat menjauh dari gue dan kakak gue. Lo ngerti kan maksud gue?"


Setelah mengatakan itu, Kimberly mengajak keempat sahabatnya pergi untuk menuju kantin.


Molly dan Sheela menatap nyalang Kimberly. Mereka tidak terima diperlakukan seperti ini.


Molly dan Sheela melirik kearah kelima teman-temannya dan memberikan kode kepada mereka.


Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna pun langsung paham akan lirikan dan kode yang diberikan oleh Molly dan Sheela.


Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna akan menyerang Kimberly dan keempat sahabatnya secara diam-diam. Bahkan saat ini Molly dan Sheela berpikir Kimberly tidak akan mengetahui bahwa mereka akan menyerangnya dan keempat sahabatnya secara diam-diam.


Dengan hitungan yang ketiga, Molly, Sheela dan kelima teman-temannya Syafina pun langsung menyerang Kimberly dan keempat sahabatnya dari belakang.


Beberapa siswa dan siswi menatap iba dan kasihan terhadap Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna. Bahkan para siswa dan siswi tersebut berharap dan berdoa agar mereka baik-baik saja setelah ini.


Sementara Kimberly dan keempat sahabatnya terus berjalan menuju kantin, walau Kimberly mengetahui bahwa dirinya dan keempat sahabatnya kini dalam bahaya.


Mengetahui hal itu, Kimberly hanya tersenyum. Kimberly seperti ini karena sudah banyak berlatih bersama kedua keempat kakak laki-lakinya dulu. Ditambah lagi dengan beberapa guru pembimbing yang hebat.


Ketika Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna hendak memukul kepala dan punggung Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine secara bersamaan.


Kimberly dengan gerakan cepat langsung memberikan tendangan kuat secara bersamaan kearah Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna sehingga membuat mereka tersungkur ke lantai. Bahkan ada yang membentur dinding.


Bruk!


"Aakkhh!"


Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna berteriak kesakitan dengan cairan merah kental keluar dari kepala dan mulutnya.


Kimberly dan keempat sahabatnya menatap sinis ketujuh manusia yang saat ini tak berdaya.


"Kalau mau menyerang orang itu dari depan. Bukan dari belakang," sindir Kimberly.


Molly dan Sheela menatap ngeri dan juga takut kearah Kimberly. Mereka tidak menyangka jika Kimberly memiliki ilmu bela diri yang begitu kuat. Yang membuat Molly dan Sheela terkejut dan juga syok adalah ketika melihat bagaimana lincahnya Kimberly ketika menendang dirinya.