
Kimberly sudah sampai di sekolahnya. Seperti biasa, Tommy sudah menunggu dirinya di depan gerbang. Dulu sebelum pacaran dengan Tommy. Keempat sahabatnya yang secara bergantian atau secara bersamaan menunggu dirinya di depan gerbang sekolah.
Namun sekarang setelah pacaran dengan Tommy. Kini Tommy yang mengambil alih tugas dari keempat sahabatnya, walau kadang-kadang keempat sahabatnya masih masih menunggu dirinya di depan gerbang sekolah.
"Selamat pagi, nyonya Tommy!"
Mendengar sapaan dari Tommy. Apalagi Tommy menyebut dirinya sebagai nyonya Tommy membuat Kimberly malu. Terlihat jelas rona merah di pipinya.
Tommy tersenyum gemas melihat wajah malu Kimberly. Detik kemudian, Tommy mencium pipi kanan Kimberly bermaksud untuk membuat Kimberly makin malu.
Setelah mengatakan itu, Tommy langsung menggandeng tangan Kimberly dan membawanya langsung ke kelas.
Melihat Tommy yang menggandeng tangan Kimberly membuat beberapa makhluk sekolah yang berlalu lalang menatap Kimberly dengan tatapan iri.
Kimberly dan Tommy seketika berhenti karena keduanya sudah berada di depan kelas 1 IPA 1 yang tak lain kelasnya Kimberly.
"Sudah sana kembali ke kelas," ucap Kimberly dengan mendorong pelan tubuh Tommy.
"Ngusir ya?" ucap Tommy sembari tangannya mengusap lembut pipi putih Kimberly.
"Nggak ngusir. Tapi nyuruh balik ke kelas. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai," jawab Kimberly.
Tommy seketika tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Tangannya mengusap lembut pipi putih Kimberly. Kemudian berlahan-lahan tangannya berpindah ke belakang, menyentuh tengkuk Kimberly.
Tommy mendekatkan wajahnya di depan wajah Kimberly, lalu matanya menatap bibir merah Kimberly. Tommy benar-benar sudah candu akan manisnya bibir kekasihnya itu.
Ketika Tommy ingin mencium bibir Kimberly. Bahkan hampir sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Kimberly.
Namun tiba-tiba terdengar suara deheman yang begitu kencang sehingga aksinya untuk mencium bibir Kimberly gagal.
"Eheemm!"
Mendengar deheman yang begitu keras membuat Tommy menggeram kesal. Sementara Kimberly tersenyum melihat wajah kesal Tommy.
Tommy seketika melihat kearah tersangka yang sudah mengganggu kesenangannya. Dapat dilihat oleh Tommy. Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum manis menatap dirinya. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di raut wajah keempatnya.
"Ini masih pagi kak," ejek Santy.
"Kalau mau nyosor-nyosor. Nggak disini tempatnya," ucap Rere.
"Dan juga ada waktu dan tempatnya jika ingin menyosor Kimberly," ledek Sinthia.
"Apa memang setiap hari seperti itu ya? Nyosor mulu kerjaannya," ejek Catherine.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Rere, Santy, Sinthia, dan Catherine membuat Tommy menggeram kesal. Jika seandainya dia punya sihir. Hari ini juga dirinya akan memindahkan keempat sahabat dari kekasihnya itu ke pulau terpencil.
"Ganggu aja," ucap Tommy kesal.
Setelah mengatakan itu, Tommy pergi meninggalkan Kimberly untuk menuju kelasnya.
Setelah kepergian Tommy. Tawa Rere, Santy, Sinthia dan Catherine pecah.
"Hahahaha."
^^^
Kini Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di kelas. Dan lima menit lagi pelajaran akan dimulai.
Mereka mengobrol kecil sambil menunggu guru bidang studi bahasa Inggris datang. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Em! Aku masih mengingat janji kalian padaku," ucap Kimberly sembari tatapan matanya fokus menatap layar ponselnya.
Mendengar perkataan dari Kimberly. Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung melihat kearah Kimberly yang saat ini fokus menatap layar ponselnya.
"Janji apa ya?" tanya Santy.
"Iya, nih! Gue juga. Perasaan gue nggak pernah janjiin apa-apa sama lo, Kim!" sahut Sinthia.
"Apalagi gue. Gue juga nggak ada janji apa-apa," sela Rere.
"Janji apa sih Kim?" tanya Catherine.
"CK!" Kimberly seketika berdecak kesal mendengar perkataan dari keempat sahabatnya.
Kimberly kemudian menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya yang juga menatap dirinya.
"Kalian nggak lupakan kejadian dimana aku dan Aryan bertengkar di kantin sehingga membuat aku nggak jadi sarapan bareng kalian?" tanya Kimberly.
Mendengar pertanyaan dari Kimberly seketika membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine teringat sesuatu. Dan beberapa detik kemudian...
"Hehehehe." Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkekeh sembari menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal.
"Udah ingat?" tanya Kimberly.
"Jam istirahat nanti kalian harus bayarin aku sepuasnya. Aku tidak menerima protes apapun dari kalian," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly yang menurut mereka penuh dengan ancaman dan paksaan membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine hanya bisa pasrah. Mau tidak mau, mereka harus mengeluarkan uangnya untuk membelikan makan siang untuk sahabat kelincinya.
"Iya," jawab keempatnya kompak.
Mendengar jawaban kompak dari keempat sahabatnya membuat Kimberly seketika tersenyum lebar.
Ketika Kimberly, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya tengah mengobrol kecil, tiba-tiba terdengar suara guru bahasa Inggris memasuki kelas.
"Good morning teacher's children who are beautiful, handsome, ugly, crumpled and so on!"
Mendengar sapaan dari guru bahasa Inggris yang awalnya enak dan berakhir menyedihkan membuat mereka semua memasang wajah sedihnya.
Guru bahasa Inggris tersebut seketika tersenyum saat melihat wajah sedih murid-muridnya.
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu. Kalian sudah jelek. Justru tambah jelek," ucap guru bahasa Inggris itu yang masih menjahili murid-muridnya.
"Yah, Bu Sonya! Ibu tega sekali pada kami," ucap seorang murid perempuan.
"Not good!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
"Hahahaha."
Pada akhirnya guru bahasa Inggris tertawa. "Oke, oke! I'm sorry. The teacher admitted that she was wrong. Now let's start the lesson. Turn to page 20."
Mendengar perkataan sekaligus perintah dari guru bahasa Inggris itu. Semua murid-murid termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya langsung membuka buku bahasa Inggris halaman 20.
"Di halaman itu ada beberapa soal. Silahkan kalian kerjakan soal-soal itu."
"Baik, Bu!"
Setelah itu, mereka semua pun mulai mengerjakan soal-soal yang ada di halaman 20 itu.
^^^
Ketika semua penghuni sekolah sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan masing-masing. Di lobi depan sekolah terlihat sepasang suami istri tengah berbicara dengan seorang security. Sepasang suami istri itu hendak bertemu dengan kepala sekolah untuk membahas putranya dan juga seorang gadis yang dekat dengan putranya.
"Tolong antarkan kami menemui kepala sekolah," ucap pria paruh baya itu kepada security.
"Baiklah nyonya, tuan! Mari ikut saya."
Security itu pun langsung membawa sepasang suami istri itu untuk menemui kepala sekolah. Security itu merasa kasihan ketika melihat wajah memohon keduanya.
Ketiganya berjalan menyusuri luasnya sekolah untuk menuju kantor kepala sekolah.
"Ini ruangan kepala sekolahnya nyonya, tuan!" ucap security itu setelah berdiri di depan ruang kepala sekolah.
Tok.. Tok.. Tok..
Security itu mengetuk pintu ruang kepala sekolah sebanyak tiga kali sehingga terdengar suara dari dalam ruangan tersebut.
"Masuk!"
Cklek..
Security itu langsung membuka pintu ruang kepala sekolah itu setelah mendapatkan izin dari pemilik ruangan.
Security itu melangkah masuk ke dalam untuk melapor dan memberitahu tentang sepasang suami istri itu.
"Ada apa, Fery?"
"Maaf, Pak! Diluar ada sepasang suami istri ingin bertemu dengan anda."
"Suruh langsung mereka masuk."
"Baik, Pak!"
"Baik."
Setelah itu, security itu langsung keluar dan meminta sepasang suami istri itu untuk masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
"Silahkan masuk tuan, nyonya!"
"Terima kasih," jawab suami istri itu sembari sedikit menundukkan kepalanya.
Setelah itu, sepasang suami istri pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan kepala sekolah itu.
"Semoga dengan cara seperti ini. Putraku akan segera memaafkan kesalahanku dan suamiku," batin wanita paruh baya itu menangis.