
Setelah selesai makan malam. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah termasuk Kimberly. Saat ini Kimberly tengah bersandar di bahu ibunya sembari bermain ponsel.
"Kimberly," panggil Uggy.
Kimberly melihat sekilas kakak keduanya itu, lalu kembali menatap layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Kimberly.
"Deryl sudah melapor sama kakak tentang masalah di perusahaan cabang. Kakak bangga sama kamu."
"Biasa aja kali. Jangan terlalu memuji. Bisa-bisa aku besar kepala lagi," sahut Kimberly.
Uggy tersenyum ketika mendengar ucapan dari adiknya. Begitu juga dengan Fathir, Nashita, Jason, Enda, Riyan dan anggota keluarga lainnya.
"Memangnya Deryl menyampaikan apa pada kamu?" tanya Fathir kepada Uggy.
Uggy menatap adiknya yang juga dibalas tatapan dari adiknya.
"Kakak udah tahukan dari kakak Deryl? Kakak aja yang kasih tahu Daddy. Aku lagi main game nih!"
"Katakan Uggy," ucap Fathir.
"Ada enam karyawan perempuan yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan telah bersikap semena-mena dengan tiga karyawan perempuan yang berada di devisi menengah. Dengan kata lain karyawan biasa."
Fathir terkejut mendengar jawaban dari Uggy. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Keenam karyawan perempuan itu tidak pernah melakukan tugasnya. Mereka menyerahkan semua tugas-tugasnya kepada tiga karyawan perempuan itu. Jika ketiganya melakukan kesalahan, maka keenam karyawan perempuan itu tak segan-segan untuk menyakiti ketiganya."
"Ya, Tuhan! Tega sekali mereka!" ucap Helena.
"Menjijikkan sekali," ucap Clarita.
"Bukan itu saja. Keponakan dari Direktur keuangan yaitu Hendri mengaku-ngaku sebagai putrnya Daddy!"
"Apa?!"
Seketika Fathir terkejut ketika mendengar ucapan dari Uggy yang mengatakan bahwa keponakan dari Hendru berani mengaku-ngaku sebagai putrinya.
Fathir menatap kearah putrinya yang sedang fokus bermain game. "Kim," panggil Fathir.
Mendengar panggilan dari ayahnya, Kimberly seketika menghentikan permainannya. Kemudian Kimberly menatap wajah ayahnya itu.
"Ketika aku sampai di perusahaan cabang. Lebih tepatnya sudah berada di dalam. Aku melihat seorang perempuan yang sok cantik dan sok berkuasa. Ditambah lagi gayanya yang angkuh. Dia seenaknya melempar berkas yang diberikan tiga karyawan kepadanya. Aku nggak tahu berkas apa. Tapi aku yakin itu berkas penting. Kemudian aku bertanya, siapa perempuan itu? Salah satunya menjawab bahwa perempuan itu adalah putri dari Bos Fathir Aldama. Aku kaget dong."
"Terus apa yang kamu lakukan ketika melihat ada orang yang ngaku-ngaku sebagai kamu?" tanya Fathan.
"Aku masih bersikap biasa aja. Aku kembali melangkah masuk ke dalam. Aku ingin segera ke ruangan Daddy. Tapi seketika langkah kaki aku terhenti ketika melihat pemandangan yang begitu memilukan."
"Kamu melihat keenam karyawan perempuan yang sedang menyakiti tiga karyawan perempuan yang dibawa mereka?" tanya Enda.
"Iya, walau awalnya aku nggak tahu posisi mereka di perusahaan lebih tinggi dari pada ketiga karyawan perempuan itu."
"Apa yang kamu lakukan ketika melihat sesama karyawan saling menyakiti?" tanya Nashita.
"Ketika aku puas melihat mereka menyakiti rekan mereka sendiri, akhirnya aku pun bertindak. Aku sudah tidak tahan untuk tidak membantu ketiga karyawan itu. Aku berusaha untuk tidak emosi dengan meminta mereka untuk menyudahi kegiatan mereka. Bahkan aku juga meminta kepada salah satunya untuk melepaskan tangannya dari rambut rekannya itu. Tapi mereka tidak mau mendengarkanku. Justru mereka menentangku dan menghinaku."
"Brengsek!" Enda dan Riyan seketika emosi mendengar cerita adik perempuannya.
"Aku kembali meminta dengan baik-baik, tapi perempuan itu masuk dengan kegiatannya yang menarik kuat rambut rekannya itu. Singkat cerita, perempuan itu ingin memukulku karena aku terlalu ikut campur. Ketika dia hendak memukul wajahku, aku langsung menahan tangannya lalu melintirnya kuat sehingga membuat dia berteriak kesakitan. Dalam keadaan sakit saja, tangannya sama sekali tidak beranjak dari rambut rekannya."
"Jadi maksud kamu kalau perempuan itu masih menarik rambut rekannya itu, nak?" tanya Clarita.
"Iya, bunda!"
"Ya, Tuhan. Wanita macam apa dia," ucap Clarita.
"Lalu apa yang terjadi? Tidak mungkinkan lima kawanannya diam saja?" tanya Barra.
"Kelima kawanannya jelas marah. Lalu mereka secara bersamaan menyerangku. Ya, udah! Aku kasih tendangan gratis untuk mereka sehingga membuat mereka nggak biasa berdiri lagi."
"Pasti semua karyawan disana menatap kamu takut. Bahkan mereka semua terkejut ketika melihat apa yang kamu lakukan," ucap Triny.
"Iya, iyalah! Bahkan mulut dan mata mereka semua terbuka lebar. Tidak ada satu pun yang bersuara."
"Setelah perempuan itu melepaskan tarikan rambut rekannya, aku meminta tiga karyawan itu pergi ke ruangan kesehatan untuk mengobati luka-luka mereka. Kemudian aku pun melepaskan tangan perempuan itu lalu mendorong kuat tubuh perempuan itu hingga tersungkur di lantai."
Beberapa menit kemudian, datang perempuan yang mengaku sebagai diriku. Dia marah ketika melihat ruangan tersebut berantakan dan ditambah lagi ketika melihat keenam karyawan perempuan terlihat tak baik-baik saja di lantai.
"Apa yang dilakukan perempuan sialan itu?" tanya Ricky.
"Pokoknya intinya adalah mereka menyerangku dan menyudutkan aku. Ketika perempuan itu mengancamku ingin melaporkan kepada ayahnya. Justru aku meminta dia untuk langsung menghubungi ayahnya dengan cara video call dan menyuruh ayahnya datang ke perusahaan. Mendengar perkataan sekaligus tantangan dariku. Dia langsung bungkam dan tak berkutik."
"Aku meminta kakak Deryl masuk dengan membawa delapan anggotanya. Di depan semua karyawan dan karyawati aku meminta kakak Deryl untuk mencari tahu latar belakang keluarga dari keenam karyawan perempuan yang sudah berlaku buruk terhadap tiga rekannya dan juga perempuan yang sudah mencuri identitas aku."
"Jika kakak Deryl sudah berhasil mendapatkannya, aku meminta kepada kakak Deryl untuk menghancurkan semua anggota keluarganya. Dan untuk keenam karyawan perempuan itu dan perempuan penipu itu aku masukkan ke daftar hitam seluruh perusahaan yang ada di dunia."
Mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum puas dengan apa yang Kimberly lakukan.
"Pasti mereka menangis dan berteriak histeris memohon ampun padamu kan Kim?" tanya Risma.
"Tentu saja. Bahkan mereka semua bersujud memohon ampun kepadaku. Mereka meminta padaku agar mereka tidak dipecat. Bahkan perempuan penipu itu meminta aku untuk tidak melibatkan keluarganya. Cukup dia saja yang dihukum. Mendengar itu, aku masa bodo!"
"Setelah aku memberikan tugas kepada kakak Deryl termasuk meminta kakak Deryl untuk menyeret mereka keluar dari perusahaan. Aku meminta pada Paman Nickholas untuk memberikan data-data semua karyawan dan karyawati yang bekerja dengan Daddy. Aku mencurigai jika ada beberapa karyawan atau karyawati yang tidak jujur."
"Apa kamu sudah mengetahui siapa saja mereka?" tanya Riyan.
"Tentu. Aku sudah mendapatkannya. Ada sepuluh orang. Lima laki-laki dan lima perempuan."
Mereka semua terkejut, termasuk Fathir ketika mendengar pengakuan dari Kimberly.
"Siapa sayang. Katakan pada Daddy."
"Daddy langsung hubungi Paman Nickholas. Nanti Paman Nickholas akan memberikan informasinya secara detilnya kepada Daddy."
"Baiklah."
Fathir tersenyum bangga akan tindakan yang diambil oleh putrinya. Baru setengah hari putrinya menggantikan dirinya untuk sementara waktu. Justru putrinya itu sudah langsung mengetahui hal-hal buruk yang tidak dia ketahui selama ini.
Fathir berdiri dari duduknya. Kemudian Fathir menduduki pantatnya di samping putrinya itu.
Grep..
Fathir langsung memeluk tubuh putrinya itu dengan erat sehingga membuat Kimberly terkejut.
"Eh, Dad!"
"Daddy bangga sama kamu sayang. Selama ini Daddy tidak tahu jika beberapa karyawan dan karyawati Daddy berbuat jahat dan curang. Tapi kamu, setengah hari menggantikan Daddy di perusahaan cabang. Kamu justru melihat dan mendapatkan kejutan-kejutan yang tak terduga sehingga berakhir kamu mengetahui ada kecurangan di dalam perusahaan."
Kimberly seketika tersenyum mendengar perkataan sekaligus pujian dari ayahnya.
"Itu hanya kebetulan Daddy mengirim aku kesana. Coba seandainya kalau Daddy mengirim orang lain. Mungkin orang itu juga sama seperti aku."
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum. Mereka semua paham makna dari perkataan Kimberly barusan. Kimberly tidak bisa dipuji. Dia sedikit salah tingkah. Bahkan dia akan mengatakan bahwa itu hanya kebetulan.
"Dengan cara sikap dan tindakan kamu terhadap perusahaan dan juga terhadap karyawan yang lemah. Daddy sudah sangat yakin untuk menyerahkan perusahaan itu ke tangan kamu."
Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari ayahnya.
"Dad."
Fathir seketika melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik putrinya itu.
"Sebenarnya perusahaan cabang itu akan Daddy serahkan sama kamu dengan Nickholas menjadi wakil kamu."
"Tapikan aku masih sekolah. Dua tahun lagi baru selesai. Belum lagi kalau misalkan aku ingin kuliah."
Fathir tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
"Tergantung cara bagaimana kita mengelola perusahaan itu sayang. Setiap pemimpin perusahaan itu tidak harus datang ke perusahaan. Dari rumah dan lewat ponsel kita masih bisa menghandle perusahaan. Yang penting niatnya." Jason berucap sembari menatap wajah cantik adiknya.
"Bagaimana?" tanya Fathir.
"Apanya?" tanya Kimberly balik.
"Menggantikan Daddy selamanya di perusahaan cabang," jawab Fathir.
"Aku pikir-pikir dulu."
"Sampai kapan?"
"Nggak tahu."
"Daddy berharap loh."
"Ih, Daddy!"
"Hahahaha."
Semuanya tertawa melihat wajah kesal Kimberly akan desakan-desakan serta rayuan-rayuan dari ayahnya.