THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Rena Kepada Kimberly



Suasana kantin saat ini sangat ramai, meskipun bukan jam istirahat tapi karena jam sedang kosong maka kebanyakan murid lebih memilih pergi ke kantin dari pada harus mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka di setiap kelas.


Rena dan kedua temannya menatap ke seluruh penjuru kantin. Mencari meja kosong untuk mereka tempati. Namun sayangnya seluruh meja di kantin itu penuh. Tidak ada yang tersisa.


"Penuh semua mejanya," kata Tata.


"Terus kita mau makan di mana?" tanya Velisia seraya menoleh ke arah Rena yang saat ini tengah menatap ke satu titik, di meja yang isinya sekumpulan siswi berkutu buku yang sedang membaca buku mereka masing-masing.


Rena berjalan ke arah meja itu diikuti Velisia dan Tata di belakangnya. Karena terlalu sibuk membaca, kumpulan murid berkutu buku itu sampai tidak menyadari kehadiran Rena dan kedua temannya.


Rena yang merasa dicuekan, akhirnya dengan rasa emosi yang masih ada menggebrak meja itu membuat kumpulan yang berisi dua siswi dan tiga siswa itu terlonjak kaget bahkan sampai ada yang latah sambil memegang dadanya.


"Minggir kamu semua! Aku dan kedua temanku mau duduk di sini. Cepet minggir!" perintah Rena seraya menggerakkan tangannya, menyuruh mereka untuk pergi.


Kumpulan berkutu buku itu tampak menatap Rena dengan bingung. Namun ada juga yang menatap Rena dengan wajah ketakutan.


"Hei! Denger dengar tidak sih?! Sana minggir!" kata Rena lagi dengan meninggikan suaranya satu oktaf.


Kumpulan siswa dan siswi berkutu buku itu segera bangkit dari posisi duduknya terkecuali seorang siswi yang hanya diam saja sambil memperhatikan Rena dengan tajam dibalik kaca mata bulatnya.


"Heh! Kamu ngapain masih diam? Sana minggir!" kata Velisia ketika matanya melihat salah satu dari kumpulan kutu buku itu tidak juga bangkit dari posisi duduknya.


Namun siswi itu tidak juga bangkit, dan justru menatap Rena dan kedua temannya dengan tajam dan melotot. Seakan tengah berusaha untuk mengeluarkan laser dari matanya agar Rena dan kedua temannya bisa lenyap dari muka bumi.


Rena yang merasa kesal akhirnya menghampiri siswi itu lalu menggebrak meja tepat di depannya. Siswi itu sempat tersentak tapi buru-buru dia kembali menetralkan air wajahnya seperti semula agar tidak terlihat merasa ketakutan saat di depan Rena


"Kamu tuh tuli atau bagaimana?Dengar tidak aku ngomong? Pindah dari meja ini!" ucap Rena dengan keras.


"Maaf, kak. Saya tidak bisa. Meja ini sudah saya dan teman saya duluan yang tempati. Kalau  kak Rena mau duduk, kak Rena bisa duduk di meja lain. Tidak harus mengambil yang sudah jadi milik orang lain."


Rena sedikit terkejut mendengar ucapan mahasiswi itu yang ternyata adalah juniornya. Tapi setelah itu Rena malah justru mendekatkan diri ke siswi itu


"Apa kamu bilang?" tanya Rena dengan wajah menunduk, menatap siswi itu yang duduk di bangku.


Badan Rena sedikit membungkuk agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah siswi itu.


"Meja ini sudah saya dan teman saya tempati. Jadi kak Rena dan teman kak Rena bisa caari meja yang lain. Tidak perlu mengambil punya orang," ucap siswi itu tanpa merasa bersalah atau pun takut dan dengan mata yang menatap Rena balik.


Brak!


"KAMU BERANI MELAWANKU!!


Seluruh penjuru kantin pun di buat kaget oleh Rena. Suara gebrakan meja disertai suara Rena yang menggelegar membuat siswa dan siswi beserta tukang jualan di kantin itu sukses menatap ke arahnya.


"Saya tidak pernah takut sama kak Rena, karena kak Rena bukan Tuhan," jawab siswi itu lagi masih dengan ekspresinya yang tidak terlihat takut sama sekali.


Velisia dan Tata menatap siswi itu dengan mata membulat dan mulut yang terbuka setengah.


Baru kali ini ada siswi yang berani melawan Rena. Jauh di lubuk hatinya Velisia merasa kagum pada siswi itu. Tapi juga kesal karena melihat ada murid yang berani melawan sahabatnya.


Mendengar ucapan perlawanan dari siswi itu membuat kemarahan Rena mencapai tahap akhir. Tangannya meraih gelas berisi es jeruk yang berada di meja dan dengan kecepatan tangannya, Rena menumpahkan isi dari gelas itu ke kepala siswi berkaca mata bulat itu membuat seluruh penjuru kantin terkejut apalagi teman-teman dari mahasiswi itu yang juga terkejut melihatnya.


Buru-buru Velisia menghampiri Rena diikuti Tata. Tapi terlambat. Rena sudah mengangkat tinggi gelas kaca itu dan akan melemparkan gelas itu ke kepala mahasiswi di depannya yang sudah menutup kedua matanya, namun terhenti ketika sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangan Rena.


"Apa yang lo lakukan? Apa lo sudah gila? Itu bahaya tahu!" ucap sebuah suara di belakang Rena.


Rena menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Kimberly beserta keempat sahabatnya dengan tangannya yang menahan tangannya.


"Lo! Lepasin tangan gue!" kata Rena seraya berusaha melepas cengkraman tangan Kimberly.


Velisia dan Tata yang melihat itu berusaha menghampiri Kimberly untuk membantu Rena, namun belum sempat melangkah, Rere dan Sinthia segera menahan kedua cewek itu.


Kimberly merebut gelas kaca itu dari tangan Rena dan meletakkannya di meja kembali.


"Lepasin gue, sialan!!" ucap Rena marah.


Rena berusaha memukul Kimberly dengan tangan satunya yang bebas dan dengan cekatan Kimberly segera menangkap tangan itu kemudian mengunci kedua tangan Rena.


"Lo sudah melakukan kesalahan yang fatal. Dan lo juga sudah buat kerusuhan di kantin. Sekarang lo ikut gue!" kata Kimberly.


"Aku tidak mau! Lepasin aku, brengsek!"


Rena masih berusaha untuk melawan Kimberly dengan cara menendang Kimberly. Tapi dengan mudah Kimberly menghindar dari tendangan Rena hanya dengan sedikit menggeser tubuhnya ke samping.


Alhasil karena tendangannya tidak mengenai sasaran, tubuh Rena pun oleng dan jatuh sehingga tersungkur di lantai. Kimberly dengan sengaja melepaskan pegangan tangannya di tangan Rena.


Velisia dan Tata terkejut ketika melihat Rena yang tersungkur di lantai dengan keadaan Rena kesakitan bagian pantatnya dan siku kanannya.


Sedangkan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum ketika melihat kesakitan Rena.


"Rena, kamu nggak apa-apa?" tanya Velisia dan Tata, lalu keduanya membantu Rena untuk berdiri.


Rena menatap tajam kearah Kimberly. Begitu juga dengan Kimberly. Keduanya saling memberikan tatapan tajamnya.


"Nggak usah ikut campur urusan gue!" bentak Rena.


"Jika lo nggak macam-macam terhadap teman lo. Gue juga nggak akan ikut campur. Dan tadi apa barusan? Lo mau nyakitin teman lo dengan gelas itu? Apa lo ingin jadi pembunuh, hah?!"


"Jangan sok baik lo."


"Bukan mau sok baik. Gue ngelakuin itu demi kemanusiaan. Kalau pembullyan yang lo lakuin tidak membahayakan nyawa orang dan tidak menyakiti fisik orang, gue juga nggak akan ikut campur urusan lo dan antek-antek lo."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Rena seketika terkejut dan bungkam. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly akan berbicara seperti itu.


"Sudah, buruan! Ayo ikut gue!"


Kimberly kembali menarik pergelangan tangan Rena kemudian membawa Rena keluar dari kantin dengan Rena yang masih berusaha melepas cengkramannya disertai ucapan sumpah serapah yang dikeluarkan dari mulutnya untuk Kimberly.


Sedangkan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berjalan mengikuti Kimberly dari belakang yang masing-masing juga menarik tangan kedua teman Rena yang juga akan dihukum sama seperti Rena.