THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kesedihan Dan Ketakutan



Aryan, Billy, Tommy, Triny, Risma dan sahabatnya, termasuk keempat sahabatnya Kimberly sudah sampai di rumah sakit. Mereka saat ini sedang menunggu di depan pintu UGD.


Billy, Aryan, Triny dan Risma sejak tadi masih terus menangis mengingat kondisi adik sepupunya. Begitu juga dengan Tommy. Mereka semua menyesal tidak bersama dengan Kimberly di kantin.


"Kenapa dengan kamu, Kim? Kamu dari rumah sampai di sekolah baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kalau kamu sedang sakit. Kenapa sekarang kamu jadi seperti ini?" Billy berbicara sambil tatapan matanya menatap kearah pintu ruang UGD yang masih tertutup rapat.


"Kim, semoga kamu baik-baik saja!" Aryan, Triny dan Risma berucap bersamaan.


"Sayang, aku mohon kamu baik-baik saja!" Tommy menangis dengan tatapan matanya menatap kearah pintu ruang UGD.


Nathan, Lionel Andry dan sahabatnya yang lain berusaha memberikan ketenangan kepada Billy dan Tommy. Mereka tahu bahwa saat ini Billy dan Tommy ketakutan akan kondisi Kimberly.


Sama halnya dengan Andhika. Andhika selaku kekasihnya Triny dan sepupunya Tommy secara bergantian memberikan ketenangan kepada keduanya. Hatinya juga sakit ketika melihat ketakutan di wajah Triny dan Tommy.


Tak jauh beda dengan Lian, Dylan, Raka, Jerry dan Evan. Mereka juga ikut menenangkan Aryan. Begitu juga dengan keempat sahabatnya Triny yang memberikan ketenangan kepada Risma.


"Kita berdoa saja untuk Kimberly. Semoga Kimberly nggak kenapa-kenapa," hibur Lian.


Satya melihat kearah keempat sahabatnya Kimberly termasuk kekasihnya Sinthia yang mana saat ini mereka juga sama seperti Billy, Tommy, Aryan, Triny dan Risma. sama-sama mengkhawatirkan Kimberly.


"Sinthia !" panggil Satya.


Sinthia yang dipanggil oleh Satya langsung melihat kearah Satya.


"Ada apa, Satya?" tanya Sinthia dengan suara seraknya.


"Kamu sama yang lainnya kan ada disana ketika Kimberly muntah? Apa yang terjadi?" tanya Satya.


Baiklah Satya, Billy, Aryan, Tommy serta yang lainnya melihat kearah Sinthia, Rere, Santy dan Catherine. Mereka berharap keempatnya tahu kejadian yang sebenarnya.


"Aku juga nggak tahu kenapa Kimberly tiba-tiba batuk-batuk dan berakhir muntah darah," jawab Sinthia.


"Dari mulai kami masuk kantin, memesan makanan dan minuman. Dan berakhir semua pesanan kami sudah tertata rapi di atas meja. Semuanya baik-baik saja. Nggak ada yang aneh." Catherine ikut bersuara.


"Tapi tunggu!" seru Santy dan Rere.


Aryan, Billy, Tommy dan yang lainnya menatap lekat wajah Rere dan Catherine bergantian.


"Apa Catherine, Re?" tanya Billy dan Tommy bersamaan.


"Kimberly tiba-tiba batuk-batuk lalu muntah darah setelah memakan dan meminum pesanannya," sahut Catherine.


"Kimberly mesan apa ketika di kantin?' tanya Billy.


"Seperti biasa. Nasi goreng dan jus pokat. Menu Kimberly selalu dua itu. Tidak pernah ganti," jawab Rere.


"Bukannya kalian juga tahu apa yang dipesan Kimberly ketika di kantin?" tanya Santy.


"Iya, kami tahu. Tapi kadang-kadang Kimberly sering ganti," sahut Triny.


Mendengar jawaban dari Catherine membuat Billy dan Aryan mencurigai jika ada sesuatu di dalam makanan dan minuman adik sepupunya itu.


"Pasti ada sesuatu di dalam makanan dan minuman Kimberly. Selama ini Kimberly tidak pernah ceroboh kalau masalah memilih makanan dan minuman yang akan dia konsumsi," ucap Billy.


"Kimberly memiliki alergi. Kimberly tidak boleh memakan makanan sejenis seafood. Apapun itu. Dan buah strawberry." Aryan menambahkan apa yang dikatakan oleh Billy.


Mendengar ucapan dari Aryan membuat keempat sahabatnya Kimberly terkejut. Mereka tidak menyangka jika sahabatnya itu memiliki alergi pada makanan dan buah. Selama mereka menjalin hubungan persahabatan dengan Kimberly. Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang sahabatnya itu memiliki alergi makanan dan buah.


"Kenapa Kimberly nggak pernah cerita kalau dia punya dua alergi?" tanya Catherine dengan berlinang air mata.


"Apa Kimberly nggak benar-benar anggap kita sahabat sehingga dia merahasiakan tentang alergi kepada kita," sahut Santy yang juga menangis.


Mendengar perkataan dari Catherine dan Santy membuat Billy, Triny, Aryan dan Risma menjadi tidak tega.


Satya, Billy, Henry dan Lionel menghampiri kekasihnya masing-masing. Mereka berusaha untuk memberikan keyakinan kepada kekasihnya.


"Kalian jangan salah paham dulu. Bukan Kimberly ingin merahasiakan tentang alerginya dari kalian. Tapi itu memang nggak terlalu penting untuk diceritakan. Bagi Kimberly, dari pada menceritakan yang tidak penting. Lebih baik menceritakan hal-hal yang bisa buat kita semua sakit perut!" seru Aryan.


"Ditambah lagi Kimberly tidak ingin semua orang termasuk orang-orang terdekatnya mengetahui sisi lemahnya. Kimberly tidak ingin membuat semua orang bersedih," sahut Triny.


Mendengar ucapan dari Aryan dan Triny membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine akhirnya paham alasan Kimberly merahasiakan tentang alerginya itu.


"Apa yang akan terjadi jika Kimberly tak sengaja memakan salah satunya atau langsung keduanya?" tanya Rere.


"Jika Kimberly memakan salah satunya, maka akan terjadi kram di perut Kimberly selama dua hari. Kimberly juga akan mengalami demam selama dua hari itu," jawab Billy.


"Lalu apa yang terjadi jika nggak sengaja dikonsumsi secara bersamaan?" tanya Sinthia.


"Jika keduanya dikonsumsi sekaligus, maka akan berakibat fatal terhadap tubuh Kimberly. Kimberly akan mengalami pusing, sesak dan juga sulit bernafas hingga berakhir dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Proses penyembuhannya juga sangat lama. Sekitar dua minggu." kali ini Risma yang menjawabnya.


Mendengar penjelasan sekaligus jawaban dari Billy dan Risma tentang alergi Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine benar-benar terkejut. Separah itukah alergi yang diderita oleh Kimberly. Itulah yang dipikirkan oleh keempat sahabatnya Kimberly.


"Apa kalian udah hubungi kedua orang tua Kimberly dan memberitahu kondisi Kimberly?"


Seketika Aryan, Billy, Triny dan Risma membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan dari Andhika. Mereka belum mengabari kedua orang tua Kimberly yang tak lain adalah Paman dan Bibinya sama sekali.


"Kami lupa!" Billy, Aryan, Triny dan Risma menjawab bersamaan.


"Ya, sudah! Hubungi mereka sekarang!" sahut Henry.


Setelah itu, Billy pun langsung menghubungi Paman dan Bibinya lalu memberitahu kondisi adik sepupunya itu.


Billy memutuskan menghubungi Pamannya karena Pamannya itu dalam keadaan apapun masih berusaha untuk bersikap tenang. Beda dengan Bibinya. Bibinya itu akan langsung panik setiap menerima atau mendapatkan kabar buruk.


***


Fathir saat ini berada di ruang kerjanya. Dirinya tidak sendirian, melainkan bersama kedua adik iparnya yaitu Rafassya dan Nirvan.


Rafassya dan Nirvan datang ke perusahaan milik Fathir untuk mendiskusikan tentang proyek kerjasama perusahaan NR'Van CORP, RAF'Sya GRUP dan FTR'CORP dengan empat perusahaan dari luar negeri.


Ketika Fathir sedang mengobrol bersama Rafassya dan Nirvan membahas kerjasama mereka, tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Fathir langsung melihat kearah layar ponselnya yang kebetulan ada di atas meja di sampingnya. Terlihat 'Billy' di layar ponselnya.


Fathir tersenyum lalu menjawab panggilan dari keponakannya itu.


"Hallo, Billy."


"Dad."


Fathir seketika terkejut ketika mendengar nada suara dari keponakannya.


"Billy, ada apa? Kenapa dengan suaramu?"


Rafassya dan Nirvan seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Fathir. Keduanya menatap wajah Fathir sang kakak ipar yang terlihat khawatir.


"Dad, Kim!"


"Kenapa sayang? Kenapa dengan Kimberly? Kenapa dengan adik sepupu kamu?"


Fathir benar-benar khawatir saat ini. Pertama, Fathir khawatir ketika mendengar suara Billy yang tak biasanya. Kedua, keponakannya itu menyebut nama putrinya.


"Billy, jawab Daddy. Kenapa dengan Kimberly? Kamu dimana?"


"Aku di rumah sakit, Dad! Kimberly... Kimberly masuk rumah sakit."


"Apa?!"


Fathir seketika langsung berdiri ketika mendengar perkataan dari putranya.


"Apa yang terjadi, sayang? Kenapa adik sepupu kamu bisa masuk rumah sakit?"


Mendengar ucapan dari Fathir membuat Rafassya dan Nirvan terkejut.


"Kak Fathir, ada apa?" tanya Rafassya.


"Nanyanya nanti aja! Sekarang Daddy kesini, ke Harmony Hospital. Aku takut, Dad!"


Mendengar nada lirih dan suara bergetar keponakannya membuat Fathir menjadi tidak tega.


"Baiklah, sayang. Daddy akan segera kesana. Kamu tenang, oke! Kimberly pasti akan baik-baik saja. Kamu bersama siapa disana?"


"Aku bersama sahabat-sahabat aku, Triny, Aryan, Risma, keempat sahabatnya Kimberly. Buruan kemari, Dad!"


"Baik, sayang!"


Setelah itu, baik Bolly maupun Fathir sama-sama mematikan panggilannya.


"Ada apa kak Fathir? Kenapa dengan Kimberly?" tanya Nirvan.


"Aku tidak tahu. Billy belum memberitahu apa-apa padaku. Dia saat ini tengah ketakutan," jawab Fathir.


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" seru Rafassya.


"Aku akan menghubungi Nashita," sahut Fathir.


"Aku akan menghubungi Helena," ucap Rafassya.


"Dan aku akan mencoba menghubungi keluarga Fidelyo," sela Nirvan.


Setelah mengatakan itu, baik Fathir maupun Rafassya dan Nirvan menghubungi orang-orang terdekatnya.