THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Video Call Dari Risma



Kimberly bersama keempat sahabatnya kini berada di kantin. Mereka saat ini tengah menikmati sarapan paginya bersama sebelum masuk ke kelas.


"Bagaimana kondisi kamu saat ini Santy?" tanya Kimberly sembari mengunyah makanannya.


"Udah nggak apa-apa. Perut aku sudah sudah membaik. Aku nggak merasakan sakit apapun lagi," jawab Santy.


"Ah, syukurlah. Aku senang dengarnya," ujar Kimberly.


Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba datang sang pengganggu. Bukan pengganggu yang akan buat keributan, melainkan Kimberly yang akan mengomel karena kebersamaannya dengan sahabat-sahabatnya diganggu.


"Hei, cantik!"


Lionel langsung menduduki pantatnya di samping Santy sang pujaannya. Begitu juga dengan Henry, Billy, Tommy dan Satya yang duduk di samping pacar-pacarnya.


Sementara yang lainnya memang sudah langsung duduk dengan pasangannya masing-masing.


Tommy menyeruput jus pokat milik Kimberly sehingga mendapatkan pelototan gratis dari sang pemilik jus.


"Itu jus punyaku. Kalau kamu mau. Pesan sana," ucap Kimberly lalu merebut jusnya dari hadapan Tommy kemudian menyeruput jusnya itu sampai habis.


Mendengar ucapan dan melihat tindakan Kimberly membuat Tommy serta yang lainnya melongo tak percaya. Setelah itu, mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kimberly.


"Kok pelit sama pacar sendiri," ucap Tommy sembari mencubit hidung mancung kekasihnya itu.


"Bukan pelit. Hanya saja nggak pantas jika laki-laki meminum minuman milik perempuan. Secara laki-laki itu harus modal jika ingin minum. Apalagi kalau sudah punya pacar. Seharusnya sebagai seorang laki-laki yang sudah memiliki pacar. Dia yang harus membelikan pacarnya makanan dan minuman. Bukan menyeruput minuman pacarnya," ucap Kimberly sembari menjahili Tommy.


"Hahahahahaha."


Seketika tawa para sahabatnya, keempat sahabatnya Kimberly, Aryan dan kelima sahabatnya, Triny dan keempat sahabatnya pecah ketika mendengar ucapan seenaknya dari Kimberly.


Tommy seketika membelalakkan matanya tak percaya ketika mendengar ucapan dari kekasihnya itu. Tatapan matanya menatap kearah Kimberly dengan wajah syoknya. Sedangkan Kimberly melirik sekilas ke samping, langsung setelah itu kembali menatap sarapannya.


"Nggak usah ngeliatin aku kayak gitu. Jelek tahu. Aku nggak mau punya pacar jelek. Semua orang sudah mengetahui bahwa pacar dari seorang Kimberly Aldama adalah pemuda yang sangat tampan. Apa jadinya jika mereka tahu kalau aku punya pacar jelek. Jeleknya pun tiba-tiba."


"Hahahahahaha."


Mereka semua kembali tertawa ketika mendengar ucapan kedua Kimberly yang ditujukan untuk Tommy. Sementara Tommy seketika merubah mimik wajahnya.


"Sekarang kamu mau makan apa, hum?" tanya Tommy lembut.


Mendengar pertanyaan dari Tommy membuat Kimberly langsung melihat kearah Tommy yang saat ini menatap dirinya.


"Pesan sesuka kamu. Aku akan bayar semuanya," ucap Tommy tulus.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. "Benarkah aku boleh pesan apa saja?"


"Hm!" Tommy berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


"Aku pesannya buat semuanya, boleh?" tanya Kimberly.


"Tentu. Kamu mau pesan untuk bawa pulang juga boleh," jawab Tommy.


"Aish! Nggak sampai bawa pulang juga. Bagaimana pun pelayan di rumah pasti masaklah buat aku, kakak Enda, kakak Iyan. Sementara yang nginap di rumah bodoh amat. Emangnya aku pikirin."


Mendengar ucapan seenaknya dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan mendengus. Ketiga memberikan tatapan tajamnya kearah Kimberly. Sedangkan Kimberly bersikap acuh dan cuek ketika mendapatkan tatapan tajam dari ketiga sepupunya.


Disaat mereka semua sedang bersama-sama mengobrol dan bersenda gurau, tiba-tiba ponsel milik Triny berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.


Triny langsung mengambil ponselnya yang ada di saku Almamaternya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Triny melihat nama 'Risma' di layar ponselnya itu.


Risma melakukan panggilan video call sehingga mereka semua bisa ikut nimbrung dan berbicara dengan Risma.


"Woi, kecebong busuk!"


Kimberly langsung menyuarakan isi hatinya ketika melihat wajah Risma di layar ponselnya milik Triny.


Mendengar ucapan kejam dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala. Namun tidak dengan Risma. Seketika Risma langsung mengeluarkan kata-kata indahnya.


"Jangan memancing keributan anak kelinci tengil, bodoh, kampret, kudisan, cengeng!" teriak Risma.


Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar kata-kata manis dari Risma. Sebagai balasannya, Kimberly seketika mengacungkan jari tengahnya tepat di hadapan layar.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly seketika membuat Risma berteriak sembari memanggil nama seseorang.


"Kakak Jason! Adik perempuan kakak ini tadi mengacungkan jari tengahnya kepadaku!" teriak Risma.


Mendengar teriakkan serta perkataan dari Risma seketika membuat Kimberly membelalakkan matanya. Dan detik kemudian, Kimberly serta yang lainnya mendengar suara seseorang di seberang telepon.


"Kimberly Aldama!"


Dan muncullah wajah seseorang yang memanggil nama lengkap Kimberly di layar ponselnya Triny.


Mendengar ucapan serta rayuan, ditambah lagi wajah imut adik perempuannya itu membuat Jason seketika luluh dan tidak jadi memarahi adiknya itu.


Marahnya Jason bukan marah dengan kata-kata kasar atau membentak adiknya. Melainkan kata-kata bijak dan lembut kepada adiknya.


Walaupun seperti itu, Kimberly tetap takut jika kakaknya itu sudah marah sehingga membuat kakaknya itu memberikan teguran padanya.


"Bagaimana kabar kamu sayang?"


"Aku baik kak. Begitu juga dengan kak Enda dan kak Iyan. Kakak Jason sama kakak Uggy bagaimana?"


"Sama. Kita baik-baik saja disini."


"Kakak kapan pulang. Jangan lama-lama di kota Berlin. Aku kangen kakak. Mommy sama Daddy juga belum pulang."


"Iya, sayang. Selesai menyelesaikan masalah perusahaan disini. Kakak dan kakak Uggy akan segera pulang."


"Janji."


"Kakak janji."


"Ya, sudah! Sekarang mana adik kesayangan kakak itu. Suruh dia ngomong sama aku."


"Cemburu ya."


"Nggak."


Jason tersenyum mendengar jawaban dan wajah manyun Kimberly. Mereka tahu bagaimana besarnya rasa sayang Kimberly kepada Jason dan ketiga kakak laki-lakinya yang lain.


"Ya, sudah! Ini lanjutkan peperangan kalian. Kakak nggak ikut-ikutan."


Setelah itu, Jason memberikan ponsel tersebut kepada Risma. Dan Risma pun kembali berbicara dengan Kimberly, Triny dan yang lainnya.


"Woi, kecebong busuk! Lama banget lo di Berlin? Ngapain lo disana!" teriak Kimberly.


Risma seketika mendengus ketika mendengar ucapan seenaknya dari Kimberly. Dalam hatinya berkata. "Kalau gue ada disana. Udah gue ulek-ulek tuh mulut."


"Kenapa tuh mulut? Lagi nyumpahi gue ya?"


Ketika Risma mau menjawab sekaligus menyerang perkataan dari sepupu terlaknatnya itu. Kimberly sudah terlebih dulu menyerangnya.


"Lo jangan seenaknya datang dan pergi sesuka hati lo!"


"Hahahahahaha."


Mereka semua tertawa ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Perkataan Kimberly seperti sebuah lirik lagu di era 80 an.


"Yak! Kenapa kalian tertawa!" teriak Kimberly dengan memberikan tatapan tajamnya kepada semua yang ada di hadapannya dan di sampingnya.


Detik kemudian, mereka semua mengatub bibirnya masing-masing ketika melihat tatapan horor dari Kimberly.


"Lo Risma! Datang ke kota Hamburg seenaknya lo aja. Bahkan lo tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba lo udah nongol aja di sekolah sebagai murid baru. Belum ada tiga bulan lo sekolah disini. Seenaknya aja lo kabur ke Berlin. Lo pikir sekolah ini punya kakek moyang lo, hah?!" teriak Kimberly melengking.


Mendengar teriakkan kencang dari Kimberly membuat mereka semua dengan kompak menutup telinganya masing-masing. Mereka tidak ingin pendengarannya rusak akibat teriakan melengking dari Kimberly.


Lebay?


"Mana ada kakek moyang, bodoh! Yang ada itu nenek moyang," ralat Risma dengan kata-kata indahnya.


"Terserah gue. Mulut-mulut gue. Mau gue nyebut bapak moyang, Paman moyang, bibi moyang dan lain sebagainya. Lo mau apa? Mau ribut lo sama gue. Kalau iya, balik lo ke Hamburg sekarang! Gue layani dengan senang hati."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Kimberly membuat Risma seketika membelalakkan matanya. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly akan mengatakan itu.


Sementara yang lainnya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan Risma. Yang lebih parahnya Kimberly.


"Lo tuh udah kayak jelangkung versi modern. Datang sesuka hati lo ke Hamburg. Dan pergi seenaknya lo ke Berlin. Dan nggak balik-balik sampai sekarang! Jangan-jangan...."


"Jangan-jangan apa, hah?!" teriak Risma dengan tatapan melototnya.


"Lo yang udah bujukin kakak Jason dan kakak Uggy untuk pergi ke Berlin. Lo mau gantiin posisi gue sebagai adik kesayangan mereka, iyakan?" Kimberly menatap horor Risma.


"Asal nyerocos aja tuh mulut. Kalau ngomong tuh pake otak. Bukan pake otot. Tuh keliatan urat leher lo pada keluar."


Ketika Kimberly ingin membalas perkataan dari Risma. Risma sudah terlebih dulu memotongnya.


"Stop! Selesai sampai disini. Gue mau ngomong sama yang lainnya! Capek gue ngomong sama lo. Nggak akan kelar-kelar."


Mendengar ucapan dari Risma membuat Kimberly seketika membelalakkan matanya tak percaya. Sementara yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah syok Kimberly. Termasuk Risma. Risma tersenyum di dalam hatinya.