THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kedatangan Seseorang



Bruummm..


Bruummm..


Terdengar bunyi deru motor sport memasuki perkarangan sekolah. Para murid-murid, baik murid-murid laki-laki maupun murid-murid perempuan mengalihkan pandangannya dari yang tadinya sibuk dengan dunia sendiri kini melihat kearah 11 motor sport yang memasuki perkarangan sekolah.


Para murid-murid menatap takjub satu motor sport yang baru pertama kali mereka lihat. Mereka semua penasaran siapa si pengendara motor sport tersebut, sedangkan untuk sepuluh motor sport lainnya mereka sudah tahu siapa pengendara tersebut.


Diantara murid-murid yang melihat kearah 11 motor tersebut, keempat sahabatnya Kimberly yaitu Santy, Rere, Sinthia dan Catherine datang bersama dengan Triny, Aryan dan sahabat-sahabatnya.


"Eh, itu siapa?" tanya Rere menunjuk kearah motor sport yang baru pertama kali mereka lihat.


"Mana kita tahu. Kita kan sama-sama lihat tuh motor," jawab Santy dengan tatapan matanya menatap kearah sebelah motor tersebut.


Mendengar jawaban dari Santy membuat Rere langsung melihat kearah Santy. Setelah itu, Rere mendengus dan mengumpat kesal.


Sementara Sinthia, Catherine, Triny, Aryan dan sahabat-sahabatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Setelah memarkirkan motornya. Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya langsung membuka helmnya dan meletakkan helm tersebut diatas motor. Begitu juga dengan Kimberly.


Seketika semua murid heboh ketika melihat dan mengetahui sang pemilik motor yang baru pertama kali mereka lihat.


"Eh, itu Kimberly!"


"Kimberly!"


Teriak heboh para murid-murid. Termasuk keempat sahabatnya Kimberly dan sahabat-sahabatnya Triny dan Aryan. Sementara Triny dan Aryan menatap Kimberly dengan tersenyum.


"Kimberly bisa bawa motor juga?" tanya Dania.


"Bisalah," jawab Triny.


"Sejak kapan?" tanya Danela.


"Sudah lama. Sejak duduk SMP," jawab Aryan.


"Kok kita nggak pernah lihat Kimberly bawa motor ke sekolah?" tanya Sinthia.


"Nanti kalian akan tahu ceritanya," ucap Triny.


"Biar nanti Kimberly yang cerita sama kalian," sela Aryan.


"Eemm.. baiklah!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


Setelah itu, mereka pun menghampiri Kimberly serta yang lainnya.


"Pacar aku cantik sekali hari ini," ucap Tommy sembari mengusap lembut pipi putih Kimberly. "Makin sayang deh. Apalagi jago bawa motor," ucap Tommy kemudian mencium pipi Kimberly.


"Aish! Tommy apaan sih. Malu tahu," ucap Kimberly yang seketika wajahnya berubah merah.


Mendengar ucapan dari Kimberly apalagi ketika melihat wajah merona Kimberly membuat Tommy tersenyum. Begitu juga dengan Billy, Andhika serta yang lainnya.


"Ya, sudah! Sekarang kamu pergilah ke ruang ganti. Apa kamu akan pakai celana panjang itu ketika masuk ke kelas nanti? Ntar kena omelan sama guru killer lagi," ucap Billy.


"Udah tinggalin aja tuh tuan bucin itu. Tidak usah dipedulikan untuk saat ini," ucap Andhika.


Kimberly tersenyum ketika mendengar ucapan dari Andhika. Sementara Tommy mendengus kesal.


"Ya, udah. Aku ke ruang ganti dulu."


Setelah itu, Kimberly pun pergi meninggalkan Tommy dan yang lainnya untuk menuju ruang ganti.


Di pertengahan jalan Kimberly berpapasan dengan keempat sahabatnya yang memang ingin menghampiri dirinya.


***


[KEDIAMAN MANDOVA]


Saat ini Ditmar ada di dalam kamarnya. Dirinya tampak bahagia setelah sepuluh menit yang lalu berbicara dengan Ramos di telepon. Bahkan saat ini Ditmar membayangkan sedang duduk di kursi kebanggaan milik Jason.


"Jason. Sebentar lagi Perusahaanmu yang ada Munich akan menjadi milikku. Kau telah merebut Perusahaan milikku. Jadi kali ini aku yang akan merebut Perusahaan milikmu," ucap Ditmar sembari tersenyum bahagia.


Ditmar mengambil ponselnya, lalu menghubungi musuhnya itu. Dan tak butuh lama, panggilannya tersebut langsung dijawab oleh Jason.


"Mau apa lagi?" Jason langsung keintinya.


Karena Jason memang sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ditmar.


"Hallo, Jason. Lama tidak mendengar kabarmu dan juga suaramu."


"Tidak perlu basa-basi. Katakan saja apa maumu brengsek!." Walau nada bicaranya lembut, namun ucapannya terdengar kasar.


"Jaga ucapanmu, Jason!" teriak Ditmar.


"Jika kau tidak ingin mendengar makian dan hinaan dariku. Jangan pernah menghubungiku atau menggangguku. Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, buruan katakan aku tidak punya waktu untuk melayanimu."


"Hahaha. Sombong sekali dirimu, Jason."


"Katakan saja apa maumu. Atau aku akan tutup teleponnya."


"Baiklah jika memang kau sudah tidak sabaran ingin mendengar apa yang ingin aku sampaikan padamu. Begini Jason. Mulai sekarang kau harus bisa menerima kenyataan jika Perusahaan JSn'Ald milikmu yang ada di Munich sudah resmi menjadi milikku. Jadi aku meminta padamu lupakan Perusahaan itu." Ditmar mengatakannya dengan semangat dan percaya diri.


"Hahahaha. Apa kau yakin jika Perusahaanku itu sudah resmi menjadi milikmu? Aku rasa kau hanya berhalusinasi saja tuan Ditmar. Sekarang begini saja. Kau hubungi rekanmu yang bernama Ramos. Tanyakan padanya apa rencananya berhasil?"


Ditmar terkejut saat mendengar ucapan dari Jason.


"Sial. Dari mana Jason tahu jika aku bekerja sama dengan Ramos?


"Ditmar Mandova! Tunggu kejutan dariku."


Setelah mengatakan hal itu, Jason langsung mematikan panggilan tersebut.


"Brengsek, kau Jason!" teriak Ditmar.


Ditmar langsung menghubungi Ramos. Dirinya ingin bertanya langsung pada pria itu.


***


Setelah mengikuti pelajaran selama 2 jam setengah. Kini Kimberly, keempat sahabat-sahabatnya, Tommy, Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya sudah berada di kantin.


Mereka juga sudah memesan beberapa macam menu makanan dan menu minuman. Dan semuanya sudah tersaji diatas meja. Mereka semua pun begitu menikmati makanan dan minuman yang tersaji diatas meja itu.


"Kim," panggil Rere disela makannya.


"Hm!" Kimberly berdehem sebagai jawabannya sembari dirinya memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Boleh nanya nggak?" tanya Rere.


"Tinggal nanya doang," sahut Kimberly dengan kembali memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Melihat kelakuan Kimberly yang menjawab pertanyaan dari Rere sembari menikmati makanannya membuat mereka semua tersenyum gemas.


"Itu kamu sejak kapan bisa membawa motor?" tanya Rere.


"Sejak aku lahir aku sudah ditakdirkan langsung bisa bawa motor. Nggak kayak kamu yang hanya bisa bawa mobil doang," ucap Kimberly seenaknya sembari fokus menikmati makanannya.


Sedangkan Rere seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban tak memuaskan dari Kimberly. Rere seketika memberikan tatapan kesalnya kearah Kimberly.


"Enak banget kalau ngasih jawabannya ya," ucap Rere kesal.


"Namanya juga jawaban. Ya, begitulah!" Kimberly menjawab perkataan Rere.


"Terserah lo lah Kim! Mulut-mulut lo juga," pungkas Rere beribu kesal.


"Nah, itu lo tahu!" seru Kimberly sembari melirik kearah Rere yang tampak kesal saat ini.


"Hahahaha."


Mereka semua tertawa ketika melihat dan mendengar ucapan demi ucapan dari Rere dan Kimberly sehingga membuat Rere kesal terhadap Kimberly.


Ketika mereka sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang seorang siswi menghampiri meja mereka.


"Maaf, kak!"


Kimberly, Billy, Tommy, Andhika, Triny, Aryan serta yang lainnya langsung melihat kearah seorang siswi.


"Iya, ada apa?" tanya Triny.


"Itu di lapangan ada yang nyariin kak Kimberly."


Semuanya melihat kearah Kimberly yang saat ini tampak bingung.


"Aku?"


"Iya, kak."


"Siapa?"


"Tidak kenal kak. Dia baru sekali ini ke sekolah ini."


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Tommy.


Mendengar pertanyaan dari Tommy membuat mereka semua melihat kearah Tommy termasuk Kimberly.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku barusan? Kimberly itu adalah calon masa depanku. Jika orang yang ingin bertemu dengan Kimberly itu laki-laki, bagaimana? Jika laki-laki itu tiba-tiba bawa kabur Kimberly, bagaimana? Apa kalian mau tanggung jawab?"


Tak..


Andhika seketika memberikan jitakan gratis di kening putih Tommy sehingga membuat Tommy meringis.


"Terlalu nonton drama lo," ucap Andhika.


"Sialan lo," sahut Tommy sembari mengelus keningnya.


"Orangnya perempuan. Usianya udah seperti ibu-ibu," sahut siswi tersebut.


"Dimana dia sekarang?"


"Masih menunggu di lapangan. Dia duduk di sebuah di tempat duduk tembok."


"Bisa ajak kami kesana?" tanya Triny.


"Bisa kak."


Setelah itu, Kimberly serta yang lainnya pun pergi meninggalkan kantin dan kebetulan makanan dan minuman mereka sudah habis. Hanya tersisa sedikit di piring masing-masing.