
Asena, Cherry dan keenam sahabat-sahabatnya saat ini berada di kelasnya. Sampai detik ini, baik Asena, Cherry maupun keenam sahabatnya masih merasakan ketakutan jika kelakuan mereka diketahui oleh Aryan, Billy, Tommy dan para sahabatnya
Ketakutan mereka semakin bertambah ketika mereka menemui si anak Ibu kantin. Mereka menemui si anak Ibu kantin bertujuan untuk meminta bahkan mengancam si anak Ibu kantin itu untuk tidak buka mulut soal perbuatannya terhadap Kimberly.
Namun siapa disangka. Ternyata si anak Ibu kantin tidak takut akan perkataan dan ancaman dari Asena, Cherry dan keenam sahabatnya. Justru si anak Ibu kantin balik mengancamnya dengan mengatakan bahwa dialah yang telah menyuruhnya. Bahkan si anak Ibu kantin itu memperlihatkan sebuah bukti kepada Asena, Cherry dan keenam sahabatnya.
Tanpa Asena dan Cherry sadari bahwa bukti itu telah diberikan kepada Prisca ketika Prisca datang ke kantin untuk menanyakan masalah makanan dan minuman Kimberly.
"Bagaimana ini? Si anak Ibu kantin itu memiliki bukti bahwa kita datang menemuinya dan memberikan udang dan strawberry itu kepadanya?" tanya Caria.
"Gue nggak nyangka aja jika si anak culun itu bisa memiliki bukti itu. Dia dapat dari mana? Dan kapan dia merekamnya?" tanya Elnara.
"Nggak nyangka gue. Gue pikir dia hanya gadis biasa. Wajahnya saja yang polos, tapi otaknya tak sepolos wajahnya," ucap Dilara.
"Kalian tenang Sena, Cherry! Selama si anak ibu kantin itu diam dan tidak melakukan apa-apa. Kalian nggak usah bertingkah seolah-olah telah terjadi sesuatu. Bersikap biasa saja," ucap Tsamira.
"Benar tuh kata Tsamira. Kalian bersikap seperti biasa saja. Jangan perlihatkan ketakutan kalian. Kita bersikap seperti tidak ada yang terjadi," sela Jihan.
Mendengar ucapan dari Tsamira dan Jihan membuat Asena dan Cherry menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu.
Ketika Asena, Cherry dan keenam sahabatnya tengah memikirkan masalah yang telah diperbuat, tiba-tiba ponsel milik Asena dan Cherry berbunyi, menandakan sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
Ting..
Ting..
Asena dan Cherry langsung mengambil ponselnya dan melihat notifikasi tersebut. Setelah Asena dan Cherry membukanya, kemudian Asena dan Cherry pun langsung membaca pesan itu.
Seketika Asena dan Cherry terkejut.
(Isi Pesan untuk Asena dan Cherry sama)
TO : Cherry/Asena
Aku tahu apa yang sudah kau lakukan, saudari Asena/saudari Cherry! Kau sudah membuat salah satu teman sekolahmu terluka.
Setelah membaca pesan itu, tersirat ketakutan di dalam diri Asena dan Cherry. Mereka tidak menyangka jika perbuatannya telah diketahui oleh orang lain. Tapi mereka tidak tahu siapa orang itu.
Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira yang melihat ekspresi wajah tak mengenakkan dari Asena dan Cherry langsung merampas ponsel milik Asena dan Cherry. Mereka penasaran apa isi pesan itu.
Deg..
Sama halnya dengan Asena dan Cherry. Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira juga terkejut ketika membaca pesan yang ada di ponsel milik Asena dan Cherry. Mereka penasaran siapa orang yang mengirim pesan ini.
***
Kimberly sudah berada di rumahnya sekarang. Saat ini Kimberly tengah berada di ruang tengah bersama semua anggota keluarganya. Baik itu dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
Semuanya berkumpul di ruang tengah. Mereka semua tampak bahagia karena kesayangannya telah sembuh, walau masih harus terus dipantau.
Di ruang tengah itu juga ada Aryan, Billy, Triny dan Risma. Mereka meminta kepada kedua orang tua mereka masing-masing untuk tidak masuk sekolah. Alasannya adalah mereka ingin bersama dengan Kimberly. Tiga hari ini mereka disibukkan dengan tugas-tugas sekolah sehingga tidak ada waktu untuk Kimberly.
Fathir dan Nashita, Clarita dan Ammar, Rafassya dan Helena, Nirvan dan Liana dan anggota keluarga lainnya yang melihat wajah memohon keponakannya/putranya menjadi tidak tega. Dan pada akhirnya, Fathir langsung menghubungi kepala sekolah dan meminta izin langsung kepada kepala sekolah bahwa keponakan-keponakannya tidak bisa hadir di sekolah. Begitu juga untuk kekasih dari putrinya dan para sahabat-sahabat putrinya dan keponakan-keponakannya.
"Bunda senang kamu sudah pulang," ucap Clarita lalu mengecup pipi putih keponakan manisnya itu.
"Mami juga," sela Helena yang juga memberikan kecupan di pipi sebelahnya.
Sementara Kimberly hanya memperlihatkan senyuman manisnya ketika mendengar perkataan bibinya dan mendapatkan kecupan di kedua pipinya.
Mereka yang melihat senyuman manis Kimberly merasakan kebahagiaan.
"Aku punya tiga Bibi. Tapi aku hanya mendapatkan ciuman dari dua bibi saja. Sementara yang bibi satu lagi nggak mau memberikan ciuman untukku."
Mendengar ucapan dari Kimberly dan ditambah dengan bibir yang sudah panjang karena cemberut tersenyum gemas. Mereka semua tahu Bibi yang dimaksud oleh Kimberly.
Sementara Liana yang merasa disindir oleh Kimberly hanya bisa tersenyum. Dia sebenarnya sengaja untuk tidak memberikan kecupan kepada keponakannya itu karena dia ingin tahu bagaimana reaksi dari keponakannya itu terhadap dirinya.
Liana langsung berdiri dan berpindah duduk di samping keponakannya itu. Dan setelah itu, Liana langsung memberikan dua kecupan di kedua pipinya.
Seketika kedua mata Kimberly membulat sempurna ketika mendapatkan dua ciuman sekaligus dari Liana. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan dua ciuman dari bibinya itu.
"Udahkan?" tanya Liana yang melihat wajah terkejut sekaligus bahagia keponakannya.
Sementara Fathir, Nashita dan anggota keluarga lainnya tersenyum melihat wajah bahagia dan gemas Kimberly.
Kimberly melihat kearah sang kakak sepupunya yaitu Billy. Dia ingin menanyakan masalah yang menimpanya ketika di sekolah.
"Billy," panggil Kimberly.
"Ada apa, hum?" tanya Billy.
"Apa Asena dan Cherry pelakunya?" tanya Kimberly langsung.
"Maksudnya?" tanya Billy yang pura-pura tidak mengetahui maksud pertanyaan dari adik sepupunya itu.
Billy melakukan itu hanya semata-mata agar Kimberly tidak memikirkan masalah tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya. Biarkan dia yang menyelesaikannya. Kimberly tidak perlu masuk ke dalamnya. Dia tidak ingin Kimberly kembali terluka.
"Jangan pura-pura tidak tahu saudara Billy Ravindra!" Kimberly berucap dengan nada kesal sembari menyebut nama panjang Billy serta lengkap dengan marganya.
Mendengar perkataan dan mendengar namanya disebut lengkap dengan marganya membuat Billy menatap tak percaya kearah adik sepupunya itu.
Sementara Fathir, Nashita dan semua anggota keluarganya tersenyum gemas melihat wajah syok Billy.
"Sudahlah, sayang! Katakan saja kepada adik sepupu kamu itu," ucap Ammar sembari tangannya mengusap lembut kepala belakang putranya.
"Iya. Memang Asena dan Cherry pelakunya," jawab Billy pada akhirnya.
"Cih! Dasar menjijikkan. Aku sudah mati-matian menahan semua. Bahkan menghindari dua racun itu. Tapi dua wanita sialan itu dengan beraninya memasukkan dua racun tersebut ke dalam makanan dan minumanku. Apa dia sudah bosan hidup?!" ucap Kimberly dengan wajah marahnya.
Mendengar ucapan dari Kimberly membuat mereka semua mengerti. Mereka semua tahu bagaimana perjuangan Kimberly untuk melawan alerginya tersebut. Bahkan Kimberly rela menahan nafsunya ketika melihat keempat kakak laki-lakinya, saudara dan saudari sepupunya memakan makanan sejenis seafood dan buah strawberry di hadapannya.
Kimberly melakukan hal itu demi kesehatan tubuhnya. Dan yang terpenting untuk mencegah alerginya muncul.
Liana dan Helena yang kebetulan duduk di samping Kimberly langsung mengusap lembut bahunya. Keduanya memberikan ketenangan kepada keponakannya itu.
"Sabar sayang!"
"Tuh kan! Itulah alasan kenapa aku nggak mau ngasih tahu kamu. Kamu tuh orangnya emosional," sindir Billy.
"Yeey! Memangnya kamu nggak?" ejek Kimberly sembari tersenyum.
Mendengar ucapan disertai ejekan dan sindiran dari sepupunya membuat Billy mendengus kesal. Dia menatap tajam adik sepupunya itu.
Sedangkan Kimberly justru makin memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Billy.
Bagaimana dengan anggota keluarganya? Semua anggota keluarganya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Billy dan Kimberly yang beradu argumen.
"Awas aja kalian berdua. Kalian sudah membuat aku masuk rumah sakit. Aku akan buat perhitungan dengan kalian berdua. Jangan kalian pikir, kalian akan lolos begitu saja. Nggak akan! Sekali pun kalian sudah mendapatkan hukuman dari Aryan, Billy dan Tommy. Itu urusan mereka. Sementara kalian masih punya urusan dengan gue." Kimberly berucap di dalam hatinya.
Kimberly akan benar-benar melakukan hal itu kepada Asena dan Cherry ketika dia sudah masuk sekolah lagi. Dirinya tidak akan membiarkan kedua gadis itu berkeliaran di sekolah setelah apa yang telah mereka lakukan padanya.
Melihat keterdiaman Kimberly membuat semua anggota keluarga menatap khawatir dirinya. Aryan dan Billy menatap lekat manik coklat Kimberly. Mereka meyakini bahwa Kimberly tengah memikirkan balas dendam terhadap Asena dan Cherry.
"Kim," panggil Aryan.
Seketika Kimberly tersadar lalu kemudian menatap kearah Aryan.
"Lo lagi memikirkan sesuatu kan?" tanya Aryan.
"Iya," jawab Kimberly langsung.
"Jangan bilang kalau lo merencanakan untuk membalas Asena dan Cherry?" tanya Billy.
"Memang iya! Kenapa?"
"Ayolah, Kim! Masalah ini biarkan aku, Aryan, Tommy dan yang lainnya menyelesaikannya. Kamu tetap fokus sama kesehatan kamu," ucap Billy.
"Bodo. Itu urusan kamu dan para antek-antek kamu. Silahkan lakukan apa yang ingin kalian lakukan terhadap dua wanita busuk itu. Disini gue yang korbannya. Gue hampir mati atas perbuatan mereka berdua. Apa yang gue alami. Itu juga yang harus mereka rasakan. Jadi sebanding, bukan?"
Setelah mengatakan itu, Kimberly beranjak dari duduknya. Kemudian kakinya melangkah pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Billy, Aryan dan semua anggota keluarganya hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Disatu sisi, mereka ingin melarang. Namun disisi lain, mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly barusan. Mereka semua saat ini benar-benar bingung.