
[Sweett Cafe]
Suasana di Sweett Cafe tampak ramai. Begitu banyak pengunjung yang datang untuk makan dan bersantai disana.
Ketika suasana cafe yang tadinya hening hanya terdengar beberapa pengunjung yang mengobrol dan para pelayan cafe yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing seketika mereka semua dikejutkan dengan suara seorang gadis yang berteriak memasuki cafe tersebut.
Gadis itu tidak sendirian, melainkan datang bersama 21 laki-laki. Sepuluh anak buahnya, satu laki-laki paruh baya dan sepuluh anak buah laki-laki paruh baya itu.
"Kalian para pelayan dan para pekerja di cafe ini. Dengarkan aku! Cafe ini sudah menjadi milikku!" teriak Vanny dengan lantangnya sembari menunjuk kearah para karyawan dan manager cafe.
Yah! Gadis yang datang dengan 21 laki-laki itu adalah Vanny kekasihnya Aryan. Vanny ingin merebut dan menjual cafe tersebut.
"Maaf nona. Anda jangan asal bicara. Cafe ini atas nama nona Kimberly dan tuan Aryan. Bagaimana bisa nona Vanny mengklaim cafe ini milik nona Vanny," ucap manager cafe itu.
"Jadi kau tidak mempercayaiku, hah?!" teriak Vanny.
"Maaf nona. Bukan tidak mempercayai anda nona. Kenyataannya memang seperti itu. Cafe ini dibangun oleh nona Kimberly dan tuan Aryan. Jadi cafe ini pemiliknya ada 2 orang. Kalau misalkan nona mengaku bahwa tuan Aryan telah memberikan cafe ini kepada nona. Pertama, saya tidak percaya. Dan kedua, tuan Aryan tidak akan mengkhianati saudarinya sendiri dengan memberikan cafe ini kepada nona karena tuan Aryan lebih memprioritaskan hubungan keluarga dari pada hubungan asmaranya."
"Kau tidak mempercayaiku ya. Baiklah! Aku akan buktikan bahwa cafe ini sudah menjadi milikku," ucap Vanny.
Setelah mengatakan itu, Vanny langsung membuka resleting tas yang sejak tadi dirinya pegang. Kemudian tangannya mengeluarkan sebuah map berwarna merah.
"Ini. Kau lihatlah sendiri!"
Vanny langsung melempar map ini tepat ke wajah manager cafe tersebut dan langsung ditangkap oleh sang manager.
Laki-laki yang berstatus manager cafe itu kemudian membuka lipatan map itu. Setelah itu, manager cafe itu membaca isi yang tertulis disana.
Selesai membaca isi dari map itu, manager cafe itu mengembalikan map itu kepada Vanny dengan cara yang sama yaitu melemparnya.
"Sekali lagi saya minta maaf nona. Saya tetap tidak percaya jika tuan Aryan sudah menyerahkan cafe ini kepada nona. Secara cafe ini juga milik nona Kimberly. Jika pun tuan Aryan sudah menyerahkan cafe ini untuk nona. Tapi secara hukum cafe ini belum resmi menjadi milik nona karena cafe ini masih milik nona Kimberly."
Mendengar ucapan demi ucapan dari manager cafe membuat Vanny menggeram marah. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika manager cafe yang diperkenankan oleh Aryan begitu tegas dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.
"Brengsek! Berani kau padaku!" bentak Vanny.
"Maaf nona. Bukan maksud saya untuk melawan. Tapi saya disini hanya menjalankan tugas dan melindungi cafe ini dari orang-orang jahat."
Vanny menatap kearah sepuluh anak buahnya. Dirinya memberikan kode kepada kesepuluh anak buahnya itu untuk memberikan pelajaran kepada manager cafe tersebut
"Kalian! Hajar laki-laki sialan itu!" perintah Vanny kepada sepuluh anak buahnya.
Kesepuluh anak buahnya Vanny langsung mendekati manager cafe itu hendak menghajar laki-laki tersebut.
Namun ketika dua diantaranya hendak melayangkan pukulan di perut manager cafe itu, terdengar suara seseorang memasuki cafe.
"Berani kalian menyentuhnya, maka ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini!"
Deg..
Seketika tubuh Vanny menegang ketika mendengar suara seseorang yang dia kenal.
"Aryan," ucap Vanny pelan.
Yah! Orang yang bersuara tersebut adalah Aryan. Aryan datang bersama Kimberly.
Aryan dan Kimberly melangkah mendekati para karyawannya dengan menatap tajam kearah Vanny dan orang-orangnya.
"Tuan, nona!" sapa manager cafe itu. Begitu juga dengan semua karyawan cafe.
"Ada apa?" tanya Kimberly.
"Begini nona. Nona Vanny ini mengklaim bahwa cafe ini adalah miliknya. Bahkan nona Vanny ini mengatakan bahwa tuan Aryan yang sudah memberikan cafe ini untuknya," jawab manager cafe itu.
Mendengar jawaban dari manager cafe itu membuat Aryan dan Kimberly terkejut. Mereka tidak menyangka jika Vanny nekat melakukan hal menjijikkan ini.
Aryan menatap kearah Vanny. "Aku tidak menyangka kalau kau ingin merebut cafe ini, hum? Sudah sejak kapan kau mengincar cafe ini, Vanny?"
"Aku tidak pernah mengincar cafe ini, Aryan! Tapi kau sendiri yang menjanjikannya kepadaku," sahut Vanny.
"Eeemm... Benarkah? Perasaanku aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu. Termasuk cafe ini."
"Jadi kau tidak mempercayaiku, Aryan?" tanya Vanny dengan menatap wajah Aryan.
"Bagaimana ya? Aku harus jujur apa bohong kepadamu?"
Aryan menatap tajam Vanny. "Kau mau aku jujur atau bohong, hum?"
Melihat tatapan mata dan mendengar nada bicara Aryan seketika membuat Vanny ketakutan.
Kimberly yang diam sejak tadi, namun matanya menatap tajam kearah Vanny dan beberapa orang yang dibawa oleh Vanny.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ada disini?" tanya Kimberly.
"Mereka orang-orangnya nona Vanny, nona!" jawab salah satu karyawan perempuan.
"Anda siapa?" tanya Kimberly kepada seorang laki-laki paruh baya.
"Saya adalah calon pembeli disini. Saya datang bersama nona Vanny untuk membeli cafe ini. Nona Vanny mengatakan bahwa cafe ini adalah miliknya dan dia ingin menjualnya," jawab laki-laki itu.
Mendengar jawaban dari laki-laki itu membuat Aryan dan Kimberly menatap Vanny dengan penuh amarah.
"Brengsek kau Vanny! Berani sekali kau melakukan hal itu. Kau pikir kau itu siapa, hah?!" teriak Aryan.
"Kenapa? Apa kau tidak suka aku melakukan hal itu? Bukannya aku berhak melakukannya. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa apa yang menjadi milikku juga menjadi milikmu," sahut Vanny dengan wajah menantangnya.
Mendengar perkataan dari Vanny seketika membuat Aryan tertawa keras.
"Hahahaha."
Aryan menatap jijik wajah Vanny. "Oh, jadi kau mengingat kata-kataku ya."
"Iya. Apa kau pikir aku akan melakukannya begitu saja," jawab Vanny.
"Sepertinya ada satu hal yang kau lupakan Vanny," ucap Aryan dengan wajah dinginnya.
Aryan menatap kearah Kimberly yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan matanya yang menatap kearah Vanny.
Kimberly melirik sekilas kearah Aryan lalu kembali menatap wajah Vanny.
"Memang benar apa yang kau katakan bahwa apa yang menjadi milikku juga menjadi milikmu. Begitu juga denganmu Vanny," ucap Kimberly dengan wajah dinginnya.
"Apa maksudmu, hah?!" bentak Vanny kearah Kimberly.
"Maksudku adalah milikku menjadi milikmu. Dan milikmu menjadi milikku. Kau ingin cafe ini, aku menginginkan nyawamu dan semua keluargamu," sahut Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Vanny terkejut dan juga syok. Namun untuk menghilangkan rasa takutnya, Vanny berusaha menunjukkan mimik wajah yang biasa saja. Bahkan dirinya menatap wajah Kimberly dengan tatapan menantang.
"Aku tidak takut akan ucapan busukmu itu. Kau pikir kau itu siapa. Kau bukan siapa-siapanya Aryan. Jadi jangan ikut campur!" bentak Vanny sembari mendorong bahu Kimberly.
"Kan memang itu tujuanmu mendekatiku dan menjadikan aku pacarmu. Kau tidak benar-benar mencintaiku. Tujuan utamamu sebenarnya adalah mengincar kekayaanku dan keluargaku. Dikarenakan rasa takutmu, maka kau merubah dengan merebut cafe ini dengan alibi ingin mengakhiri hubungan ini."
Mendengar perkataan dari Aryan membuat Vanny terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Aryan mengetahui akan ketakutannya.
Aryan dan Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah terkejut Vanny.
"Kau gadis yang tak pantas untuk Aryan. Bahkan untuk laki-laki mana pun di dunia ini. Kau gadis berhati busuk dan penuh racun. Kau mendekati semua laki-laki yang kaya raya guna untuk menguasai kekayaannya. Ada sekitar 10 laki-laki yang kau pacari, termasuk Aryan!"
Mendengar perkataan dari Kimberly seketika Vanny menatap marah kearah Kimberly.
"Jangan asal bicara kau. Apa buktinya jika aku seperti itu, hah?!" teriak Vanny.
Kimberly tersenyum ketika mendengar ucapan dan bentakan dari Vanny.
"Apa kau sedang menantangku barusan, hum?"
"Iya. Kenapa?!"
Ketika Kimberly ingin menjawab perkataan dari Vanny sembari menunjukkan sesuatu kepada Vanny. Vanny sudah terlebih dulu bertindak dengan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang Kimberly.
"Kalian, hajar perempuan sialan ini!"
Tanpa diperintah dua kali. Kesepuluh laki-laki itu langsung menyerang Kimberly.
Tanpa diketahui oleh Aryan. Sosok Kimmy muncul dan mengambil alih tubuh Kimberly.
Sosok Kimmy langsung menyerang kesepuluh anak buahnya Vanny. Sementara Aryan tidak bisa berbuat apa-apa karena Vanny sudah menahannya dengan sebuah pisau yang mengarah kearah dirinya.
"Brengsek kau Vanny!"
"Hahahaha!" Vanny tertawa keras ketika mendengar ucapan indah dari Aryan.
"Kenapa sayang? Apa kau takut sekarang, hum?"
"Cuih!" Aryan membuang ludahnya ketika mendengar ucapan dari Vanny. "Tidak ada istilah takut dalam kamus seorang Aryan Fidelyo," jawab Aryan.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Bruk..
Tiga anak buahnya Vanny tak sadarkan diri di lantai dengan kondisi yang mengerikan
Para karyawan cafe dan para pengunjung menatap negeri Kimberly yang menghajar sepuluh laki-laki sendirian. Ada dari mereka yang menutup wajahnya karena takut.
Bugh.. Bugh.. Bugh..
Duagh.. Duagh..
Duagh..
Bruk.. Bruk..
Dengan dua kali pukulan keras dan tiga tendangan kuat secara bersamaan. Kedelapan laki-laki itu langsung tumbang dengan tubuh membentur meja, dinding dan kursi hingga berakhir tak sadarkan diri.
"Game Over!" Kimberly berucap dengan menatap tajam kearah kesepuluh laki-laki yang sudah tak bergerak sama sekali di lantai.
Setelah selesai melakukan tugasnya, sosok Kimmy melihat kearah Vanny. Dan dapat dilihat oleh sosok Kimmy bahwa Vanny tengah mengarahkan pisau kearah Aryan.
Sosok Kimmy melangkah mendekati Vanny. Setelah tiba di belakang Vanny, sosok Kimmy langsung menarik kuat rambut Vanny sehingga membuat Vanny berteriak kesakitan.
Srek..
"Aakkhh!"
Aryan langsung merebut pisau yang ada di tangan Vanny. Setelah itu, Aryan melihat kearah Kimberly. Dan seketika Aryan terkejut.
"Kim-kimmy," ucap Aryan.
"Kau sudah salah mencari lawan, nona! Kau datang kesini untuk merebut cafe ini. Tidak segampang itu kau merebut cafe ini. Cafe ini milik Kimberly dan sepupunya Aryan. Hanya mereka pemilik cafe ini."
Srek..
Sosok Kimmy makin menarik kuat rambut Vanny sehingga membuat Vanny kembali berteriak kesakitan.
"Aakkhh!"
"Apa kau sudah bosan hidup, hum? Apa kau ingin mati hari ini? Jika kau ingin mati, maka aku bisa membantumu untuk pergi dari dunia ini!"
Mendengar pertanyaan dan demi pertanyaan dari Kimberly membuat semua orang yang ada di dalam cafe itu seketika merinding. Bahkan ada diantara mereka yang bisa melihat tatapan mata Kimberly yang berwarna merah.
Aryan yang mendengar perkataan dari Kimberly seketika berubah panik. Dirinya tidak ingin sosok Kimmy membunuh Vanny. Apalagi disaksikan oleh para karyawan dan para pengunjung.
Aryan menyentuh kepala belakang Kimberly dan mengusap-usapnya lembut.
"Kimmy, ini aku Aryan. Semuanya sudah selesai. Sisanya biarkan aku yang menyelesaikannya. Kasihan Kimberly," bujuk Aryan.
Dan detik kemudian, tubuh Kimberly terhuyung ke belakang dan Aryan pun langsung menahan tubuh Kimberly.
"Kim."
"Aryan."
"Apa yang terjadi?"
"Dia muncul."
Mendengar jawaban dari Aryan seketika Kimberly paham.
Aryan dan Kimberly menatap kearah Vanny yang terlihat kesakitan dan juga ketakutan.
"Sekarang pergilah dari sini. Mulai detik ini dan seterusnya kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Dan aku memaafkan kesalahanmu selama pacaran denganku."
"Tapi ingat! Jika kau kembali mengusikku atau bahkan mengusik keluargaku dan orang-orang terdekatku. Jangan salahkan aku jika aku berbuat sesuatu yang buruk padamu dan juga anggota keluargamu."
Aryan kemudian memanggil Dorris yang memang disuruh menunggu diluar untuk masuk ke dalam cafe.
"Dorris."
"Ya, bos!"
"Bawa mereka semua keluar dari cafe ini."
"Baik Bos!"
Setelah itu, Dorris dan beberapa anggotanya membawa paksa Vanny dan orang-orang yang datang bersama Vanny.