
Kimberly saat ini berada di paviliun belakang. Dirinya saat ini lagi asyik dengan dunianya dengan ditemani beberapa cemilan berjejer di hadapannya. Kimberly berada di paviliun miliknya itu sejak selesai sarapan pagi sampai sekarang.
Sementara untuk kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya masih berada di kerja masing-masing. Jika ayah dan keempat kakak laki-lakinya berada di perusahaan. Sedangkan untuk ibunya ada di toko perhiasan.
Nashita memiliki tiga usaha. Tiga usaha itu adalah tiga buah toko pakaian bermerek, tiga toko perhiasan dan tiga hotel terkenal di Jerman.
Sedangkan untuk para pelayan dan penjaga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Terlihat mereka yang berlalu lalang demi melakukan tugas-tugasnya.
^^^
Selang beberapa menit, terdengar suara beberapa orang memasuki ruang tengah. Orang-orang itu adalah Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Setelah tiba di ruang tengah, mereka semua dengan kompak menghempaskan tubuhnya di sofa untuk menghilangkan rasa lelah masing-masing.
"Tuan, nyonya, tuan muda sudah pulang." Luna seorang pelayan kepercayaan di kediaman Fathir Aldama sekaligus pelayan yang melayani Kimberly selama di rumah datang menghampiri para majikannya di ruang tengah.
"Bibi Luna," sapa Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.
"Mau saya buatkan minuman segar tuan, Nyonya, tuan muda?"
"Boleh Bibi!" seru mereka bersamaan.
"Baiklah. Saya akan buatkan yang spesial untuk tuan, Nyonya dan tuan muda."
Setelah mengatakan itu, Luna pun pergi meninggalkan ruang tengah. Namun baru tiga langkah. Langkah kaki bibi Luna terhenti karena panggilan dari Jason. Dan langsung Bibi Luna membalikkan badannya.
"Bibi Luna!"
"Ya, tuan muda Jason."
"Kimberly dimana?"
"Nona muda ada di belakang, tuan muda!"
"Sejak kapan Kimberly disana?" tanya Uggy.
"Sejak sarapan pagi sampai sekarang, tuan muda Uggy.
Mendengar jawaban dari Bibi Luna. Baik Jason, Uggy maupun Enda dan Riyan bersamaan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Ini sudah pukul 1 siang. Apa Kimberly sudah makan siang, Bi?" tanya Enda dengan menatap wajah Bibi Luna.
"Sudah tuan muda Enda. Bibi membawakan makan siang nona ke paviliun belakang. Bahkan nona meminta bibi untuk membawakan beberapa cemilan kesana."
Mendengar jawaban dari Bibi Luna membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan menghela nafas lega karena kesayangannya sudah makan siang.
"Oh iya, bibi! Apa Kimberly ada ngeluh bosan selama tidak ada kami di rumah? Secarakan dia nggak ada temannya. Bibi tahu sendirilah bagaimana Kimberly jika berada di rumah seharian," ucap dan tanya Riyan.
Bibi Luna tersenyum mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari tuan mudanya itu.
"Ngeluh sih ada tuan muda. Tapi tidak terlalu karena nona ingat kalau hari ini nona Rere, nona Santy, nona Sinthia dan nona Catherine akan datang. Begitu juga dengan nona Triny, tuan muda Billy, tuan muda Aryan dan para sahabat-sahabatnya."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Luna membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum.
Setelah itu, Bibi Luna pun pergi meninggalkan majikannya untuk menuju dapur untuk membuat minuman segar untuk majikannya.
Enda beranjak dari duduknya lalu melangkah kearah pintu samping. Tujuan Enda saat ini adalah ingin melihat adik perempuannya yang berada di Paviliun.
Melihat Enda yang berjalan menuju pintu samping membuat Jason, Uggy dan Riyan seketika langsung ikut berdiri. Dan kemudian mereka juga ikut menyusul Enda yang mereka yakini menuju Paviliun belakang.
Sementara Fathir dan Nashita masih di tempatnya dengan tatapan matanya menatap kepergian keempat putranya hanya tersenyum. Keduanya tahu kemana arah langkah kaki keempat putranya itu melangkah.
^^^
Kini Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah berada di depan pintu masuk Paviliun. Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam. Dan setiba di dalam mereka melihat kesayangannya tengah sibuk bermain game dengan menggunakan laptop pemberian Jason.
Kimberly memiliki empat laptop yang berbeda dengan kegunaan berbeda-beda juga. Laptop pemberian Jason khusus untuk bermain game. Hanya berisikan berbagai jenis game.
Laptop pemberian Uggy khusus untuk belajar di rumah salah satunya ketika mengirim tugas-tugas dan menerima soal-soal dari sekolah. Baik dari keempat sahabatnya maupun dari para guru.
Laptop pemberian Enda khusus untuk keperluannya di dunia bisnis dan hukum. Kimberly ingin menjadi wanita pebisnis seperti kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya. Dan juga Kimberly ingin menjadi pengacara hebat agar bisa membantu orang-orang terutama orang-orang yang tidak mampu.
Sementara Laptop pemberian dari Riyan khusus Kimberly gunakan untuk melacak keberadaan seseorang atau benda. Dengan kata lain Hacker. Kimberly menggunakan sekitar 15 akun samaran dengan data-data terkunci rapat. Tidak akan ada satu pun orang yang tahu dan tidak akan ada satu pun yang bisa melacak data-data dirinya sekali pun orang itu seorang Hacker terhebat di dunia.
"Yeeyyy! Aku menang!"
Mendengar suara teriakan kebahagiaan dari Kimberly membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum bahagia.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya berdiri diantara ruang tamu dan ruang tengah Paviliun. Mereka kesana hanya untuk sekedar melihat adik perempuannya. Mereka melakukan hal itu karena tahu akan sifat adik perempuannya jika berada di rumah seharian tanpa mereka dan kedua orang tuanya.
"Aku senang melihat Kimberly yang sekarang ini, kak!" seru Riyan.
"Kita juga Yan," jawab Jason, Uggy dan Enda bersamaan.
Mereka masih terus memperhatikan Kimberly yang berada di ruang tengah.
"Ach, bosan!" seru Kimberly sembari merentangkan kedua tangannya keatas.
Kimberly menurunkan kembali kedua tangannya lalu matanya menatap kearah dinding yang mana terlihat jam dinding menempel disana.
"Mereka kapan datangnya. Ini kan sudah pukul 1 siang," ucap Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung mengambil ponselnya. Setelah itu, Kimberly meredial Nomo Catherine.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang di seberang telepon.
"Hallo, ini siapa?"
Seketika mata Kimberly membulat sempurna ketika mendengar jawaban dari seberang telepon.
Kimberly melihat ke layar ponselnya dan tertulis nama 'Catherine' disana. Sementara lawan bicaranya justru tak mengenalnya. Wajah Kimberly saat ini benar-benar dalam mode bingung bercampur lucu.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan seketika tersenyum gemas melihat wajah bingung sekaligus lucu adik perempuannya itu.
Kimberly kembali meletakkan ponselnya di telinganya. Kimberly berusaha untuk terus berbicara dengan seseorang yang masih tersambung.
"Ini Catherine Carney kan?" tanya Kimberly.
"Bukan. Aku sahabat dari sikelinci imut yang bernama Kimberly Aldama."
Mendengar jawaban dari lawan bicaranya di seberang telepon membuat Kimberly membelalakkan matanya.
Sementara lawan bicaranya yang masih tersambung dengannya berusaha untuk tidak tertawa akan perkataannya barusan.
Dan detik kemudian....
"Catherine Carney, sialan! Apa lo bosan hidup, hah?!" teriak melengking Kimberly.
Sementara yang menjadi lawan bicaranya di telepon seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya sembari mengumpat kesal untuk Kimberly.
Sedangkan Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan dan teriakan Kimberly.
"Sialan lo Kim!"
Yang menjadi lawan bicara Kimberly di telepon adalah Catherine Carney sahabatnya Kimberly. Catherine memang sengaja menjahili Kimberly agar rasa bosan Kimberly bertambah. Dan disertai rasa kesal akan perkataannya tersebut.
"Dimana lo? Ini sudah pukul 1 siang. Mau coba-coba ingkar janji ya?"
"Awas kalau lo berani. Gue bakal buat lo nggak bisa dekat-dekatan dengan Billy lagi."
"Apaan sih lo. Ngancam mulu mainan lo. Nggak ada yang lain apa?"
"Terserah gue lah. Mulut-mulut gue. Kenapa situ yang ngatur?"
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Catherine hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Hah!"
Kimberly yang mendengar helaan nafas dari sahabatnya di seberang telepon seketika tersenyum bahagia.
Sama halnya dengan Catherine yang memang niat menjahili Kimberly lalu dibalas langsung oleh Kimberly.
"Dimana lo dan antek-antek lo yang lainnya?"
"Udah di jalan sekarang. Noh, di belakang mobil gue ada beberapa mobil berjejer ngikutin mobil kita. Tujuannyanke rumah lo sekarang! Paus!"
"Oke! Pauslah!"
Setelah mengatakan itu, baik Kimberly maupun Catherine sama-sama mematikan panggilannya.