
Masih suasana sekolah dan masih berada di kantin. Saat ini Kimberly tengah menatap intens kearah Risma sepupu jauhnya yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Ngapain lo disini. Dan sejak kapan lo jadi murid sekolah ini?" tanya Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly dan ditambah lagi dengan tatapan mata Kimberly yang intimidasi membuat Risma hanya bisa menghela nafasnya.
Sementara Billy, Aryan, Triny dan yang lainnya tersenyum melihat wajah pasrah dan mendengar helaan nafas Risma.
"Risma, lo dengar gue nggak!" teriak Kimberly seketika.
Dan sontak membuat semuanya langsung menutup telinganya masing-masing, termasuk Risma.
Plak..
Billy yang duduk di samping Kimberly seketika memukul pelan Mulut Kimberly. Dirinya benar-benar gemas akan kelakuan Kimberly yang tiba-tiba berteriak.
Kimberly langsung memberikan pelototan kepada Billy dengan bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan semua hunian kebun binatang untuk Billy.
Billy yang melihat tatapan mata dan melihat bibir Kimberly yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuknya hanya tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tersenyum gemas melihatnya.
Kimberly kembali menatap kearah Risma. Dirinya harus mendapatkan jawaban dari Risma tentang dirinya berada di sekolah ini.
"Tolong jelaskan sekarang juga saudari Risma Fidelyo! Lo masih bisa bicarakan? Lo nggak bisu kan? Dan gue yakin kalau lo udah cerita sama tiga manusia jelek ini!" Kimberly berbicara dengan tatapan matanya menatap penuh intimidasi kearah Risma sembari menghina ketiga saudara sepupunya.
"Hahahaha."
Semua tertawa ketika mendengar perkataan terakhir Kimberly yang mana perkataannya itu tertuju untuk Billy, Triny dan Aryan.
Sementara Billy, Aryan dan Triny menatap tajam kearah Kimberly. Di dalam hati mereka masing-masing mengeluarkan umpatan-umpatan untuk Kimberly.
"Gue sekolah disini. Dan mulai hari ini," sahut Risma sembari menyeruput jus pokatnya.
Kimberly seketika membelalakkan matanya tak percaya atas apa yang dirinya dengar.
"Lo kabur ya dari kota Berlin? Atau jangan-jangan....."
"Jangan-jangan apa?" tanya Risma dengan memberikan tatapan tajamnya kearah Kimberly.
"Eemm... Lo kabur ketika tante Indira mau jodohin lo sama laki-laki tua disana," sahut Kimberly.
Seketika Risma membelalak matanya ketika mendengar perkataan serta tuduhan dari Kimberly.
Sementara Billy, Tommy, Triny dan yang lainnya tertawa seketika mendengar perkataan dari Kimberly. Mereka semua tidak menyangka jika Kimberly akan berkata seperti itu.
"Lo tuh kebanyakan nonton sinetron, maka otak lo udah nggak bisa sinkron dengan mulut lo ketika mau mengatakan sesuatu." Risma berucap dengan menatap kesal Kimberly.
"Lagian Mami nggak seperti ibu-ibu pada umumnya. Mami gue itu perempuan penyayang pada anaknya. Mami nggak pernah memaksakan apa yang tidak disukai oleh anak-anaknya," ucap Risma.
Ketika mereka semua tengah tersenyum dan tertawa ketika mendengar perkataan kejam Kimberly dan melihat wajah kesal Risma, tiba-tiba ponsel milik Risma berbunyi menandakan panggilan masuk.
"Tuh, calon suami lo menghubungi lo! Cepatan angkat!" seru Kimberly.
"Sialan lo Kim! Ini Mami bukan calon suami gue. Dan gue nggak punya calon suami," jawab Risma kesal.
Kimberly seketika tersenyum mendengar jawaban dari Risma. Ditambah lagi melihat wajah kesal Risma.
"Udah! Buruan angkat noh! Jangan jadi anak durhaka lo dengan membuat tante Indira kelamaan nunggu lo. Jangan lupa loadspeaker panggilannya. Gue kangen sama tante Indira.
"Aish!"
"Hallo, Risma! Apa kamu sudah sampai di kota Hamburg? Kenapa kamu nggak hubungi Mami, hah?! Apa kamu mau jadi anak durhaka!"
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan disertai teriakan dari ibunya membuat Risma langsung menutup telinganya.
Sementara Kimberly, Billy, Aryan dan Triny tersenyum mendengar perkataan dan teriakan dari Indira. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Tuh calon suami kamu dari kemarin nyari kamu terus. Mami sampai kehabisan akal mau ngasih jawaban apa sama dia!"
Mendengar ucapan dari Indira membuat semua membelalakkan matanya. Terutama Kimberly.
Sementara Risma seketika menepuk jidatnya ketika mendengar perkataan ibunya yang seenaknya saja. Di dalam hatinya Risma berkata 'Begini amat punya ibu'.
Ketika Risma ingin menjawab perkataan dari ibunya itu. Kimberly sudah terlebih dulu bersuara.
"Tante Indira, jadi benar kalau Risma sudah punya calon suami di Berlin? Dan Risma kabur kesini karena tidak mau dijodohkan sama laki-laki tua itu?!"
Sontak Risma seketika menatap tak percaya kearah Kimberly ketika mendengar pertanyaan dari Kimberly.
Indira yang berada di seberang telepon seketika terdiam sejenak ketika mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Kimberly.
Beberapa detik kemudian, Indira tersenyum. Dirinya tahu maksud pertanyaan dari keponakan manisnya itu. Indira juga meyakini bahwa keponakannya itu pasti berpikir alasan kedatangan putrinya ke Hamburg adalah laki-laki tua itu.
Laki-laki tua yang dimaksud oleh Kimberly itu adalah laki-laki anak dari ketua RT. Laki-laki itu sudah berusia 30 tahun dan sampai detik ini belum menikah. Laki-laki itu menyukai Risma, tapi tidak memaksa kehendaknya terhadap Risma. Keduanya dekat sehingga para warga di kota Berlin kompak menjodohkan keduanya.
Baik keluarga dari laki-laki itu maupun keluarga Fidelyo, kedua keluarga tersebut sangat dihormati oleh warga disana terutama keluarga Fidelyo.
"Kimberly, itu kamu sayang?"
"Iya. Ini aku Kimberly, princess kesayangannya Mommy Nashita dan Daddy Fathir. Adik kesayangannya kakak Jason, kakak Uggy, kakak Enda dan kakak Iya."
Mendengar jawaban panjang dari Kimberly sembari menyebut nama kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya membuat mereka semua tersenyum gemas termasuk semua penghuni kantin. Mereka semua tidak menyangka jika Kimberly akan mengucapkan hal itu dengan mudahnya.
Bagaimana dengan Indira di seberang telepon? Sudah pasti Indira saat ini tengah tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar perkataan dari keponakannya itu.
"Tante, jawab pertanyaanku tadi!"
"Iya, sayang! Risma sudah memiliki calon suami di Berlin. Tante sudah menjodohkan Risma dengan laki-laki tua itu. Tapi ketika keluarga dari laki-laki tua itu datang. Risma justru kabur!"
Indira sudah tersenyum di seberang telepon ketika mengatakan itu. Dirinya tidak tahu mengapa mau saja membantu keponakannya itu untuk mengerjai putrinya dengan mengatakan bahwa putrinya itu sudah punya calon suami laki-laki tua.
Mendengar jawaban dari Indira membuat Kimberly dan juga Risma terkejut. Yang paling terkejut adalah Risma.
"Mami jangan mengarang cerita yang tidak-tidak. Mami mengarang cerita bohong saja keponakan laknat Mami ini senangnya minta ampun. Apalagi kalau mendengar berita yang sesungguhnya. Kemungkinan dia yang paling bahagia!" ucap Risma.
"Mungkin jika aku benaran nikah sama laki-laki tua, keponakan Mami yang laknat ini akan mengadakan syukuran tujuh hari tujuh malam," ucap Risma dengan tatapan kesalnya.
"Mi, udah dulu ya. Nanti aku hubungi Mami lagi. Disini banyak pengganggu. Kalau aku masih terus ngomong sama Mami di telepon. Bisa-bisa mereka akan terus jadi pengganggu. Satu dari mereka sudah menerorku."
Risma berbicara dengan nada sindiran dan juga tatapan matanya menatap kearah Kimberly. Sesekali menatap kearah Billy, Aryan dan Triny.
"Baiklah. Mami tunggu. Awas kalau kamu tidak hubungi Mami lagi. Mami akan coret nama kamu dari kartu keluarga."
"Aish! Itu mulu ancamannya."
Indira langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan hal itu kepada putrinya.