THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Salah Mencari Lawan



Sementara untuk Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna. Mereka sudah tahu seperti apa Kimberly, namun mereka tidak pernah jera untuk berhenti mengusik Kimberly dan keempat sahabatnya. Begitu juga dengan murid-murid yang lainnya.


Namun kebanyakan dari murid-murid itu menatap kagum terhadap Kimberly.


Selama ini tidak ada yang berani melawan Syafina dan keempat teman-temannya. Apalagi sekarang bertambah dua orang murid baru yang berstatus kakak kelas.


Bukan hanya Syafina dan keempat teman-temannya. Mereka dulu juga takut dengan kelompok Ishana. Sejak ada Kimberly dan para sepupunya, mereka sudah tidak takut lagi dengan para pembully.


"Lo berdua udah salah mencari lawan. Lo pikir gue adalah cewek lemah yang gampang ditindas. Jawaban adalah tidak! Seperti yang lo lihat beberapa menit yang lalu kalau gue bisa lawan kalian semua hingga kalian tak berdaya sekarang!"


Kimberly berbicara sembari menatap dengan tatapan matanya yang tajam kearah Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna bergantian.


"Gue peringkati kalian berdua. Menjauhlah dari gue dan orang-orang terdekat gue. Jangan coba-coba menjadi perusak dalam hubungan gue dan orang-orang gue. Mengerti!"


"Dan kalian juga!" Kimberly menatap kearah Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna. "Ini kesekian kalinya kalian merasakan tendangan dari gue. Gue pikir kalian akan berubah, namun gue salah. Kalian tetap saja seperti parasit. Dimana-mana pasti menempel terus mencari sekutu."


Kimberly kembali menatap kearah Molly dan Sheela. Sebenarnya Kimberly tidak ingin hal ini terjadi. Namun dirinya tidak punya pilihan. Jika dirinya tidak bertindak, maka dirinya dan keempat yang akan celaka.


"Gue nggak punya masalah sama lo berdua. Tapi kenapa lo berdua mencari masalah sama gue. Bahkan kalian berdua mau aja diajak kerjasama sama lima manusia busuk itu," ucap Kimberly sembari menunjuk kearah Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna.


"Gue harap ini adalah yang pertama dan terakhir kalian mencari masalah dengan gue. Jika kalian masih sayang nyawa, menjauhlah dari gue dan orang-orang terdekat gue."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Molly dan Sheela menatap tajam Kimberly. Keduanya tidak terima kekalahannya hari ini. Dan keduanya bersumpah akan membalas perbuatan Kimberly jar ini.


Setelah mengatakan itu, Kimberly dan keempat sahabatnya kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin.


***


Di perusahaan, Jason saat ini tengah sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk di atas meja. Dia mengecek satu persatu sebelum menandatangani berkas-berkas tersebut.


Setelah beberapa menit mengecek dan menandatangani berkas-berkas tersebut, Devan menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Huft!"


Jason menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dirinya benar-benar lelah hari ini.


Ketika Jason sedang mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, tiba-tiba terdengar bunyi ponselnya.


Jason yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu yang terletak di atas meja.


Jason mengambil ponselnya lalu matanya melihat nama 'Zain' salah satu tangan kanannya.


Tanpa membuang waktu lagi, Jason langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Zain. Ada apa?"


"Hallo, Bos. Saya mau ngasih kabar mengenai nona Kimberly."


Seketika Jason langsung bangun dari sandarannya ketika mendengar nama putrinya disebut.


"Katakan. Apa yang terjadi dengan adik perempuanku?"


"Nona baik-baik saja, Bos! Saya memberitahu Bos tentang nona Kimberly yang melawan dua kakak kelasnya. Mereka meminta nona untuk menjauhi tuan Tommy dan tuan Andhika."


"Apa yang dilakukan oleh adikku terhadap dua gadis menjijikkan itu?"


"Nona memberikan perlawanan dengan menendang teman-temannya hingga tersungkur. Bahkan ada yang muntah darah dan pingsan."


Mendengar jawaban dari Zain mengenai adik perempuannya seketika terukir senyuman manis di bibir Jason. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


"Apa ada videonya?"


"Ada, Bos!"


"Bagus. Simpan baik-baik video itu. Kalau perlu salin video lain yang ada di sekolah itu."


"Baik, Bos."


"Awasi terus adik perempuanku dan juga adik-adik sepupuku. Masalah video itu, jangan sampai adik perempuanku mengetahuinya. Jika adik perempuanku sampai tahu, maka dia akan marah. Adik perempuanku itu paling tidak suka jika aksinya direkam."


"Baik, Bos! Saya mengerti! Kalau begitu saya tutup teleponnya. Saya dan yang lainnya kembali bekerja."


"Baiklah. Bekerja sama lah dengan Deryl dan anggotanya."


Setelah itu, baik Jason maupun Zain sama-sama mematikan panggilannya.


"Sebentar lagi pihak keluarga dari dua gadis itu akan mencari adik perempuanku dan meminta pertanggung jawaban darinya karena anak-anaknya telah disakiti oleh adikku. Dan aku akan menghancurkan kalian jika kalian berani mengusik adik perempuanku," ucap Jason.


Jason membereskan pekerjaannya. Setelah semuanya beres. Jason beranjak dari duduknya.


Jason melangkah menuju pintu dan membukanya. Jason keluar dan tak lupa menutupnya kembali.


Jason melangkahkan kakinya menuju parkiran. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia sudah sangat lelah hari ini.


***


Zivan berada di ruang kerjanya saat ini. Beberapa menit yang lalu tangan kanannya yang bernama Danny datang membawa sebuah map dimana map itu berisi sebuah keterangan identitas keluarga dari mantan kekasihnya yaitu Kalina Martavia.


Ada dua map yang diberikan oleh Danny kepada Zivan. Map kepemilikan perusahaan dan map kepemilikan rumah mewah. Dan semua itu atas nama keluarga besar Kalina Martavia. Baik itu dari pihak keluarga ayahnya maupun pihak keluarga ibunya.


Bukan itu saja, Danny juga mengatakan bahwa keluarga besar Kalina, hidupnya itu sudah dalam genggaman. Keluarga itu akan hancur disaat sang korban mulai bertindak. Dengan kata lain sang korban membalaskan rasa sakitnya selama ini.


Korban yang dimaksud oleh Danny itu adalah dirinya dan kekasihnya yaitu Ashilla.


"Tunggu saja kehancuranmu dan keluarga besarmu Kalina. Untuk saat ini aku memberikan kesempatanmu untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bersenang-senanglah dan tertawa. Teruslah mengusik kekasihku," batin Zivan.


***


"Ngapa lo?" tanya Triny ketika melihat wajah kusam dan kusut Kimberly.


Mereka semua melihat kearah Kimberly yang memang sejak tadi tak bersemangat.


"Kim, lo masih mikirin ucapan dari dua nenek kunti itu ya?" tanya Santy.


Mendengar pertanyaan dari Santy seketika mereka semua menatap kearah Santy. Mereka meminta penjelasan atas apa yang barusan mereka dengar.


"Ada apa Santy?" tanya Tommy.


"Dua nenek kunti yang lo maksud itu apa Molly dan Sheela?" tanya Triny.


"Iya, siapa lagi!" Santy langsung menjawab pertanyaan dari Triny.


"Ngapain lagi mereka?" tanya Lionel.


"Biasalah cari muka biar dikatakan kakak kelas yang begitu ditakuti," ucap Rere.


Kimberly menyandarkan kepalanya di telapak tangan dengan tangannya menumpu di atas meja.


"Mereka ngapain lo?" tanya Billy.


"Ngantuk gue," ucap Kimberly lalu memejamkan sejenak matanya.


Seketika Billy melongo ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Bukan jawaban itu yang ingin Billy dengar.


Sementara yang lainnya tersenyum geli ketika melihat wajah melongo Billy ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


Tommy yang duduk di samping Kimberly berlahan mengusap lembut kepala belakang.


Dan detik kemudian, Kimberly menjatuhkan kepalanya ke samping.


Melihat hal itu, Tommy langsung sigap menahan tubuh Kimberly dan langsung memeluknya.


"Yah! Benaran ngantuk dia!" seru Dania, Danela, Lisa dan Alisha bersamaan ketika melihat Kimberly yang benar-benar tidur.


"Eh, benar tuh! Kimberly benar-benar tidur," sahut Sinthia.


"Ya, sudah! Aku akan bawa ke UKS. Biar Kimberly tidur disana," ucap Tommy.


Setelah itu, Tommy berdiri dengan tangan memegang tubuh Kimberly dan dibantu oleh Triny.


Triny langsung berdiri dan menghampiri Tommy agar Tommy bisa berdiri lalu menggendong Kimberly.


Setelah Kimberly dalam gendongan Tommy. Tommy pun langsung membawa Kimberly ke ruang UKS agar Kimberly bisa tidur beberapa menit disana.