
Kimberly dan keempat sahabatnya berada di kantin. Mereka tengah menikmati makan siangnya di jam istirahat kedua. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya memesan banyak makanan dan minuman masing-masing dua jenis minuman.
Melihat begitu banyak makanan dan minuman membuat penghuni kantin menatap Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Ketika Kimberly, keempat sahabatnya dan para penghuni kantin tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba terdengar bunyi tamparan keras di kantin tersebut sehingga membuat semuanya terkejut. Mereka semua termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya langsung melihat keasal suara itu.
Byur..
Plak..
"Aakkhhh!" ringis gadis itu akibat tamparan yang diberikan oleh salah satu siswi dari empat siswi tersebut.
"Eh, itu Syafina kenapa nyiram dan nampar Enzi?" tanya Rere.
"Gila tuh cewek," ucap Sinthia.
Kemudian korban tamparan tersebut berdiri dan memberikan tatapan tajam kearah tersangka penamparan.
"Apa-apaan lo, hah?! Kenapa lo nampar gue? Salah gue apa sama lo?!" bentak Enzi
"Lo pantas dapat itu!" bentak Syafina dengan tatapan matanya menatap Enzi.
Mendengar jawaban yang menurutnya benar-benar tak masuk akal membuat Enzi mengepal kuat kedua tangannya.
"Ayo, Enzi! Tampar balik dia. Lo jangan mau ditindas seperti itu," batin Kimberly yang dirinya ingin melihat Enzi melawan.
Plak..
Plak..
Enzi tiba-tiba memberikan dua tamparan keras di pipi Syafina sehingga membuat sudut bibirnya Syafina terluka.
"Bagus Enzi. Tamparan yang sempurna," batin Kimberly tersenyum puas melihatnya.
"Beraninya lo nampar gue!" bentak Syafina menatap nyalang Enzi.
"Lo pantas dapat itu. Lo orang yang nggak punya hati dan penjahat busuk yang harus dibasmi," jawab Enzi dengan tatapan matanya tak kalah tajam menatap Syafina.
Syafina menatap penuh amarah kearah Enzi. Dan jangan lupa kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.
"Lo berubah Enzi. Lo berubah menjadi pengkhianat!" bentak Syafina.
"Hahahaha." seketika Enzi tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Syafina. "Apa lo bilang?!Gue pengkhianat? Nggak salah lo ngomong gitu, hum? Lo nyebut gue pengkhianat. Terus lo pantasnya disebut apa?!" teriak Enzi.
Enzi menatap penuh amarah kearah Syafina. Hati-hati benar-benar sudah sangat membenci Syafina. Dan jika tida dan polisi di dunia ini, maka dia akan membunuh Syafina hari ini juga.
"Lo ngatain gue pengkhianat sementara lo selama ini menutupi kebusukan lo di depan gue, di depan Vanessa, di depan Aruna dan di depan Jennie. Lo membentuk kelompok ini hanya semata untuk menjadi kita-kita sebagai babu lo yang bisa lo suruh-suruh. Di depan kita lo berakting sebagai orang yang baik dan banyak berjasa, namun di belakang kita-kita, lo tertawa bahagia karena sudah menjadi ratu karena mendapatkan empat babu yang bisa disuruh ini dan itu. Lo manusia busuk yang berkedok sebagai malaikat!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Enzi membuat Syafina seketika terkejut dan syok. Sedangkan Vanessa, Aruna dan Jennie terkejut sembari menatap wajah Enzi dan Syafina bergantian.
"Jangan asal bicara lo!" bentak Syafina.
"Kenapa? Lo takut kalau kebusukan lo terbongkar di depan Vanessa, Aruna dan Jennie yang masih setia sama lo, hum?"
"Diam lo! Jangan ngarang cerita atau berusaha membujuk Vanessa, Aruna dan Jennie ninggalin gue!"
"Takut juga lo kalau mereka ninggalin Lo. Hahahaha. Gue pikir seorang Syafina nggak peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Yang dia pedulikan hanya statusnya sebagai ratu yang setiap perintahnya harus dituruti."
"Diam lo! Jangan asal bicara jika lo nggak tahu siapa gue!" bentak Syafina.
"Justru gue udah tahu siapa lo yang sebenarnya. Justru gue udah tahu sifat asli lo seperti apa, maka dari itulah kenapa gue keluar kelompok Lo yang lo bentuk dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi babu lo. Masa depan gue masih panjang dan gue nggak sudi jadi babu lo selamanya!"
"Lo!" tunjuk Enzi tepat di wajah Syafina. "Lo satu-satunya manusia menjijikan yang mana lo memanfaatkan teman sendiri guna untuk melindungi diri lo sendiri. Lo menjadikan tubuh teman lo sebagai tameng agar tubuh lo nggak mendapatkan serangan dari musuh."
Deg..
Syafina terkejut ketika mendengar ucapan dari Enzi. Dirinya tidak menyangka jika Enzi menyadari hal itu. Bukan hanya Syafina saja yang terkejut. Vanessa, Aruna dan Jennie juga terkejut.
"Enzi, maksud lo apa? Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Aruna.
Enzi langsung melihat kearah Aruna, lalu beralih menatap kearah Vanessa dan Jennie.
"Apa kalian masih ingat kejadian dimana kita bersekongkol dengan dua murid baru alias kakak kelas kita yaitu Molly dan Sheela?" tanya Enzi.
"Iya, kita ingat!" jawab Aruna, Jennie dan Vanessa bersamaan.
"Kita...." Vanessa seketika terdiam. Dia tidak sanggup untuk melanjutkannya.
"Kalian bertiga koma di rumah sakit selama satu minggu. Sementara dia.....!" Enzi melanjutkan perkataan dari Vanessa sembari tangannya menunjuk kearah Syafina. "Kita semua masuk ke rumah sakit dan tak sadarkan diri selama satu minggu. Sementara dia dalam keadaan baik-baik saja. Dan aku bahkan dapat informasi bahwa dia pergi bersenang-senang ke Club bersama teman-temannya yang lain. Ach, lebih tepatnya! Sahabat-sahabatnya dia."
Deg..
Vanessa, Aruna dan Jennie seketika terkejut. Mereka dengan kompak menatap kearah Syafina yang saat ini sudah gugup, namun berusaha untuk menutupinya.
"Dia dengan kejinya menarik tubuhku dan menutupi tubuhnya sehingga aku yang terkena tendangan Kimberly saat kejadian itu. Sebelum aku pingsan, aku melihat dengan sangat jelas dia tersenyum menatap kearahku."
Deg..
Lagi-lagi Vanessa, Aruna dan Jennie terkejut mendengar ucapan dari Enzi. Mereka tidak menyangka jika Syafina tega berbuat seperti itu terhadap Enzi.
"Tidak! Lo jangan ngarang cerita ya!" bentak Syafina.
"Kenapa? Lo takut kedok asli lo terbongkar di hadapan Vanessa, Aruna dan Jennie? Lo takut mereka ninggalin lo. Bukannya lo hanya anggap kita sebagai pesuruh lo bukan murni teman-teman lo?"
"Cukup Enzi! Lo udah keterlaluan memfitnah gue!" teriak Syafina lalu tangannya hendak kembali menampar wajah Enzi, namun Enzi sudah terlebih dulu menamparnya.
Plak..
"Lo mau lakuin itu kan sama gue. Mending gue aja yang lakuin itu ke lo sebagai balasan terhadap kelakuan bejat lo ketika kejadian itu," ucap Enzi dengan menatap penuh dendam pada Syafina.
Vanessa, Aruna dan Jennie menatap tajam kearah Syafina. Mereka benar-benar tak terima dibohongi selama ini.
"Lo menjijikan Syaf! Selama gue berteman sama lo. Gue banyak ikut andil membantu lo buat jahatin Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan gue juga yang selalu memberikan ide-ide sama lo buat balas dendam terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya. Tapi apa balasan lo! Lo hanya anggap gue, Aruna, Jennie dan Enzi babu lo! Lo nggak tulus berteman sama kita!" bentak Vanessa.
"Tidak, Ness! Itu nggak benar. Lo jangan percaya apa yang dikatakan oleh Enzi," ucap Syafina.
"Hahahaha."
Seketika Enzi tertawa mendengar ucapan dari Syafina. "Apa perlu gue perlihatkan semua bukti tentang kebusukan dan kebohongan lo selama ini didepan Vanessa, Aruna dan Jennie serta di depan semua penghuni kantin yang ada disini!" tantang Enzi.
Seketika Syafina membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan, ancaman dan tantangan dari Enzi.
Sementara Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Syafina yang tak berkutik di hadapan seorang Enzi.
"Nggak nyangka gue kalau Enzi berani sama Syafina," ucap Catherine.
"Biasanya kan jika seseorang yang keluar dari kelompoknya pasti bakal dibully habis-habisan oleh mantan kelompoknya itu. Tapi ini diluar dugaan. Enzi justru melawan sang ketua kelompok," sahut Rere.
"Asal lo tahu aja ya. Gue keluar dari kelompok lo secara baik-baik karena gue nggak mau ribut sama lo. Gue berusaha untuk menutupi semuanya. Bagaimana pun kita sudah lama berteman dan gue juga janji pada diri gue sendiri nggak akan membuka aib lo. Tapi kesabaran gue dan sikap baik gue lo salah artikan dengan lo datang tiba-tiba, lalu nampar gue dan nyebut gue pengkhianat. Akhirnya, mau tidak mau. Gue akhirnya buka mulut akan sifat busuk lo selama ini."
"Satu hal yang harus lo ketahui Syafina. Kalau bukan karena gue. Lo udah nggak ada di sekolah ini lagi. Dengan kata lain, kepala sekolah udah mau ngeluarin lo dari sekolah ini. Karena menimang-nimang kebaikan dan ketulusan wakil kepala sekolah sehingga membuat kepala sekolah memberikan kesempatan untuk lo tetap di sekolah ini."
Mendengar ucapan dari Enzi membuat Syafina terkejut. Dia tidak menyangka jika kepala sekolah pernah memiliki niat untuk mengeluarkannya dari sekolah ini.
"Lebih baik lo pergi dari sini karena gue mau melanjutkan makan gue. Tiba-tiba perut gue bertambah dua kali lipat laparnya setelah ribut dengan lo."
Mendengar ucapan kejam dari Enzi membuat Kimberly, keempat sahabatnya dan semua penghuni kantin tertawa keras.
Syafina mengepal kuat tangannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Enzi. Setelah itu, Syafina pergi meninggalkan kantin.
Sementara untuk Vanessa, Aruna dan Jennie masih di posisinya dengan tatapan matanya menatap kearah Enzi.
"Kenapa kalian masih disini?" tanya Enzi.
"Maafin kita, Nzi!" seru Vanessa, Aruna dan Jennie tulus.
"Jangan benci kita, Nzi! Kita tulus temanan sama lo," ucap Aruna.
"Lagian kita juga korbannya Syafina," sela Jennie.
"Hm!" Vanessa berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Vanessa, Aruna dan Jennie membuat Kimberly seketika membuat suara.
"Terima saja mereka, Enzi! Apa yang mereka katakan itu benar bahwa mereka adalah korbannya Syafina juga. Ada baiknya kalian buat momen baru dimana hanya ada kalian berempat!"
Mendengar ucapan dari Kimberly membuat semua penghuni kantin menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataannya itu.
"Baiklah," jawab Enzi.