THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ancaman Tommy Untuk Gracia



Suasana pagi ini masih seperti biasa. Kimberly yang baru sampai di sekolah langsung menuju ke kelasnya. Kimberly menyusuri koridor sekolah hanya ditemani dengan rangkaian music klasik di telinganya. Kimberly mulai tersenyum simpul saat melihat sesosok pemuda yang tengah melambaikan tangannya kepadanya. Senyumannya mulai terlihat seraya menghampiri dirinya.


"Selamat pagi, nyonya Kimberly Fernandes," sapa Arlo dengan senyuman manisnya yang membuat para murid-murid perempuan di sekolah berteriak karena kagum.


"Aishh! Margaku Aldama. Bukan Fernandes, kak Arlo!" Kimberly langsung protes akan perkataan dari Arlo.


"Ya ya! Nanti saat kita menikah. Namamu akan berubah menjadi Kimberly Fernandes. Apa kamu tak ingat, hum? Kakak sudah melamar kamu kemarin," ucap pemuda yang tak mau kalah.


Ya, pemuda itu adalah Arlo Fernandes yang tak lain adalah sahabat sekaligus kakak bagi Kimberly. Kakak kelas Kimberly ketika di SMP dulu. Arlo begitu menyayangi Kimberly layaknya adik kandungnya sendiri.


Arlo berbicara seperti bukan bermaksud apa-apa atau bersungguh-sungguh. Arlo hanya bercanda dan ingin menjahili Kimberly.


Arlo tahu jika Kimberly dan kekasihnya Tommy sedang ada masalah. Dan yang jadi akar permasalahannya adalah Gracia Aditya.


Arlo juga tahu apa yang terjadi kemarin di lapangan sekolah dimana Tommy mengamuk dan marah kepada Gracia sehingga terbongkarlah alasan Tommy memutuskan Kimberly.


Maka dari itulah Arlo akan tetap berada di samping Kimberly untuk melindungi Kimberly. Terutama melindungi Kimberly dari ular betina itu. Arlo tidak ingin jika Gracia benar-benar akan nekad ingin mencelai Kimberly. Arlo mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa Kimberly dua minggu yang lalu. Pelaku tabrakan itu adalah mantan kekasihnya Tommy.


"Jangan berbicara yang tidak-tidak kak Arlo!" seru Kimberly sembari menatap Arlo malas.


"Yak! Putriku marah... Eooh? Hahahaha. Apa kamuu tak mau menikah denganku, hum?" tanya Arlo sembari menggoda Kimberly yang kini tampak kesal.


"Aish! Kak Arlo benar-benar menyebalkan," ucap Kimberly, lalu pergi meninggalkan Arlo sendirian.


Sementara Arlo tertawa melihat Kimberly yang sudah super super kesal akan kelakuannya.


Setelah beberapa menit mengganggu dan menjahili Kimberly sehingga membuat Kimberly kesal padanya. Arlo pun memutuskan kembali menuju kelasnya. Disana tiga sahabatnya sudah menunggunya.


Kimberly melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Sepanjang kakinya melangkah menuju kelas. Terlihat beberapa murid-murid mulai mencemooh Kimberly.


Murid-murid itu tak lain adalah para murid-murid yang tak suka padanya, terutama para musuh-musuhnya yaitu Syafina dan teman-temannya serta teman-temannya Talitha.


Mereka mengatakan bahwa Kimberly seorang wanita murahan yang gampang mencari laki-laki lain setelah putus dengan kekasih-kekasihnya.


Memang seperti inilah yang Kimberly alami setiap hari. Hinaan, cemoohan dari para murid-murid yang tak menyukainya dan juga para musuh-musuhnya.


Tapi semua itu, Kimberly tak mempedulikannya. Yang tak menyukainya hanya sebagian. Sementara yang menyukainya lebih banyak. Murid-murid yang menyukainya selalu memberikan dukungan untuknya.


***


Kimberly sudah berada di kelasnya. Ketika Kimberly memasuki kelasnya. Keempat sahabatnya mengejutkannya.


"Kimberly!" teriak keempat sahabatnya.


Mendengar teriakan dari keempat sahabatnya membuat Kimberly mengumpat.


"Sialan, setan, marmut, kecebong bunting, bodoh. Mati saja kalian semua!"


"Hahahahahaha."


Satu kelas kecuali Syafina, teman-temannya Syafina dan teman-temannya Talitha tertawa keras ketika mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Kimberly.


Kimberly melangkahkan kakinya menuju kursi miliknya. Setelah tiba di kursinya. Kimberly langsung menduduki pantatnya disana.


Rere, Santy, Sinthia dan Catharine menatap sembari tersenyum kearah Kimberly. Mereka puas hari ini karena sudah membuat Kimberly kesal.


"Apa liat-liat?" Kimberly berucap ketus.


"Yaelah, Kim! Ketus amat jadi cewek," ucap Rere.


"Bodo," jawab Kimberly.


"Marah?" tanya Santy.


"Menurut kamu?" Kimberly balik bertanya kepada Santy dengan menatap wajah Santy.


"Kita bercanda Kimberly Aldama," sahut Sinthia.


"Terserah," jawab Kimberly.


"Hah!"


Rere, Santy, Sinthia dan Catharine hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Kimberly.


"Kalau mau ribut keluar sana! Jangan di kelas. Mengganggu tahu!" teriak Enzi.


"Ya, nih! Mengganggu saja. Berisik tahu," sela Selena.


"Hello, nona-nona! Emangnya kalian pikir kelas ini punya kalian. Siapa pun berhak mau ngapain di kelas ini," sahut Catharine.


"Selama kami tidak mengganggu dan menyentuh kalian. So! Sah-sah aja," ucap Rere.


Mendengar jawaban dari Rere dan Catharine membuat teman-temannya Talitha dan Syafina dan teman-temannya marah.


Syafina ingin membalas perkataan dari Rere dan Catharine. Namun sayangnya nasibnya lagi gak beruntung karena guru pelajaran fisika memasuki kelas.


Melihat hal itu membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tersenyum mengejek.


***


Setelah mengikuti pelajaran fisika, ekonomi dan bahasa ingris. Dan waktu dihabiskan selama 3 jam. Bel istirahat pun akhirnya berbunyi.


Mendengar suara bel berbunyi. Para murid-murid pun berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin.


Di kelasnya 13a yaitu kelasnya Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya.


Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya mulai bangkit dari tempat duduknya. Mereka ingin segera ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah berbunyi untuk minta diisi.


Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah untuk menuju kantin. Mereka melangkahkan kakinya sembari saling mengobrol dan tertawa sehingga beberapa murid-murid yang melintas dan melihat kearah mereka tersenyum serta mencuri-curi pandang.


Ketika mereka fokus dengan dunia mereka dan terus melangkahkan kakinya menuju kantin. Seseorang menghalangi jalan mereka.


Melihat seseorang yang berani menghalangi jalan mereka seketika menatap tajam kearah orang itu.


"Gracia," ucap Tommy dan Billy.


Ya, seseorang itu adalah Gracia. Gracia menghalangi jalannya Tommy, Billy dan yang lainnya.


"Mau apa lagi, hah!" bentak Tommy.


"Tommy. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak sengaja menampar Kimberly kemarin," ucap Gracia.


"Apa katamu? Kau tidak sengaja menampar Kimberly? Dimana otakmu, hah?!" bentak Billy.


"Kenapa kau yang marah, hah?!" bentak Gracia dengan menatap tajam Billy.


"Jelaslah aku marah. Kimberly itu adikku. Kakak mana yang tidak marah jika adiknya ditampar sama perempuan murahan dan menjijikkan seperti kamu!" bentak Billy.


"Beraninya kau menghinaku, hah!" bentak Gracia.


"Kenapa aku harus takut sama perempuan modelan seperti kamu? Kamu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku, Kimberly dan kita semua. Sekali sentil saja kamu dan keluarga kamu udah langsung KO!" Billy berucap dengan penuh penekanan. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menajam.


"Jangan sombong kau," ucap Gracia.


"Hahahaha. Hei, nona! Seharusnya kami yang berbicara seperti itu padamu!" seru Henry.


"Semenjak kau masuk ke sekolah ini. Sifat dan kelakuan kamu itu sangat menjijikkan. Kau langsung tebar pesona di hadapan sahabat kami yaitu Tommy," ucap Lionel ketus.


"Bahkan kau berbicara sesuka hati kamu. Dan bahkan kau selalu membanggakan kekayaan keluarga kamu. Sekarang aku tanya padamu? Siapa yang berlagak sombong disini? Kamu atau kita-kita?" Satya berbicara dengan nada ketus dan tatapan jijiknya.


Mendengar perkataan dari sahabat-sahabatnya Tommy membuat Gracia geram dan marah. Namun Gracia tidak bisa melawannya. Bagaimana pun dia hanya seorang perempuan. Bisa saja sahabat-sahabatnya Tommy menyerangnya saat ini juga. Itulah yang dipikirkan oleh Gracia.


Gracia menatap wajah Tommy. Gracia berusaha untuk merebut hati Tommy kembali. Bagaimana pun Gracia tidak rela Tommy kembali bersatu dengan Kimberly.


"Tommy aku tahu aku salah. Aku telah melanggar janjiku untuk tidak menyakiti Kimberly. Tapi kali ini aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Hahahaha."


Tommy tertawa keras ketika mendengar perkataan dan permohonan dari Gracia. Tommy menatap tajam kearah Gracia.


"Dengarkan aku Gracia Aditya. Aku Tommy Alexander tidak pernah mencintaimu. Gadis yang aku cintai itu adalah Kimberly. Dan hanya Kimberly yang pantas menjadi kekasihku sekaligus ibu dari anak-anakku kelak. Sekali pun aku tidak kembali berhubungan dengan Kimberly. Sekali pun Kimberly membenciku. Aku tidak peduli hal itu. Yang jelas aku tidak ingin memiliki kekasih sepertimu."


Mendengar perkataan dari Tommy membuat Gracia sakit hati dan terluka. Dirinya tidak menyangka jika Tommy akan berbicara seperti itu kepadanya.


"Oh iya! Satu hal lagi yang harus kau ketahui. Ini tentang kedua orang tua kita yang menjodohkan kita. Aku sudah bertanya kepada kedua orang tuaku. Alasan mereka menjodohkan aku denganmu saat itu karena kedua orang tua berpikir karena aku tidak akan berpacaran lagi setelah aku gagal dengan mantanku dulu. Kedua orang tuaku takut jika aku akan menjomblo seumur hidupku. Makanya mereka berinisiatif untuk mencarikan pasangan untukku." Tommy menatap tajam Gracia.


"Asal kau tahu. Pada saat itu kedua orang tuaku tidak memaksakan kehendak mereka. Jika aku tidak suka dengan pilihan mereka. Aku berhak untuk menolak. Dan mereka setuju. Begitu juga dengan kedua orang tuamu.  Kedua orang tuamu juga tidak akan memaksamu untuk melanjutkan perjodohan itu jika kau tidak menyukai pilihan mereka. Jadi intinya disini. Kedua orang tuaku dan kedua orang tuamu sama-sama tidak terlalu memaksa untuk menjodohkan kita berdua. Mereka hanya memperkenalkan kita saja. Suka tidaknya. Semua keputusan ada ditangan kita. Saat pertemuan pertama dan kedua saja kau tidak menunjukkan iktikad baik. Kau sama sekali tidak menghargai kedatangan kedua orang tuaku ke rumahmu." Tommy berbicara sembari menginat kejadian dimana dirinya dan kedua orang tuanya datang ke rumah keluarga Aditya.


Sementara Gracia terdiam seribu bahasa ketika mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Tommy. Di dalam hatinya, Gracia membenarkan apa yang dikatakan oleh Tommy.


"Sekarang kau sudah mengerti, bukan?! Jadi mulai sekarang aku minta padamu untuk pergi menjauh dari kehidupanku. Jangan pernah menggangguku. Oh iya! Jangan coba-coba kau menyakiti Kimberly apalagi berusaha untuk mencelakainya. Jika kau sampai nekat melakukan hal itu kepada Kimberly. Maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padamu dan juga keluargamu."


Setelah mengatakan itu, Tommy pergi meninggalkan Gracia sendirian. Dan ikuti oleh Billy, Andhika dan para sahabatnya.