THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kesedihan Dan Kekecewaan Rehando



Di kantor polisi tampak ramai dimana kedua orang tuanya Asena dan Cherry mendatangi kantor polisi.


Setelah satu hari penuh ditahan di kantor polisi. Pihak kepolisian akhirnya memberikan izin untuk kedua orang tua dari Asena dan Cherry untuk bertemu dengan anak-anaknya.


Kedua orang tua dari Asena tampak marah, terutama ayahnya. Mereka tidak terima anaknya di penjara. Sementara kedua orang tuanya Cherry hanya diam, terutama Rehando. Dirinya saat ini bingung harus berbuat apa untuk membela putrinya.


Kalau boleh jujur, Rehando merasakan sakit di hatinya. Bukan itu saja, Rehando juga benar-benar sangat kecewa akan sikap dan perbuatan putrinya selama ini.


"Papi, Mami! Keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau disini," mohon Asena kepada kedua orang tuanya.


"Tenang ya, sayang! Papi akan mengeluarkanmu dari sini."


"Papa, keluarkan Cherry dari sini!"


Mendengar permintaan dari putrinya itu membuat Rehando sedih. Namun Rehando sudah bertekad untuk membuat putrinya jera dan berubah. Dia tidak ingin putrinya selamanya menjadi jahat. Dia ingin memiliki putri yang baik. Setidaknya putrinya bisa seperti keponakannya yaitu Prisca.


"Untuk kali ini Papa tidak bisa membantu kamu, Cherry! Papa malu akan sikap buruk kamu selama ini. Papa sudah tidak tahu lagi, bagaimana cara menasehati kamu dan juga mendidik kamu. Papa diam, kamu makin menjadi-jadi. Papa kerasi, kamu malah mengatakan Papa ini jahat dan sayang sama anak. Kamu tidak pernah sedikit pun mau mendengarkan perkataan Papa."


"Papa lelah, Cherry! Papa benar-benar lelah. Bukan lelah akan pekerjaan, tapi Papa lelah melihat kelakuan buruk kamu selama ini! Tidak ada yang bisa Papa banggakan dari kamu"


Mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya membuat Cherry terkejut. Dirinya tidak menyangka jika ayahnya akan menolak membantunya.


"Papa," ucap Cherry lirih.


Nilam melihat kearah suaminya. Dirinya berusaha untuk membujuk suaminya agar suaminya mau membantu putrinya itu.


"Sayang, kas.....!"


"Keputusanku sudah bulat, Nilam! Aku tidak akan membantu Cherry keluar dari dalam penjara. Anggap saja ini adalah hukuman untuknya atas perbuatannya selama ini."


"Tapi....."


"Rasanya sudah cukup aku bersabar dan bersikap baik terhadap Cherry. Rasanya sudah cukup aku mendidiknya dengan baik. Tapi lihatlah hasilnya. Tidak ada perubahan sama sekali. Kelakuannya sudah tidak bisa dimaafkan."


"Putrimu itu sudah membuat hidup istri dari mendiang kakak laki-lakiku hidup susah bahkan membuatnya sampai menangis. Bahkan putrimu sampai membuatnya masuk rumah sakit. Putrimu sudah membuat putri dari kakak laki-lakiku selalu dihina dan direndahkan oleh teman-temannya. Tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya. Masih banyak lagi keburukan yang dilakukan oleh putrimu itu Nilam!"


Rehando menatap wajah istrinya penuh luka dan kecewa. "Mau sampai kapan Cherry seperti itu? Mau sampai kapan kau membelanya? Mau sampai kapan sikap jahat dan semaunya? Apa kau ingin putrimu menjadi seorang pembunuh, Nilam! Apa itu yang kau inginkan?!"


"Aku malu Nilam! Aku malu! Cherry sama sekali tidak menghargaiku dan menghormatiku sebagai ayahnya."


"Paman!" panggil seseorang.


Rehando langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Nilam dan Cherry.


"Prisca," lirih Rehando.


Prisca mendekati sang Paman lalu detik kemudian, Rehando langsung memeluk tubuh keponakannya itu.


"Paman," lirih Prisca ketika sang Paman langsung memeluknya.


Mendengar ucapan demi ucapan serta isakan dari Rehando membuat hati Prisca sakit. Bagi Prisca, Rehando adalah ayah kedua baginya. Prisca begitu menghormati Rehando hingga dirinya dan ibunya rela pergi meninggalkan kediaman keluarga Girado. Dia tidak ingin membuat Pamannya itu sedih.


Bagaimana dengan Nilam? Sama halnya seperti Prisca. Nilam merasakan sakit di hatinya ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu tengah putrinya Cherry. Di dalam hatinya mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya tentang Cherry benar. Dia sebagai seorang ibu juga tahu bagaimana sikap dan kelakuan buruk putrinya itu, namun dia selalu membiarkan dan membenarkan apa yang dilakukan oleh putrinya itu tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Kini bukan hanya orang lain yang sudah dirinya dan putrinya sakiti. Bertambah satu orang lagi yang telah mereka sakiti dan telah mereka buat menangis. Orang itu tak lain adalah suami dan ayahnya sendiri.


Nilam menangis ketika melihat suaminya yang memeluk tubuh Prisca dan mengadukan semua masalahnya itu.


Prisca seketika melepaskan pelukan Pamannya, lalu matanya menatap wajah tampan pamannya itu.


"Paman jelek kalau seperti ini," ucap Prisca sembari tangannya menghapus air mata sang Paman. "Nah, kalau kayak gini baru tampan. Ini baru Pamannya Prisca Girado!"


Seketika terukir senyuman manis di bibir Rehando ketika mendengar ucapan dari Prisca.


"Dengarkan aku ya. Paman tidak pernah gagal dalam mendidik anak-anak Paman. Paman selama ini sudah berusaha menjadi ayah, menjadi Paman, menjadi adik, menjadi kakak dan menjadi anak yang sangat baik dan sabar. Selama ini aku tidak pernah melihat Paman yang mengeluarkan kata-kata kasar atau bahkan membentak sekali pun. Paman melakukan semua itu dengan sangat sempurna."


"Tapi Paman tidak berhasil membuat Cherry seperti kamu. Paman tidak berhasil membuat Cherry menjadi gadis yang baik dan lemah lembut." Rehando berbicara dengan nada lirihnya sembari menatap sendu Prisca.


"Tapi bagi aku, Paman adalah laki-laki yang hebat. Paman sudah berhasil melakukan semua tugas-tugas Paman selama ini. Jika orang-orang terdekat Paman menjadi jahat, itu bukan kesalahan Paman. Mereka saja yang terlalu bodoh karena sudah menyia-nyiakan Paman."


"Apa boleh Paman minta satu hal dari kamu, sayang?"


"Paman mau meminta apa padaku?"


"Pulanglah ke rumah keluarga Girado. Dan ambil kembali posisi itu. Semua itu milik kamu dan Mommy kamu. Sudah waktunya kamu menggantikan posisi Daddy kamu."


"Paman mohon. Pulanglah!"


"Baiklah. Aku dan Mommy akan pulang ke rumah Girado."


"Terima kasih, sayang!" Rehando berucap sembari memberikan kecupan di kening Prisca.


Prisca melihat kearah Cherry dimana saat ini keadaannya sangat kacau. Sejujurnya, Prisca tidak tega. Namun ini adalah Hukuman untuk Cherry atas apa yang telah dia lakukan.


"Gue nggak nyangka lo sampai nekat nyakitin Catherine, sahabatnya Kimberly! Kesalahan lo masih belum dimaafkan oleh Kimberly dan keluarganya atas apa yang lo dan Sena lakukan. Sekarang lo ngelakuin kesalahan kedua dengan mencoba menyakiti Catherine. Lo lihat sekarang! Lo berakhir disini, Cherry!"


"Lo jahat banget, Cher! Lo lihat kesana!" Prisca berbicara sambil menunjuk kearah Rehando. "Lo nggak kasihan sama Papi lo. Dia sudah berjuang selama ini untuk menjadikan lo anak yang dibanggakan nantinya di depan semua orang. Dia sudah berusaha memenuhi semua kebutuhan lo dan juga keinginan lo. Dia juga sudah berusaha bersikap sabar setiap mengetahui tingkah laku lo yang buruk ketika berada diluar rumah. Dia juga berusaha untuk membela lo, walau dia tahu bahwa lo yang salah!" Prisca berbicara dengan menatap kecewa kearah Cherry.


"Lo jahat, Cher! Lo buat dia nangis! Lo buat dia terluka! Lo nggak punya hati. Dia ayah kandung lo. Dia jagain lo dari kecil sama lo besar. Dia nggak minta balasan apapun dari lo. Yang dia inginkan dari lo adalah lo jadi anak yang baik, anak yang bisa dibanggakan dan anak yang penurut."


Prisca menangis ketika mengatakan semua itu di hadapan Cherry. Sedangkan Cherry menatap wajah Prisca dengan tatapan sulit diartikan. Tatapan matanya itu antara sedih, penyesalan, terluka, bersalah dan marah.


Setelah mengatakan itu, Prisca melangkah mendekati sang Paman. "Aku pamit pulang, Paman! Paman jangan sedih lagi. Semuanya akan baik-baik saja. Lakukan apa yang menurut Paman itu yang terbaik. Jangan menyesal atas apa yang Paman lakukan."


Prisca menatap kearah Bibinya yang sejak tadi hanya diam. "Dan untuk Bibi. Aku mohon sama Bibi. Sudah cukup bibi selalu menutup mata atas apa yang dilakukan oleh Cherry. Kasihan Paman Rehando. Dengan Cherry di penjara, setidaknya itu akan membuatnya merenungi semua kelakuannya selama ini. Jujur, Bi! Aku menyayangi Cherry. Dan aku tidak pernah membenci Cherry. Yang aku benci dari Cherry adalah sifatnya. Dan aku ingin mengubah sifatnya itu. Itu yang akan dilakukan oleh Paman Rehando. Jadi, tolong bantu Paman Rehando!"


Setelah mengatakan itu, Prisca pun pergi meninggalkan kantor polisi. Prisca ingin ke rumah sakit karena ibunya masih dirawat di rumah sakit.