THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Si Pengendara Motor Misterius



Di perjalanan tampak beberapa motor sport mewah melaju dengan kecepatan sedang. Yang mengendarai motor-motor tersebut adalah Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry. Mereka memutuskan hari ini menggunakan motor karena menurut mereka sudah bosan menggunakan mobil.


Sementara Aryan dan sahabat-sahabatnya serta Triny dan sahabat-sahabatnya menggunakan mobil masing-masing menuju sekolah. Dan pada saat ini mereka sudah tiba di sekolah.


Ketika Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry fokus mengendarai motor sportnya dengan tatapan matanya menatap ke depan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan sebuah motor sport keluaran terbaru melintas begitu saja diantar mereka dengan kecepatan luar biasa dan sangat keren. Bahkan pengendara motor tersebut dengan sengaja menendang sedikit kaki Tommy sehingga membuat Tommy terkejut dan tak fokus berakhir oleng.


Melihat apa yang dilakukan oleh pengendara motor tersebut membuat Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry tampak marah terutama Tommy dan Billy.


Bruummm..


Bruummm..


Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry menambahkan kecepatan laju motornya guna ingin mengejar pengendara motor yang sombong dan seenaknya saja di jalanan.


Sementara si pengendara motor yang menendang kaki Tommy melirik kearah kaca spionnya. Terlihat disana bahwa pengendara-pengendara motor yang dia salip tersebut mengejar dirinya. Seketika terukir senyuman di bibirnya.


Setelah itu, pengendara motor tersebut menambahkan kecepatan laju laju motornya. Dia sangat bahagia pagi ini, ditambah lagi ini adalah untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tidak naik motor kemana-mana sejak kecelakaan itu.


Bruummm..


Bruummm..


Para pengendara motor sport mewah itu saling mengejar dan bahkan saling balap-balapan. Jika motor sport mewah yang di belakang sedang mengejar motor sport mewah yang ada di depan.


Sementara motor sport mewah yang di depan sengaja menjauh atau dengan kata lain melarikan diri dari kejaran motor-motor sport tersebut. si pengendara motor tersebut tampak bahagia. Adrenalin nya semakin terpacu apalagi ketika dikejar-kejar oleh beberapa motor sport mewah di belakang.


Bruummm..


Bruummm..


Skiitt.. Skiitt..


Skiitt..


Dan pada akhirnya motor yang dikendarai oleh Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry berhasil mengepung satu motor yang sebagai pelaku menendang kaki Tommy.


Mereka mengepung pengendara motor tersebut dengan keadaan kendaraan yang masih menyala. Pandangan mereka menatap kearah di pengendara motor tersebut.


Beberapa detik kemudian..


Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry bersamaan membuka helm nya masing-masing. Sedangkan si pengendara yang terkepung itu tetap pada posisinya tanpa membuka helm miliknya.


Tanpa disadari oleh Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry. Di dalam kaca helm miliknya, si pengendara motor tersebut tersenyum melihat wajah-wajah marah kesepuluh pemuda-pemuda tampan di hadapannya itu.


Saat ini dia tersenyum ketika menatap wajah marah kesepuluh pemuda-pemuda tampan tersebut. Dan sebentar lagi dia akan melihat wajah syok dan tak percaya kesepuluh pemuda-pemuda tampan itu ketika mengetahui dia yang sebenarnya.


"Siapa lo?!" teriak Andry.


"Buka helm lo, sekarang!" teriak Mirza.


"Lo harus minta maaf sama sahabat gue karena lo udah nendang kakinya!" teriak Ivan.


"Dan akibat ulah lo itu sahabat gue hampir jatuh. Dan untungnya sahabat gue langsung bisa mengimbanginya sehingga tidak jadi jatuh!" teriak Nathan.


"Kalau sampai jatuh kan bisa gaswat. Bisa-bisa reputasi sahabat gue hancur!" teriak Lionel.


"Sialan lo, Lionel!" umpat kesal Tommy.


"Hehehe." Lionel seketika terkekeh.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bawa motornya terlalu kencang. Bahkan kamu berani menyalip di tengah-tengah?" tanya Billy.


"Apa kamu sengaja atau memang ingin mencari masalah dengan kami? Kalau iya? Apa alasan kamu dan apa kesalahan kami?" tanya Tommy.


Tommy, Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry masih terus menatap kearah pengendara yang dikepung dan berada di tengah-tengah. Bahkan mereka bisa melihat tidak ada pergerakan dan perlawanan dari sang pengendara tersebut. Bicara pun tidak.


Tidak mendapatkan respon dan jawaban sama sekali dari si pengendara itu membuat Tommy seketika marah. Dan seketika Tommy turun dari motornya.


Setelah turun dari motornya, Tommy langsung berjalan menghampiri si pengendara motor yang berada di tengah-tengah.


Kini Tommy sudah berdiri di depan motor si pengendara tersebut dengan tatapan matanya menatap kearah kaca helm orang itu.


"Buka helm kamu sekarang!"


"Apa kamu budek? Lepaskan helm kamu. Dan lawan aku! Jangan seperti ini. Itu curang namanya," ucap Tommy yang sudah benar-benar marah.


Sedangkan orang yang di hadapannya itu di balik kaca helm nya sudah mati-matian menahan tawanya ketika melihat wajah marah dan mendengar ucapannya tersebut.


Dikarenakan hatinya tidak tega melihat wajah kesal dan wajah marah pemuda tampan di depannya. Pemilik kendaraan tersebut pun memutuskan untuk membuka helm nya.


Deg..


Seketika Tommy terkejut ketika melihat wajah dari si pemilik motor sport mewah tersebut. Begitu juga dengan Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry.


"Kimberly!"


Seketika Kimberly tersenyum manis di hadapannya Tommy sehingga membuat Tommy diam dengan tatapan matanya menatap kearah Kimberly tanpa berkedip sedikit pun.


"Gue nggak nyangka sepupu lo jago dalam membawa motor sport di jalan raya, Bil!" sahut Satya.


"Apalagi ketika dia nyalip kita gitu aja," sela Lionel.


Sementara Billy tersenyum ketika mendengar ucapan dari Satya dan Lionel. Dia juga tidak percaya apa yang dia lihat beberapa menit yang lalu. Bahkan dia saat ini masih terkejut dan tak percaya bahwa Kimberly sudah diperbolehkan membawa motor ke sekolah. Ini adalah untuk pertama kalinya Kimberly membawa motor ke sekolah sejak kecelakaan itu.


Andhika melihat kearah Billy yang saat ini menatap kearah Kimberly. Andhika ingin bertanya tentang Kimberly yang bisa bawa motor sport.


"Billy," panggil Andhika.


"Hm!" Billy menjawab dengan deheman.


"Sejak kapan Kimberly bisa bawa motor? Ini Kimberly doang atau Triny dan Risma juga bisa membawa motor sport itu?" tanya Andhika.


Billy mengalihkan pandangannya dari menatap Kimberly menjadi menatap Andhika.


"Kimberly, Triny dan Risma memang bisa membawa motor seperti kita sejak duduk di bangku SMP. Sejak kecelakaan yang menimpa Kimberly, mereka tidak lagi naik motor kalau mau pergi kemana-mana."


Andhika menganggukkan kepalanya tanda mengerti ketika mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Billy. Andhika juga langsung mengerti alasan Triny dan Risma yang tidak lagi membawa motor kemana-mana itu semua demi Kimberly.


Tommy masih menatap wajah Kimberly dengan tatapan syok. Dirinya tidak menyangka jika kekasihnya jago dalam membawa motor di jalan raya.


"Kenapa menatap aku seperti itu? Apa marah-marahnya masih lanjut? Apa kamu mau berkelahi sama aku?" tanya Kimberly dengan wajah menantangnya.


Seketika mata Tommy membelalak sempurna ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Kimberly.


Sementara Andhika, Billy, Satya, Henry, Lionel, Nathan, Ivan, Mirza dan Andry tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Hahahahahaha."


Tommy kemudian mendekati Kimberly. Kemudian tangannya menggenggam tangan Kimberly lembut lalu menciuminya.


"Aku hanya syok saja tadi. Aku tidak marah kok. Benaran!"


"Jangan percaya Kimberly!" teriak Lionel.


"Tommy itu laki-laki pembohong!" teriak Henry.


Mendengar ucapan dari Henry dan Lionel membuat Tommy mendengus. Ingin rasa Tommy melempar kedua sahabatnya itu ke laut sehingga dimakan oleh ikan hiu. Tapi Tommy tidak akan tega dan sampai hati melakukannya.


"Bohong. Buktinya saja tadi kamu marah-marah ketika aku nendang kaki kamu," ucap Kimberly dengan memanyunkan bibirnya.


"Itukan aku tidak tahu kalau yang nendang kaki aku adalah kamu. Saat itu kan aku berpikir orang yang nendang kaki aku adalah orang lain. Wajarkan kalau aku marah jika itu orang lain?"


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Tommy membuat Kimberly seketika tersenyum. Dia juga percaya jika Tommy tidak akan memarahinya. Dan Kimberly juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly jika itu orang lain. Tommy berhak untuk marah.


Melihat kekasihnya tersenyum membuat hati Tommy menghangat. Tangannya kemudian terangkat untuk mengusap lembut pipi putih kekasihnya itu.


"Lain kali bawa motornya jangan ngebut-ngebut ya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu."


"Aku janji."


"Ya sudah. Kita pergi dari sini. Kalau terlalu lama disini, bisa-bisa kita terlambat sampai di sekolah."


"Siap pengeran tampanku!"


Setelah mengatakan itu, Kimberly kembali memakai helm nya. Sedangkan Tommy kembali menuju motornya. Dan mereka semua pun pergi meninggalkan lokasi tersebut untuk menuju ke sekolah.