
Tommy dan ketiga sepupunya yaitu Fazio, Carlen dan Nigel sudah berada di ruang Dosen. Dosen tersebut adalah Rasta sahabat dari Ricky Fidelyo.
Rasta sudah mengetahui maksud kedatangan Tommy dan ketiga sepupunya menemuinya ke kampus karena Tommy sudah menceritakan maksud kedatangannya bersama ketiga sepupunya.
Setelah mengetahui maksud kedatangan Tommy dan ketiga sepupunya ke kampus. Rasta langsung membawa keempatnya menuju ruang pribadi miliknya.
^^^
Cklek..
Terdengar pintu dibuka dari luar setelah orang itu mengetuk pintu tersebut tiga kali.
"Permisi Prof," ucap salah satu mahasiswi yang kini sudah berada di dalam ruang tersebut.
"Linka, Winda! Mari kesini dan silahkan duduk!" seru Rasta.
"Baik, Prof!"
Mahasiswi yang bernama Linka dan Winda langsung melangkah menuju sofa. Setelah tiba disana, keduanya langsung menduduki pantatnya di sofa.
"Ada ya Prof? Kenapa profesor Rasta memanggil kami kesini?" tanya Winda.
"Sebelum saya memberitahu alasan saya menyuruh kalian datang kesini. Terlebih dahulu saya memperkenalkan kedua pemuda ini kepada kalian," sahut Rasta sembari menatap kearah Fazio dan Carlen.
Linka dan Winda melihat kearah tunjuk Rasta. Keduanya melihat dua pemuda yang duduk di hadapannya tengah menatapnya.
"Saya Fazio."
"Dan saya Carlen."
Baik Fazio maupun Carlen hanya menyebut namanya saja tanpa menyebutkan nama marganya.
Setelah melihat kearah Fazio dan Carlen. Kini Linka dan Winda kembali menatap wajah profesornya.
Tiba-tiba ponsel milik Rasta berbunyi menandakan panggilan masuk. Tangannya kemudian mengambil ponselnya itu yang ada di dalam saku celananya.
Kini ponselnya sudah di tangannya. Rasta melihat nomor yang sama di layar ponselnya itu.
Rasta kemudian menjawab panggilan tersebut yang mana panggilan itu sudah dimatikan, sementara Rasta berpura-pura berbicara.
"Baik, Rektor. Saya akan kesana!"
Setelah mengatakan itu, Rasta langsung mematikan panggilannya. Rasta memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya lalu kemudian matanya menatap wajah Linka dan Winda secara bergantian.
"Maaf Linka, Winda. Saya pergi sebentar. Kalian tunggu disini dulu. Saya akan segera kembali."
"Baik, Prof!" Linka dan Winda menjawab bersamaan.
Setelah itu, Rasta berdiri dari duduknya. Tanpa di ketahui oleh Linka dan Winda, Rasta memberikan kode kepada Fazio dan Carlen. Dan dibalas anggukan oleh keduanya.
Rasta berjalan menuju pintu keluar. Ketika Rasta hendak membuka pintu, Rasta melihat kearah Nigel yang berdiri di samping dekat pintu.
"Lakukan tugas kalian secepatnya sebelum pihak kampus melihat kalian dan mengetahui kalian bukan mahasiswa disini," ucap pelan Rasta kepada Nigel.
"Terima kasih," jawab Nigel.
Setelah itu, Rasta benar-benar pergi meninggalkan ruangannya dan membiarkan Tommy dan ketiga sepupunya melakukan tugasnya.
Setelah Rasta keluar, Nigel kemudian menutup pintu tersebut dan tak lupa menguncinya. Kemudian kunci tersebut di masukkan ke dalam saku celananya.
"Hallo nona Linka, hallo nona Winda!" seru Tommy yang keluar dari persembunyiannya.
Tommy melangkah menghampiri kedua kakak sepupunya yang duduk di sofa dan diikuti oleh Nigel.
Kini Tommy dan Nigel sudah bergabung dengan kedua kakak sepupunya di sofa.
Linka dan Winda menatap lekat kearah Tommy yang tadi menyapanya dengan menyebut namanya.
"Siapa kau?!" bentak Linka dengan wajah arogannya.
Mendengar pertanyaan disertai bentakan dari Linka membuat Tommy tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Fazio, Carlen dan Nigel.
"Secepat itukah nona Linka dan nona Winda melupakanku? Padahal kita tidak bertemu selama 10 hari," ucap dan tanya Tommy dengan menatap wajah Linka dan Winda dengan sinis.
Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Linka dan Winda saling menatap satu sama lainnya. Setelah itu, keduanya kembali menatap wajah Tommy dengan sesekali melihat wajah Fazio, Carlen dan Nigel.
"Tidak usah berbelit-belit. Katakan saja siapa kau!" bentak Winda.
"Hahahaha."
Tommy tertawa keras ketika mendengar ucapan dan bentakan dari Winda. Begitu juga dengan Fazio, Carlen dan Nigel.
"Sepertinya kedua gadis ini harus dipancing ingatannya, Tommy!" seru Fazio.
"Kalau kamu tidak memberitahu siapa kamu kepada mereka berdua. Mereka tidak akan ingat siapa kamu," ucap Carlen.
"Seperti yang dikatakan oleh gadis cantik ini," ucap Nigel sembari menatap wajah Winda. "Kamu langsung saja. Tidak usah berbelit-belit," ucap Nigel sembari menyindir perkataan dari Winda.
Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel tersenyum menatap wajah Linka dan Winda.
"Apa kalian berdua benar-benar melupakanku, hum?" tanya Tommy sekali lagi.
"CK! Aku sudah katakan padamu. Katakan saja siapa kau sebenarnya!"
"Dan mau apa?!"
Mendengar perkataan dan bentakan dari Linka dan Winda membuat Tommy tersenyum. Begitu juga dengan ketiga sepupunya.
Baik Tommy maupun ketiga sepupunya menatap jijik kearah Linka dan Winda.
"Baiklah jika kalian berdua melupakan wajahku. Aku berharap kalian ingat dengan kejadian sepuluh hari yang lalu di sebuah toko kue dimana kalian berdua dan beberapa pengunjung perempuan lain tengah bersitegang dengan seorang perempuan cantik," ucap Tommy yang kini tatapan matanya sudah berubah menjadi tajam.
Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Linka dan Winda berusaha mengingat kejadian sepuluh hari yang lalu di sebuah toko kue.
Keduanya seketika langsung menatap kearah Tommy yang juga tengah menatap dirinya.
"Jadi kau....!"
Perkataan Linka dan Winda terpotong karena Tommy langsung bertepuk tangan karena Linka dan Winda akhirnya ingat dengan dirinya.
Prok... Prok... Prok...
"Akhirnya kalian berdua ingat dengan kejadian sepuluh hari yang lalu. Berarti kalian juga ingat denganku," ucap Tommy dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Apa maumu, hah?!" tanya Linka dengan wajah menantangnya.
"Yang aku inginkan dari kalian berdua hanya satu yaitu nyawa kalian dan seluruh anggota keluarga kalian," sahut Tommy dengan menatap nyalang Linka dan Winda.
Mendengar jawaban dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Linka dan Winda terkejut dan syok. Mereka tidak menyangka jika pemuda itu menjawab seperti itu.
"Hahahaha."
Seketika Linka dan Winda tertawa keras ketika mendengar ucapan dari pemuda itu.
"Apa? Membunuh kami dan keluarga kami?" tanya Winda dengan tersenyum mengejek kearah Tommy dan juga kearah Fazio, Carlen dan Nigel.
"Tidak segampang itu kau dan ketiga manusia busuk di sampingmu itu untuk membunuhku dan keluargaku," sahut Linka.
"Kalian tidak tahu siapa aku dan keluargaku!" bentak Winda.
"Bahkan kalian tidak bisa melacak keberadaan keluargaku!" bentak Linka.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Linka dan Winda membuat Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel tersenyum di sudut bibirnya.
"Benarkah begitu nona Linka, nona Winda?" tanya Carlen dengan menatap remeh Linka dan Winda.
"Jika kita tidak bisa melacak keberadaan keluarga kalian. Kenapa kami bisa sampai di sini dan mengetahui kalian kuliah disini, hum?" tanya Nigel.
"Seharusnya jika kami tidak bisa melacak keberadaan tentang keluarga kalian. Seharusnya kami juga tidak bisa melacak dimana kalian berdua kuliah. Bukan begitu nona Linka dan nona Winda?" ucap dan tanya Fazio dengan tersenyum sinis.
Mendengar perkataan dari Fazio dan Nigel membuat Linka dan Winda terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh keduanya.
"Bahkan kamu juga tahu nama perusahaan milik ayah kalian," sahut Tommy.
Deg..
Linka dan Winda terkejut dan syok ketika mendengar ucapan dari Tommy. Kemudian Linka dan Winda menatap wajah Tommy untuk memastikan ucapannya itu.
"Nama perusahaan ayah dari nona Linka adalah Oka'Yama Invertising. Sementara perusahaan ayahnya nona Linka adalah AV'Sn Corp. Aku benar kan?" ucap dan tanya Tommy sembari menatap dengan tersenyum manis di hadapan Linka dan Winda.
Baik Tommy maupun ketiga sepupunya Fazio, Carlen dan Nigel menatap nyalang Linka dan Winda.
"Kalian sudah salah mencari lawan. Kami tidak pernah mengusik kalian berdua. Dan kami juga tidak pernah mengusik keluarga kalian. Bahkan kami juga tidak pernah mengusik perusahaan keluarga kalian," ucap Fazio.
"Ayah kalian sudah berani mengusik perusahaan Al'Xander Group. Padahal perusahaan itu tidak memiliki masalah apapun dengan ayah kalian," ucap Carlen.
Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel masih menatap nyalang kearah Linka dan Winda. Mereka begitu dendam atas apa yang telah diperbuat oleh Linka, Winda dan keluarganya.
"Kalian ingin membalas perbuatanku ketika di toko kue itu. Kalian marah dan tak terima karena aku bersikap kasar kepada kalian," ucap Tommy.
Sementara Linka dan Winda hanya diam dan tak berkutik sama sekali seperti beberapa menit yang lalu.
"Seharusnya kalian sadar!" teriak Tommy tiba-tiba. "Yang salah itu kalian! Kalian yang terlebih dahulu mencari masalah dengan kakak perempuanku! Kalian yang terlebih dahulu ingin menyakiti kakak perempuanku! Kenapa justru kalian yang sakit hati dan ingin membalas perlakuan burukku dan perlawanan dari kakak perempuanku?!" bentak Tommy.
"Apa aku salah membela kakak perempuanku ketika kakak perempuanku hendak ditampar oleh seseorang?!" bentak Tommy lagi.
"Kalian bersama keluarga kalian dengan kejinya melibatkan orang lain yang tak lain adalah kekasih dari adik sepupuku hanya demi sakit hati kalian terhadap adik sepupuku!" bentak Carlen.
"Kalian balas dendam dengan menggunakan calon adik ipar kami agar adik sepupuku dan kakak perempuannya tunduk kepada kalian berdua!" bentak Fazio.
"Dan kalian berhasil menyakiti calon iparku!" bentak Nigel.
Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel benar-benar marah saat ini. Dendam mereka sudah sampai ubun-ubun.
"Sudahlah. Aku muak terus-menerus berbicara dengan kedua manusia menjijikkan ini. Lebih baik kita bawa mereka berdua dari sini," ucap Tommy.
"Itu lebih baik," ujar Carlen.
"Hm!" Fazio dan Nigel berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Fazio dan Carlen langsung berdiri. Kaki mereka melangkah mendekati Linka dan Winda yang saat ini sudah sangat ketakutan.
Srek..
"Aakkhh!" teriak Linka dan Winda ketika merasakan sakit di kepalanya.
Yah! Fazio dan Carlen menarik kuat rambut Linka dan Winda sehingga membuat kepala kedua gadis tersebut mendongak keatas.
"Jika tidak ingin nyawa kalian hilang saat ini juga. Ikuti perintah kami," ucap Carlen.
"Dan jangan coba-coba melawan," ucap Fazio.
Setelah itu, Fazio dan Carlen menarik paksa tubuh Linka dan Winda menuju pintu.
Sementara Nigel sudah sejak tadi membuka pintu tersebut dengan Tommy sudah berdiri diluar.
"Jangan macam-macam lo. Atau pisau ini akan menembus punggung kalian berdua," ucap Tommy sembari memperlihatkan pisau lipatnya. Begitu juga dengan Nigel yang tengah memainkan pisaunya.
"Jalan!"
Fazio dan Carlen mendorong kuat tubuh Linka dan Winda tanpa melepaskan tangan keduanya.
Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel pun pergi meninggalkan Haven City University dengan membawa Linka dan Winda bersama mereka.