
Semua para tamu undangan menatap tajam dan juga jijik kearah Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan mereka pun menghina dengan kata-kata yang cukup kasar untuk Kimberly dan keempat sahabatnya.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharin mendengar cacian dan hinaan dari para tamu hanya tersenyum.
"Kak Deryl," panggil Kimberly.
Deryl yang sedari tadi mengawasi dan melihat kejadian itu langsung menghampiri Kimberly.
"Ada apa nona?"
"Apa Kak Deryl melihat semua kejadian barusan?"
"Lihat Nona."
"Apa Ka Deryl mendengar apa yang diucapkan oleh mereka semua?" Kimberly menunjuk ke semua orang yang ada di dalam hotel tersebut tak terkecuali.
"Iya, Nona. Bahkan saya sudah merekamnya. Dan rekamannya itu sudah saya kirim ke Bos."
Mendengar jawaban demi jawaban dari tangan kanan Kakak keduanya membuat Kimberly tersenyum bahagia.
Sementara ibunya Agnes, Agnes, mantan teman SMP nya dan semua tamu undangan seketika menjadi takut saat mendengar pembicaraan Kimberly dan Deryl.
Mereka juga penasaran dengan pemuda yang sedang berbicara dengan Kimberly. Apalagi pemuda itu memanggil Kimberly dengan sebutan 'Nona'. Ditambah lagi pemuda itu juga membungkukkan badannya memberi hormat.
"Bagus, Kak! Aku suka dengan hasil kerja Kakak."
"Terima kasih, Nona."
"Kakak disini saja. Jangan kemana-mana."
"Baiklah, Nona."
Kimberly melihat dengan tajam ke semua orang-orang yang ada di dalam hotel itu. Dan tatapan terakhirnya menatap tajam Agnes dan para mantan teman SMP nya.
"Aku sudah cukup sabar mendengar ocehan-ocehan murahan dari kalian semua. Dari sejak masuk SMP hingga lulus sampai sekarang. Kalian masih saja suka menghinaku. Apa gak capek mulut kalian selalu mengatakan hal yang sama setiap kali bertemu denganku, hah?!"
"Apa ini yang kalian pelajari saat di sekolah? Apa begini ajaran dari orang tua kalian?" Kimberly menatap penuh amarah Agnes, Dalila, Arinda dan yang lainnya.
"Kalian menyebutku miskin. Kalian menyebutku wanita tidak tahu terima kasih. Kalian menyebutku dan keluargaku menumpang hidup dengan keluarga Clara. Kalian menyebutku semua yang aku miliki berasal dari keluarga Clara. Kalian selalu memandang rendahku."
Kimberly menatap semua wajah orang-orang yang ada di dalam hotel itu yang juga menatap kearahnya.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kalian kenal dengan keluarga Fidelyo? Apa kalian kenal dengan keluarga Aldama?" tanya Kimberly dengan sedikit berteriak.
Tidak mendapatkan jawaban dari semua orang membuat Kimberly marah.
"Apa kalian tidak punya telinga? Apa kalian tuli, hah?! Jawab pertanyaanku barusan!" teriak Kimberly.
"Kami kenal," jawab beberapa orang.
"Siapa dua keluarga itu?"
"Dua keluarga itu adalah keluarga terkaya nomor satu dan nomor dua di dunia dan Jerman," jawab salah satu tamu undangan.
"Berarti kalian tahu dengan sepasang suami istri bernama Nashita Fidelyo dan Fathir Aldama?" tanya Kimberly.
"Iya. Kami kenal." mereka menjawab bersamaan.
"Berarti kalian tahu dong anak-anak mereka siapa?" tanya Kimberly lagi.
"Kami hanya tahu dengan empat anak laki-laki mereka. Sementara kami tidak tahu seperti apa anak perempua mereka," jawa seorang tamu undangan perempuan.
"Apa kalian tidak penasaran seperti apa anak perempuan mereka, hum? Apa kalian ingin mengetahuinya?" tanya Kimberly dengan tersenyum menyeringai.
"Aku akan beritahu kalian siapa anak perempuan dari dua keluarga terkaya itu. Sekarang kalian buka Instragram milik keempat anak laki-laki mereka. Nama Instragram mereka adalah nama asli mereka." Kimberly berbicara sambil tersenyum meremehkan.
Mendengar perkataan dari Kimberly. Para tamu undangan, ibunya Agnes, Agnes dan teman-temannya langsung membuka Instragram milik keempat anak laki-laki dari Nashita Fidelyo dan Fathir Aldama.
Ketika mereka semua melihat foto dan juga video dari Instragram milik keempat anak laki-laki dari Nashita Fidelyo dan Fathir Aldama seketika mereka terkejut dan syok.
Mereka semua kembali melihat wajah Kimberly yang ada di hadapan mereka dengan wajah gadis yang ada di Instragram milik keempat anak laki-laki dari Nashita Fidelyo dan Fathir Aldama. Mereka kembali terkejut dan syok. Mereka semua tidak menyangka jika gadis yang mereka hina adalah putri kesayangan dan kebanggaan dari dua keluarga terkaya nomor satu dan dua di dunia dan di Jerman.
Begitu juga dengan ibunya Agnes, Agnes dan yang lainnya. Agnes dan teman-temannya terkejut dan syok ketika melihat kenyataan bahwa orang yang mereka hina lebih kaya dibandingkan mereka semua.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tersenyum di sudut bibirnya melihat keterkejutan orang-orang yang ada di dalam hotel tersebut.
"Bagaimana? Kalian sudah tahu dan sudah melihat seperti apa wajah anak perempuan dari Nashita Fidelyo dan Fathir Aldama. Serta adik perempuan dari Jason Aldama, Uggy Aldama, Enda Aldama dan Riyan Aldama, hum?"
"Dan kalian sekarang sudah sadarkan bahwa aku berada jauh di atas kalian. Aku berasal dari keluarga yang dibilang cukup kaya, terkenal, terpandang, berpengaruh dan juga paling kejam."
Mereka semua hanya diam dan tidak berani berkomentar setelah mengetahui status asli dari Kimberly. Begitu juga Agnes dan teman-temannya.
"Kalian yang status kekayaannya berada sangat jauh dibawah keluargaku. Tapi sikap kalian sudah sangat menjijikkan. Kalian bersikap seolah-olah kalian lah yang paling kaya dan memiliki segalanya di dunia ini. Dan dengan seenaknya memaki dan menghina orang lain yang ada dibawah kalian."
Mereka hanya diam dan tidak berkomentar apapun. Mereka tahu... Mereka sadar dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly.
"Baiklah. Karena kalian sudah tahu siapa aku yang sebenarnya. Maka bersiap-siaplah apa yang akan terjadi kepada kalian dan keluarga kalian. Perkataan kalian, hinaan dan makian kalian kepadaku beberapa menit yang lalu sudah dilihat dan didengar oleh keluargaku. Kalian tahu laki-laki yang berdiri di sampingku ini. Dia adalah Kak Deryl, tangan kanan Kakakku, Uggy Aldama. Kalian sudah tahukan apa yang dilakukan oleh kakakku itu jika ada orang yang berani menyakitiku. Kalian masih ingat kejadian yang dialami oleh keluarga Clara, keluarga Archard dan keluarga Adolfa. Ketiga keluarga itu hancur ditangan kedua kakakku."
Kimberly melihat kearah Sisil dan Kiki. "Hallo Sisil, Kiki. Bagaimana kabar keluargamu sekarang, hum?"
Sisil dan Kiki hanya menunduk dan tak berani menatap Kimberly. Melihat ketakutan dari Sisil dan Kiki membuat Agnes dan yang lain menjadi bingung.
"Apa kalian berdua tidak memberitahu teman-temanmu apa yang telah terjadi dengan keluarga kalian?"
"Sil, Ki! Ada apa? Kenapa dengan keluarga kalian?" tanya Agnes.
"Ke-keluarga kami hancur," jawab Sisil.
"Perusahaan Papaku bangkrut. Kemungkinan kami akan kehilangan rumah," ucap Kiki.
Mendengar perkataan dari Kiki dan Sisil membuat Agnes, Barbara, Catalina, Delfina, Erlina, Arinda dan Dalila terkejut.
"Bagaimana bisa?" tanya Agnes lagi.
"Kemarin kami bertemu dengan Kimberly di mall. Kami melihat Kimberly membeli tas empat yang harganya lumayan mahal. Aku dan Kiki menghina, memaki dan menjelek-jelekkan Kimberly didepan semua orang. Bahkan beberapa pengunjung juga ikut menghina Kimberly." Sisil menjelaskan kejadian di mall saat itu.
"Setelah mengetahui status asli Kimberly. Aku, Sisil dan beberapa pengunjung yang ikut menghina Kimberly mendapatkan hukuman dari kedua kakak laki-laki Kimberly." Kiki ikut menjelaskan kejadian di mall.
Agnes, Barbara, Catalina, Delfina, Erlina, Arinda dan Dalila terkejut ketika mendengar cerita dari Kiki dan Sisil.
"Eehheemm." tiba-tiba Kimberly berdehem. "Sudah selesai bergosipnya, hum?"
Mereka menatap takut Kimberly. Melihat ketakutan di mata Agnes, Barbara, Catalina, Delfina, Erlina, Arinda, Sisil, Kiki dan Dalila membuat Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catharine tersenyum puas.
Detik kemudian, Agnes memberanikan diri untuk melihat kearah Kimberly.
"Kim..." perkataan Agnes terpotong.
"Jika kau dan para sampahmu itu berniat untuk meminta maaf kepadaku. Eeemmm... Dengan beribu-ribu kata maaf. Aku tidak akan memberikan kata maaf untukmu dan untuk kalian semua." Kimberly berbicara sembari menunjuk kearah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Urusanku dengan kalian sudah selesai. Sekarang giliran kalian semua yang berurusan dengan anggota keluargaku."
Setelah mengatakan itu, Kimberly dan keempat sahabatnya serta Deryl pergi meninggalkan hotel tersebut dengan wajah yang tampak bahagia.
"Selamat menjeput penderitaan kalian!" teriak Santy, Rere, Sinthia dan Catharin.