
Kimberly saat ini berada di rumah sakit. Dirinya ditemani oleh dua kakak laki-lakinya yaitu Jason dan Uggy. Awalny Riyan yang akan ikut bersama Jason untuk menemani adik perempuannya.
Namun tiba-tiba Riyan mendapatkan telepon dari asistennya dan asistennya itu meminta Riyan untuk datang ke kantor. Mau tidak mau Riyan, rela tidak rela. Akhirnya Riyan pun pergi ke kantornya.
Kimberly, Jason dan Uggy melangkah menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ruang VVIP di lantai dua.
"Kak," panggil Kimberly tanpa melihat kearah kedua kakaknya.
Jason dan Uggy tidak langsung menjawab panggilan dari Kimberly. Keduanya sengaja tidak menjawab karena adik perempuannya itu memanggil dengan menyebut kata 'kak' tanpa menyebut nama mereka berdua.
Sementara Kimberly merengut kesal karena panggilan darinya tidak dijawab oleh kedua kakak-kakaknya itu.
Seketika Kimberly menghentikan langkahnya dengan bibir yang sudah melengkung ke bawah.
Melihat adik perempuannya yang tiba-tiba berhenti membuat Jason dan Uggy juga ikut berhenti. Keduanya langsung melihat kearah adiknya yang saat ini tengah merengut kesal.
Jason dan Uggy tersenyum gemas melihat wajah merengut adiknya. Bagi mereka berdua, wajah adiknya itu benar-benar imut dan menggemaskan.
"Kenapa berhenti?" tanya Uggy.
Kimberly tidak menjawab pertanyaan dari kakak keduanya itu. Justru Kimberly menatap dengan wajah kesalnya.
Melihat keterdiaman adiknya membuat Uggy tersenyum sembari mengacak-ngacak rambutnya.
Jason menundukkan kepalanya agar bisa menatap wajah cantik adik perempuannya itu.
"Hei, kenapa?"
"Bodo."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan kedua kakaknya. Sementara Jason dan Uggy seketika membelalakkan matanya ketika melihat adik perempuannya pergi begitu saja.
"Yak, Kim!" Jason dan Uggy langsung menyusul adik perempuannya itu.
^^^
Kini Kimberly dan kedua kakaknya sudah berada di depan ruangan VVIP. Kebetulan di depan pintu berdiri tangan kanan dari penghuni pasien yang ada di dalam ruang VVIP tersebut.
"Nona, anda sudah datang!" sapa pemuda itu.
Mendengar sapaan dari pemuda di depannya. Kimberly tersenyum. Begitu juga dengan Jason dan Uggy.
Pemuda itu kemudian membukakan pintu ruang rawat itu lalu mempersilahkan Kimberly dan kedua kakaknya untuk masuk ke dalam.
"Silahkan nona."
Pemuda itu terlebih masuk lalu disusul oleh Kimberly, Jason dan Uggy.
Ketika melangkah masuk ke dalam ruang rawat itu, Kimberly menggandeng pergelangan tangan Jason. Seumur-umur ini untuk pertama kalinya Kimberly menjenguk orang sakit yang tidak dikenal atau baru kenal.
"Tuan Aldez. Nona Kimberly sudah datang!" seru pemuda yang berstatus tangan kanan Aldez.
Mendengar seruan dari pemuda itu membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut langsung melihat kearah Kimberly, Jason dan Uggy. Di dalam ruangan itu juga ada Bethran.
"Nak Kimberly," sapa Aldez.
Kimberly, Jason dan Uggy melangkah mendekati ranjang Aldez.
"Hallo, kakek! Kita bertemu lagi. Dan ini pertemuan kedua kita," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat kakek Aldez tersenyum. Sementara untuk anggota keluarga Ramendra menatap kakek Aldez dan Kimberly bingung dan juga penasaran.
"Kakek juga senang bisa bertemu dengan kamu. Bagaimana kabar kamu?"
"Baik. Ada apa dengan kakek? Kenapa kakek bisa masuk rumah sakit?"
"Biasalah. Kakek masuk rumah sakit karena kesalahan fatal yang telah diperbuat oleh salah satu cucu kakek yang tidak tahu diri."
Mendengar perkataan kejam dari Aldez membuat semua anggota keluarga Ramendra hanya diam. Begitu juga dengan Bethran.
Aldez menatap teduh wajah Kimberly. "Kakek tidak menyangka jika kamu adalah putri bungsu dari keluarga Aldama. Putri kesayangan Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo."
"Dari mana kakek tahu kalau aku....."
"Siapa yang tidak mengenal keluarga kamu, terutama ayahmu dan adik-adiknya. Semua orang sudah mengenal siapa itu Fathir Aldama."
"Oh iya! Apa kabar mantan teman-teman SMP kamu yang suka bully kamu itu?"
"Jadi apa yang kamu ucapkan sama kakek waktu itu benar-benar kamu lakukan?"
"Iya."
"Berarti mereka...."
"Iya. Mereka masih terus menghinaku dan merendahkanku karena pada saat itu aku masih menyembunyikan identitas asliku. Aku membongkar identitas asliku ketika acara ulang tahun 25 tahun di sekolahku karena pada acara ulang tahun itu mereka makin menjadi-jadi menghinaku dan juga merendahkanku di depan semua murid-murid dan para orang tua yang hadir. Bahkan para orang tua mereka juga ikut-ikutan."
"Benarkah."
"Baguslah kalau begitu. Kakek senang mendengarnya."
Kimberly menatap wajah Aldez. "Sebenarnya alasan kakek ingin bertemu denganku ada apa?"
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat Aldez tersadar. Begitu juga dengan anggota keluarga Ramendra.
"Sebelumnya kakek mau minta maaf sama kamu Kimberly. Begini, alasan kakek mengutus tangan kanan kakek untuk menemui kamu adalah untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh cucu kakek."
Mendengar perkataan dari Aldez yang menyebut cucu membuat Kimberly, Jason dan Uggy terkejut.
"Maksud kakek apa?"
Aldez melihat kearah Bethran yang saat ini berdiri di samping ayahnya. Bethran berdiri dengan menutup tubuhnya di samping ayahnya agar Kimberly tidak melihatnya.
"Bethran, kemari kamu!"
Mendengar panggilan dari kakeknya ditambah lagi suara marah dari kakeknya membuat Bethran pun langsung berdiri di samping ranjang kakeknya.
Melihat wajah Bethran seketika tatapan Kimberly berubah tajam. Begitu juga dengan Jason dan Uggy.
Melihat tatapan tajam dari Kimberly dan kedua kakaknya membuat semua anggota keluarga Ramendra tak berani menatap ketiga kakak adik itu. Begitu juga dengan Bethran.
"Nak Kimberly! Kakek tidak meminta kamu untuk memaafkan kesalahan cucu kakek yang tidak tahu diri ini. Jika kalian ingin memberikan hukuman yang berat padanya. Kakek tidak akan marah atau pun protes. Bagaimana pun dia tetap salah karena telah mengusik salah satu kakak laki-laki kamu. Dia telah mencoreng nama baik keluarga Ramendra dengan cara menipu orang. Yang lebih parahnya, dia menipu orang yang paling berpengaruh dan paling kejam di dunia dan di Jerman."
Kimberly, Jason dan Uggy hanya diam tanpa mengatakan sesuatu. Mereka masih setia mendengar perkataan demi perkataan dari pria tua itu.
"Nak Kimberly! Kalau kakek boleh meminta padamu. Tolong kembalikan satu perusahaan kakek. Terserah yang mana yang akan kamu dan keluarga kamu berikan. Jangan hukum Kakek hanya kesalahan cucu kakek yang bejat ini."
Aldez seketika menangis ketika mengatakan sembari memohon kepada Kimberly.
"Selama ini kakek dan keluarga kakek tidak pernah mencari masalah dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Begitu juga dengan keluarga besan dari dua keluarga itu. Apa yang telah dilakukan oleh Bethran selama ini bersama perempuan itu. Kakek dan keluarga Ramendra sama sekali tidak mengetahuinya. Kakek baru tahu ketika kejadian di mall itu. Itu pun dari tangan kanan kakek. Sejak kejadian di mall itu. Sejak itulah kakek meminta tangan kanan kakek untuk mencari tahu apa saja yang sudah dilakukan oleh Bethran dan Aruna selama ini."
Air mata Aldez makin deras mengalir dari sudut matanya ketika berbicara dengan Kimberly. Sesekali tatapan matanya menatap wajah Jason dan Uggy.
"Nak Kimberly! Alasan kakek meminta hal ini kepadamu karena salah satu perusahaan yang sudah hancur itu adalah perusahaan milik istri kakek. Ketika kakek menikah, ayah mertua kakek melarang kakek untuk membangun perusahaan sendiri. Mertua kakek meminta kakek untuk memimpin perusahaan miliknya, karena mertua kakek itu tidak memiliki anak laki-laki. Ditambah lagi mertua kakek itu tidak terlalu mempercayai keluarganya sendiri, maka dari itu mertua kakek menyerahkan perusahaan miliknya itu kepada kakek."
"Jadi kakek mohon padamu Nak! Berikan satu saja perusahaan itu kepada kakek. Setidaknya perusahaan itu kenang-kenangan dari istri kakek."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Aldez. Ditambah lagi melihat wajah sedih dan memohonnya membuat hati Kimberly menjadi kasihan. Begitu juga dengan Jason dan Uggy.
"Kakak."
Kimberly berucap sembari melihat kearah Jason. Setelah itu, Kimberly beralih menatap wajah Uggy.
Jason dan Uggy secara bersamaan melihat kearah Kimberly. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Aldez yang saat ini masih menatap mereka bertiga. Begitu juga dengan anggota keluarga Ramendra.
Di dalam hati Aldez dan anggota keluarganya berharap agar Kimberly dan kedua kakaknya mau mengembalikan satu saja perusahaan yang sudah mereka hancurkan.
"Kami tidak bisa memutuskannya hari ini. Bagaimana pun kami harus merundingkan masalah ini kepada keluarga kami," ucap Jason.
"Disini yang menjadi korban kebohongan dan korban kekerasan dari saudara Bethran adalah adik laki-laki saya yaitu Riyan Aldama. Dan adik perempuan saya Kimberly Aldama. Jadi saya, kakak saya Jason harus membahas masalah ini dengan keluarga kami!" Uggy berucap sembari menatap wajah Aldez dan wajah anggota keluarga Ramendra.
Mendengar perkataan dari kedua putra Fathir Aldama membuat Aldez dan anggota keluarga Ramendra hanya bisa menerimanya. Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataan dari kedua Aldama bersaudara.
"Baiklah. Tapi saya sangat berharap sekali jika keluarga Aldama mau memberikan satu perusahaan itu untuk bisa kami kelola lagi," ucap Aldez.
"Kami tidak janji. Tapi kami akan mencobanya. Adik kami Riyan sangatlah keras. Dia paling susah dibujuk," ucap Jason.
"Kami mengerti!" jawab Aldez.
Uggy melihat jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya. "Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sebaiknya kami permisi. Apalagi saat ini adik perempuan kami baru saja keluar dari rumah sakit dan adik perempuan kami harus istirahat."
"Baiklah."
Setelah itu, Kimberly dan kedua kakaknya pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk segera pulang ke rumah.