
Keesokan paginya di kediaman Alexander terlihat anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan paginya.
"Tommy," panggil Arka.
"Iya, kak!" Tommy panggilan dari kakaknya itu sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Kakak hanya ingin ngasih tahu kamu masalah Molly dan Sheela."
"Kenapa lagi dengan dengan mereka?" tanya Tommy.
"Jangan bilang kalau mereka akan berulah lagi," sela Sovia.
"Iya, kamu benar!" Arka langsung membenarkan apa yang diucapkan oleh adik perempuannya itu.
"Apa yang akan mereka lakukan kali ini?" tanya Tommy.
"Intinya, Molly dan Sheela ingin mendapatkan kamu dan Andhika dengan secara halus. Mereka tidak akan mengusik Kimberly dan Triny. Bahkan mereka tidak akan menyentuh keduanya. Justru mereka berdua akan membuat Kimberly dan Triny cemburu dengan sikap mereka yang selalu menempel dengan kamu dan Andhika. Mereka akan melakukan segala cara untuk membuat Kimberly dan Triny meninggalkan kamu dan Andhika."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Arka kakak tertuanya membuat Tommy mengepal kuat tangannya.
"Bukan itu saja. Baik Molly maupun Sheela, mereka akan melibatkan Mami dan Mami Belinda dalam permainannya. Mereka berdua akan mendekati Mami dan Mami Belinda."
Mendengar perkataan dari Arka membuat Lusiana seketika terkejut. Dirinya tidak menyangka jika kedua gadis yang sudah ditolong oleh putra dan keponakannya itu membalas kebaikan putra dan keponakannya dengan cara ingin menghancurkan hubungan asmara putranya dan keponakannya.
"Kalian ingin sekali menjadi menantu di keluarga Alexander ya. Baiklah kalau begitu. Aku akan buat kalian berhasil dengan semua rencana kalian. Setelah itu, aku sendiri yang akan menghancurkan kalian berdua sehingga kalian tidak akan bisa memperlihatkan wajah kalian di depan umum." Lusiana berucap di dalam hatinya.
"Biarkan saja kedua gadis menjijikan itu melakukan apa yang ingin mereka lakukan! Kita ikuti saja permainan mereka. Mami akan bahas masalah ini dengan Mami Belinda."
Mereka semua melihat kearah Lusiana. Begitu juga dengan Lusiana yang menatap wajah suami dan anak-anaknya secara bergantian.
"Mami yakin?" tanya Salsa dan Sovia.
"Mami sangat yakin. Untuk kali ini Mami tidak bisa tinggal diam. Sudah cukup Mami diam setiap melihat hubungan asmara Tommy dengan Kimberly selalu diusik oleh perempuan-perempuan yang tak tahu diri. Apalagi sekarang ini melibatkan Andhika dan Triny. Jadi, Mami harus turun tangan langsung untuk menghadapi kedua gadis busuk itu."
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Lusiana membuat Andrean, Arka, Sovia, Salsa, Tommy dan Tama membenarkan dan menyetujui ide dari Lusiana itu.
"Apa rencana kamu sayang?" tanya Andrean.
"Untuk saat ini jika Molly dan Sheela ingin mendekati kita berdua selaku orang tua dari Tommy dan mendekati Judika dan Belinda selaku orang tua dari Andhika, biarkan saja! Aku ingin melihat sendiri rencana apa yang akan mereka lakukan jika bersama kita. Kita cukup mainkan peran kita menjadi orang bodoh di depan mereka berdua."
Mendengar penjelasan dari Lusiana membuat Andrean, Arka, Sovia, Salsa, Tommy dan Tama seketika tersenyum. Mereka menyetujui apa yang barusan dijelaskan oleh ibunya/istrinya.
"Baiklah, sayang! Aku ikut rencana kamu itu. Aku juga ingin melihat bagaimana cara gadis itu merayuku agar mau menerimanya sebagai menantuku. Aku akan bahas masalah ini dengan Judika secepatnya."
"Dasar murahan ditolak sama anaknya, justru ngincar orang tuanya agar mendapatkan restu. Menjijikan!" sahut Tama.
"Alasan mereka berdua ngincar Mami, Papi, Papi Judika dan Mami Belinda adalah mereka berpikir bahwa Tommy dan Andhika akan patuh dan menuruti keinginan kedua orang tuanya jika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan gadis lain dan menentang hubungannya dengan gadis yang dicintainya," sahut Salsa.
"Mereka terlalu percaya diri dengan berpikir seperti itu. Mereka tidak tahu seperti apa keluarga Alexander! Tidak ada yang namanya perjodohan di dalam keluarga Alexander. Apalagi sampai menentang hubungan seseorang dengan orang lain. Selama semuanya baik-baik saja. Selama orang yang mereka cintai memiliki sifat baik, tulus dan setia. Mau dari keluarga kaya maupun keluarga sederhana. Keluarga Alexander akan menerimanya. Begitu juga dengan keluarga Almoz!"
Lusiana menatap kearah putra keempatnya. "Dan untuk kamu, Tommy! Kamu tidak perlu melakukan apapun. Cukup kamu fokus sama belajar, sekolah, mengurus perusahaan dan hubungan kamu dengan Kimberly!" ucap Lusiana mengingatkan.
"Itu sudah pasti, Mi! Semua yang Mami sebutkan barusan semuanya penting bagi aku," jawab Tommy.
"Oh iya, kak Arka! Kakak tahu dari mana jika kedua manusia menjijikan itu akan berulah lagi" tanya Tommy.
"Dari Anjas, tangan kanannya kakak. Kakak meminta Anjas dan beberapa anggotanya untuk mengawasi setiap pergerakan Molly dan Sheela. Dua hari yang lalu dia menghubungi kakak dan memberitahu tentang rencana Molly dan Sheela."
"Nanti kalau di sekolah. Kamu bahas masalah ini dengan Andhika," ucap Arka.
"Baiklah," jawab Tommy.
***
Kimberly sudah berada di sekolah. Hari ini Kimberly diantar oleh kakak ketiganya yaitu Enda. Sejak kemarin sampai hari ini, sifat manjanya kumat berakhir dirinya minta diantar sekolah.
Kini Kimberly tengah melangkahkan kakinya menyusuri luasnya sekolah sembari mendengarkan musik melalui earphone di telinganya.
Di sisi lain dimana Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tengah saat ini melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly yang saat ini asyik dengan dunianya. Berulang kali Rere dan Santy memanggil, namun panggilan dari keduanya tak mendapatkan respon dari Kimberly.
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine akhirnya memutuskan untuk berlari menghampiri Kimberly. Mereka sudah benar-benar kesal terhadap Kimberly yang jalannya lambat seperti kura-kura.
Puk..
Sinthia langsung menepuk pundak Kimberly ketika sudah berada di depan Kimberly sehingga membuat Kimberly terkejut dengan mengeluarkan umpatan terdahsyatnya.
"Eh, anak setan!"
"Hahahaha."
Seketika Rere, Santy dan Catherine tertawa keras mendengar ucapan indah dari Kimberly.
Sementara Sinthia seketika membelalakkan matanya ketika mendengar umpatan manis dari Kimberly. Detik kemudian, Sinthia memperlihatkan wajah sedihnya.
Rere, Santy dan Catherine tersenyum geli ketika melihat wajah Sinthia yang berubah sedih di hadapan Kimberly.
"Nggak usah sok imut di depan gue," sahut Kimberly bersamaan dengan tangan kanannya mengusap wajah Sinthia.
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan keempat sahabatnya untuk menuju kelas. Dan diikuti oleh keempat sahabatnya di belakang dengan wajah Sinthia yang masih cemberut.
Sementara disisi lain tak jauh dari Kimberly dan keempat sahabatnya. Triny, Aryan, Billy, Tommy serta para sahabatnya tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar umpatan indah dari Kimberly untuk Sinthia.
"Benar-benar ya Kimberly. Mulutnya itu... Eeemmm... Kalau ngomonya terlalu indah," ucap Nathan.
"Asal jeplak aja tuh mulut," sela Ivan.
Sementara yang lainnya hanya tersenyum ketika mendengar umpatan indah dari Kimberly dan melihat wajah pura-pura sedih Sinthia.