
Ketika Jason tengah fokus sama berkas-berkas nya. Jason dikejutkan dengan bunyi notifikasi di ponselnya.
Jason mengambil ponselnya yang ada di sampingnya, lalu kemudian matanya melihat satu pesan masuk dari Bibi Luna.
"Bibi Luna," batin Jason.
Jason kemudian membuka pesan itu dan membacanya. Seketika matanya membelalak ketika membaca isi pesan tersebut.
"Sial," umpat Jason.
Jason langsung menghubungi tangan kanannya dan menyuruh tangan kanannya itu untuk pergi ke lokasi adik perempuannya saat ini.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara di seberang telepon.
"Hallo, Bos."
"Pergilah ke jalan Rathausplatz sampai aku datang. Adik perempuanku dalam bahaya."
"Baik, Bos.
PIP!
Jason langsung mematikan panggilannya. Dirinya saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan adiknya itu.
"Kimberly sayang. Sabar ya. Kakak kesana sekarang. Dan Kakak udah mengutus anggota Kakak untuk nolongin kamu, Bibi Luna dan Paman Harris," batin Jason.
Jason langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dirinya tidak peduli jika sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Baginya yang paling penting adalah keselamatan nyawa adik perempuannya.
***
Kini Jason sudah berada di dalam mobilnya. Jason membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Dirinya ingin segera sampai di lokasi dimana adiknya berada.
Jason memasang earphone di telinganya. Kemudian Jason menghubungi Billy, adik sepupunya. Jason ingin menanyakan kepada Billy kenapa adik perempuannya bisa bersama dengan Bibi Luna dan Paman Harris. Setahu Jason bahwa adiknya itu berada di sekolah.
Setelah nomor tersambung. Terdengar suara Billy di seberang telepon.
"Hallo, Kak Jason. Ada apa?"
"Kau lagi dimana? Dan sedang apa sekarang?"
***
Billy, keempat sahabat Kimberly, Triny, Aryan, Tommy, dan para sahabatnya berada di lobi.
Mereka tengah membahas masalah yang menimpa Kimberly. Mereka semua tidak tinggal diam atas apa yang telah dilakukan oleh Antoni terhadap Kimberly terutama Aryan, Triny dan Billy.
Ketika mereka tengah memikirkan balasan apa yang pantas untuk Antoni, Syafina dan Talitha. Tiba-tiba ponsel milik Billy berbunyi.
Billy langsung mengambil ponsel ketika dirinya mendengar bunyi ponselnya. Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Billy melihat nama 'Kak Jason' di layar ponselnya. Billy pun langsung menjawabnya.
"Hallo, Kak Jason. Ada apa?"
"Kau lagi dimana? Dan sedang apa sekarang?"
"Aku dan yang lainnya sedang berada di lobi. Kenapa Kak?"
"Kakak mau nanya. Kenapa Kimberly bisa bersama Bibi Luna? Ada apa? Bukankah seharusnya Kimberly berada di sekolah?"
"Emm. Ada masalah Kak. Kimberly hampir dilecehkan oleh Antoni."
"Antoni mantan Kimberly?"
"Iya, Kak! Bahkan Kimberly sempat dipukul di bagian tengkuk hingga pingsan."
"Berengsek! Siapa yang melakukannya?"
"Antoni berkerja sama dengan Talitha dan Syafina. Dua teman sekelasnya yang selalu cari ribut dengan Kimberly dan keempat sahabatnya."
"Sekarang Kakak minta sama kamu. Susul Kimberly sekarang juga. Ada sekitar 10 orang yang saat sedang mencegat mobil Kimberly. Kakak saat ini dijalan untuk kesana. Kakak takut kalau Kakak terlambat sampai disana."
"Apa?!"
Billy seketika berdiri dari duduknya ketika mendengar perkataan dari Kakak sepupunya mengenai Kimberly.
"Buruan Billy! Gak ada waktu!"
"Baik, Kak!"
PIP!
"Kita susul Kimberly!" seru Billy.
Setelah itu, Billy langsung pergi meninggalkan lobi. Melihat kepergian Billy. Mereka semua pun ikut pergi menyusul Billy.
"Billy, ada apa?" tanya Triny.
"Gak ada waktu untuk menjelaskan Triny. Kita harus segera menyusul Kimberly," sahut Billy.
***
DUG! DUG!
DUG! DUG!
"Keluar!" teriak orang-orang yang ada diluar sambil memukul-mukul kaca mobil.
"Bagaimana ini, Non?" tanya Bibi Luna.
"Aku akan keluar," jawab Kimberly.
"Jangan Non. Bahaya," ucap Bibi Luna.
"Bibi Luna sama Paman Harris tidak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Kalian tetap di dalam mobil."
Setelah mengatakan itu, Kimberly membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil.
Melihat Kimberly yang sudah keluar dari dalam mobil membuat kesepuluh laki-laki itu tersenyum kemenangan.
Kini Kimberly sudah berada diluar dan menatap tajam kesepuluh laki-laki yang ada di hadapannya.
"Kau harus ikut dengan kami sekarang," ucap salah satu dari kesepuluh laki-laki itu.
"Memangnya kalian itu siapa?! Seenaknya saja kau memerintahku," jawab Kimberly menatap tajam kesepuluh laki-laki itu.
"Kau tidak memiliki pilihan Nona. Ditambah lagi kau sendirian dan kau seorang wanita. Jadi menyerah saja dan ikutlah dengan kami," ucap laki-laki lainnya.
"Kalau kalian ingin membawaku. Langkahi dulu mayatku," sahut Kimberly.
DUUAAGGHH!
Kimberly langsung memberikan satu tendangan kuat kepada laki-laki yang hendak menyentuhnya.
Laki-laki itu tersungkur di aspal dan perut terlebih dahulu menghantam aspal.
Melihat gerakan dari Kimberly yang begitu gesit membuat kesembilan laki-laki yang lainnya saling lirik. Sementara Kimberly menatap mereka dengan senyuman di sudut bibirnya.
"Serang!" teriak sang pemimpin.
Dan terjadilah pertarungan tak seimbang sembilan lawan satu. Sembilan laki-laki melawan satu perempuan. Memalukan!
***
Billy dan yang lainnya saat ini sudah dalam perjalanan untuk menyusul Kimberly. Mereka menggunakan motor dan juga mobil.
Baik Billy maupun yang lainnya tampak khawatir. Mereka semua berharap Kimberly baik-baik saja.
"Kim, semoga kamu baik-baik saja." Billy berbicara di dalam hatinya.
"Kim, tunggu kami." Triny dan Aryan membantin.
"Sayang. Jangan sampai terluka," batin Tommy.
"Kim. Aku berharap kamu baik-baik saja," batin keempat sahabatnya.
***
BUGH! BUGH!
DUUAAGGHH!
BAGH! BAGH!
BUGH! DUUAAGGHH!
BRUUKK! BRUUKK!
Tujuh dari sembilan laki-laki itu terkapar akibat pukulan dan tendangan kuat dari Kimberly.
"Sial. Ilmu bela diri perempuan itu hebat sekali," gumam salah satu laki-laki yang menjadi korban pukulan dan tendangan dari Kimberly.
"Perempuan itu benar-benar hebat," ucap yang lainnya.
"Nona. Kami tidak ingin menyakitimu. Jadi ikutlah dengan kami sekarang!" teriak sang pemimpin.
"Aku tidak sudi ikut dengan kalian. Seperti yang sudah aku katakan barusan. Langkahi dulu mayatku baru kau dan para sampahmu itu bisa membawaku," sahut Kimberly.
Melihat keras kepala Kimberly yang tidak kunjung mematuhi perintahnya membuat laki-laki yang berstatus sebagai pemimpin itu benar-benar marah. Detik kemudian, laki-laki itu dan satu temannya menyerang Kimberly secara bersamaan.
Keduanya menyerang Kimberly secara brutal dan seperti orang kerasukan. Kimberly yang melihat cara bertarung keduanya hanya tersenyum mengejek.
Ketika Kimberly sedang melawan kedua laki-laki yang tersisa. Tanpa Kimberly sadari. Salah satu laki-laki yang kini tengah kesakitan seketika berdiri, lalu mengeluarkan sebuah pistol di balik bajunya.
Setelah pistol itu ada di tangannya. Laki-laki itu pun mengarahkan pistol itu kearah Kimberly.
DOR!
Tembakkan itu tepat mengenai perut Kimberly. Melihat Kimberly yang tertembak. Kedua laki-laki itu terkejut dan langsung melihat kearah samping. Dan dapat keduanya melihat salah satu temannya memegang pistol.
Keduanya menghampiri temannya itu. Dan menatap tajam kearah temannya itu.
"Apa yang kau lakukan, hah?!"
"Kita diperintahkan untuk membawa perempuan itu hidup-hidup dan dalam keadaan baik-baik. Kenapa kau malah menembaknya!"
"Aku sudah muak dengan perempuan itu. Kita sudah membujuknya, tapi perempuan itu tetap saja tidak mau mematuhi perintah kita. Jadi terpaksa aku sedikit melukainya. Dengan aku melukainya. Kita bisa membawanya pergi."
Keduanya kembali melihat kearah Kimberly dimana saat ini Kimberly tengah berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Keduanya pun mendekati Kimberly dan akan membawa Kimberly pergi.
Namun seketika langkah kaki kedua laki-laki itu terhenti ketika mendengar suara motor dan mobil menuju kearah mereka.
Kedua laki-laki itu dan teman-teman yang sudah terluka akibat pukulan dan tendangan dari Kimberly terkejut ketika melihat beberapa orang datang menghampiri mereka.
"Sial. Kita kalah jumlah. Bisa-bisa kita mati bonyok. Kita pergi dari sini!"
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Kimberly dalam keadaan terluka.
BRUUKK!
Seketika tubuh Kimberly jatuh terkulai di aspal. Melihat tubuh Kimberly yang jatuh, Bibi Luna dan Paman Harris langsung keluar dari dalam mobil.
"Non!" teriak Bibi Luna dan Paman Harris. Bibi Luna mengangkat kepala Kimberly dan meletakkan di atas pahanya.
"Non... Hiks," isak Bibi Luna.
"Kimberly!" teriak Billy, Triny, Aryan, Tommy, keempat sahabatnya dan yang lainnya ketika melihat Kimberly terbaring di paha Bibi Luna.
"Kimberly." Billy mengambil alih tubuh Kimberly dan membawanya ke pelukannya.
Billy menangis melihat keadaan Kimberly saat ini. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu pulang. Seharusnya aku memintamu untuk tetap istirahat di ruang UKS saja."
"Billy. Kita harus membawa Kimberly ke rumah sakit sekarang. Lihatlah wajah Kimberly sudah pucat!" seru Mirza.
Tommy langsung menggendong tubuh Kimberly dan membawanya masuk ke dalam mobil Kimberly. Tanpa menunggu apapun. Tommy meminta Paman Harris untuk langsung ke rumah sakit.
Melihat kepergian mobil Kimberly mereka semua pun beranjak pergi dan meninggalkan lokasi.