
Kimberly sudah berada di rumahnya. Kimberly pulang diantar oleh Tommy. Awalnya yang akan mengantarkan Kimberly pulang adalah Aryan. Dikarenakan Tommy ingin mengajak kencan Kimberly, maka berakhir Kimberly pulang dengan Tommy.
Kimberly berada di kamarnya. Dirinya saat ini sedang mengerjakan dua tugas yaitu matematika dan bahasa inggris. Kimberly yang sedang fokus mengerjakan tugas-tugasnya tidak terdengar suara ketukan pintu karena telinganya disumbat dengan earphone.
Seseorang yang berada di luar kamarnya langsung saja membuka pintu kamarnya karena tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar.
CKLEK!
Pintu di buka dan orang itu melangkah masuk ke dalam kamar. Setelah berada di dalam kamar. Orang itu tersenyum lembut kearah Kimberly. Setelah itu, orang itu menghampiri Kimberly yang tengah fokus mengerjakan tugas-tugasnya.
GREP!
Orang itu langsung memeluk Kimberly dari belakang dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kepalanya.
Kimberly terkejut ketika mendapatkan pelukan dan kecupan di kepalanya langsung melepaskan earphone dan mengalihkan perhatiannya ke belakang. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
"Mommy," ucap Kimberly lembut.
"Mommy ganggu ya?"
"Tidak. Mommy gak ganggu."
"Banyak tugasnya?"
"Banyak, Mom! Bahasa inggris sama matematika."
"Itu bukan banyak namanya. Itu dua. Bahasa inggris sama matematika doang. Dikit itu."
Nashita berucap sembari menjahili putrinya. Dirinya tahu jika putrinya saat ini tengah mati-matian menyelesaikan semua soal. Baik bahasa inggris maupun matematika.
Nashita berbicara seperti tadi hanya untuk membuat putrinya sedikit rilex. Dirinya tidak ingin putrinya terbebani dengan tugas-tugas sekolahnya, walau Nashita tahu putrinya mampu mengerjakan semuanya.
"Ih, Mommy! Yang dua itukan mata pelajarannya. Bahasa inggris dan matematika. Mommy lihat nih soalnya." Kimberly memperlihatkan soal-soal itu ke hadapan Nashita. "Masing-masing berjumlah 30 soal. Dan semuanya essay. Hufff!"
Nashita tersenyum gemas mendengar jawaban dari putrinya. Tangannya mengusap-ngusap lembut kepalanya.
"Anak Mommy bisa. Semangat!"
"Terima kasih, Mom!"
"Butuh sesuatu, hum?"
Kimberly menatap wajah cantik ibunya, kemudian tersenyum. "Aku mau susu coklat. Boleh?"
Nashita membalas dengan memberikan senyuman yang tak kalah manisnya dari putrinya. "Tentu. Dengan senang hati Mommy akan buatkan untuk putri cantik Mommy ini."
"Terima kasih, Mom!" Kimberly memberikan kecupan kedua pipi ibunya. Nashita tersenyum ketika mendapatkan dua kecupan dari putrinya.
Setelah itu, Nashita pun pergi meninggalkan kamar Kimberly dan langsung menuju dapur untuk membuatkan susu coklat untuk putrinya.
Setibanya di dapur, Nashita langsung membuatkan susu untuk putrinya. Nashita juga tak lupa mengolesi beberapa roti dengan selai kacang kesukaan putrinya. Nashita membuatkan susu coklat dan ditemani roti selai untuk putrinya agar putrinya tambah semangat belajarnya.
Setelah beberapa menit, Nashita pun selesai. Nashita membawa nampan yang sudah ada segelas susu coklat dan beberapa potong roti selai ke kamar Kimberly.
Ketika Nashita hendak menaiki anak tangga. Kelima jagoannya muncul. Mereka adalah Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan. Mereka melihat Nashita membawa nampan dan menuju ke lantai dua. Mereka meyakini bahwa Nashita akan ke kamar Kimberly.
Fathir melihat kearah keempat putra-putranya. Begitu juga dengan keempat putra-putranya. Mereka tersenyum, kemudian mereka pun memutuskan untuk mengikuti Nashita. Mereka penasaran apa yang dilakuan oleh kedua perempuan yang sangat mereka sayangi.
Nashita sudah berada di kamar Kimberly. Kimberly tersenyum ketika ibunya datang. "Ini susu coklatnya lengkap dengan roti selainya."
"Terima kasih, Mom!"
Kimberly langsung meneguk habis susu coklat itu tanpa sisa sama sekali. Nashita yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Enak, Mom!"
"Apa kami mengganggu?"
Fathir dan keempat putra-putranya melangkah masuk ke dalam kamar Kimberly. Kimberly dan Nashita langsung melihat kearah kelima laki-laki tampan yang sudah berdiri di hadapannya. Keduanya tersenyum.
"Daddy, Kakak."
"Sayang, anak-anak."
"Putrinya Daddy sedang belajar, hum?" Fathir mendekati putrinya lalu memberikan kecupan di keningnya.
"Iya, Dad. Besok semua tugasnya harus dikumpulkan."
"Kalau lelah istirahat dulu. Daddy tidak mau kamu kelelahan dan berakhir sakit." tangannya mengusap-ngusap lembut kepala putrinya.
GREP!
Kimberly tiba-tiba memeluk tubuh ayahnya. Pelukannya begitu erat seakan-akan tidak ingin berpisah.
Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan yang melihat Kimberly yang memeluk ayahnya tersenyum bahagia. Mereka tahu bagaimana sayangnya Kimberly kepada ayahnya.
"Terima kasih, Daddy. Aku sayang Daddy. Sayang banyak-banyak." Kimberly makin mengeratkan pelukannya.
Fathir tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan tulus dari putrinya. tangannya kembali mengusap-ngusap kepala putrinya.
"Daddy juga sayang kamu. Sayangnya Daddy lebih banyak dari pada kamu." Fathir menjahili putrinya.
"Hehehehe. Maafkan Daddy. Sayang kamu lebih besar dari pada Daddy." Fathir memberikan kecupan di kepala putrinya.
Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. "Daddy yang terbaik."
Seketika Kimberly tersadar akan sesuatu. Matanya langsung menatap kearah buku-bukunya. Dan kemudian matanya melotot.
"Iih. Ini kapan kelarnya tugas-tugasnya jika Mommy, Daddy, Kak Jason, Kak Uggy, Kak Enda dan Kak Iyan masih di kamarku. Apa kalian mau aku mendapatkan hukuman karena tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah?"
Mereka hanya terkekeh mendengar aksi protes Kimberly. Mereka secara bergantian mengacak-acak rambut Kimberly.
"Baiklah. Kami akan keluar!" Fathir berucap.
Fathir dan Nashita pun keluar meninggalkan kamar Kimberly. Dan disusul keempat kakak-kakaknya.
Ketika ingin meninggalkan kamar Kimberly, Riyan mencuri satu potong roti milik Kimberly. Dan hal itu sukses membuat Kimberly berteriak kencang.
"Kakak Riyan. Itu rotiku!"
"Terima kasih rotinya, Kim!"
BLAM!
Riyan menutup pintu kamar adiknya agar tidak mendengar teriakan untuk yang kedua kalinya dan umpatan yang keluar dari mulut adiknya itu.
Sementara Jason, Uggy dan Enda hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Riyan yang selalu berhasil mengganggu adik bungsu mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Dan waktunya anggota keluarga Aldama akan melaksanakan makan malam bersama.
Fathir, Nashita dan ketiga putra mereka yaitu Jason, Uggy dan Enda sudah berada di meja makan. Hanya Riyan dan Kimberly yang belum bergabung dengan anggota keluarganya.
Ketika Nashita ingin beranjak dari duduknya berniat ingin ke kamar kedua anak-anaknya itu, lalu terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka melihat kearah asal suara dan seketika terukir senyuman di bibir mereka masing-masing.
"Malam Mom, Dad, kakak-kakakku yang tampan." Kimberly menyapa.
"Pagi Princess," jawab mereka kompak.
"Kak Iyan mana?"
"Kakakmu itu masih di kamarnya sayang. Apa kamu mau memanggil kakakmu untuk makan malam?"jawab dan tanya Nashita.
"Baik, Mom. Aku akan ke kamar Kak Iyan sekarang."
Nashita, Fathir, Jason, Uggy dan Enda tersenyum ketika Kimberly yang langsung menurut perintah ibunya.
Kimberly sudah berada di depan kamar Kakak keempatnya. Kimberly mengetuk pintu kamar kakaknya itu beberapa kali disertai panggilan khasnya.
"Kakak Iyan. Mommy, Daddy, Kak Jason, Kak Uggy dan Kak Enda udah nunggu di meja makan. Semuanya nunggu Kakak!"
Tidak ada jawab dari siempunya kamar. Hening seperti tak berpenghuni. Hal itu sukses membuat Kimberly kesal.
"Hello, Kakak Iyan! Kakak dengar tidak! Ditungguin tuh di meja makan. Kak... Kakak ada di dalam kamarkan? Kakak masih hidupkan? Jangan-jangan Kakak udah mati lagi. Jangan mati dulu Kak. Dosa Kakak banyak banget sama aku. Kakak harus minta maaf dulu sama aku. Setelah itu boleh deh kakak mati!" Kimberly berteriak di depan kamar Riyan.
Mendengar teriakan dan perkataan Kimberly. Nashita, Fathir, Jason, Uggy dan Enda hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mereka tak habis pikir jika princess mereka bisa bicara seperti itu. Tapi bagi mereka semuanya hanya gurauan semata. Mereka tidak menganggap serius akan perkataan Kimberly atau pun mereka ingin marah karena memang seperti itulah setiap hari kelakuan Kimberly dan Riyan. Jika Riyan yang berhasil mengganggu Kimberly. Maka Kimberly akan membalasnya.
Merasa tidak mendapatkan balasan sama sekali dari sang Kakak. Kimberly akhirnya membuka pintu kamar kakaknya itu. Setelah pintu terbuka, Kimberly melangkah masuk ke dalam kamar. Setiba di dalam kamar kakaknya. Kimberly melihat gundukan di atas tempat tidur.
Melihat hal itu, Kimberly tersenyum licik. Detik kemudian, Kimberly berlari naik keatas tempat tidur dan langsung mendudukkan tubuhnya di atas punggung kakaknya. Setelah itu, Kimberly membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang.
Riyan yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap terkejut karena badannya dihimpit oleh adiknya.
"Ya ampun, dek! Kamu tuh berat tahu gak. Turun gak dari punggung Kakak?" Riyan kesal akan ulah adiknya yang seenaknya aja main himpit aja punggungnya. Ditambah lagi adiknya masih santai-santainya tiduran di atas punggungnya.
"Satu lagi. Barusan kamu doain Kakak biar cepat mati. Segitunya kamu dek sama Kakak. Apa kamu udah bosan punya Kakak seperti Kakak?" kesal Riyan.
Kimberly bangkit dari tidurannya, lalu beranjak dari punggung kakaknya. Kini Kimberly sudah duduk menghadap kakaknya.
"Yaelah, Kak! Baper banget jadi laki. Kan aku tadi ngomongnya asal. Aku pikir Kakak beneran udah mati. Habisnya aku teriak-teriak berulang kali di depan kamar Kakak. Kakak gak dengar. Tenggorokanku sampai sakit tahu." Kimberly mempoutkan bibirnya kesal.
Mendengar jawaban dan melihat wajah kesal adiknya, Riyan tersenyum gemas. Tangannya kemudian menyentil pelan hidung mancung adiknya itu.
"Eh, jelek. Wajarlah Kakak gak dengar teriakan kamu yang kayak toa itu. Kakak pakai earphone di telinga Kakak. Yang buat Kakak heran disini adalah gak biasanya kamu berubah jadi adek yang baik dengan cara mengetuk pintu kamar kakak dan teriak-teriak di luar. Biasanya juga kamu langsung nyelonong gitu aja kalau mau masuk ke kamar Kakak. Gak pakai permisi dan gak pakai ketuk pintu dulu." Riyan berbicara sambil menatap horor adiknya.
Mendengar perkataan panjang lebar dari kakaknya membuat Kimberly hanya cengengesan. "Hehehehe."
"Kakak. Yuk, kebawah! Mommy, Daddy, Kak Jason, Kak Uggy dan Kak Enda sudah nunggu kita di meja makan," ajak Kimberly.
"Ya, sudah. Ayo!" Riyan beranjak dari tempat tidurnya lalu menggandeng tangan adiknya.
"Kak, aku males jalan. Gedong ya." Kimberly memperlihatkan senyuman termanisnya kepada Riyan.
Melihat senyuman manis dari adiknya membuat hati Riyan luluh. Apapun akan Riyan lakukan untuk adiknya. Riyan berjongkok di hadapan adiknya.
"Naiklah."
Kimberly tersenyum, kemudian naik ke atas punggungnya Riyan dan tangannya melingkar di leher kakaknya.
Setelah itu, Riyan pun turun ke bawah menuju ruang makan dengan menggendong Kimberly di belakang.