THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ucapan Kejam Santy



"Kita jadikan ke rumah Kimberly?" tanya Sinthia dengan menatap satu persatu wajah Rere, Santy dan Catherine bergantian.


"Iya, jadi! Pasti saat ini Kimberly bosen di rumah. Biasanya kan Kimberly selalu bersama kita," ucap Rere.


"Tahu sendirilah bagaimana sifat Kimberly kalau sudah bosen. Dia pasti akan neror kita sebelum keinginannya itu terpenuhi," ucap Catherine yang mengumbar kebiasaan sahabat kelincinya itu.


"Hm." Santy, Rere dan Sinthia langsung manggut-manggut menyetujui apa yang dikatakan oleh Catherine tentang sifat Kimberly.


"Aku dengar teman-temannya kak Lionel, teman-temannya kak Triny dan teman-temannya Aryan juga akan datang," ucap Santy.


"Baguslah. Setidaknya kita semuanya akan ngerecoki hidup seorang Kimberly beberapa jam ke depan!" seru Rere sembari tersenyum.


Saat ini Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berada di lapangan. Mereka berbicara tentang Kimberly dan yang lainnya sembari bermain ponsel dan mencicipi beberapa cemilan.


Ketika Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sedang asyik dengan dunianya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Sean, Aaron, Danny dan Elan.


Baik Sean, Aaron maupun Danny dan Elan menatap kearah Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Elan menatap lekat kearah Santy. Terlihat jelas olehnya kalau Santy menatap takut padanya.


Santy meremat tangan kanan Catherine dengan menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Catherine.


"Mau apalagi kalian? Apa belum jera dua hari yang lalu mendapatkan pukulan demi pukulan dari Billy Henry, Satya, Lionel?" tanya Catherine.


"Lebih baik kalian pergi deh. Jangan ganggu kami. Apapun yang akan kalian lakukan terserah. Asalkan tidak mengusik kami," ucap Rere.


Elan masih menatap kearah Santy. Dirinya ingin meminta maaf kepada Santy atas apa yang sudah dirinya perbuat dua hari yang lalu.


"Santy," panggil Elan.


"Pergi," usir Santy langsung.


"Santy, maafin gue. Gue ngaku salah. Seharusnya gue....." perkataan Elan seketika terpotong karena Santy terlebih dahulu bersuara.


"Pergi! Gue nggak mau lihat wajah lo lagi. Kau benci sama lo dan teman-teman lo!" teriak Santy.


Setelah mengatakan itu, Santy langsung berdiri sambil menarik tangan Catherine. Dan diikuti oleh Rere dan Sinthia.


Santy menatap kearah Elan dan ketiga teman-temannya. "Dan masalah kemarin. Jangan harap masalah itu akan selesai begitu saja. Kedua kakak laki-laki gue dan kedua orang tua gue akan mengusut masalah itu. Mereka akan menemui keluarga lo untuk meminta pertanggung jawaban terhadap apa yang lo lakuin ke gue. Kemungkinan juga keluarga dari ketiga sahabat gue juga bakal mendatangi keluarga dari ketiga teman-teman lo itu."


Setelah mengatakan itu, Santy pergi meninggalkan lapangan. Begitu juga dengan Catherine, Rere dan Sinthia.


Apa yang dilakukan oleh Sean, Aaron, Danny dan Elan terhadap Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah diketahui oleh keluarga masing-masing.


Billy, Henry, Lionel dan Satya sudah menceritakan kepada kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tentang apa yang mereka alami di sekolah.


Mendengar cerita dari Billy, Henry, Lionel dan Satya membuat kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Rere, Santy, Sinthia dan Catherine marah, terutama kedua kakak laki-lakinya.


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terus melangkah menyusuri luasnya sekolah. Mereka berencana untuk menemui pujaan hati mereka masing-masing.


Namun seketika langkah mereka terhenti dikarenakan Syafina dan keempat sahabatnya menghalangi jalan.


"Mereka lagi," batin Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


"Mau apa?" tanya Sinthia ketus.


Mendengar pertanyaan dari Rere seketika Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna tersenyum menyeringai.


"Wah! Ternyata berani juga ya kalau nggak ada ketua gengnya," ejek Aruna.


"Memangnya sejak kapan kami takut dengan kalian, hah?!" tanya Rere dengan menatap tajam Aruna.


"Selama kami sekolah disini. Nggak ada yang namanya kata takut dalam hidup kamu. Baik ada Kimberly maupun tidak ada Kimberly sama sekali. Nggak kayak kalian," ucap Sinthia dengan tatapan remehnya.


Mendengar perkataan sekaligus ejekan dari Sinthia membuat Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna mengepalkan tangannya kuat.


"Apa maksud lo, hah?!" bentak Syafina.


"Maksud gue itu adalah kalianlah yang penakut. Bukan kita-kita. Kalian berani ketika bersama. Tapi jika anggota kalian berkurang, nyali kalian hanya sebesar biji pete." Sinthia berucap dengan tersenyum manis.


Rere, Santy dan Catherine tersenyum ketika mendengar perkataan dari Sinthia. Sedangkan Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna menatap marah kearah Sinthia.


Syafina menatap wajah Santy sebentar. Setelah itu, Syafina mengalihkan perhatiannya menatap wajah Catherine.


Mendengar perkataan dari Syafina membuat Catherine tersenyum mengejek. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia.


"Dan lo Santy. Elan juga cinta sama lo. Gue rasa kalian berdua cocok deh. Ditambah lagi.... Eemmm... Elan sudah melihat daleman lo ketika di kelas itu. So... Nggak usah malu dan sok jual mahal segala. Jujur aja bahwa lo pengen kan?"


Syafina berbicara dengan kata-kata yang begitu menyakitkan dan tatapan jijik yang diberikan untuk Santy.


Sementara Santy mengepal kuat tangannya dengan menatap marah Syafina. Begitu juga dengan Rere, Sinthia dan Catherine.


"Lo pikir gue adalah lo yang dengan beraninya memperlihatkan lekuk tubuhnya sama banyak laki-laki? Lo pikir gue adalah lo yang joget-joget di klub malam lalu dipeluk oleh banyak laki-laki sambil tubuhnya diraba-raba banyak tangan? Lo salah besar, nona Syafina! Gue Santy Ramiraz adalah perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik. Dan gue bukan wanita murahan kayak lo dan sahabat-sahabat lo itu yang setiap hari disentuh dan dipeluk oleh banyak laki-laki. Bahkan sama sepupu sendiri."


Santy berbicara dengan penuh penekanan pada setiap katanya. Bahkan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Santy dapat didengar oleh murid-murid yang berlalu lalang dan yang berada tak jauh dari mereka.


Syafina menatap marah kearah Santy. Dirinya tak terima mendengar setiap perkataan dari Santy tentang dirinya. Apalagi Santy berbicara dengan suara yang keras sehingga didengar semua murid-murid.


"Dan gue rasa Billy nggak bakal mau sama perempuan usang kayak lo. Rugi dong jika Billy ngelepasin Catherine yang masih perawan demi perempuan kayak lo. Gue aja kalau jadi laki-laki, ogah milih lo."


Santy kembali berucap. Dan ucapannya kalian ini benar-benar menusuk sampai ke hati Syafina sehingga membuat Syafina murka.


"Brengsek! Beraninya lo bicara gitu sama gue!" bentak Syafina lalu melayangkan tangannya hendak menampar wajah Santy.


Srek!


"Aakkhh!"


Seketika Syafina berteriak kesakitan di pergelangan tangannya.


"Lionel!" seru Catherine, Rere dan Sinthia bersamaan. Sementara Santy tersenyum ketika pujaan hatinya datang.


"Nggak semudah itu lo ingin menampar cewek gue!" bentak Lionel dengan meremat kuat pergelangan tangan Syafina.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Henry dengan menatap satu persatu sahabat-sahabatnya Kimberly.


"Kita baik-baik saja," jawab Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


Lionel datang bersama Billy, Tommy dan sahabat-sahabatnya yang lain.


Lionel menatap wajah cantik Santy. "Apa perempuan sialan ini nyakitin kamu, Santy?"


"Tidak sempat karena kamu keburu datang. Terima kasih ya sayang."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Santy membuat Lionel tersenyum bahagia. Apalagi ketika mendengar Santy yang menyebut sayang.


"Billy," panggil Rere.


"Iya, Re! Ada apa?" ucap dan tanya Billy.


"Kamu mau tahu nggak apa yang udah dilakuin oleh nenek lampir itu kepada Catherine?" tanya Rere.


"Apa? Katakan padaku. Apa yang dilakukan sama perempuan ini terhadap Catherine?" tanya Billy dengan menatap tajam kearah Syafina.


Rere tersenyum menyeringai menatap wajah kesakitan Syafina lalu kembali menatap wajah Billy.


"Perempuan itu meminta Catherine untuk ninggalin kamu. Bahkan dia nyaranin Catherine dan juga Santy buat nerima cintanya Danny dan Elan."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Rere seketika Billy dan Lionel menatap penuh amarah kearah Syafina.


Sementara Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum puas ketika melihat wajah takut Syafina.


"Beraninya lo ngomong begitu sama cewek gue, hah?! Lo pikir lo itu siapa! Lo bukan siapa-siapa gue. Jadi jangan mengusik kehidupan gue dan juga orang-orang disekitar gue!" bentak Billy.


Lionel mendorong kuat tubuh Syafina sehingga membuat tubuh Syafina tersungkur di tanah.


"Menjauhlah dari gue dan juga orang-orang disekitar gue. Jika lo dan keluarga lo ingin hidup tenang. Patuhi perintah gue!" bentak Billy.


Lionel menatap tajam kearah Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna yang saat ini tampak ketakutan ketika melihat kemarahan Billy.


"Untuk kalian juga. Jika kalian dan keluarga kalian ingin tetap selamat dan dalam baik-baik saja. Jalan satu-satunya adalah jangan ganggu kita lagi. Menjauhlah dari kita semua, terutama menjauhlah dari Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Jangan mencari masalah lagi dengan mereka."


Setelah mengatakan itu, Lionel pergi meninggalkan lapangan dengan menarik pelan tangan Santy. Dan diikuti oleh yang lainnya.