
Setelah mengingat kejadian lima hari yang lalu ketika berada di sebuah toko yang ada di dalam Mall membuat Kimberly tersenyum di sudut bibirnya. Tatapan matanya menatap kedua gadis itu.
"Mau ngapain kalian kemari?" tanya Kimberly dengan menatap dingin.
Sedangkan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menatap bingung dan penasaran kearah dua gadis yang ada di hadapannya itu.
Catherine menatap kearah Kimberly. Dirinya benar-benar penasaran akan kedua gadis itu. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia.
"Kim," panggil Catherine.
"Hm!" Kimberly menjawab panggilan dari Catherine namun tatapan matanya masih menatap kearah dua gadis itu.
"Siapa mereka? Kamu kenal?" tanya Catherine dengan tatapan matanya menatap kearah dua gadis itu.
"Nggaklah. Gue nggak kenal mereka."
"Terus siapa mereka? Kenapa mereka nyari lo?" tanya Rere.
"Mungkin mereka kangen sama gue," jawab Kimberly asal.
"Kim. Bisa serius nggak sih?!" kesal Santy.
Kimberly seketika melihat kearah Santy yang menatapnya kesal. Setelah itu, Kimberly memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Santy.
"Aish." Santy langsung memalingkan wajahnya menatap ke depan.
Kimberly menatap kearah depan dimana berdiri dua gadis yang tengah menatap dirinya. Kimberly sudah bisa menebak dari cara keduanya menatap dirinya bahwa keduanya itu datang untuk meminta maaf padanya.
"Buruan kalau mau ngomong. Gue nggak punya waktu banyak!" Kimberly berucap ketus.
"Ki-kita... Kita kesini ma-mau... mau...!"
"Kenapa lo tiba-tiba gagap gitu?! Kemarin saja ketika di mall, lo dan teman lo itu dengan lantangnya ngomong yang nggak-nggak untuk gue! Lo berdua remehin gue, rendahin gue, nuduh gue nggak bisa bayar semua pesanan gue. Dan lo berdua juga anggap gue cewek jijik yang nggak pantas buat beli barang-barang mahal dan bermerek!" bentak Kimberly dengan tatapan matanya menajam.
Deg..
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan Kimberly yang mengatakan bahwa dirinya dihina oleh kedua gadis itu ketika di mall.
^^^
Tak jauh beda dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Aryan, Triny, Billy, Tommy, Andhika dan para sahabat-sahabatnya terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly.
"Jadi alasan ini kenapa Kimberly menghubungi dan memintaku langsung ke parkiran. Dan orang-orang yang tampak ramai dan heboh itu adalah Kimberly dan dua gadis itu," batin Tommy.
Flashback On
Tommy sedang berada di toko perhiasan. Dia membeli cincin berlian untuk Kimberly. Selesai urusannya di toko perhiasan, Tommy hendak menyusul Kimberly di toko yang menjual beberapa barang-barang mahal dan bermerek.
Tommy melangkahkan kakinya menuju toko dimana Kimberly berada. Ketika Tommy melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Tommy kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Saat matanya melihat nama 'Kimberly' di layar ponselnya, Tommy pun langsung menjawabnya.
"Hallo, sayang! Ini aku menuju kesana."
"Tidak usah kesini. Kamu langsung ke parkiran saja. Kita pergi ke tempat lain saja ya."
"Baiklah. Ya, sudah! Tunggu aku disana."
"Baik."
Setelah itu, Tommy mematikan panggilannya. Dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Flashback Off
^^^
"Apa karena lo berdua udah tahu siapa gue yang sebenarnya sehingga lo berdua berani datang kesini dan meminta maaf sama gue?!"
"Gara-gara ucapan kalian berdua, semua pengunjung memandang gue rendah dan juga jijik. Gara-gara ucapan kalian berdua, seorang pengunjung laki-laki mau jadikan gue istri simpanannya dengan memberikan gue uang banyak. Dan seorang wanita yang ingin menjadikan gue pembantu di rumahnya dengan bayaran besar!" teriak Kimberly.
Deg..
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Mereka tidak menyangka jika ada orang yang tega merendahkan Kimberly sampai separah itu.
"Apa itu benar, Kimberly Aldama?!" seru Billy.
Seketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung melihat kearah Billy yang mana Billy datang bersama Aryan, Triny, Tommy dan para sahabat-sahabatnya.
"Katakan sekali di hadapanku dan kita semua. Apa benar yang kamu katakan tadi?" tanya Billy dengan menatap lekat manik coklat Kimberly.
"Kim!" seru Tommy, Aryan dan Triny bersamaan.
Tes..
Air mata Kimberly mengalir begitu saja ketika dirinya harus kembali mengingat kejadian kemarin.
"Kim," ucap Billy lembut.
"Iya. Itu semua gara-gara mereka berdua. Aku... aku kemarin membeli banyak barang. Barang-barang yang aku beli itu adalah kalung berlian untuk Mommy, cincin berlian couple untuk Mommy dan Daddy, setelan jas kerja untuk Daddy, kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan, ponsel untuk Valen, laptop untukku."
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Tommy dengan tangannya menghapus air mata Kimberly.
"Mereka berdua," ucap Kimberly menunjuk kearah dua gadis itu. Mereka semua melihat kearah tunjuk Kimberly. Setelah itu, mereka kembali menatap Kimberly. "Mereka mengatakan bahwa aku tidak akan mampu membayar semua. Mereka menyebutku hanya milih-milih dan ujung-ujungnya tidak jadi beli. Mereka mengatakan padaku bahwa aku hanya gaya-gayaan dan berlagak seperti orang kaya."
"Awalnya aku tidak mempedulikan semua karena aku memang sengaja membiarkan mereka berdua terus mengatakan hal buruk tentangku. Nanti setelah itu, barulah aku menunjukkan siapa aku sebenarnya. Tapi... Hiks!"
"Tapi apa?" tanya Billy, Triny, Aryan dan Tommy bersamaan.
"Beberapa pengunjung ikut menghinaku. Mereka mengatakan padaku jika aku ingin jadi orang kaya, memiliki banyak uang biar bisa beli barang mewah, mereka menyarankan padaku untuk jual diri. Bahkan salah satu pengunjung laki-laki itu menawarkanku untuk jadi istri simpanannya. Dan salah satu pengunjung wanita menawarkan pekerjaan pembantu untukku."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan, Tommy mengepal kuat tangannya. Mereka benar-benar marah ketika orang-orang diluar sana memperlakukan Kimberly sangat buruk.
Grep..
Tommy menarik tubuh Kimberly dan membawanya ke dalam pelukannya. hatinya sakit setiap melihat kekasihnya itu disakiti dan dihina.
"Hiks... Tommy. Aku tidak mau datang ke mall itu lagi. Aku nggak mau... hiks," isak Kimberly.
Mendengar ucapan dan isakan dari Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan, Tommy dan yang lainnya ikut merasakan kesedihan. Mereka mengutuk orang-orang yang sudah menyakiti Kimberly melalui kata-kata.
"Baiklah. Kita tidak akan ke mall itu lagi. Lain kali kalau kita jalan-jalan. Kita cari tempat lain saja, oke!"
"Tommy, lebih baik lo bawa Kimberly ke ruangan latihan taekwondo. Siapa tahu pikiran Kimberly sedikit bisa melupakan kejadian yang dia alami kemarin," usul Andhika.
"Baiklah. Kita ke ruangan latihan taekwondo ya," ajak Tommy.
Setelah mengatakan itu, Tommy langsung membawa Kimberly ke ruangan latihan taekwondo.
Kini tinggal keempat sahabatnya Kimberly, ketiga sepupunya Kimberly dan sahabat-sahabatnya. Baik Billy, Aryan, Triny, Andhika maupun sahabat-sahabatnya menatap tajam kearah kedua gadis itu.
"Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak Aryan.
"Tapi... Tapi kami belum meminta maaf kepada Kimberly," jawab salah satu gadis itu.
"Tidak ada gunanya kalian minta maaf dengan Kimberly, karena maafnya Kimberly berasal dari kita keluarganya.Jika kita memaafkan kalian, maka Kimberly juga akan maafin kalian. Kasi, sekali pun Kimberly memberikan maaf untuk kalian, itu berlaku karena kami tidak akan memaafkan kesalahan kalian begitu saja." Triny berbicara dengan menatap tajam kedua gadis itu.
"Dan kalian berdua dengarkan tadi apa yang dikatakan sama adik sepupu gue? Adik sepupu gue tidak mau datang ke mall itu lagi. Padahal mall itu adalah mall favorit dia setiap dia pergi keluar jalan-jalan! Kalian berdua sudah buat adek gue trauma akan mall itu!" bentak Billy.
"Mending kalian pergi dari sini dan jangan mengganggu atau berusaha menemui adikku lagi!"
Setelah mengatakan itu, Billy pergi meninggalkan halaman sekolah. Dan diikuti oleh yang lain. Mereka akan menyusul Kimberly dan Tommy di ruangan latihan taekwondo.