THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pertolongan Kimberly Untuk Enzi



Kimberly dan keempat sahabatnya masih di kantin. Namun kini bukan hanya mereka saja, melainkan bersama Triny, Billy, Aryan, Tommy, Andhika beserta sahabat-sahabatnya. Mereka tengah menikmati makan siangnya setelah beberapa menit menyaksikan dram pertujukan gratis yang dimainkan oleh Syafina dan keempat sahabatnya.


"Gue senang melihat perubahan Enzi. Terlihat jelas aura positif di wajahnya," sahut Santy.


"Kamu benar Santy. Sejak kejadian itu. Dan sejak Enzi balik lagi ke sekolah. Sejak itu aku lihat Enzi jaga jarak dengan Syafina dan ketiga temannya yang lain. Dia tidak lagi bergabung dengan kelompoknya. Bahkan aku bisa lihat dari mimik wajahnya, terlihat berbeda seperti biasanya." Kimberly berucap sembari mengingat bagaimana raut wajah Enzi yang berbeda.


"Aku juga lihat itu," sahut Catherine.


"Kalau aku boleh jujur. Disini memang Syafina nya yang biang keroknya. Dia yang nggak benar-benar tulus berteman dengan Enzi, Vanessa, Aruna dan Jennie. Sementara untuk Enzi, Vanessa, Aruna dan Jennie. Mereka tulus berteman dengan Syafina. Terbukti mereka selalu berada di garda depan ketika melawan kita. Bahkan aku ingat ketika Vanessa yang mendorong Santy saat Olahraga Basket. Disitu Vanessa membela Syafina dan memiliki ide untuk melaporkan Kimberly ke polisi," sahut Sinthia.


Mendengar penuturan dari Sinthia membuat Santy, Rere dan Catherine menganggukkan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan oleh Sinthia.


"Bagaimana dengan Vanessa, Aruna, dan Jennie? Apa mereka sama seperti Enzi?" tanya Alisha.


"Eemm.. kalau menurutku sih sama seperti Enzi. Ketika Vanessa, Aruna dan Jennie ngomong sama Enzi dan jangan benci mereka, terlihat ketulusan dari suara dan tatapan matanya mereka." Catherine berbicara sembari mengingat ketika dia menatap wajah Vanessa, Aruna dan Jennie ketika berbicara dengan Enzi.


"Apapun itu, kakak ikut senang melihat perubahan mereka. Setidaknya mereka masih memiliki hati yang baik dari pada Syafina," sahut Dania.


"Hm!" mereka semua berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


***


Lora mengetuk-ngetukan ujung sepatu pantopelnya beberapa kali ke lantai, sesekali bola matanya melirik jengah ke arah jam tangan merk rolex yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.


"Sepuluh menit lagi orang itu tidak datang. Aku benar-benar akan pergi dari sini." Sungutnya kesal.


Tangan kanannya meraih ponsel pintar miliknya yang sedari tadi di campakannya di atas meja. Jari lentiknya dengan lincah menari-nari di atas layar ponselnya dan segera menempelkan ponsel ke arah telinganya dan menelpon seseorang.


"Berapa lama lagi aku harus menunggunya, hah?!" tanya Lora dengan segera begitu nada panggilan menunggu tergantikan oleh sapaan dari seseorang yang dia hubungi saat ini.


"Dia sedang menuju ke tempatmu, sabarlah sedikit."


"Jika kau berkata seperti itu tiga puluh menit yang lalu maka aku akan melakukannya. Tapi saat ini aku sudah melewatkan tiga puluh menitku yang berharga hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak berguna? Dasar gila!" bentak Lora begitu saja meluapkan kekesalannya.


"Ya, Tuhan. Aku ini Kakekmu berkatalah lebih sopan kepadaku bocah!"


Lora memutar bola matanya merasa jengah mendengar ucapan dari seseorang yang mengaku sebagai kakeknya.


"Jika saja kau tidak berniat menjodohkanku, maka aku tidak akan bersikap seperti ini padamu," balas Lora.


Sosok di sebrang sana hanya mampu menghembuskan napas lelahnya menghadapi sikap cucu satu-satunya itu.


"Aku melalukan itu demi kebaikanmu, Lora!"


"Alasan klasik. Intinya aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Jika dalam waktu sepeluh menit dan sekarang sudah berlalu lima menit dia tidak datang, maka aku akan meninggalkan tempat ini dan membuatmu malu kakek tua," ucap Lora dan segera memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.


"Sialan! Demi kebaikanku? Omong kosong macam apa yang kakek tua itu ucapkan, hah?!" sungut Lora kesal dan meneguk habis minuman yang sedari tadi di pesannya.


"Jika bukan karena dia yang mengancam akan mencoret namaku dari daftar warisannya, aku tidak akan sudi melakukan ini."


Satu hal yang harus diketahui dari seorang Lora Aurelia Samantha. Dia mencintai uang, mencintai uang melebihi apapun, maka dari itu dia rela menunggu seseorang. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya hanya demi mendapatkan warisan dari kakeknya.


"Aku bisa gila jika harus berurusan dengan kakek tua itu dan sialan! Kenapa orang itu lama sekali," ucap Lora geram.


"Maaf aku terlambat," ucapan seseorang tiba-tiba dan dengan tidak sopannya duduk tepat di hadapan Lora tanpa izin.


"Aku Nikko Alehan, kau pasti Lora Aurelia Samantha kan?" ucap dan tanya seorang laki-laki tampan yang saat ini duduk di hadapan Lora dan mengulurkan tangannya menunggu sambutan dari tangan Lora.


"Jika kau sudah tahu kenapa harus bertanya. Bukankah itu tidak berguna sama sekali." ejek Lora tanpa membalas uluran tangan laki-laki itu.


Merasa bahwa Lora tidak akan menerima uluran tangannya, laki bernama Nikko Alehan itu menarik kembali tangannya dan menatap Lora yang duduk dinhadapannya.


"Well, aku hanya memastikan bahwa yang kini di hadapanku ini adalah Lora Aurelia Samantha seorang penyanyi terkenal yang sedang di minati saat ini," ucap laki-laki itu balas mengejek ucapan Lora.


Lora tidak menjawab dan lebih memilih memainkan ponselnya daripada berbicara dengan laki-laki dinhadapannya.


"Jadi kau ingin pernikahan yang seperti apa?"


Lora mendecah kesal dan menatap tajam laki-laki yang ada di hadapannya begitu mendengar ucapan yang keluar dari laki-laki itu.


"Tentu saja kau dan aku. Kau pikir untuk apa aku membuang waktuku jika bukan untuk membahas pernikahan kita."


Mendengar jawaban dari laki-laki yang ada di hadapannya itu membuat Lora menatap tajam kearah laki-laki itu. Rahangnya mengeras saat mendengar jawaban dari laki-laki tersebut.


***


Kimberly dan Kimberly sudah berada di kelas. Baik Kimberly, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya mengikuti pelajaran terakhir. Pelajaran tersebut adalah pelajaran fisika.


Sebelum guru fisika datang, mereka diminta untuk mengerjakan soal-soal yang ada di halaman 102. Jika sudah selesai, sang guru fisika akan membahasnya di depan kelas.


Brak..


Tiba-tiba Syafina menggebrak meja milik Enzi sehingga membuat Enzi terkejut. Begitu juga dengan Kimberly, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya.


"Lo apa-apaan, hah?!" bentak Enzi bersamaan dirinya berdiri dari duduknya.


"Lo yang apa-apaan! Apa maksud lo ngajak Vanessa, Aruna dan Jennie ikut lo!" bentak Syafina.


"Gue nggak pernah ngajak siapa pun untuk ikut sama gue. Kalau boleh gue jujur. Gue lebih memilih sendiri dari pada berkelompok. Kenapa? Alasannya adalah karena gue udah nggak percaya nama persahabatan atau pertemanan." Enzi berbicara sambil menatap nyalang kearah Enzi.


"Alah! Omong kosong! Bilang aja kalau memang lo yang udah bujukin dan merayu Vanessa, Aruna dan Jennie!" bentak Syafina.


"Apa lo punya bukti, hah?!"


"Buktinya adalah mereka udah nggak mau dengarin omongan gue," jawab Syafina.


"Hahahaha. Gila lo. Vanessa, Aruna dan Jennie nggak mau dengarin omongan lo bukan karena gue. Mereka seperti itu karena mereka sudah tahu lo. Mereka udah benar jijik lihat lo."


"Mending lo pergi dari sini. Gue mau ngerjain soal. Ada lo justru buat gue nggak bisa konsentrasi mengerjakan tugas-tugas gue."


Setelah mengatakan itu, Enzi menduduki kembali pantatnya di kursi dan kembali melanjutkan mengerjakan soal-soal fisika itu.


Mendengar ucapan kejam dari Enzi membuat Syafina makin marah. Ditambah dengan sikap Enzi yang seenaknya.


Detik kemudian, tangannya terangkat hendak menampar Enzi. Namun seseorang menahan tangannya dari samping.


Merasakan tangannya dipegang begitu kuat oleh seseorang membuat Syafina langsung menolehkan kepalanya ke samping.


"Jika lo hanya ingin buat keributan di kelas. Mending lo keluar. Kita semua yang ada di kelas ini ingin belajar dengan tenang," ucap Kimberly.


Yah! Orang yang memegang tangan Syafina adalah Kimberly. Dirinya sejak tadi sudah menahan kesabaran karena keributan yang dibuat oleh Syafina sehingga dirinya tidak konsentrasi. Begitu juga dengan keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya.


"Lo ngusir gue, hah?!"


"Menurut lo?"


Syafina menatap marah Kimberly bersamaan dengan dirinya menarik tangannya dari pegangan tangan Kimberly. Begitu juga dengan Kimberly yang menatap tak kalah tajam kearah Syafina.


Vanessa seketika berdiri dari duduknya. Tatapan matanya menatap kearah Syafina. Begitu juga dengan Aruna dan Jennie.


"Udahlah Syaf. Mending lo keluar dari kelas ini jika lo tidak berniat untuk mengikuti kelas," usir Vanessa.


"Yang dikatakan Kimberly benar. Kita nggak fokus belajar karena lo terlalu berisik," sahut Aruna.


"Jika lo ingin tetap di kelas. Mending lo duduk. Bodo amat jika lo hanya duduk saja tanpa mengerjakan soal-soal fisika," sahut Enzi.


Setelah mengatakan itu Vanessa dan kedua temannya kembali menduduki pantatnya kembali di kursi. Sedangkan Syafina menatap tak percaya atas apa yang dia dengar akan ucapan dari Vanessa, Aruna dan Jennie.


Syafina menatap tajam Kimberly lalu beralih menatap wajah Enzi. Setelah itu, Syafina memutuskan keluar meninggalkan kelas.


Melihat perginya Syafina. Enzi menatap kearah Kimberly sembari berucap, "Thanks, Kim!"


Kimberly tersenyum tulus menatap wajah Enzi sembari membalas ucapan terima kasih dari Enzi.


"Sama-sama."


Setelah itu, Kimberly kembali menuju kursi untuk melanjutkan mengerjakan soal-soal fisika.