THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Niat Jahat Antoni



[Mitte, Berlin]


Antoni saat ini tengah bersiap-siap untuk kembali ke kota Hamburg. Selama dua bulan dia berada di kota Berlin, lebih tepatnya di desa Mitte.


Antoni dan teman-teman berada disana karena sedang melakukan tugas kantornya. Jika teman-teman Antoni bekerja di perusahaan cabang milik ayahnya, sedangkan teman-temannya bekerja membantu dirinya di perusahaan tersebut.


Kenapa Antoni bekerja dan bukan sekolah? Sejak kejadian dimana Antoni hampir melecehkan Kimberly di gudang sekolah. Sejak itulah Antoni dikeluarkan oleh pihak sekolah. Bahkan  Tommy dan Andhika sudah memasukan data-data Antoni serta foto Antoni ke dalam Blacklist seluruh sekolah yang ada di negara Jerman dan diluar negeri sehingga membuat Antoni putus sekolah.


"Kim, tunggu aku. Hari ini aku kembali ke Hamburg. Aku akan tetap mengejar kamu sampai kamu tunduk padaku. Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama Tommy. Jika tidak bisa dengan cara lembut, maka cara kasar aku akan lakukan." Antoni berucap dengan penuh aura yang menyeramkan.


"Cara satu-satunya agar bisa memiliki kamu seutuhnya adalah dengan cara menyingkirkan Tommy dari dunia ini."


"Tunggu kejutan dariku, Tommy!"


***


[Hamburg]


[Sekolah]


Kimberly masih di sekolah. Dan kini Kimberly bersama dengan keempat sahabat-sahabatnya di kelas.


Santy, Rere, Sinthia dan Catherine saat ini tengah mengobrol dan melempar lelucon. Sedangkan Kimberly yang menyimak dan mendengarkan saja.


Detik kemudian..


"Sinthia!" Kimberly tiba-tiba memanggil Sinthia.


Mendengar panggilan dari Kimberly membuat Sinthia langsung melihat kearah Kimberly yang mana saat itu Kimberly menatap dirinya.


"Iya, Kim!"


"Gue penasaran sama ucapan lo beberapa jam yang lalu yang mana lo bilang jika Antoni melakukan sesuatu terhadap gue di gudang sekolah? Sebenarnya apa yang terjadi?"


Deg..


Seketika Sinthia menelan ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Kimberly. Dirinya tidak harus menjawab apa dan mulai dari mana.


Santy, Rere dan Catherine saling memberikan tatapan. Mereka memberikan kode melalui tatapan matanya. Setelah itu, ketiganya menatap Kimberly.


"Kim, bagaimana kal....." ucapan Rere seketika terhenti karena Kimberly sudah bersuara terlebih dahulu.


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Gue butuh jawaban. Sekarang!" Kimberly berucap dengan penuh penekanan.


Mendengar ucapan dari Kimberly membuat Santy, Rere dan Catherine bungkam.


"Jawab, Sin! Ada apa?"


"Kim, begini....."


"Pagi, anak-anak!" guru olahraga masuk ke dalam kelas sembari menyapa para murid-muridnya.


Mendengar sapaan dari guru olahraganya membuat Sinthia mengucapkan kata syukur di dalam hatinya. Begitu juga dengan Santy, Rere dan Catherine.


"Hari ini kita libur untuk pembelajaran materi. Sebagai gantinya, kita akan praktek di lapangan. Kita akan bermain basket."


Mendengar ucapan dari guru olahraganya membuat semua murid-murid tersebut bersorak bahagia termasuk Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.


"Olahraga kita kali ini akan melawan kelas IPA 3. Kelas mereka juga melakukan pelajaran olahraga."


"Apa kalian menyetujuinya?"


"Kami setuju, Pak!"


"Baguslah kalau begitu. Sekarang pergilah kalian ke ruang ganti khusus kelas 1 IPA 1. Ganti pakaian kalian dengan pakaian olahraga!"


"Baik, Pak!"


Setelah itu, semua murid-murid termasuk Kimberly dan keempat sahabat-sahabatnya pun keluar meninggalkan kelas untuk menuju ruang ganti.


^^^


Kini semuanya sudah berada di lapangan basket yang ada diluar. Bukan hanya kelas 1 IPA 1, melainkan kelas 1 IPA 3 juga ada disana dengan guru olahraga yang berbeda.


Semua murid-murid berbaris dengan rapi di lapangan. Mereka saat ini tengah mendengarkan arahan dari guru olahraga mereka masing-masing.


"Siap!"


"Mengerti, Pak!"


"Baiklah. Kalau begitu kita mulai permainan Basketnya. Kelompok yang akan memulai terlebih dahulu adalah Kimberly dan kelompok Tasya."


Setelah mendengar nama kelompoknya disebut, kelompok Kimberly dan kelompok Tasya pun bersiap-siap.


"Jadi dia yang bernama Kimberly? Cantik juga. Namun sayang, kelakuannya tak secantik wajahnya." Tasya yang menjadi kapten timnya berucap di dalam hatinya sembari menatap tak suka kearah Kimberly.


"Lo udah khianati Tommy dengan berpegangan tangan sama cowok lain. Mulai sekarang gue akan biarin lo berdekatan lagi dengan Tommy. Mulai sekarang dan seterusnya, Tommy milik gue." Tasya lagi-lagi berucap di dalam hatinya.


Dan permainan Basket pun dimulai. Kelompok Kimberly dan kelompok Tasya sama-sama hebat dalam menguasai bola dan merebut bola dari tangan lawan. Sorakan dan tepuk tangan menjadi semangat untuk kedua Tim.


"Aakkhhh!" Kimberly meringis merasakan sakit di bahunya akibat lemparan bola basket yang dilakukan oleh Tasya.


"Lo apa-apaan, hah?!" bentak Rere sembari mendorong kuat tubuh Tasya hingga terhuyung ke belakang.


"Apaan sih lo. Nggak usah pake dorong segala!" bentak temannya Tasya.


"Kasih tahu teman lo. Kalau main tuh sportif. Jangan curang," ucap Sinthia sinis.


Tasya seketika marah ketika mendengar ucapan sekaligus tuduhan dari Sinthia. Kemudian Tasya maju menghampiri Sinthia.


"Jaga ucapan lo, brengsek!" bentak Tasya.


Seketika terdengar suara peluit yang sangat nyaring sehingga membuat kelompok Kimberly dan kelompok Tasya berhenti bertengkar.


"Kimberly, apa kamu masih sanggup main?"


"Masih, Pak!"


"Baiklah. Kamu dan Tim kamu kembali ke posisi."


"Baik, Pak!" Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catherine menjawab bersamaan.


Setelah selesai berurusan dengan kelompok Kimberly. Guru olahraga tersebut melihat kearah Tasya.


"Dan kamu Tasya. Nilai pribadi Kamu bapak kurangi 10. Jadi nilai kamu tersisa 90."


"Lah, Pak! Kenapa? Apa kesalahan saya?"


"Nilai kamu berkurang lagi. Sekarang tersisa 80."


Tasya membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari guru olahraganya.


"Bawa tim kamu kembali ke posisi. Babak kedua akan dimulai."


"Baik, Pak!"


"Pertahankan nilai kamu itu, Tasya! Kalian juga! Jangan sampai nilai kalian juga ikut berkurang!"


Setelah jeda beberapa detik, permainan basket pun kembali dimulai.


^^^


Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya saat ini berada di kelas. Saat ini mereka tengah mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru bidang studi tersebut.


Ketika Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya sedang fokus mengerjakan soal-soal tersebut, tiba-tiba ponsel milik Billy berdering.


Billy yang mendengar ponselnya berdering langsung menghentikan kegiatannya, lalu tangannya mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Billy melihat nama salah satu tangan kanannya yang memang sedang mendapatkan tugas dari Billy.


Tanpa menunggu lama, Billy pun langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.


"...."


"Ada apa?"


"...."


"Katakan, buruan!"


"...."


"Benarkah?"


"...."


"Kapan dia akan melakukan hal itu?"


"...."


"Awasi terus bajingan itu. Jangan sampai lepas dari pengawasanmu."


"...."


Setelah mengatakan itu, Billy langsung mematikan panggilannya.


"Tidak akan semudah itu kau bisa menyentuh sahabatku," batin Billy.


Melihat keterdiaman Billy membuat Tommy, Andhika dan yang lainnya menatap bingung Billy.


"Bil!" Satya seketika mengejutkan Billy sehingga membuat Billy tersadar.


"Ada apa?" tanya Mirza.


"Kita selesaikan dulu semua soal-soal ini. Setelah itu, baru kita bahas apa yang aku bicarakan dengan tangan kananku di telepon barusan."


"Baiklah!"