THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
21. Hukuman Untuk Orang Yang Belagu



Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di kelasnya. Dan sebentar lagi bell masuk berbunyi.


Kimberly menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya kala mengingat kata-kata manis dan juga kata-kata posesif dari Tommy.


"Aku mencintaimu. Kau milikku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku."


Kimberly lagi-lagi tersenyum mengingat Tommy mengatakan kata-kata manis itu. Tommy mengatakan kata-kata itu dengan cara membisikkan ke telinganya ketika sedang mengobrol di lobi sekolah.


Rere yang kebetulan duduk di sebelahnya menatapnya dengan tatapan jahil.


"Ayo! Lagi mikirin apa? Lagi mikirin Tommy ya!" Rere menatap Kimberly dengan alis dinaik turunkan.


Mendengar perkataan dari Rere. Cathrine, Santy dan Sinthia langsung melihat kearah Kimberly.


Baik Rere maupun Cathrine, Santy dan Sinthia. Mereka tahu jika Kimberly masih trauma dalam urusan asmara. Kimberly pernah disakiti oleh kekasihnya dulu. Kekasihnya dulu berselingkuh dengan perempuan lain dengan alasan bahwa kekasihnya itu ingin membalas perbuatan Kimberly.


Kekasih Kimberly dulu mengira kalau Kimberly sudah mengkhianatinya dengan selingkuh di belakangnya. Kimberly bermesraan dan bahkan Kimberly telah tidur dengan laki-laki tersebut. Maka alasan itulah kenapa kekasihnya membalas dengan cara yang sama.


Dan kenyataan sebenarnya Kimberly tidak bersalah. Dengan kata lain bahwa Kimberly telah dijebak agar hubungan Kimberly dan kekasihnya itu putus.


"Kim," panggil Cathrine.


Kimberly melihat kearah Cathrine. Melihat Cathrine yang tersenyum. Kimberly juga ikut tersenyum.


"Benaran kalau kau menyukai Tommy?"


"Kalau kau emang benaran menyukai Tommy. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan, Kim! Aku yakin, Billy, Triny dan Aryan akan bahagia mendengarnya." Santy berbicara sembari menatap wajah Kimberly.


"Sebenarnya aku sudah mulai membuka hatiku untuk Tommy. Pertemuan pertama kami di Perpustakaan kota. Tommy nolongin aku pas aku hampir ketiban beberapa buku tebal. Tommy nolongin aku dengan cara memelukku." Kimberly bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Tommy.


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia masih setia melihat dan mendengar cerita Kimberly.


"Awalnya aku ketakutan ketika ada pria asing yang tiba-tiba memelukku. Ketika Tommy memelukku, kejadian itu terekam kembali di ingatanku. Aku takut kalau Tommy sama seperti pria itu. Aku pergi ninggalin Tommy. Tujuanku adalah ke Perusahaan Kak Enda. Di sana aku ceritakan semuanya sama Kak Enda. Setelah mendengar arahan dan kata-kata manis dari Kak Enda. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa takut itu. Dan pada akhirnya, aku dan Tommy malah makin dekat."


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia tersenyum bahagia ketika mendengar cerita dari Kimberly.


"Masalah aku menyukai Tommy. Jujur, aku menang benar menyukainya. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku masih trauma. Aku takut dikhianati untuk yang kedua kalinya. Apalagi ada Talitha. Dulu saat aku pacaran sama Antoni. Antoni mengkhianatiku dengan bermain bersama perempuan lain. Saat aku tanya, Antoni mengatakan bahwa itu adalah balasan untukku. Antoni lebih percaya video itu dan juga omongan para sahabatnya. Antoni ninggalin aku dan memilih Clara." Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi wajah cantiknya.


GREP!


Catharine memeluk tubuh Kimberly. Tangannya mengusap-ngusap lembut punggung Kimberly.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi masalah itu. Dia yang bodoh udah ngelepasin kamu. Aku pasti dia pasti nyesal udah ninggalin kamu." Cathrine menghibur Kimberly.


"Iya, Kim! Gak usah kamu pikirin lagi laki-laki brengsek itu. Dia gak pantas buat kamu. Kamu berhak untuk bahagia. Kalau aku perhatikan. Tommy itu benaran cinta sama kamu. Jalanin aja dulu. Masalah Talitha. Ngapain kamu mikirin dia. Sekuat apapun dia berusaha jauhin kamu dari Tommy, sekuat apapun dia buat deketin Tommy. Kalau Tommy gak cinta sama dia, tapi Tommy cintanya sama kamu. Tommy bakal jadi milik kamu." Sinthia juga ikut menghibur dan meyakinkan Kimberly.


"Kamu harus semangat. Jangan nyerah hanya gara-gara masa lalu kamu," ucap Rere.


"Apalagi nyerah gara-gara nenek lampir itu," sela Santy.


Kimberly melepaskan pelukannya dari Cathrine, lalu menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya.


"Terima kasih, ya! Kalian selalu berhasil membuat hatiku nyaman." Kimberly tersenyum menatap wajah keempat sahabatnya itu.


"Terima kasih kembali," jawab Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia.


Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah sibuk dengan dunia mereka, tiba-tiba Talitha dan teman-temannya datang.


Talitha menatap tajam kearah Kimberly. Dirinya benar-benar marah melihat Kimberly dekat-dekat dengan Tommy.


"Jauhi Tommy," ucap Talitha.


"Enak aja lu nyuruh teman gue buat jauhin Tommy. Memangnya situ siapa nya Tommy?" Santy menatap tak suka Talitha.


"Diem lo. Gua bicara dengan wanita sialan ini. Bukan sama lo!" bentak Talitha.


"Yeeyy. Santai dong. Gak ngegas juga kali," sahut Santy.


"Ikut gue."


"Yak! Apa-apaan kamu. Lepasin!" bentak Kimberly.


Justru Talitha makin mengeratkan pegangan tangannya di tangan Kimberly dan menarik kuat Kimberly keluar kelas.


"Talitha. Lepaskan Kimberly!" Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia bersamaan.


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia beranjak dari duduknya. Mereka ingin mengejar Kimberly, tapi mereka dihalangi oleh Selena, Aurel, Brenda dan Kiara.


"Mau kemana?!" bentak Kiara.


"Kalian disini saja. Biarkan mereka berdua. Jangan ikut campur!" bentak Brenda.


"Minggir!" Rere dan Cathrine balik membentak Brenda dan Kiara.


"Gak akan. Kalian tetap disini!" bentak Aurel.


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia saling memberikan tatapan, lalu mereka kembali menatap Selena, Aurel, Brenda dan Kiara.


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia mundur beberapa langkah. Melihat Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia tiba-tiba mundur membuat Selena, Aurel, Brenda dan Kiara tersenyum.


Namun tanpa diduga oleh Selena, Aurel, Brenda dan Kiara. Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia langsung mendorong kuat tubuh Selena, Aurel, Brenda dan Kiara sehingga tubuh mereka terbentuk meja. Setelah itu mereka semua berlari keluar kelas.


Sementara diluar, tepatnya di lapangan. Talitha masih menarik tangan Kimberly menuju mobilnya. Talitha berniat membawa Kimberly keluar meninggalkan sekolah.


"Lepaskan, brengsek!" bentak Kimberly.


"Diam!" Talitha balik membentak Kimberly.


Kimberly sudah mulai kehabisan kesabarannya. Sedari tadi dirinya menahan kesabaran. Kini kesabaran sudah diambang batas. Kimberly kemudian dengan kuat menarik tangannya dari pegangan tangan Talitha. Setelah terlepas, Kimberly menatap tajam kearah Talitha.


"Brengsek! Jangan kamu pikir aku takut, hah! Aku tidak pernah takut sama kamu atau pada siapa pun di dunia ini!" bentak Kimberly.


"Oh. Berani sekarang, hah!" bentak Talitha.


"Memangnya sejak kapan aku takut denganmu," jawab Kimberly.


Talitha menatap tajam kearah Kimberly. Detik kemudian, Talitha melayangkan pukulan ke arah Kimberly.


DUUAAGGHH!


Kimberly langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut Talitha sehingga membuat tubuh Talitha terhuyung ke belakang dan tersungkur ke tanah.


Kimberly menatap tajam kearah Talitha sembari tersenyum menyeringai.


"Kau bukan tandinganku, Talitha! Kau itu murid baru disini. Tapi lagakmu sudah seperti senior," sahut Kimberly.


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan Talitha sendiri yang sedang kesakitan di bagian perutnya.


"Kim, kamu gak apa-apa?" teriak Cathrine yang datang bersama Rere, Santy dan Sinthia.


Kimberly tersenyum ketika melihat raut khawatir yang terpampang jelas di wajah keempat sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa. Tuh kalian lihat sendiri." Kimberly berucap sembari menunjuk ke arah Talitha.


Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia melihat kearah tunjuk Kimberly. Seketika mereka tertawa keras.


"Hahahaha."


Tinggalkan Komentar, Like dan Votenya.


Terima Kasih😘💕