THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Keterkejutan Kimberly Palsu



Kimberly sudah berada di depan perusahaan cabang milik ayahnya. Dirinya tersenyum melihat perusahaan ayahnya yang begitu besar dan megah. Tak jauh beda dengan perusahaan utama.


Kimberly berlahan memasuki perusahaan ayahnya itu. Dan ketika tiba di dalam, Kimberly melihat seorang wanita yang terlihat sombong dan angkuh berjalan buru-buru dengan beberapa wanita lain mengikutinya dengan memberikan beberapa berkas-berkas kepadanya.


"Siapa dia?" batin Kimberly yang tatapan matanya menatap wajah wanita itu.


"Nona, tunggu! Ini berkas-berkasnya mau diletakkan dimana?"


"Buang saja. Lagian ngapain aku mengurus hal itu," jawab wanita itu.


Setelah mengatakan itu, wanita tersebut pergi meninggalkan perusahaan dengan berjalan angkuh di depan Kimberly.


"Hei, kalian!" Kimberly memanggil kedua wanita yang berlari membawa berkas-berkas itu.


Kedua wanita itu langsung berhenti dan melihat kearah Kimberly.


Kimberly melangkah mendekati kedua wanita itu. "Siapa wanita tadi?"


"Oh, wanita itu adalah putri bungsu Bos Fathir Aldama!" jawab salah satu wanita itu.


"Apa? Putri bungsunya Daddy? Kalau wanita tadi adalah putri bungsunya Daddy, lalu aku siapa?" tanya Kimberly di dalam hatinya.


Kedua wanita tersebut sudah pergi meninggalkan Kimberly sendirian ketika Kimberly tengah membatin tentang perkataan salah satu dari wanita itu.


Kimberly melangkah memasuki luasnya perusahaan ayahnya. Dan berhenti tepat dimana terlihat para karyawan dan karyawati sedang bekerja.


Kimberly menatap satu persatu karyawan dan karyawati tersebut secara intens. Ada yang bekerja dengan serius, ada yang bermain-main, ada yang bermalas-malasan dan bahkan yang lebih parahnya. Kimberly melihat enam karyawan perempuan melakukan tindakan buruk kepada tiga karyawan perempuan lainnya.


Kimberly melihat keenam karyawan perempuan itu memaksa ketiga karyawan perempuan untuk mengerjakan semua pekerjaan mereka sampai selesai.


Jika ketiga karyawan perempuan itu tidak menyelesaikan semua pekerjaan milik keenam karyawan perempuan itu, maka keenam karyawan perempuan itu akan memberikan hukuman berat.


"Apa-apaan ini, hah?!" bentak karyawan perempuan pertama.


"Kamu bisa kerja nggak?!" bentak karyawan perempuan kedua.


"Ini bukan laporan, melainkan sampah murahan!" bentak karyawan perempuan ketiga.


Plak..


Plak..


Dua karyawan perempuan itu menampar dua karyawan perempuan yang selama ini selalu mereka jahati. Sementara satu karyawan perempuan lagi hanya bisa menundukkan kepalanya karena ketakutan.


Srek..


"Aakkhh!"


Karyawan perempuan itu berteriak kesakitan ketika rambutnya ditarik kuat oleh karyawan perempuan lainnya.


"Dasar perempuan nggak guna. Kau sama saja dengan dua temanmu itu. Sama-sama nggak guna!" bentak karyawan perempuan itu.


Sementara untuk karyawan dan karyawati yang lainnya hanya diam tanpa memberikan bantuan sama sekali.


Kimberly sejak tadi hanya menonton adegan demi adegan tersebut mengepal kuat tangannya. Bahkan tatapan matanya menatap marah kearah keenam karyawan perempuan itu.


Kimberly berlahan melangkah mendekati keenam karyawan perempuan itu. Dirinya sudah tidak tahan melihat ketiga karyawan perempuan itu disakiti dan juga dimaki-maki.


"Lepaskan wanita itu," ucap Kimberly dengan tatapan matanya yang tajam.


Mendengar perkataan dari Kimberly seketika membuat perempuan yang menarik rambut rekan langsung melihat kearah Kimberly. Begitu juga dengan kelima rekannya. Mereka menatap tajam kearah Kimberly.


"Siapa kau?! Jangan ikut campur. Urusi saja pekerjaanmu!" bentak perempuan itu tanpa melepaskan tarikan di rambut rekannya itu.


Mendengar perkataan serta bentakan dari perempuan yang ada di hadapannya membuat Kimberly tersenyum. Posisi Kimberly saat ini berdiri santai dengan melipat kedua tangannya di belakang tubuhnya.


Kimberly menatap sekelilingnya dengan tatapan tajam dan menusuk sehingga para karyawan dan karyawati yang hanya menonton dan diam tanpa memberikan bantuan seketika ketakutan.


"Kalian semua itu manusia atau apa? Bagaimana kalian bisa membiarkan rekan-rekan kalian menyakiti rekan-rekan yang lain. Bahkan kalian sama sekali tidak ada yang membantu ketiga perempuan itu! Apa masih pantas kalian disebut manusia!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat semua karyawan dan karyawati tersebut hanya diam. Sementara keenam karyawan perempuan yang suka semena-mena di perusahaan menatap marah kearah Kimberly.


Kimberly menatap kearah perempuan yang masih menarik rambut rekannya.


"Aku katakan sekali lagi padamu. Lepaskan rambut wanita itu," ucap Kimberly yang masih bersikap santai dan masih bersikap sabar.


Mendengar perkataan sekaligus perintah dari perempuan yang ada di hadapannya membuat perempuan itu menatap marah Kimberly.


Detik kemudian, perempuan itu melayangkan pukulan kearah Kimberly, namun dengan gerakan cepat Kimberly menahan tangan perempuan itu kemudian meremat kuat pergelangan tangan perempuan itu sehingga membuat perempuan itu berteriak kesakitan.


Mendengar teriakkan dari perempuan itu membuat semua yang ada di ruangan tersebut seketika ketakutan.


"Lepaskan," ucap perempuan itu disela kesakitannya.


"Lepaskan dulu rambut perempuan itu," balas Kimberly.


Bukannya mendengar perkataan Kimberly. Justru perempuan itu makin menarik rambut rekannya itu sehingga membuat rekannya itu berteriak kesakitan.


Kreekk..


"Aakkhhh!"


"Brengsek! Lepaskan teman kami!" teriak rekannya itu dengan menatap tajam Kimberly.


Kimberly melihat kearah lima karyawannya perempuan yang jahat itu.


"Ayo, kemarilah! Selamatkan teman kalian ini," tantang Kimberly.


Mendengar perkataan sekaligus tantangan dari Kimberly membuat kelima karyawan perempuan itu menatap penuh amarah kearah Kimberly.


"Kau...."


Kelima karyawan perempuan itu secara bersamaan menyerang Kimberly.


Bugh.. Bugh..


Bugh.. Bugh..


Bugh..


Kimberly memberikan masing-masing satu tendangan kuat tepat di perut, punggung, betis dan pinggang kelima karyawan perempuan itu sehingga membuat kelimanya tersungkur di lantai. Kelimanya langsung tak bisa berbuat apa-apa lagi karena Kimberly menyerang tepat di titik vital mereka.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat semua karyawan dan karyawati tersebut menatap tak percaya akan Kimberly. Mereka tidak menyangka jika atas apa yang mereka lihat.


Kimberly menatap kearah perempuan yang ada di hadapannya yang tangannya masih digenggamnya.


"Bagaimana? Masih mau bertahan untuk tetap menarik rambut perempuan itu. Jika aku mau hari ini aku bisa mematahkan tanganmu," ucap dan tanya Kimberly.


Perempuan jahat itu merasakan bahwa perempuan yang ada di hadapannya itu hendak meremat kembali tangannya, seketika perempuan jahat itu langsung melepaskan tarikan rambut rekannya itu.


Kimberly tersenyum kemenangan ketika melihat perempuan yang ada di hadapannya itu langsung melepaskan tangannya dari perempuan malang itu.


Kimberly menatap kearah tiga karyawan perempuan yang menjadi korban kekerasan dari keenam karyawan perempuan jahat tersebut.


"Kalian, pergilah! Obati luka kalian."


"Ta-tapi kami....."


"Kalian tidak perlu khawatir. Aku yang bertanggung jawab disini. Selama aku disini, tidak akan ada satu pun karyawan dan karyawati yang akan menyentuh kalian. Jika mereka berani menyentuh kalian, maka aku yang akan membalasnya!"


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat ketiga karyawan perempuan itu sedikit bernafas lega. Setelah itu, ketiganya pun pergi ke ruangan obat-obatan untuk mengobati luka mereka.


"Siapa diantara kalian yang mau membantu ketiga rekan kalian itu?" tanya Kimberly dengan menatap tajam dan dingin ke semua karyawan dan karyawati itu.


Seketika empat karyawan perempuan langsung bersuara sembari mengangkat kedua tangannya keatas.


"Izinkan kami nona!" seru keempatnya.


"Pergilah!"


Setelah itu, keempat karyawan perempuan itu langsung pergi menyusul tiga rekannya.


Kimberly menatap perempuan yang ada di hadapannya. Dan detik kemudian, Kimberly mendorong tubuh perempuan itu hingga tersungkur di lantai.


Kimberly menatap tajam kearah keenam karyawan perempuan itu. Dirinya benar-benar marah akan sikap buruk keenamnya di perusahaan ayahnya.


Ketika suasana tengah tegang-tegangnya, tiba-tiba datang perempuan yang sejak mengaku sebagai putri bungsu dari Fathir Aldama.


"Ada apa ini?!"


Mendengar suara seseorang, semuanya langsung melihat kearah keasal suara tersebut.


"Nona Kimberly!"


Semua karyawan dan karyawati seketika memberikan hormat kepada perempuan yang baru datang itu. Sementara Kimberly menatap tajam kearah perempuan yang sudah mencuri identitasnya.


"Berani sekali kau mengaku sebagai putri dari Daddy ku. Tunggu saja apa yang akan menimpamu dan keluargamu," batin Kimberly.


"Apa yang terjadi? Dan kalian kenapa?"


"Kami seperti ini gara-gara gadis itu nona," jawab salah satu keenam karyawan perempuan jahat itu sembari menunjuk kearah Kimberly.


Perempuan yang mengaku sebagai Kimberly langsung melihat kearah Kimberly. Perempuan itu menatap jijik kearah Kimberly.


"Siapa kau? Dan kenapa kau membuat keributan di perusahaan ayahku?"


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari perempuan yang sudah mencuri identitasnya.


"Aku tidak yakin kalau kau adalah putri dari tuan Fathir Aldama."


"Apa kau meragukanku, hah?!" bentak perempuan itu.


"Tentu aku meragukanmu. Secara wajahmu saja tidak mirip sama sekali dengan tuan Fathir. Bagaimana bisa kau mengaku sebagai putri dari tuan Fathir," sahut Kimberly.


"Brengsek! Beraninya kau bicara seperti itu padaku! Apa kau tidak takut jika aku melaporkanmu kepada ayahku!" bentak perempuan itu.


"Kenapa tidak sekarang saja kau melaporkannya? Kau hubungi ayahmu sekarang juga melalui video call. Katakan padanya bahwa ada seseorang yang membuat keributan di perusahaan miliknya."


Deg..